
Di dalam kapal. Semua orang berkumpul dan sedang menikmati makan malam mereka, kecuali Weng Lou yang saat ini sedang berada di ruang kendali dan mengemudikan kapal agar mereka tidak tersesat.
Capit raksasa dari kepiting yang dibunuh oleh Weng Lou siang tadi dibuat menjadi sebuah sup yang sangat cocok dengan kondisi lingkungan mereka saat ini yang sedang mendung.
*Surppp...* Suara tegukan terdengar dari ruang kendali saat Weng Lou menghabiskan sup di mangkuknya.
"Ah....meski masakan mereka tidak terlalu hebat, tapi ini sudah cukup enak. Sayang sekali aku tidak menemukan rempah-rempah seperti di Pulau Pasir Hitam di Kepulauan Huwa. Seandainya ada, aroma dari sup ini bisa terus tercium meski sudah habis dimakan sekalipun," ucap Weng Lou yang menatap mangkuk di depannya.
Dia kemudian mengatur agar kemudi kapal bisa tetap lurus, sebelum kemudian pergi keluar dan melihat langit malam yang sangat gelap tanpa sedikitpun cahaya bintang atau bulan. Awan menutupi seluruh langit di atas mereka sehingga satu-satunya sumber cahaya hanyalah sebuah lentera raksasa yang telah dibuat oleh Choi dan diletakkan di atas ruang kendali.
Weng Lou bisa melihat laut di sekitar kapal hingga dua puluh meter, lebih dari itu dia tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Untungnya perairan di Lautan Mati sangat tenang semenjak mereka berhasil membunuh kepiting raksasa dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1 sebelumnya. Tapi Weng Lou menduga bahwa ini adalah ketenangan sebelum terjadinya badai besar. Untuk itu, dia ingin semua awak kapalnya bisa beristirahat sebanyak mungkin sebelum mereka menghadapi amukan badai yang tak lama lagi akan terjadi.
***
Di dasar lautan, seekor hiu martil sepanjang lima belas meter berenang dengan tenang ke dalam sebuah palung yang sangat gelap hingga cahaya dari permukaan bahkan tidak bisa menjangkaunya.
Meski begitu, hiu martil tersebut mampu berenang tanpa menabrak karang atau makhluk apapun dan terus bergerak ke bawah hingga lima menit kemudian dia sampai di dasarnya dan menemukan sebuah gua yang sangat besar dan terlihat beberapa ikan berukuran jauh lebih kecil darinya dengan mulut yang dipenuhi dengan gigi-gigi tajam berenang disekitar gua tersebut.
Hiu itu berenang mendekat dan seketika puluhan ikan bergigi tajam yang ada di tempat itu menghadangnya dan memperlihatkan gigi-gigi mereka yang tajam pada hiu martil tersebut. Tidak ada rasa takut sedikitpun saat mereka menghadang hiu itu meski besar tubuh mereka tidak sebanding dengan hiu itu, bahkan terlihat hiu martil itu lah yang sedang menggigil ketakutan ketika puluhan ikan kecil itu menghadangnya.
"Berhenti, jangan menakutinya." Sebuah suara yang sangat dalam dan berat terdengar dari dalam gua dan membuat mulut gua itu bergetar karena suara tersebut.
Mendengar suara tersebut, ikan-ikan kecil itu pun segera membubarkan diri dan membiarkan hiu martil itu lewat dan masuk ke dalam gua. Hiu martil itu menatap ke kanan dan kirinya, dimana tumpukan tulang dalam jumlah besar tergeletak di tanah dan juga beberapa kepingan koin emas berkilauan di dalam gelap, bergabung bersama dengan tumpukan tulang tersebut.
Semakin masuk ke dalam, tulang dan koin-koin emas yang ada di tanah semakin bertambah banyak hingga kemudian, hiu itu sampai di ujung gua dimana terdapat sebuah ruangan raksasa yang berisikan sebuah bukit kecil yang tercipta dari tumpukan harta perhiasan dan koin emas, serta berbagai barang-barang yang berkilau lainnya.
Di samping bukit itu, sebuah bukit yang lebih besar terbentuk dari tumpukan berbagai macam jenis tulang makhluk hidup dalam kondisi tidak lengkap.
Suhu di bagian dalam gua ini sangat dingin hingga membuat hiu martil itu merasa kedinginan. Dia gemetar ketakutan saat sebuah mata merah menyala muncul dari langit-langit gua yang gelap. Hiu itu tak berani menatap mata itu dan hanya menunduk sambil gemetar ketakutan setengah mati.
"Apa yang membawa mu ke sini? Apakah manusia yang sebelumnya sudah kalian temukan?" Suara berat yang sama seperti sebelumnya kembali terdengar dari arah mata merah itu.
Tumpukan perhiasan dan tulang yang ada di ruangan itu bergerak hebat saat suara itu terdengar, bahkan sepertinya akan jatuh terhibur ke tanah kapan saja.
Hiu martil itu menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan itu, "Ti-Tidak....tapi kami menemukan sebuah kapal yang dinaiki oleh orang yang berbeda."
"Hm? Orang yang berbeda? Apa kalian sudah menenggelamkan kapalnya?" Kali ini, sebuah suara lain terdengar dari arah tumpukan tulang Yanga dan di situ. Meski sosoknya tak kelihatan, tapi hiu itu langsung dipenuhi dengan rasa was-was saat suara itu terdengar.
"Tidak, kami tidak berhasil karena gagal mengejarnya. Kapal itu tidak memiliki layar sama sekali, tapi bisa bergerak sangat cepat. Dan juga.....Tuan Juxie sudah berhasil mengejarnya saat kapal itu masuk di teritori nya, namun....." Hiu itu menghentikan ceritanya saat mengingat adegan tubuh kepiting raksasa yang terjatuh dari atas kapal dan disaksikan oleh dirinya dengan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1
Mendengar hiu itu berhenti bercerita, sebuah suara lain muncul dari dalam tumpukan emas dan perhiasan, "Namun apa? Apa kepiting bodoh itu terluka setelah menenggelamkan kapal itu? Atau apa? Jangan bercerita setengah-setengah!"
Suara itu berseru marah dan langsung membuat tumpukan emas dan berbagai macam benda berkilau itu runtuh dan memperlihatkan sebuah kepala belut raksasa yang tubuhnya berada di dalam tanah. Besar kepala belut itu dua kali lebih besar dari tubuh sang hiu martil.
"Tu-Tuan Juxie! Dia mati.....Saya menemukan tubuhnya terjatuh dari atas kapal dengan kondisi mengerikan. Bagian dalam tubuhnya seperti telah diacak-acak, dan kedua capitnya juga ikut menghilang, sepertinya diambil oleh orang-orang di atas kapal tersebut...." Suara hiu itu perlahan mengecil saat dia menjelaskan semua yang dia ketahui dan dia pun sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi dari ketiga makhluk yang ada di depannya tersebut.
"Apa?! Mati?! Jangan bercanda! Aku bahkan tidak bisa menghancurkan begitu saja cangkang kotor yang dimiliki kepiting bodoh itu! Bahkan ketika bertarung melawan manusia waktu itu dia tidak mengalami banyak luka karena cangkangnya yang sangat keras!" Belut besar yabg ada di balik tumpukan emas tersebut terlihat tidak percaya, sementara sosok di langit-langit yang hanya terlihat matanya saja itu tampak seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius.
"Dimana tubuhnya? Apa kau berhasil mengamankannya?" Suara dari makhluk yang ada di langit-langit gua itu bertanya pada hiu tersebut dan segera dibalas dengan anggukan, "Ya, saya berhasil mengamankannya dan menaruhnya di dalam sarang saya agar menghindari incaran binatang lain."
"Bagus, untung kau mendapatkannya. Setidaknya aku bisa membuat paus bodoh itu menahan emosinya. Sekarang beritahu dimana kapal itu berada saat ini? Aku akan pergi dan menenggelamkannya dan mencabik-cabik orang yang sudah membunuh Jungxie."
"Sebelumnya saya berhasil mengikuti mereka sampai di perbatasan wilayah milik Tuan Jungxie, setelah itu saya tidak mengikutinya lagu karena takut beberapa Tuan yang lain marah kepada saya karena memasuki wilayah mereka. Menurut perkiraan saya, kapal tersebut sedang bergerak ke arah dimana kapal yang waktu itu datang ke wilayah ini."
"Itu berarti mereka memiliki hubungan dengan wanita itu. Ini jauh lebih baik, kita semua bisa langsung bergerak dan membunuh mereka semua sekaligus," ucap belut itu dengan senang.
"Tunggu duku. Lalu bagaimana dengan paus itu? Siapa yang akan memberitahunya?" tanya suara di dalam tumpukan tulang tersebut.
"Ah, ada orang lain dari kami yang sudah pergi memberitahu Tuan Ju. Seharusnya dia sudah mendapatkan informasi yang sama seperti yang saya katakan kepada Tuan di tempat ini." Hiu martil itu berbicara dengan tenang dan merasa bangga karena dia bekerja dengan gesit dan cepat.
Tapi dia tidak menyadari bahwa tatapan mata dari ketiga makhluk mengerikan di depannya saat ini sedang menatapnya dengan marah dan napsu membunuh keluar dari dalam tubuh mereka.
"DASAR BODOH!!! KAU MEMBUAT PAUS ITU TAU LEBIH DULU DARI KAMI?! APA KAU INGIN PAUS SIALAN ITU MENGHANCURKAN SARANG-SARANG DI WILAYAH INI?!"
Dari langit-langit itu, sebuah sosok yang mengerikan muncul dan meraung dengan marah kepada hiu itu. Sebuah mulut bulat yang memiliki besar melebihi tubuh hiu itu terbuka lebar dan memperlihatkan mulut yang dipenuhi dengan gigi-gigi tajam.
Sosok dari makhluk yang ada di langit-langit itu adalah sebuah gurita dengan tubuh yang bahkan memenuhi seluruh langit ruangan di dalam gua tersebut. Tentakel-tentakelnya terlihat menempel di sekitar lorong gua dan salah satunya saat ini sedang mencengkram erat sang hiu martil.
"To-Tolong ampuni aku, Tuan ku! Aku sudah salah! Tolong berikan kesempatan pada hamba mu ini!" Hiu itu dengan menyedihkan berusaha untuk lepas dari genggaman tentakel gurita tersebut, tapi semakin dia melawan tentakel itu semakin melilitnya hingga seluruh tubuhnya tidak terlihat lagi.
Tentakel itu pun langsung bergerak ke mulut sang gurita, dan hiu martil tersebut di tekannya bulat-bulat.
Menyaksikan itu, sosok belut yang tubuhnya ada di alam tanah mulai bergerak keluar dan mendengus dengan marah.
"Si bodoh itu, dia membuat segalanya menjadi rumit," ucap belut tersebut segera pergi keluar dari gua dan diikuti oleh sang gurita.
Tak lama, tumpukan tulang yang membentuk bukit di dalam gua itu mulai berjatuhan dan memperlihatkan sebuah moncong panjang dari seekor ikan besar yang gigi-gigi taringnya mencuat keluar dan memperlihatkan beberapa tulang yang terangkut diantara gigi nya.
Sosok nya berenang keluar dari gua itu dan memperlihatkan seluruh tubuhnya yang membuat identitasnya terungkap. Dia adalah seekor ikan barakuda dengan tubuh yang sangat panjang dan besar. Panjang tubuhnya bahkan hampir menyamai panjang dari belut raksasa yang ada di situ. Dia dengan cepat keluar dari gua dan segera tiba di samping gurita besar yang sudah keluar lebih dulu.
"Kita harus cepat, jika paus sialan itu lebih dulu tiba dari kita, maka segalanya akan menjadi merepotkan untuk kita," ucap sang gurita besar tersebut.
__ADS_1
Dengan dipimpin oleh gurita itu, mereka semua pun bergerak menuju ke arah kapal kelompok Weng Lou saat ini berada. Bisa dilihat kecepatan mereka jauh berbeda dengan kecepatan dari binatang buas yang telah berusaha mengejar kelompok Weng Lou sebelumnya.
Kecepatan mereka saat ini lebih cepat dari kecepatan kapal uap Weng Lou dan sebentar lagi pasti akan bisa menyusul mereka.
***
Tebgah malam, di perairan Lautan Mati.
"Hei, kau merasakannya?" Kera Hitam Petarung bertanya pada Weng Lou yang sekarang sedang berdiri di tengah geladak kapal sambil memejamkan matanya.
Weng Lou membuka matanya dan melihat ke arah Kera Hitam Petarung yang baru saja keluar dari dalam kapal. Dia berbicara dengan suara serius padanya, "Ya, dan mereka bergerak dalam kecepatan yang mengerikan. Sebentar lagi mereka akan tiba."
Mata Weng Lou menatap ke satu arah dan dia segera berjalan masuk ke dalam ruangan kendali dan mengeluarkan bungkusan kain yang disembunyikannya di balik lantai kayu. Bungkusan itu dibuka, dan memperlihatkan dua pedang kembar yang merupakan senjata buatan Weng Lou kemarin. Menurutnya, ini adalah waktunya dia menggunakan kedua senjata barunya ini.
Dengan tenang Weng Lou berjalan keluar dari ruangan kendali sambil membawa kedua pedang kembar tersebut di tangannya. Pada punggungnya, terdapat satu tas penuh anak panah yang juga merupakan buatannya sendiri. Ini semua merupakan segala persiapan yang sudah dia buat untuk menghadapi bahaya di dalam Lautan Mati.
Mata Kera Hitam Petarung terpaku sejenak pada kedua pedang di tangan Weng Lou dan dia tertawa pelan melihatnya. "Jadi itu yang kau buat kemarin? Tidak seperti senjata yang cocok dengan dirimu," ucapnya yang telah menggenggam sebuah pisau yang cocok dengan besar tubuhnya.
Pisau ini adalah buatan Weng Lou. Dia membuatnya seusai membuat semua anak panah untuk senjatanya. Dia sendiri sebenarnya merasa tidak puas dengan pisau di tangan Kera Hitam Petarung itu, menurutnya pisau ini lebih cocok disebut dengan tusuk gigi.
"Kau yakin ingin menggunakan itu? Apa kau pernah menggunakan senjata sebelumnya?" Weng Lou bertanya pada Kera Hitam Petarung sambil naik ke atas kepalanya.
"Kau mengejek ku? Walau hanya seekor binatang buas, aku ini memiliki sedikit keahlian untuk menempa. Aku bahkan pernah membuat sebuah senjata berupa kapak waktu masih hidup bebas!" ujar Kera Hitam Petarung yang seperti sedang membanggakan dirinya sendiri.
"Ya ya ya, aku percaya padamu."
"Ck, kau jelas sekali tidak percaya."
Keduanya kemudian mengakhiri pembicaraan mereka, saat kapal yang mereka naiki mendadak bergetar hebat.
"Apa yang terjadi?" Weng Lou tampak serius saat dia melihat ke sekitar kapal.
Lentera besar di atas kapal menunjukkan sosok bayangan yang sangat besar baru saja melewati bawah kapal mereka dan merupakan penyebab utama yang membuat kapal mereka bergetar barusan. Weng Lou mengambil salah satu anak panah di punggungnya dan memantik sebuah sumbuh yang ada di ujungnya lalu melemparkannya tinggi ke udara.
*BOMM!!!* Sebuah ledakan kecil terjadi dan cahaya yang menyilaukan langsung bersinar dengan terang membuat segala dalam radius dua ratus meter terlihat dengan jelas.
Akan tetapi mulut Weng Lou dan Kera Hitam Petarung segera terbuka lebar saat cahaya tersebut memperlihatkan sesosok makhluk raksasa yang berada di depan kapal mereka dan sedang membuka mulutnya lebar, siap untuk menelannya utuh.
"HENTIKAN MESIN!!!! MUNDUR KAN KAPAL!!!!" Weng Lou berteriak dengan cepat ketika menyaksikan air laut yang bergerak masuk dengan sangat cepat ke dalam mulut besar tersebut.
Mereka harus bisa menghindar dari mulut tersebut, atau jika tidak mereka semua akan tertelan hidup-hidup olehnya.
__ADS_1