
Weng Lou dan yang lainnya berhenti berlatih pada dua hari sebelum Turnamen Beladiri Bebas dimulai.
Ini karena mereka yang sudah terus-menerus berlatih selama tiga minggu tanpa henti sama sekali, sehingga mereka memutuskan agar dua hari sebelum Turnamen, mereka akan memakainya untuk beristirahat dan menenangkan pikiran mereka.
Sore hari, di bekas markas Kelompok Darah.
Weng Lou bersama dengan teman-temannya datang ketempat itu dan menemui Shan Hu yang selama tiga minggu ini Weng Lou tempatkan dirinya di tempat ini.
Isi bangunan bekas markas Kelompok Darah ini telah dirubah oleh Shan Hu sesuai perintah dari Weng Lou. Benda-benda bekas milik Kelompok Darah hampir semuanya dihancurkan dan diganti dengan barang-barang baru seperti kursi dan meja yang ada pada ruangan tamu atau ruang depan dari bangunan tersebut.
Barang-barang yang ada di dalam lemari dibuang atau dihancurkan. Sedangkan pernak-pernik yang ada dijual, lalu dipakai untuk membeli kembali meja dan kursi baru yang kemudian ditempatkan pada ruangan depan, dimana meja dan kursi sebelumnya telah dihancurkan.
Sementara itu, barang jarahan milik Kelompok Darah yang diletakkan di ruang bawah tanah semuanya Weng Lou jual pada kakek tua pemilik penginapan tempat mereka menginap.
Uangnya tidak dia pakai untuk membeli apapun, melainkan hanya dia simpan. Rencananya Weng Lou akan memakai uang hasil penjualan barang-barang jarahan milik Kelompok Darah itu jika seandainya mereka menemukan sebuah desa atau tempat yang mengalami kesusahan.
Weng Lou tidak memiliki niat untuk memakai uang-uang itu untuk kepentingannya atau rekan-rekannya sama sekali.
"Hei Lou, vas bunga ini aku letakkan di samping jendela ruangan sebelah, tidak apa-apa bukan? Menurutku ini akan cocok jika nantinya ditanami dengan tanaman hias," tanya Lin Mei pada Weng Lou sambil menunjukkan sebuah vas dari giok di tangannya.
Saat ini mereka sedang sibuk menyusun barang-barang yang baru mereka beli di markas baru mereka ini. Karena ini adalah milik Weng Lou, jadi Lin Mei tidak ingin bertindak sesuka dirinya sendiri.
"Ah, taruh saja dimana yang menurut mu bagus. Aku tidak terlalu mengerti tentang menata barang-barang." Weng Lou menjawab sambil tersenyum kecil.
"Ya, itu memang benar, dia sama sekali tidak tau menyusun barang-barang miliknya sendiri. Saat masih tinggal di rumahnya, jika bukan ibunya atau pembantu nya yang menyusun barang-barang miliknya, maka kamar nya akan tampak seperti kandang kuda."
Dari arah ruang bawah tanah, Weng Hua bersama dengan Weng Ning berjalan keluar. Terlihat tubuh mereka dipenuhi dengan debu dan tanah.
Weng Lou hanya bisa tersenyum canggung mendengarnya. Dia tidak terlalu peduli tentang susunan barang-barangnya. Satu-satunya tempat yang sering dia rapikan adalah ruang penyimpanannya di tiap-tiap cincin penyimpanan miliknya.
Setiap barang yang ada di ruang penyimpanan dari cincin penyimpanan harus di susun rapi sedemikian rupa agar tidak ada ruang yang terbuang sia-sia. Ini juga dia lakukan agar lebih mudah dalam mencari barang-barang yang ia butuhkan dari dalam ruang penyimpanannya.
"Hei, itu kan dulu, sekarang aku sudah mulai terbiasa membereskan kamarku sendiri," protes Weng Lou.
__ADS_1
Weng Hua menanggapinya dengan senyum tak percaya sementara Weng Ning dan Lin Mei tertawa kecil karena keduanya.
"Oi, jika kalian masih sempat bercanda, lebih baik kalian membantu kami di bawah sini! Terutama kau, Lou! Bangunan ini adalah milikmu, tapi malah kami yang harus memperluas bagian bawah tanahnya, sialan!!"
Dari arah ruang bawah tanah, suara Weng Ying Luan menggema dan membuat Weng Lou dan yang lainnya terdiam dan saling menatap satu sama lain sebelum menggeleng bersama.
"Kau turunlah, Lou. Biar kami para gadis yang menata barang-barang di sini. Kalian para anak laki-laki menggali saja di bawah tanah." Lin Mei tertawa lepas.
Tanpa menjawabnya, Weng Lou bergegas menuju ke ruang bawah tanah dan bergegas membantu Weng Ying Luan yabg terlihat sedang menghancurkan sebuah batu besar yang menempel pada dinding tanah.
Meskipun bangunan bekas markas Kelompok Darah itu telah Weng Lou jadikan markas kelompoknya sendiri, tapi nyatanya markas sebenarnya adalah bagian bawah tanahnya.
Selain demi menghindari perhatian banyak pihak, ini juga agar mereka bisa memperluas markas mereka tanpa mencolok sedikit pun. Dengan memperdalam sekaligus memperluas ruang bawah tanah tempat mereka berada, membuat biaya yang dikeluarkan juga jauh lebih sedikit dibandingkan dengan membangun ulang bangunan markas yang ada di atas tanah.
Weng Ying Luan dengan sehati-hati mungkin menghancurkan batu besar yang menempel pada bagian dinding tanah tempat dia menggali. Ini dia lakukan agar kerusakan yang dialami batu tersebut, tidak sampai merambat pada tanah yang ada di sekitarnya.
"Perlu bantuan?" tanya Weng Lou yang berdiri dan memandang batu yang sedang dihancurkan oleh Weng Ying Luan.
"Tidak perlu, lebih baik kau membantu Wan saja. Tumpukan tanah itu mengganggu pemandangan jika dibiarkan terlalu tinggi."
Bersamaan dengan itu, sosok Weng Wan terlihat muncul dari lorong bawah tanah yang tembus hingga keluar dari Kota Hundan, dekat dengan kastil bekas milik Kelompok Darah yang kini juga telah menjadi milik Weng Lou.
"Lou sialan! Bantu aku membawa tanah-tanah ini! Kau mengatakan bagian luar lorong ini tidaklah jauh, tapi nyatanya itu cukup jauh, sialan!! Dan juga kau tidak mengatakan apapun mengenai tikus tanah yang ada di lorong bawah tanah itu!!"
Begitu keluar dari lorong bawah tanah, Weng Wan langsung memaki-maki Weng Lou. Weng Lou sebelumnya mengatakan pada dirinya bahwa ujung lorong bawah tanah itu hanya berjarak beberapa menit saja dari ruang bawah tanah, tapi setelah Weng Wan melewatinya ternyata itu sangat berbeda dengan perkiraannya.
Tidak hanya jaraknya lumayan jauh, tapi di dalam lorong itu juga banyak tikus-tikus bawah tanah yang selalu menganggu dirinya, meski sebenarnya mereka tidak berbahaya sama sekali.
"Hahaha....maaf maaf. Aku lupa mengatakan tentang tikus bawah tanah nya, itu salah ku, maafkan aku."
Itu jelas bohong, Weng Lou sengaja tidak memberitahu tentang tikus tanah pada Weng Wan karena dia ingin menjahilinya. Dia sedikit merindukan saat-saat dirinya sering menjahili Weng Wan saat masih di Kota Bintang Putih, jadi dia tidak memberitahukannya sama sekali.
Dan meskipun Weng Lou meminta maaf pada Weng Wan, tapi di dalam hatinya, dia tidak menyesal sama sekali.
__ADS_1
***
Satu hari sebelum Turnamen Beladiri Bebas dimulai.
Di tengah kota, tepat dimana Arena Pertandingan berada, sosok seorang pemuda berjalan masuk ke dalam bangunan Arena Pertandingan.
Pemuda itu mengenakan pakaian berwarna merah gelap dengan sebuah lambang bunga lotus berwarna emas di bagian belakangnya.
Pada pinggangnya sebuah pedang sepanjang kurang lebih satu setengah meter tersering rapi. Pedang itu memiliki pola-pola misterius pada gagang dan sarungnya membuatnya siapa saja yang melihatnya akan berusaha untuk memilikinya.
Wajah dari pemuda itu tidak terlihat dengan jelas karena sebuah topi anyaman yang ia pakai menutupi setengah wajahnya. Tapi dilihat dari bentuk dagu dan bibirnya, orang-orang bisa menebak bahwa pemuda ini pastilah memiliki wajah yang sangat tampan.
Terlebih kulitnya yang putih seperti seorang wanita membuatnya memiliki ketertarikan yang lebih.
Pemuda itu berjalan dengan santai di dalam bangunan Arena Pertandingan. Dia berhenti di depan meja pendaftaran peserta Turnamen Beladiri Bebas dan kemudian sedikit membungkukkan badannya ke arah wanita yang duduk di situ.
"Aku ingin mendaftar Turnamen," ucap pemuda itu pada wanita yang duduk di situ.
"Maafkan aku Tuan Muda, tapi pendaftaran telah di tutup beberapa saat yang lalu." Wanita itu membalas dengan acuh.
Dia bahkan tidak menatap pemuda itu sama sekali.
Pemuda itu diam menatap wanita tersebut. Dia terus berdiri di balik meja dan terus menatap wanita itu selama beberapa saat tanpa bergerak sedikitpun.
Beberapa saat kemudian wanita itu akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap pemuda itu karena mulai risih dengan tatapannya.
Namun, tubuhnya segera terpaku begitu saja, saat dirinya melihat kedua mata berwarna kuning terang milik pemuda itu, yang menatap dirinya dengan tajam.
Mata itu seolah-olah seperti seekor ular yang siap menerkamnya kapan saja. Rasa dingin dan ketakutan mendadak menjalar di hati wanita tersebut.
"Aku ingin mendaftar Turnamen." Pemuda itu kembali berbicara pada wanita tersebut dan membuatnya tersadar kembali.
"Ba-Baik! To-Tolong sebutkan nama dan ti-tingkat praktik milik anda...." ucap wanita itu dengan ketakutan.
__ADS_1
Dia telah salah memancing amarah orang kali ini. Dirinya tidak mau sampai membuat pemuda di hadapannya ini kembali marah, atau nyawanya kemungkinan akan melayang dalam sekejap.
"Nama ku Ying She. Tingkat praktik.....tulis saja Ranah Pembersihan Jiwa tahap 8. Orang-orang tidak akan terlalu peduli dengan tingkat praktik selama aku bisa membunuh orang-orang yang menghalangi ku."