Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 553. Murid


__ADS_3

Dini hari, langit masih gelap karena hari yang masih malam.


Suara binatang dan serangga terkadang berbunyi dan membuat malam yang seharusnya sunyi itu menjadi tidak terlalu sunyi. Di Sekte Bambu Giok, seorang pemuda yang berusia sembilan belas tahun menguap dengan lebar.


Pemuda ini merupakan seorang murid biasa di sekte itu. Dia mengambil misi untuk menjaga gerbang depan sekte saat malam hari yang dihadiahi dengan seratus koin emas selama tiga hari berturut-turut. Untuk itu, dia hampir tidak tidur sama sekali selama tiga hari, dan ini merupakan hari terakhir misinya tersebut.


Orang-orang bisa melihat kantung mata pada bagian bawah matanya itu, jelas sekali dia sudah sangat lelah. Pada pagi hingga sore hari, dia harus menerima pelajaran di sekte, dan malamnya dia harus berjaga sepanjang waktu di gerbang depan sekte, sehingga dia tidak memiliki waktu untuk istirahat sedikitpun.


"HOOOOAAAAMM......ahh....aku bersumpah tidak akan pernah lagi mengambil misi terkutuk ini lagi di masa depan. Tidak hanya hadiahnya saja yang benar-benar pelit, aku bahkan tidak diizinkan untuk pergi buang air ketika menjalankan misi, benar-benar misi terkutuk. Jika bukan karena uang yang ku butuhkan masih kurang seratus koin emas waktu itu, mana mungkin aku mau mengambil misi ini," gerutu pemuda itu.


Dia mengambil ember berisi air di dekatnya, lalu kemudian mulai membasuh wajahnya agar rasa kantuknya menjadi hilang.


Ketika dia telah merasa dirinya sudah jadi tidak mengantuk lagi, dia pun beranjak dari tempatnya dan memilih untuk berjalan-jalan di sekitar gerbang. Dia ingin menghindari pemikiran yang bisa membuatnya merasa kantuk lagi sebisa mungkin karena ini adalah hari terakhirnya di misi ini.


Misi ini harus berkahir dengan sempurna meski dia sendiri tidak menyukainya. Saat dia sedang berjalan menyusuri jalan menuju ke jalan yang mengarah ke bawah gunung, sudut matanya menangkap sosok hitam yang berjalan dari kejauhan dan mendekat ke arahnya.


Dia menyipitkan matanya dan menatap dengan fokus pada sosok hitam yang menyerupai manusia itu.


Karena gelapnya malam, akhirnya dia menciptakan sebuah bola dari Tenaga Dalam di tangannya dan merubahnya menjadi bola api yang menerangi lingkungan sekitarnya. Akhirnya, meski sedikit samar, dia bisa melihat sosok Weng Lou yang dengan tenangnya berjalan ke arahnya dengan kedua tangannya yang menggenggam pedang kembar nya.


Mata pemuda itu menyipit ketika menyadari bahwa Weng Lou hanyalah seorang anak remaja sepertinya yang seharusnya hanya berusia beberapa tahun lebih mudah darinya.


"Hei, berhenti di situ! Katakan siapa kau, dan apa mau mu datang ke Sekte Bambu Giok ini?" Pemuda itu berjalan mendekat ke arah remaja tersebut sambil membiarkan bola api ciptaannya terus menyala terang.


Ketika dia berjalan mendekat, hidungnya bisa mencium baru darah yang menyengat di sekitarnya dan kemudian, dia pun bisa melihat bahwa tubuh remaja yang dia datangi ini bersih dari bocah darah, tapi tidak dengan pedangnya yang terdapat bekas darah yang telah mengering.


"Salam senior, nama ku Wei Lou, aku datang ke sini untuk mendaftar sebagai anggota Sekte Bambu Giok." Weng Lou segera memberi hormat nya pada pemuda tersebut tanpa mempedulikan tatapannya yang seperti sedang mencurigainya.


Alis pemuda itu naik ketika mendengar jawaban Weng Lou, "Mendaftar sebagai murid? Hei, apa kau tau waktu apa ini? Ini bahkan belum pagi hari! Dan kenapa kau sendiri? Dimana orang yang mendampingi mu?"


Jawaban Weng Lou mungkin akan terdengar biasa jika di waktu pagi, atau waktu lainnya. Tapi saat ini hari masih sangat gelap, dan bulan masih berada di atas langit, tempat mana yang menerima tamu di jam seperti ini?


Sekte Bambu Giok tidak seperti sekte-sekte lainnya yang mengadakan ujian penerimaan murid baru pada waktu-waktu tertentu, mereka bisa melakukan ujian tersebut kapan saja apa bila orang yang ingin mendaftar sebagai murid tersebut memenuhi beberapa kriteria.


Meski begitu, Sekte Bambu Giok tetap sama seperti sekte lainnya yang tidak mungkin mengadakan ujian penerimaan murid. Bukan karena mereka tidak mau, tapi memang mustahil ada yang datang pagi-pagi buta seperti ini kecuali orang gila seperti Weng Lou.


"Aku datang sendiri, dan mengenai waktu.... tolong maafkan aku, aku berangkat kemarin sore, jadi baru tiba sekarang." Weng Lou menjawab dengan baik semua pertanyaan dari pemuda tersebut, tanpa menghilangkan sikap hormatnya pada pemuda itu.


"Hah, aku minta maaf padamu, tapi ini masih terlalu pagi. Jika kau tidak masalah, kau bisa menunggu diluar gerbang hingga matahari terbit, saat itu aku akan memanggilmu kembali dan membawa mu masuk untuk menerima ujiannya," jelas pemuda tersebut.


Akan tetapi, sebelum Weng Lou sempat memberikan jawabannya, angin sepoi-sepoi berhembus menerpa mereka berdua, dan dari atas, sosok wanita yang telah mengikuti Weng Lou bergerak turun perlahan dan mendarat di depan keduanya.


"Tidak perlu, dia akan menerima ujian saat ini juga, aku yang akan menjadi saksi nya," ucap wanita tersebut yang langsung berbalik dan berjalan menuju ke gerbang depan sekte.


Pemuda itu tampak diam di tempatnya dan dia tidak bisa berpikir jernih karena kemunculan wanita itu yang sangat mendadak.

__ADS_1


"Te-Tetua Meigui?! A-Ah, maksud ku, baik Tetua! Saya akan membawanya ke tempat ujian!" Pemuda itu membungkukkan badannya hampir sembilan puluh derajat, sebelum kemudian meminta Weng Lou untuk ikut dengannya.


***


Dia sebuah lapangan yang tertutup di dalam Sekte Bambu Giok.


Weng Lou di bawa masuk ke tempat itu setelah dia menerima pemeriksaan. Kedua pedangnya yang merupakan senjata yang dia bawa di tinggalkannya di sebuah ruangan sebelum kemudian menuju ke tempat ini.


Dia berdiri di tengah lapangan tersebut dengan sebuah batu seukuran dirinya yang terdapat di tengah-tengah lapangan tersebut. Di dekat Weng Lou, Tetua Meigui dan pemuda yang sebelumnya berdiri dalam diam sementara Weng Lou menatap batu di depannya.


"Akan ku jelaskan semua ujian dalam penerimaan murid baru. Yang pertama adalah penilaian kekuatan, karena kau belum menjadi murid dari Sekte Bambu Giok, maka kau akan dinilai lewat kekuatan fisik dan jumlah tenaga dalam yang telah ada di dalam tubuhmu. Lalu penilaian yang kedua adalah tes mental, Tetua sendiri yang akan memberikan mu tes tersebut nantinya jika kau lolos tes kekuatan fisik dan Tenaga Dalam.


Di tes fisik, kau hanya perlu memukul batu di depan mu sekuat tenaga, lalu untuk tes Tenaga Dalam, kau hanya perlu menyentuh batu giok ini. Batu ini akan menilai jumlah tenaga dalammu," jelas pemuda itu dengan gugup. Dia tidak berani menoleh kepada Tetua Meigui di sampingnya sama sekali karena takut menyinggungnya.


Weng Lou mengangguk paham, dia pun berdiri dengan tenang sambil menatap batu tersebut selama beberapa saat. "Apakah aku sudah bisa mulai?" tanyanya dengan suara yang sangat tenang namun penuh rasa percaya diri.


"Tentu, kau bisa memulainya sekarang," jawab pemuda itu.


Setelah menerima jawaban, Weng Lou pun memasang kuda-kudanya dan mulai mengepalkan tangan kanannya dengan kuat.


Tanpa aba-aba sama sekali, dia pun melepaskan pukulannya kepada batu tersebut.


*Bum! Sreck!*


Dalam satu pukulannya itu, batu besar itu terdorong mundur dua meter ke belakang. Pada area yang terkena pukulan Weng Lou, terdapat bekas kepalan tangan yang memiliki kedalaman mencapai lima centimeter, bisa terlihat beberapa retakan halus pada bekas kepalan tangan tersebut.


"Fhuu....bagus, aku tidak menghancurkannya," gumam Weng Lou.


Dia tidak berusaha menutupi kekuatan fisik miliknya yang mengerikan itu, justru malah sebaliknya. Dirinya berniat untuk menampilkan kekuatannya itu di depan Tetua Meigui yang ada di lapangan ini karena dia tau bahwa wanita cantik ini telah mengamat-amati dirinya sepanjang perjalanannya mendaki gunung yang berarti dia sudah melihat kekuatan yang dikeluarkannya sepanjang jalan.


Namun dia tidak terlalu khawatir, karena selama perjalanannya itu dia tidak mengeluarkan seratus persen kekuatan fisiknya, jadi dia masih memiliki beberapa kartu as di balik lengan bajunya.


Berbeda dengan pemuda yang berada di lapangan itu, Tetua Meigui yang ada di situ hanya menatap diam ketika melihat pukulan yang dilepaskan oleh Weng Lou dan berbicara di dalam hatinya, "Anak ini, dia cukup pintar. Dia tidak melepaskan sekuat tenaga kekuatan miliknya, namun memberikan cukup kekuatan sebagai penilaian yang bisa mengejutkan orang-orang. Dia jelas tidak ingin menutupi kekuatannya."


Tetua Meigui mengangguk puas lalu menyuruh pemuda yang bersamanya menonton Weng Lou untuk mengumumkan nilai kekuatan fisiknya, setelah memberitahukan hasilnya pada pemuda itu.


"E....ehem...nilainya adalah Dasar Pondasi tingkat 12 puncak! Kau bisa memulai untuk tes Tenaga Dalam sekarang," ujar pemuda itu sambil menyodorkan giok di tangannya pada Weng Lou.


Mata Weng Lou hanya melihat giok tersebut selama beberapa saat, namun tidak mengambil atau menyentuhnya sama sekali yang membuat pemuda itu serta Tetua Meigui merasa heran.


"Ada apa? Kau bisa memulai tes selanjutnya, tidak perlu ragu. Batu giok itu bisa memberikan penilaian yang akurat hingga Dasar Pondasi tingkat 12 puncak, jika batu giok itu hancur, maka artinya Tenaga Dalam mu berada di ranah Pembersihan Jiwa." Tetua Meigui membuka suaranya. Bisa dibilang dia lebih tidak sabar untuk melihat hasil penilaian milik Weng Lou dibandingkan dengan pemuda yang bersamanya di lapangan itu.


Dari yang dia lihat tentang kekuatan Weng Lou selama dia mendaki gunung, Weng Lou tidak sedikitpun menggunakan Qi atau Tenaga Dalam yang dia miliki sedikitpun dan hanya menggunakan kekuatan fisiknya belaka. Jika dirinya tidak salah menilai, Weng Lou harusnya paling tidak berada di ranah Pembersihan Jiwa dengan kekuatan fisiknya semata, dan jika dengan kekuatan Qi nya, dia harus lebih kuat dari Pembersihan Jiwa tahap 5.


Tapi segala pemikirannya itu hancur saat mendengar jawaban sederhana dari Weng Lou. "Maaf, tapi aku tidak memiliki Tenaga Dalam sedikitpun," ujarnya dengan santainya.

__ADS_1


Tetua Meigui berkedip seakan telah salah dengar, begitu juga dengan pemuda penjaga gerbang yang berada di situ. Tidak memiliki Tenaga Dalam? Apakah kau bercanda?


Itu adalah apa yang berada dalam benak Tetua Meigui dan pemuda itu. Tapi segera, Tetua Meigui memasang wajah pahamnya dan mengangguk mengerti.


"Tentu saja, seorang Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa hanya memiliki Qi dan sedikit Kekuatan Jiwa. Mereka tidak lagi menggunakan Tenaga Dalam seperti mereka yang masih berada di Dasar Pondasi." Tetua Meigui berbicara dengan tenang.


Saat ini, dia sepertinya telah menemukan seorang jenius sejati yang akan menjadi murid di sekte nya, dan itu adalah Weng Lou. Seorang Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa pada usia sangat muda seperti Weng Lou, betapa langkahnya itu? Mungkin sekte mereka adalah satu-satunya! Dan dirinya mungkin akan menjadi murid jenius itu!


"Tidak, aku tidak memiliki Qi atau pun Kekuatan Jiwa juga. Aku tidak memiliki Dantian, dan hanya kekuatan fisik yang aku punya." Mendadak Weng Lou membuka suaranya dan kegembiraan yang terjadi di alam diri Tetua Meigui terhenti dan dia menatap Weng Lou.


"Kau, apa? Coba ulangi kata-katamu barusan."


"Aku tidak memiliki Dantian. Aku hanya memiliki kekuatan fisikku saja, dan tidak memiliki Tenaga Dalam, Qi, atau pun Kekuatan Jiwa," jelas Weng Lou sekali lagi.


Tetua Meigui terdiam, sementara pemuda yang bersamanya berbicara dengan nada tak percaya, "Hei! Jangan berbohong kepada Tetua! Kau pikir itu lucu?! Hah?!"


"Tidak, itulah kenyataannya. Aku tidak memiliki Dantian-"


Belum selesai Weng Lou berbicara, Tetua Meigui sudah menyambar tangan Weng Lou dan segera memeriksanya, sementara Weng Lou tidak melawan sedikitpun. Wajah Tetua Meigui menjadi serius setelah beberapa saat ketika tidak menemukan Dantian milik Weng Lou dimana pun.


"Kau tidak berbohong sama sekali. Kau tidak memiliki Dantian di dalam tubuh mu," ungkap Tetua Meigui yang kemudian melepaskan genggaman tangannya pada lengan Weng Lou.


"Apa?! Dia benar-benar tidak memiliki nya?! Lalu bagaimana bisa dia memiliki kekuatan sebesar itu?!" Saat ini, pemuda yang bersama Tetua Meigui berseru kaget sampai melupakan status Tetua Meigui yang bersamanya. Ketika sadar, dia langsung meminta maaf dan menutup mulutnya sendiri.


Tetua Meigui tidak mempedulikannya, dan mengajukan pertanyaan yang sama kepada Weng Lou, "Benar, bagaimana kau bisa memiliki kekuatan seperti itu? Meski kau latihan fisik sekeras apapun, mustahil bisa memiliki kekuatan fisik yang sangat besar tanpa adanya Tenaga Dalam atau Qi sebagai penyeimbang."


"Aku adalah seorang Penempa," jawab Weng Lou dengan singkat.


"Seorang Penempa? Bagaimana pekerjaan kasar seperti itu bisa membuat mu memiliki kekuatan sebesar itu? Kau ingin membodohi ku?" Tetua Meigui berbicara dengan nada dingin.


"Itu bukan pekerjaan kasar biasa. Seorang Penempa sejati dilatih untuk mampu mengayunkan palunya dalam segala kondisi, untuk itu dia harus memiliki kekuatan fisik yang cukup kuat untuk melakukannya. Tubuhku sendiri mampu menahan kekuatan ini karena organ-organ ku telah diperkuat setiap kali aku mengayunkan palu milikku."


Jawaban dari Weng Lou terdengar sangat meyakinkan dan juga dia terlihat bangga saat menjelaskan mengenai pekerjaannya sebagai seorang Penempa. Jawaban Weng Lou ini merupakan jawaban yang jujur dan merupakan kebenaran di balik kekuatan fisiknya tersebut. Hal ini membuat Tetua Meigui yang sedang mendeteksi apakah Weng Lou berbohong mengkertakkan giginya.


Semua impian yang telah dia bangun beberapa waktu yang kaku kini harus hancur setelah mengetahui bahwa Weng Lou tidak memiliki Dantian dalam dirinya. Namun, dia tidak bisa menyerah di begitu saja pada Weng Lou.


Meski tidak memiliki Dantian, seorang anak dengan kekuatan fisik sebesar Weng Lou adalah sesuatu yang tidak akan pernah terbayangkan oleh orang lain. Dia tidak boleh membiarkan Weng Lou jatuh ke tangan Tetua lain.


"Kau, namamu Wei Lou bukan? Aku merupakan salah satu Tetua Inti di Sekte Bambu Giok ini, orang-orang memanggil ku dengan panggilan Tetua Meigui. Mulai sekarang, kau adalah murid di Sekte Bambu Giok ini, dan aku akan menjadi gurumu," kata Tetua Meigui tanpa ragu sedikitpun.


Pemuda yang ada di situ terkejut dengan keputusan dari Tetua Meigui. "Tapi Tetua, dia belum menerima Tes Mental-"


"Tidak perlu, aku mengangkatnya menjadi murid pribadiku, jadi dia bisa melewati tes tersebut."


Tetua Meigui mengayunkan tangannya. Sebagai Tetua, dia memiliki hak untuk mengangkat beberapa murid dalam jumlah tertentu. Sebagai Tetua Inti, dia tentunya memiliki beberapa murid lain selain Weng Lou, dan mereka semua juga tidak melakukan tes-tes seperti pada ujian penerimaan murid ini.

__ADS_1


Weng Lou yang tersenyum lebar karena keputusan Tetua Meigui pun segera membungkuk hormat pada Tetua Meigui, "Wei Lou memberi hormat pada Guru!"


Melihat itu, Tetua Meigui mengangguk puas, dan segera pergi dari situ sambil membawa Weng Lou pergi dari lapangan, meninggalkan si pemuda penjaga gerbang yang tidak bisa berkata-kata di tempatnya.


__ADS_2