Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 384. Mencoba Berbagai Macam Makanan


__ADS_3

Sementara kelompok Weng Lou memilih menginap di sebuah penginapan yang tampak kecil sepi dari pengunjung, kelompok Weng Baohu Zhe bersama para murid dari Keluarga Leluhur Weng memilih untuk menginap di sebuah penginapan yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi penginapan kelompok Weng Lou.


Hal ini tidak lain karena Weng Baohu Zhe yang tidak percaya diri bisa menjaga semua murid yang dirinya jaga saat ini jika seandainya mereka mendapatkan masalah nantinya.


Meskipun belum tentu Jian Qiang akan membantu, tapi setidaknya Weng Ying Luan dan juga Weng Lou pasti akan membantunya karena mereka juga merupakan anggota dari Keluarga Weng, entah mereka dari keluarga cabang atau bukan, mereka tetaplah satu bagian dari Keluarga Weng.


Penginapan yang mereka pilih ini memiliki bangunan tiga lantai dan letaknya berada di dekat sebuah pertigaan jalan, sehingga suasananya sangatlah ramai di sini.


"Tetua, bisakah kami jalan-jalan?" Weng Tie bertanya kepada Weng Baohu Zhe.


Di belakangnya terlihat 3 orang murid laki-laki lain sedang menunggu jawaban darinya. Weng Baohu Zhe langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaannya itu. Kota Hundan ini sangatlah rawan akan kejahatan di segala tempat.


Bukan ide bagus baginya untuk mengizinkan Weng Tie dan teman-temannya pergi berkeliaran di kota ini, pikir Weng Baohu Zhe.


"Lebih baik kalian berlatih saja, atau melakukan hal lain di kamar kalian. Akan berbahaya jika seandainya kalian sampai mendapat masalah dengan para Praktisi Beladiri yang berbuat jahat kepada kalian. Para Praktisi Beladiri yang ada di kota ini berbeda dengan kota-kota yang pernah kalian temua di kota-kota yang ada di Wilayah Barat kita," ucap Weng Baohu Zhe.


Mendengarnya Weng Tie dan 3 lainnya pun langsung pergi ke kamar mereka tanpa berani melawan sama sekali. Mereka bukanlah Weng Lou dan Weng Ying Luan yang memiliki keberanian yang mengerikan.


Tak beberapa lama setelah Weng Tie dan teman-temannya pergi, Weng Wan bersama dengan Weng Hua dan Weng Ning datang menghampiri Weng Baohu Zhe.


Weng Baohu Zhe bisa menebak apa yang ingin mereka katakan dan segera menggeleng kepala cepat.


Meski ketiganya merupakan 3 murid berbakat dari Keluarga Leluhur Weng yang digadang-gadang akan sanggup menjadi seorang Tetua Besar nantinya di Keluarga Leluhur Weng sekali pun, bukan berarti Weng Baohu Zhe akan pilih kasih kepada mereka.

__ADS_1


Ya memang itulah yang seharusnya terjadi jika seandainya Weng Lou dan Weng Ying Luan bersama dengan Pang Baicha dan Shan Hu datang ke tempat mereka.


"Halo Tetua, kami ingin mengajak Weng Hua, Weng Ning, dan juga Weng Wan untuk jalan-jalan," ucap Weng Ying Luan yang tersenyum kepada Weng Baohu Zhe.


Kali Weng Baohu Zhe hanya diam tanpa mengatakan apapun. Melihat sikapnya itu, Weng Ying Luan pun menatap Weng Lou dan mengangkat keduanya bahunya, Weng Lou pun berjalan kearah Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning.


"Ayo kita pergi," ajak Weng Lou pada mereka bertiga.


Ketiganya terdiam dan menatap Weng Baohu Zhe yabg diam sedari tadi. Karena tidak ada reaksi apapun dari nya, akhirnya ketiganya pun menerima tawaran Itu dan kemudian pergi bersama dengan kelompok Weng Lou.


Sampai mereka semua pergi Weng Baohu Zhe masih tetap diam. Dia menghela napasnya dan kemudian memilih untuk masuk ke dalam kamarnya, tanggung jawabnya kepada Weng Wan, Weng Hua, dan juga Weng Ning dia serahkan semua kepada Jian Qiang, karena Jian Qiang selalu mengawasi Weng Lou setiap waktunya.


Dirinya dapat mengetahui hal itu karena bisa merasakan kekuatan jiwa dari Jian Qiang yang terpancar jelas di sekitar kelompok Weng Lou.


***


Berbagai macam jenis makanan yang ada di Wilayah Tengah bisa ditemukan di Kota Hundan. Bahkan makanan dari Wilayah Barat juga ada dijual di sini.


Weng Lou dan Weng Ying Luan yang berniat untuk mencoba segala jenis makanan yang ada di Kota Hundan, memulai rencana mereka dari sebuah rumah makan yang berada di samping penginapan Weng Wan dan yang lain.


Di rumah makan ini hanya menyediakan satu menu saja, yaitu sebuah masakan yang terbuat dari potongan-potongan daging yang telah dibakar sebelumnya, dan kemudian dimasak lagi dengan campuran sambal khusus yang menggunakan resep turun temurun dari pemilik rumah makan tersebut.


Karena penasaran mereka dengan percaya dirinya memesan menu terbaik yang disediakan oleh rumah makan itu yang mana setiap porsinya mengunakan lebih dari 30 cabai merah yang tingkat kepedasannya benar-benar luar biasa. Makanan ini memang hanya disajikan bagi para Praktisi Beladiri, sehingga tingkat kepedasannya benar-benar tak masuk akal.

__ADS_1


Belum setengah piring mereka memakan pesanan mereka itu, wajah mereka semua sudah memerah karena kepedasan, kecuali Weng Ning dan Shan Hu yang tampak biasa saja.


"Saat masih menjadi bandit, kami sering mengadakan perlombaan memakan satu keranjang penuh cabai merah jadi bisa dikatakan aku sudah kebal dengan semua makanan pedas," jelas Shan Hu dengan bangga kepada mereka semua.


"Aku memakai hawa dingin dari es ku untuk membuat rasa pedas dari daging yang aku makan menjadi cepat reda oleh sebab itu aku tampak biasa saja," ucap Weng Ning dengan tampang biasa dan tak bersalahnya.


Weng Lou dan yang lain hanya bisa tersenyum kecut mendengar keduanya. Bagi laki-laki seperti Weng Lou, Weng Wan, Weng Ying Luan, dan Pang Baicha, kalah dari seorang perempuan itu benar-benar memalukan, terlebih dari makanan pedas.


"Hei, ayo cari tempat lain, lidahku sudah seperti terbakar setelah memakan daging-daging ini." Weng Hua berbicara sambil membuka mulutnya lebar.


Tampak dirinya sangat kepedasan.


"Ya, lagi pula sama saja bohong jika kita tidak bisa menikmati makanan ini," ujar Pang Baicha yang kemudian meminum segelas air hingga habis.


"Hei, bocah! Aku sudah katakan kalian tidak akan sanggup, tapi kalian masih tetap ngotot ingin memesannya! Aku tidak mau tau, pokoknya semua pesanan kalian itu harus bisa habis di sini, aku tidak akan membiarkan kalian pergi sebelum semuanya habis!"


Pemilik rumah makan itu adalah seorang pria berusia berumur sekitar empat puluhan. Memiliki tubuh yang sedikit gempal namun tubuh cukup tinggi.


Kelompok Weng Lou saling memandang satu sama lain sebelum akhirnya melanjutkan makan makanan pesanan mereka itu.


Mereka tidak mau sampai membuat masalah hanya karena masalah sepele seperti ini. Usai dua puluh menit kemudian, mereka pun berhasil menghabiskan makanan pesanan mereka itu.


Mereka berjalan keluar dari rumah makan itu dengan wajah merah menahan rasa pedas yang menyengat pada mulut mereka setelah membayar sebesar 30 koin emas kepada pemilik rumah makan itu. Hanya Weng Ning dan Shan Hu saja yang masih tampak biasa saja.

__ADS_1


Kelompok Weng Lou pun melanjutkan perjalanan mencari makanan mereka, dan kali ini tujuan mereka selanjutnya adalah sebuah restoran yang memiliki kondisi bangunan jauh lebih megah dan mewah dibandingkan dengan rumah makan tempat mereka makan sebelumnya.


__ADS_2