
Weng Lou dan Weng Ying Luan berjalan bersama keluar dari toko material yang membuat mereka secara tidak sengaja bertemu kembali itu.
Keduanya mengobrol ria ketika melewati jalanan Kota Tiesha yang padat akan penduduk dan orang-orang yang berjualan di pinggiran jalan. Sesekali beberapa penjaga berlalu lalang sambil mengenakan baju zirah mereka yang berwarna merah mencolok dan menarik perhatian tiap kali kemana saja.
Weng Lou membawa Weng Ying Luan menuju ke sebuah penginapan tempat kelompoknya menginap.
Beberapa awak kapalnya terlihat sedang santai di restoran yang dibangun di lantai satu penginapan tersebut. Mereka menikmati arak dan makanan mereka, sementara tidak jauh dari situ, Du Zhe sedang duduk dengan santai membaca sebuah kitab berisikan panduan Penggunaan Tenaga Dalam dan Penyerapan Tenaga Dalam Alam yang ditulis sendiri oleh Weng Lou untuk Du Zhe.
Meski dirinya tidak memiliki Qi, atau pun Dantian untuk mengendalikan Tenaga Dalam Alam, namun pengetahuan dari pengalamannya sudah tercatat dengan jelas di dalam kepalanya. Weng Lou tidak mau menyombongkan dirinya, namun dia yakin tidak ada yang lebih paham menggunakan Tenaga Dalam Alam selain dirinya dan beberapa pemilik Dantian Tanpa Unsur lainnya sepertinya yang mampu memaksimalkan Dantian tersebut.
"Ah, Guru! Akhirnya kau kembali, aku sangat bosan di sini seharian!"
Du Zhe menoleh ke arah Weng Lou sambil memasang senyum lebarnya ketika melihat sosok gurunya tersebut. Dengan cepat dia bangkit berdiri dan berlari kecil ke arah Weng Lou sambil memeluknya.
Weng Lou membiarkannya selama beberapa saat sebelum kemudian menyuruh Du Zhe untuk menunggunya di sini, sementara dia akan berbincang dengan Weng Ying Luan. Du Zhe baru menyadari kehadiran Ying Luan dan dia terpana ketika melihat sosoknya.
Tinggi Weng Ying Luan bisa dibilang sedikit berkembang semenjak dia dan Weng Lou terpisah. Sekarang tinggi Weng Lou hanya setinggi kedua matanya saja. Namun bukan itu yang membuat Du Zhe terpana ketika melihatnya.
Apa yang membuatnya terpana adalah sensasi aneh yang ada disekitar tubuh pemuda itu. Dia merasakan seperti Tenaga Dalam Alam disekitarnya selalu terhisap oleh Weng Ying Luan dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Weng Ying Luan tampak seperti monster pemakan Tenaga Dalam Alam di matanya.
"Jadi kau benar-benar mengangkat seorang murid, huh? Kupikir hanya bercanda saat mengatakan hal itu di jalan tadi," ucap Weng Ying Luan sambil sedikit menundukkan tubuhnya untuk bisa berhadap muka dengan Du Zhe.
Dia menatap dari atas sampai bawah tubuh Du Zhe sebelum kemudian memasang tatapan mata sedikit terkejut sambil menoleh ke arah Weng Lou yang memasang senyuman sombong.
"Bajingan tengik ini, bagaimana kau bisa menemukan anak seperti ini? Bahkan sebuah Keluarga Klan Besar yang katanya bisa menemukan semua jenius di wilayah mereka seharusnya akan lebih dulu mendapatkan anak ini, lalu bagaimana kau bisa membuatnya menjadi murid mu?" Weng Ying Luan bertanya dengan penasaran.
"Kau lebih penasaran dengan hal seperti itu dibandingkan dengan menyapa murid ku dan memberikannya beberapa hadiah perkenalan?" Weng Lou memasang ekspresi wajah datarnya ketika bertanya balik pada Weng Ying Luan.
Weng Ying Luan mendecakkan lidahnya mendengar itu, dia pun menatap kembali pada Du Zhe sambil mengeluarkan sebuah buku kecil yang sedikit usang dari dari dalam cincin penyimpanan miliknya dan memberikannya pada Du Zhe.
"Hei, Du Zhe. Nama ku adalah Weng Ying Luan, kau bisa memanggilku dengan panggilan apapun yang kau suka. Aku adalah rekan Guru, mu ini. Sebagai hadiah dari ku, aku memberikan catatan perjalanan beladiri ku ketika masih berada di Dasar Pondasi tingkat 3 sampai 6 pada mu. Aku harap kau bisa menggunakannya dengan baik."
Du Zhe menerima buku tua itu dengan mata bersinar terang. Dia menatap buku di tangannya seolah itu adalah sebuah harta yang sangat berharga.
"Te-Terima kasih, Paman Luan! Aku akan menjaga hadiah anda ini dengan baik!" Du Zhe berbicara dengan cepat sambil menunduk berterima kasih.
"Tidak tidak, jangan Paman Luan! Ada banyak panggilan yang bisa kau pakai untuk memanggil ku, tapi kenapa kau malah memanggil ku paman? Aku ini hanya beberapa tahun lebih tua dari gurumu ini! Sial, panggil aku Kakak Luan atau Senior Luan saja, itu masih jauh lebih bagus dibandingkan dipanggil paman." Weng Ying Luan dengan cepat memprotes panggilan yang dibuat oleh Du Zhe untuknya.
__ADS_1
Seumur-umur dia belum pernah dipanggil dengan sebutan paman oleh orang lain, Du Zhe adalah orang pertama yang memanggilnya dengan sebutan paman dan itu jelas melukai diri Ying Luan. Dia memang terlihat dewasa dan memiliki postur tubuh yang sedikit besar, tapi dipanggil dengan sebutan paman itu terlalu berlebihan.
Dia bahkan baru berusia dua puluh, bagaimana pemuda sepertinya dipanggil seperti itu?
"Ah! Maafkan aku, Senior Luan!" Dengan buru-buru Du Zhe meminta maaf pada Weng Ying Luan dia tidak tau kalau Weng Ying Luan tidak senang dengan panggilan seperti itu.
"Em, kalau begitu berlatihlah yang giat, aku mengharapkan yang terbaik dari mu. Anak seperti mu memiliki guru yang sangat hebat, jadi muridnya juga harus hebat juga, mengerti?"
"Baik, aku mengerti, Senior!"
"Bagus, kalau begitu kami akan pergi dulu Du Zhe. Jangan nakal!"
Weng Lou dengan cepat membawa Weng Ying Luan menuju ke kamar yang dia tempati di lantai dua penginapan. Meski hanya memiliki dua lantai, namun nyatanya penginapan tempat mereka berada ini sangatlah besar, dua kali lebih besar dari pada toko bahan material yang keduanya kunjungi sebelumnya.
Pemilik penginapan ini sangatlah cerdas, dia lebih memilih mengeluarkan uang lebih untuk membayar tanah tempatnya membangun penginapan dibandingkan memilih untuk membangun tingkat 3 pada penginapan nya. Hal ini dia lakukan karena biaya tanah di Kota Tiesha jauh lebih masuk akal dibandingkan biaya jumlah tingkat bangunannya.
Entah apa yang dipikirkan oleh orang-orang dari Keluarga Lin, namun yang pasti ada lebih banyak orang seperti pemilik penginapan ini yang juga melakukan hal yang sama.
Di dalam kamar, Weng Lou dengan cepat duduk di kursi dekat tempat tidur nya sementara Weng Ying Luan telah lebih dulu duduk di kursi dekat jendela luar dimana terdapat meja kecil yang di atasnya Weng Lou letakkan beberapa kue ringan.
*Crunchh....*
"Jadi mengenai bagaimana kau bisa sampai di sini, bisakah kau menceritakannya padaku?" Weng Lou bertanya pada Weng Ying Luan yang telah selesai mengunyah kue di dalam mulutnya.
*Glek.* Weng Ying diam sebentar dan memikirkan bagaimana dia harus memulai ceritanya.
'"Hmmm.....baiklah.....bagaimana aku mengatakannya yah....oh ya benar. Ketika kau melakukan teknik anehmu itu, aku dan gajah berbulu bertubuh besar yang kita hadapi di Turnamen Beladiri Bebas terlempar ke sebuah pulau yang sangat jauh dari Pulau Pasir Hitam."
Weng Ying Luan pun mulai menceritan semua yang terjadi padanya. Mulai dari hal sepele yang bahkan tidak Weng Lou pedulikan, sampai dengan beberapa hal yang benar-benar menarik perhatian Weng Lou.
Semuanya itu Weng Ying Luan ceritakan tanpa adanya hal yang dia sembunyikan sedikit pun pada Weng Lou. Termasuk bagaimana cara dia memaksa seluruh binatang buas yang memiliki kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa untuk tunduk padanya.
Bukannya dia tidak mau menyembunyikan nya, namun Weng Lou sudah lama tau kekuatan asli Weng Ying Luan secara garis kasar karena mereka berdua memiliki Dantian Tanpa Unsur.
Apalagi, Weng Lou memiliki kemampuan penggunaan Qi yang jauh lebih beragam dari Weng Ying Luan ketika terakhir kali mereka bersama. Kekuatan Jiwa yang disimpan oleh Weng Ying Luan di dalam tubuhnya tidak bisa disembunyikan nya dari Weng Lou, bahkan sejak mereka masih berada di Sekte Langit Utara Weng Lou sudah menyadarinya.
Namun dia bukanlah tipe orang yang mengurusi hal-hal seperti itu karena pada dasarnya Weng Ying Luan juga tau seberapa besar kekuatan Weng Lou. Bisa dibilang mereka saling menjaga rahasia satu sama lain.
__ADS_1
Setelah selesai menceritakan kisahnya di Pulau Dongwu Weng Ying Luan melanjutkan dengan cerita di di Kota Tiesha ini. Bagaimana dia menghabiskan waktunya untuk mengumpulkan uang dan juga masalah yang harus dia hadapi karena ulah para penggemar tidak warasnya.
Dia juga menceritakan kejadian tadi malam di restoran ketika dia tidak sengaja melihatnya di luar restoran pada Weng Lou.
Selesai menceritakan semua itu, Weng Ying Luan pun melanjutkan memakan kue di atas meja. Kini giliran Weng Lou untuk bercerita pada Weng Ying Luan.
Dia menceritakan ketika dia terlempar bersama Kera Hitam Petarung ke Pulau Fanrong dan bertemu dengan Du Zhe di sana. Weng Lou menceritakan tentang perbudakan yang terjadi di pulau itu dan Weng Ying Luan pun mulai mengutuk tindakan kaisar yang melakukan hal tersebut pada rakyatnya sendiri.
Cerita Weng Lou berlanjut ketika dia kehilangan Dantiannya. Pada bagian ini Weng Lou mengarangnya dan menceritakan sebuah cerita palsu pada Weng Ying Luan. Mau bagaimanapun, dia tetap memiliki rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain.
Setelah setengah menit bercerita, akhirnya Weng Lou pun selesai. Pada saat ini, mulut Weng Ying Luan terbuka lebar setelah mendengarkan semua cerita Weng Lou. Setelah beberapa saat dia pun berkedip dan mendadak mengepalkan tangannya dengan erat sambil mendecakkan lidahnya.
"Ah, sialan! Bagaimana bisa kau mendapatkan semua petualangan itu sementara aku terjebak di sini berusaha mengumpulkan uang dari bertarung?! Itu tidak adil sama sekali! Kau berhadapan dengan banyak sekali orang kuat dan mengalami beberapa hal yang sangat buruk padaku, aku tidak bisa menerima ini, sial!!"
Weng Ying Luan berbicara dengan jengkel. Namun dirinya tidak berhenti memasukkan kue ke dalam mulutnya, membuatnya tampak seperti orang rakus.
"Oh ya, lalu bagaimana dengan Kera Hitam Petarung, dimana kau menyembunyikan nya?" Weng Ying Luan bertanya dengan penasaran.
"Aku menempatkan nya di dalam kabin kapal. Aku berencana mengunjunginya malam ini, dia pasti merasa kesal karena aku menyuruhnya untuk terus sembunyi di dalam kapal sendirian," jawab Weng Lou.
"Hm, kalau begitu aku akan membawa gajah bau itu untuk menemuinya. Dia mungkin akan senang bertemu dengan sesama teman binatang nya."
Weng Lou mengangguk mengerti. Keduanya pun memilih keluar dari kamar dan menuju ke restoran di bawah penginapan. Di bawah para awak kapal Weng Lou semuanya sudah selesai makan dan memilih kembali ke kamar mereka masing-masing, Du Zhe juga sudah tidak ada di situ sehingga hanya ada beberapa orang saja yang mengisi beberapa meja.
Keduanya pun memilih untuk duduk di sebuah meja di dekat tangga dan segera memesan beberapa makanan.
Mereka tidak memesan satu dua makanan saja, melainkan makanan yang banyaknya cukup untuk membuat sebuah pesta kecil. Perlu waktu hampir setengah jam sebelum makanan mereka semua siap dan di bawakan ke meja mereka.
Karena jumlahnya yang terlalu banyak, beberapa pelayan menempatkan dua meja lainnya untuk ditempatkan di hubungkan dengan meja kelompok Weng Lou. Makanan mereka itu terdiri dari beragam jenis makanan mulai dari sayuran, daging, kue pencuci mulut, dan juga beberapa arak yang dipesan oleh Weng Ying Luan.
"Jadi kau mulai meminum arak, huh? Kau sudah seperti orang dewasa saja," ujar Weng Lou yang mengomentari Weng Ying Luan yang sedang mengisi cangkirnya dengan arak yang memiliki aroma sangat menyengat.
Weng Lou bahkan sampai mengerutkan keningnya hanya dengan mencium bau arak itu, tidak bisa dia bayangkan bagaimana rasanya.
"Hahaha....kau itu masih belum cukup umur, jadi belum tau rasanya. Jika kau meminum dua tiga gelas saja, kujamin kau akan mulai ketagihan!" Dengan cepat Weng Ying Luan mengambil cangkirnya yang telah terisi penuh dengan arak itu lalu dia pun menghabiskannya dalam satu tegukan.
"Eghh....ahh.....terlepas dari baunya yang menyengat, rasa arak ini sangat kuat! Benar-benar rasa yang unik!" Weng Ying Luan memberikan komentarnya.
__ADS_1
Melihat Ying Luan yang sudah mulai menikmati araknya, Weng Lou hanya bisa menggelengkan kepala nya.
Dia pun mengambik makanan di depannya dan mulai makan dengan lahap. Mereka menghabiskan malam itu dengan bersenang-senang.