Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 629. Sebuah Panggilan


__ADS_3

Malam hari, di pinggir Danau Weng.


Weng Lou sedang dalam proses latihan Kekuatan Jiwa ketika sebuah suara mendadak terdengar memanggil namanya.


Dia membuka kedua matanya dan menatap ke arah danau dengan tatapan dalam sebelum kemudian kembali memejamkan matanya dan kembali berlatih.


Tak berapa lama setelah dia kembali berlatih, suara yang sama kembali terdengar di telinganya, namun sedikit lebih keras dibandingkan sebelumnya.


"Kemari.....ayo, kemarilah....."


Kali ini Weng Lou tidak membuka kedua matanya, dan memfokuskan diri dalam meditasi nya.


Setelah beberapa waktu berlalu, karena Weng Lou tidak menunjukkan respon apapun terhadap panggilan tersebut, akhirnya suara yang didengarnya berhenti memanggilnya dan membiarkan Weng Lou berlatih dengan tenang.


Keesokan paginya, mata Weng Lou terbuka perlahan dan menatap ke arah danau di hadapannya. Tatapannya tidak seperti semalam dan sedikit perasaan gelisah bisa terlihat di matanya. Suara yang didengarnya tadi malam terdengar akrab baginya, namun dia tidak bisa mengingat siapa orang yang memilki suara itu.


Akhirnya, sepanjang malam, dia membagi tugas pikirannya. Yang satu untuk berlatih Kekuatan Jiwa, sedangkan yang lainnya fokus memikirkan pemilik suara yang didengarnya.


Sampai pagi ini, dia belum berhasil menemukan orang yang cocok di ingatannya yang memiliki suara seperti yang didengarnya semalam.


"Aku akan tau siapa pemilik suara itu saat memasuki bagian yang lebih jauh dari danau ini," pikir Weng Lou.


Akhirnya dia bangkit berdiri dari tempatnya dan kembali ke tempat di mana Weng Ying Luan dan Lin Bei sedang bermeditasi.


Tatapannya jatuh pada Weng Ying Luan yang masih bermeditasi. Keringat sedikit membasahi bajunya, dan botol berisikan racun di tangannya sudah sepenuhnya kosong. Sepertinya semalaman dia berlatih sambil meminum sedikit demi sedikit racun itu.

__ADS_1


"Kau sudah bangun." Lin Bei berbicara dengan suara sedikit dipelankan, dia tidak mau mengganggu Weng Ying Luan yang sedang bermeditasi sekarang ini.


Weng Lou menatapnya dan mengangguk. Ketika dia melihat Lin Bei, dia kembali memikirkan suara yang didengarnya semalam dan tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepada Lin Bei.


"Hei, apa kau tau cerita-cerita tentang danau ini? Maksudku, selain bisa membuat orang-orang tersesat jika terbang di malam hari, apa ada hal aneh lainnya tentang danau ini?" tanyanya.


Lin Bei berkedip. Dia cukup terkejut Weng Lou menanyakan hal ini kepadanya. Setelah berpergian bersama dengannya selama satu bulan, Weng Lou jarang berbicara lebih dulu kepadanya untuk menanyakan sesuatu. Biasanya dia akan lebih dulu berbicara sebelum kemudian Weng Lou akan mulai bertanya.


Berpikir sejenak, Lin Bei mulai memikirkan cerita-cerita yang pernah dia dengar dari Danau Weng. Ada banyak cerita dengan kemungkinan kebenaran cerita itu hanyalah cerita yang dibuat-buat agar orang-orang percaya. Namun dari sekian banyak cerita, dia pernah mendengar dua cerita lainnya yang telah dia dengar dari beberapa orang yang berbeda, namun dengan inti yang sama.


"Ada dua cerita, yang kemungkinan benar-benar nyata tentang Danau Weng. Cerita yang pertama, aku mendengarnya dari para bawahanku yang telah beberapa kali ditugaskan di luar wilayah Keluarga Lin dan harus menyebrangi Danau Weng. Mereka mengatakan, ketika mereka terbang malam hari di Danau Weng, mereka bisa mendengar suara-suara yang memanggil mereka terus menerus. Akhirnya karena takut, mereka pun memutuskan kembali ke tepi danau, untungnya waktu itu mereka belum terlalu jauh dari tepi sehingga bisa kembali tanpa sempat dibuat sesat di tengah-tengah danau.


Cerita yang kedua, aku mendengarnya dari beberapa anggota Keluarga Lin yang satu generasi dengan ku. Mereka pernah mendapatkan tugas mengunjungi Keluarga Wang dan kebetulan tiba malam hari di Danau Weng. Saat itu mereka sedang mengejar waktu, dan bertaruh pada diri mereka sendiri untuk terbang di atas danau pada malam hari. Akhirnya, seperti yang diduga, mereka tersesat sepanjang malam tanpa bisa menemukan ujung danau meski sudah terbang dalam garis lurus.


Aku tidak tau apakah cerita mereka benar atau tidak, tapi yang pasti terbang malam hari di danau ini sangat tidak aman. Selain bisa membuatmu tersesat, ada banyak binatang buas yang menghuninya. Sehingga aku lebih menyarankan untuk kita pergi ketika matahari terbit."


Weng Lou mengangguk mengerti. Sudah dia duga, panggilan yang didengarnya semalam bukanlah hal yang bagus. Untungnya dia berhasil menahan diri untuk tidak pergi mencari sumber suara yang berasal dari Danau Weng. Dia yakin ada sesuatu yang tidak beres tentang danau ini.


Weng Lou dan Lin Bei kemudian memilih untuk melakukan beberapa hal sambil menunggu Weng Ying Luan selesai bermeditasi.


Lin Bei berusaha menyibukkan diri dengan melatih kekuatan Phoenix miliknya, sementara Weng Lou, dia memilih untuk berjalan-jalan di sekitar danau, berusaha menemukan sesuatu yang bisa dia jadikan petunjuk.


Ketika matahari sudah menggantung tinggi di langit, Weng Ying Luan akhirnya menyelesaikan meditasi nya.


Terlihat Lin Bei masih sibuk berlatih menggunakan Api Phoenix beberapa puluh meter dari Weng Ying Luan. Sementara itu, Weng Lou tidak terlihat di mana pun, dia ternyata sudah berjalan cukup jauh menelusuri pinggiran pantai.

__ADS_1


"Hm? Kenapa hari sudah sangat terang?" tanya Weng Ying Luan dengan bingung.


Lin Bei di kejauhan menyadari Weng Ying Luan sudah selesai meditasi dan segera menghentikan latihannya. Dia bergegas menuju Weng Ying Luan dengan tatapan aneh di matanya.


Dia berpikir Weng Ying Luan akan baru berhenti bermeditasi ketika hari sudah akan gelap kembali, dan membuat mereka terpaksa harus bermalam satu malam lagi di tempat ini. Orang ini benar-benar tidak tau waktu kapan harus berhenti, pikirnya.


"Hei, di mana orang pelit itu?" Weng Ying Luan bertanya pada Lin Bei.


Orang pelit yang dia maksud tidak lain adalah Weng Lou. Jika Weng Lou mendengar sebutan yang diberikan oleh Weng Ying Luan padanya, mungkin dia akan segera menerjang Ying Luan dan mengambil kembali sarung tangan yang dibuatnya.


Tentu saja, setelah memberikan beberapa pukulan kepadanya.


"Ah, aku baru menyadarinya. Sepertinya dia pergi memeriksa bagian tepi danau, tapi tanpa sadar sudah pergi terlalu jauh," jawab Lin Bei.


Weng Ying Luan mendecakkan lidahnya dan mulai bangkit berdiri dari tempatnya.


"Ayo kita cari dia. Aku mendapatkan firasat buruk tentang tempat ini. Danau ini tercipta dari bekas wilayah Keluarga Weng yang telah memisahkan diri dari Daratan Utama, kita tidak tau bahaya macam apa yang ada di dalam danau ini."


Lin Bei baru sadar telah melakukan kesalahan dengan membiarkan Weng Lou pergi seorang diri. Dengan dia yang memimpin, akhirnya dia pergi bersama Weng Ying Luan untuk mencari Weng Lou ke arah dimana dia terakhir kali melihatnya.


Sementara Weng Ying Luan dan Lin Bei pergi mencari keberadaan Weng Lou, di dalam sebuah gua yang terletak di antara tebing yang tersembunyi di pinggir danau, Weng Lou terlihat sedang berjalan dengan langkah pelan mengamati dinding gua yang berlumut.


Gua itu cukup dalam, dan sejauh ini Weng Lou telah berjalan paling tidak sejauh dua ratus meter dan belum ada tanda-tanda dia akan sampai di ujung gua. Bahkan bagian dalam gua itu sangat gelap hingga membuat Weng Lou harus menggunakan Kekuatan Jiwa nya untuk menelusuri bagian depan gua sambil terus berjalan pelan.


"Aku ingin tau seberapa dalam gua ini. Dari yang bisa aku lihat, sepertinya sudah sangat lama gua ini tidak dimasuki oleh orang. Simbol yang kutemukan di pintu masuk gua, Samma persis dengan simbol Keluarga Weng. Gua ini pasti berhubungan dengan Keluarga Weng."

__ADS_1


__ADS_2