
Weng Baohu Zhe, merupakan tetua bagian luar dari Keluarga Leluhur Weng yang memiliki peran sebagai pengawas dari para murid di Keluarga Leluhur Weng.
Tugasnya adalah melaporkan setiap perkembangan dan hambatan yang dihadapi setiap murid yang ada kepada Tetua yang memiliki wewenang yang lebih tinggi darinya.
Meski dirinya hanya berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2, tetapi tingkat praktik miliknya bisa dibilang cukup tinggi karena rata-rata seorang Tetua yang tidak terlalu memiliki pengaruh kuat di dalam Keluarga Leluhur Weng hanya memiliki kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1.
Beberapa minggu yang lalu, dia diperintahkan untuk menjadi pengawal dari 10 orang murid paling berbakat yang dididik Keluarga Leluhur Weng.
Pada awalnya dia sama sekali tidak ingin melakukan tugas ini karena berpikir tugas yang diberikan kepadanya ini hanya akan membuat praktiknya menjadi terhambat, rekan-rekan sesama tetua yang berusia sama dengannya pasti akan bisa menyusul ketinggalan mereka jika dia absen dari latihan rutinnya.
Namun setelah diberitahu bahwa dia akan diberikan akses masuk kedalam Kolam Pemurni Jiwa milik Keluarga Leluhur Weng selama satu jam setelah tugas menjadi pengawalnya selesai, Weng Baohu Zhe pun menerima tugas itu dengan senang hati.
Kolam Pemurni Jiwa merupakan sebuah kolam khusu yang mampu membantu orang yang berendam di dalamnya untuk memurnikan jiwanya lebih jauh, dan juga membantu menyatukan jiwa dan raganya dengan kecepatan yang luar biasa.
Dirinya yakin, dalam satu jam saja berendam di dalam kolam ini, maka tingkat praktik miliknya akan naik dengan kecepatan yang jauh diatas ekspetasinya.
Dan begitulah dia akhirnya berangkat bersama dengan 10 orang murid paling jenis dan berbakat yang dimiliki oleh Keluarga Leluhur Weng menuju ke Kota Hundan untuk mengikuti Turnamen Beladiri Bebas. Dia tidak terlalu tau apa itu Turnamen Beladiri Bebas, tapi yang pasti itu haruslah sebuah turnamen yang sangat besar karena mampu menarik perhatian dari semua Master Praktisi Beladiri yang ada di Pulau Pasir Hitam.
Pagi hari ini, setelah melalui perjalanan selama puluhan menit, kelompok mereka sampai di Kota Liming, yang merupakan kota peristirahatan yang dipakai oleh para pengembara atau pun pedagang keliling.
Namun bukannya melihat kota yang megah dan ramai, mereka justru menemukan kota yang sudah hancur lembur yang menurut cerita salah satu penduduk di situ, kota tersebut telah diporakporandakan oleh seekor monster raksasa berkaki empat yang mampu menembakkan duri-duri tanah dari tubuhnya.
Mengapa dia bisa tahu kalau pelakunya adalah seekor Naga Tanah? Itu karena hanya ada satu makhluk hidup yang memiliki ciri bertubuh besar dan mampu menembakkan duri-duri tanah yang membunuh hampir setengah dari semua penduduk yang ada di Kota Liming ini.
Berjalan masuk lebih jauh kedalam kota, dia bisa melihat semua penduduk yang tinggal di kota ini sedang sibuk untuk memperbaiki rumah dan bangunan milik mereka.
Ketika dia sedang sibuk melihat-lihat, tanpa ia sadari, sebuah bangunan yang ada di dekatnya menjatuhkan sebongkah batu seukuran tubuh orang dewasa yang mengarah tepat ke kepalanya.
Salah satu penduduk yang melihat itu berseru dan memperingatkan Weng Baohu Zhe akan batu itu.
"Hm?" alisnya terangkat mendengarkan peringatan itu.
__ADS_1
Dia menoleh ke atas dan menemukan batu yang dimaksud oleh orang itu hanya tinggal berjarak beberapa kaki saja dari dirinya.
Tapi dia tidak panik sedikit pun, dengan tenangnya dia mengangkat tangan kanannya.
Pack!!!
Batu itu hancur berkeping-keping begitu menabrak tangan kanannya.
Weng Baohu Zhe menurunkan kembali tangannya dan membersihkan tubuhnya dari debu yang menempel yang diakibatkan oleh batu yang hancur itu.
"Hei tuan? Kau baik-baik saja?" tanya seorang wanita yang sebelumnya memberinya peringatan akan batu itu kepadanya.
Menatap wanita itu sejenak, Weng Baohu Zhe pun mengangguk, "Aku baik-baik saja, terima kasih peringatannya."
Meskipun dirinya berada di ranah Penyatuan Jiwa, bukan berarti dia akan baik-baik saja jika batu besar tadi mengenai kepalanya. Oleh sebab itu dia berterima kasih kepada wanita itu.
"Bolehkah aku bertanya? Dimana kemunculan dari monster raksasa yang menghancurkan kota ini dua hari yang lalu?" tanya Weng Baohu Zhe kepada wanita itu.
Weng Baohu Zhe mengangguk mendengarnya dan berterima kasih. Dia pun kembali melanjutkan perjalanannya dan sampai ke pusat kota dalam beberapa detik setelah berlari dengan kecepatan yang cukup cepat.
Dia menghentikan langkahnya tepat di depan lubang raksasa dengan diameter mencapai lima puluh meter dengan kedalaman hampir seratus meter.
Napasnya tertahan menatap lubang itu, dia dapat merasakan Qi yang mengandung unsur penyegelan pada bagian dalam lubang tersebut.
"Ini....apakah mungkin Naga Tanah yang menyerang kota ini adalah Naga Tanah yang telah disegel sebelumnya? Tapi menurut penjelasan para penduduk, mereka sepertinya tidak mengetahui akan hal ini...."
Karena merasa informasi yang dia dapatkan kurang lengkap, Weng Baohu Zhe pun memutuskan untuk menuruni lubang tersebut.
Srtttttt-
Dia meluncur turun dan sampai pada dasar lubang itu dan memperhatikan bahwa bagian terdalam dari lubang ini memiliki bentuk yang sedikit tapi dan juga memiliki struktur yang jauh lebih padat dibandingkan dinding lubang yang ada di bagian luar.
__ADS_1
Ketika ia ingin memeriksa, mendadak pandangannya terpaku pada sebuah ukuran lambang yang sangat mengejutkannya.
Itu adalah lambang Keluarga Weng!
Bagaimana bisa di dalam lubang ini terdapat lambang Keluarga Weng?
Weng Baohu Zhe sampai tak habis pikir lagi akan hal ini, dan memilih untuk memperhatikan lebih jauh bagian dalam lubang tersebut, dan menemukan lambang dari Keluarga Weng tidak hanya terdapat satu saja, melainkan hampir semua dinding dasar lubang tersebut dipenuhi dengan ukiran lambang Keluarga Weng.
Melihat itu semua, Weng Baohu Zhe sampai gak bisa berkata-kata lagi. Dia pun mengeluarkan sebuah kertas yang tampak sangat tua dari dalam ruang penyimpanan miliknya dan menuliskan beberapa kalimat di dalamnya lalu kemudian membakarnya.
Setelah melakukan hal itu, dia pun menoleh ke arah ukiran lambang Keluarga Weng yang berbentuk paling besar dari yang lainnya lalu memutuskan untuk naik dan kembali ke gerbang kota dimana Weng Wan dan yang lainnya menunggu dirinya.
"Tetua, anda sudah kembali." Weng Wan berbicara sambil menunduk hormat kepadanya.
"Yah, aku sudah menemukan alasan mengapa Kota Liming ini bisa hancur," ucapnya Weng Baohu Zhe.
Weng Wan dan yang lainnya pun tampak tertarik mendengar hal itu dan bertanya kepadanya apa yang menyebabkan kehancuran ini.
"Ini semua diakibatkan oleh seekor Naga Tanah yang terlepas dari segelnya yang berada tepat di tengah kota. Naga Tanah itu mengamuk dan menghancurkan bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya. Menurut penjelasan para penduduk, Naga Tanah ini telah membunuh hampir setengah dari jumlah penduduk yang ada di kota ini."
Mereka semua yang mendengar penjelasan dari Weng Baohu Zhe terdiam dan menatapnya dengan sangat terkejut.
Mereka tau apa itu Naga Tanah dan mereka tau seberapa berbahayanya mereka.
"Lalu guru, dimana Naga Tanah itu sekarang?" tanya salah seorang murid yang berada di dekat Weng Wan.
"Aku tidak tau, tapi dari yang aku dengar ada seorang dewa yang membunuhnya dengan cara meledakkan Naga Tanah tersebut di luar kota."
Setelah beberapa menit berbincang akan Naga Tanah ini, Weng Baohu Zhe pun mengajak 10 murid yang ia kawal untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Kota Hundan, di Wilayah Tengah.
**Catatan Penulis:
__ADS_1
Hari ini hanya up 1 chapter, author ada banyak tugas sekolah yang harus diselesaikan 🙏**