
Tap...brak....
Tubuh dan kepala Lengxue yang sudah terpisah terjatuh ke tanah. Darah mengalir keluar dengan deras dari leher dan kedua bahunya yabg telah terpotong.
Kepalanya menggelinding dan berhenti di depan kaki Man Yue.
Xin Yue yang mengendalikan tubuh Man Yue menatap dengan dingin kepala Lengxue tersebut.
Tak....
Dia menginjak kepala Lengxue tersebut dengan kaki kanannya, dan dengan pelan menendangnya kembali ke arah tubuhnya yang tergeletak tak bernyawa tidak jauh darinya.
"Kakak! Kau mengalahkan nya!" seru Man Yue dalam hatinya.
"Itu bukan apa-apa. Wanita itu sepertinya terkejut karena tangannya yang terpotong secara tiba-tiba sehingga konsentrasinya goyah. Aku berhasil membunuhnya karena kecerobohannya tersebut," balas Xin Yue.
Xin Yue pun mengembalikan kendali tubuh Man Yue kepadanya. Man Yue tampak sedikit terkejut karena pertukaran tersebut. Dia bisa kembali merasakan tubuhnya yang kini sudah tidak terdapat luka seperti sebelumnya.
Terlihat senyuman kecil ketika dia memeriksa sekujur tubuhnya yang ternyata semua lukanya telah benar-benar pulih, seakan luka-luka yang ia alami sebelumnya hanyalah ilusi belaka.
Tapi senyumannya tidak bertahan lama, dan kemudian digantikan dengan wajah murah.
"Ada apa?" tanya Xin Yue di dalam kepala Man Yue, kebingungan.
"Kakak....kau akan pergi kembali, bukan?"
Xin Yue terdiam mendengar pertanyaan adiknya tersebut. Tapi tak lama terdengar suara tawa darinya yang membuat Man Yue yang mendengarnya menjadi kebingungan.
"Hahaha...kau tidak perlu khawatir akan hal itu, bodoh. Kakak mu ini, tidak akan meninggalkan mu sampai kau berhasil menemukan kebahagiaan mu dan kau sudah bisa menjaga dirimu tanpa perlindungan dariku lagi," jelas Xin Yue.
Man Yue pun tertegun sejenak, sebelum dia pun kembali tersenyum seperti sebelumnya.
"Benarkah itu?!"
Dia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Tidak ada jawaban dari Xin Yue. Man Yue tampak menjadi sedikit khawatir, tapi kekhawatirannya tersebut tidak bertahan lama.
Sosok bayangan sedikit tembus pandang menyerupai bentuk seorang pemuda muncul di depannya dan meletakkan tangannya di atas kepala Man Yue.
Man Yue terdiam melihat bayangan pemuda tersebut yang tidak lain adalah Xin Yue.
"Tentu saja, aku tidak akan berbohong pada adikku sendiri," ucap Xin Yue sambil tersenyum kecil.
Dia telah kembali dari kematiannya, dan dapat bertemu kembali dengan adiknya yang telah ia tinggalkan selama beberapa waktu, tentu saja dia tidak akan meninggalkannya begitu saja seperti sebelumnya.
Setidaknya dia akan terus bersama adiknya ini, sampai dia memiliki kekuatan untuk bertahan hidup seorang diri di dunia yang kejam ini.
***
Di atas arena, sosok Zu Zhang menatap ke arah bagian arena di mana Man Yue berada dan tersenyum melihat tubuh tanpa kepala Lengxue.
__ADS_1
"Tahun ini banyak sekali jenis-jenis baru yang menunjukkan taringnya. Mereka bahkan jauh lebih banyak dan kuat dari generasi sebelumnya," ucapnya yang kemudian menjentikkan jarinya.
Tanpa para peserta sadari, kertas yang diberikan oleh Zu Zhang pada mereka mengalami perubahan pada isinya.
Hal ini dikarenakan kematian dari Lengxue. Mustahil pertarungan terjadi jika salah satu dari peserta turnamen telah tewas terlebih dahulu.
Oleh sebab itu, setiap ada peserta yang tewas dalam pertarungan di seleksi kedua ini, isi kertas pemberian Zu Zhang akan mengalami perubahan.
Hanya beberapa peserta saja yang menyadari hal ini, dan jelas Weng Lou adalah salah satunya.
Dia saat ini sedang melihat kertas pemberian Zu Zhang dan mengamati dengan seksama daftar pertarungan yang akan dia lakukan. Dengan jelas dia melihat nama dari Lengxue dan beberapa peserta lain menghilang dari daftar pertarungan yang harus ia lakukan.
"Jadi seperti itu, jika ada peserta yang mati, maka daftar pertarungan akan berkurang secara otomatis. Sekilas ini terlihat seperti sebuah keuntungan bagi peserta lainnya yang akan melawan peserta yang telah tewas tersebut, tapi sebenarnya ini adalah kerugian yang benar-benar mempengaruhi penentuan apakah kami bisa lolos seleksi kedua atau tidak.
Seperti yang dikatakan oleh wasit, hal yang menentukan kami lolos atau tidak adalah dari jumlah kemenangan dan kekalahan kami. Jika jumlah orang yang harus kami lawan berkurang, secara otomatis jumlah kekalahan atau pun kemenangan kami ikut berkurang juga.
Ini cukup gawat, jika peserta turnamen berkurang, maka kami juga harus bisa menang sebanyak mungkin. Seleksi babak kedua ini adalah perangkap berjalan yang benar-benar berbahaya. Aku harap yang lainnya segera menyadari hal ini juga," ucap Weng Lou yang berdiri di atas tubuh lawan keduanya yang baru saja dia kalahkan.
Weng Lou pun melangkah turun dan segera meninggalkan bagian arena tempat dia berada saat ini.
Dia berjalan ke arah bagian arena yang terletak di tengah lapangan arena, di mana lawan ketiganya sudah menunggu dirinya.
Sebelah alis Weng Lou terangkat saat melihat lawannya itu ternyata adalah pemuda yang dia temui sebelumnya tiga minggu yang lalu di dekat bekas markas utama Kelompok Darah.
Dia adalah Xin Hao, ayahnya Xin Xi adalah orang yang menaungi Kelompok Darah milik Sha Shou sebelumnya, sampai kemudian Weng Lou menghancurkan kelompok tersebut bersama dengan Shan Hu.
"Ah, kita bertemu lagi," ucap Xin Hao yang tersenyum kecil pada Weng Lou.
"Kau? Nama mu Xin Hao, bukan?" tanya Weng Lou sambil mengingat-ingat.
Pemuda itu tampak sedikit terkejut mendengar perkataan dari Weng Lou dan kembali tersenyum kecil.
"Sepertinya kau sudah tau namaku meski aku belum memberitahu mu," ucapnya.
"Ya...Sha Shou yang memberitahuku."
"Begitukah? Jadi siapa namamu? Tidak adil jika kau mengetahui namaku tapi aku tidak, bukan?"
"Panggil saja aku Lou," balas Weng Lou.
Mereka berdua saling berhadapan satu sama lain. Terjadi hening selama beberapa saat sebelum akhirnya sosok mereka berdua sama-sama melesat maju dan saling beradu pukulan.
BDAMM!!!
Dentuman terjadi saat pukulan keduanya saling bertemu.
Senyuman kecil bisa terlihat dari wajah mereka berdua.
Weng Lou mengangkat tangan kanannya, dan kemudian memukulkannya ke arah wajah Xin Hao, namun segera disambut kembali olehnya dengan pukulan juga.
Tak berhenti hanya dengan satu dua pukulan, Weng Lou dan Xin Hao pun mulai memberikan masing-masing pukulan bertubi-tubi.
__ADS_1
Mereka berdua sama sekali tidak memasang posisi bertahan, melainkan terus menyerang satu sama lain. Weng Lou dengan pukulan murninya terus beradu dengan pukulan Xin Hao yang mengandung Qi miliknya.
Xin Hao tidak menyadari hal ini, dia hanya menikmati saling bertukar serangan dengan Weng Lou hingga tidak mengetahui bahwa Qi Weng Lou sama sekali tidak berkurang seperti dirinya.
Hingga kemudian, pada pertukaran pukulan kuat lainnya, dia baru menyadari hal ini karena Weng Lou bisa langsung melancarkan serangannya kembali sedangkan dia harus mengalirkan Qi miliknya terlebih dahulu sehingga ada jeda pada serangannya.
Bam!! Buck!!
Pukulan Weng Lou berhasil masuk dan mengenai rahang bawah Xin Hao, membuat kepalanya menjadi pusing selama dua detik.
Saat itu lah Weng Lou pun melancarkan serangan dengan memukul kuat perut Xin Hao, hingga membuatnya terdorong mundur sejauh lima meter.
"Urgh-!"
Xin Hao terbekuk lutut dan memegangi perutnya yang terasa sakit. Pukulan dari Weng Lou itu seperti layaknya sebuah palu yang dihantamkan dengan telak ke arah perutnya.
"Kau...sama seki tidak menggunakan Qi milikmu, bukan?" tanya Xin Hao yang merasa isi perutnya seperti akan keluar.
Weng Lou tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.
"Ya aku tidak menggunakan Qi ku sama sekali, tapi sepertinya itu sudah hampir membuatmu kalah," ucap Weng Lou.
Pada saat itu, Xin Hao menyadari dengan jelas besar perbedaan kekuatan Weng Lou saat ini dengan terakhir kali dia bertemu dengannya sangat berbeda jauh.
Dirinya juga mengalami peningkatan pesat dalam tingkat praktik, tapi sepertinya dia masih kalah dengan Weng Lou, baik itu secara tingkat praktik, atau pun kekuatab fisik.
"Kekuatan fisik mu seperti monster, kau tau?"
"Itu karena latihan fisik. Bahkan seorang anak kecil sekalipun bisa memiliki kekuatan fisik seperti dirimu jika berlatih dengan keras tanpa henti."
"Omong kosong macam apa itu sialan?!"
SHUU-
BAMMM!!!
Xin Hao melesat dari tempatnya dan kembali memberikan serangan pukulan dengan keras ke arah Weng Lou.
Weng Lou menahan pukulan itu dengan telaoak tangannya, dan mengubah arah dari serangan tersebut.
"Sepertinya aku benar-benar kalah dalam kekuatan fisik," kata Xin Hao yang mengelap bekas darah di ujung bibirnya.
"Hahaha.... terima kasih pujiannya. Jadi, apa kau ingin melanjutkan pertarungan ini, atau menyerah?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku akan bertarung, mana mungkin aku puas hanya dengan adu pukulan saja."
Mengatakan itu dengan santai, Xin Hao pun berdiri tegak, dan kemudian sebuah pedang Qi terbentuk di tangan kanannya. Weng Lou tersenyum melihat pedang Qi tersebut, dan kemudian ikut membuat pedang Qi juga di tangannya.
Menarik napas dalam, Xin Hao pun tampak menjadi serius. Dia membungkukkan badannya, dan kemudian melesat ke arah Weng Lou dengan pedang Qi di tangannya siap menebas ke arah Weng Lou.
"Kita masuk ke ronde kedua."
__ADS_1