Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 388. Masa Lalu Tetua Fang


__ADS_3

Beberapa bulan yang lalu.


Weng Fang Di, Tetua Kedua dari Keluarga Utama Weng di Kota Bintang Putih yang dijuluki sebagai Sang Tapak Malam merupakan salah satu dari sepuluh orang terkuat di Kota Bintang Putih pada masa kejayaannya.


Tapi meski begitu semua yang dia peroleh bukan tanpa kendala atau pengorbanan sedikitpun.


Masa lalu Weng Fang Di hampir sama seperti Weng Lou yang mana dirinya juga berasal dari Keluarga Klan Cabang yang berada di bawah naungan Keluarga Utama Weng Kota Bintang Putih, tapi nasibnya jauh lebih menyedihkan.


Dia terlahir tanpa bakat beladiri sama sekali, bahkan bisa dibilang dia anak paling tak berbakat di Keluarga Klan Cabang Weng nya.


Bahkan anak-anak yang bukan berasal dari keluarga besar lebih berbakat darinya.


Menghadapi keterpurukan seperti itu setiap harinya, dia pun memutuskan untuk pergi dari rumahnya ketika berusia lima belas tahun dan pergi menjelajah ke dunia luar, dan tanpa kekuatan besar apapun bersamanya.


Tapi meski begitu Weng Fang Di tetap memberanikan dirinya untuk melihat dunia luar, meski dia sudah tau bahwa dirinya yang bukanlah seorang Praktisi Beladiri yang hebat pasti akan mati dengan cepat. Dibandingkan harus menghabiskan masa tua nya di tempat kelahirannya dan menerima segala ejekan hingga dirinya mati, dia lebih suka harus mati dalam petualangannya sendiri.


Ketika dia pergi menjelajah ke dunia luar, itu adalah masa-masa dimana pertarungan antar keluarga besar di Wilayah Barat sedang panas-panasnya.


Pertumpahan darah terjadi setiap harinya demi perebutan wilayah. Dan waktu itu orang-orang yang berada di Ranah Pembersihan Jiwa adalah hal yang biasa, tidak seperti pada zaman Weng Lou yang para Praktisi Beladiri yang berada di ranah Pembersihan Jiwa ke atas di Wilayah Barat memilih untuk tidak menunjukkan diri di depan umum karena kemunculan mereka terkadang bisa memulai kembali konflik antar Keluarga Besar.


Tempat pertama yang dia datangi setelah pergi dari rumah adalah Kota Bintang Putih.


Pada masa ini Kota Bintang Putih tidak sebesar yang sekarang, luasnya bahkan tak sampai sepuluh kilometer persegi. Empat Keluarga besar yang ada di situ juga tidak sebesar sekarang. Mereka masih sebesar sebuah Keluarga Klan Cabang, namun dalam kondisi jauh lebih besar.


Weng Fang Di hanya berada di Dasar Pondasi tingkat 3 saat itu.


Mungkin orang lain akan menganggap nya gila karena sangat berani berjalan seorang diri dengan kekuatan seperti itu.

__ADS_1


Tapi untungnya tidak ada masalah yang menghampirinya dikarenakan dia yang tidak mengenakan pakaian yang memiliki lambang Keluarga Weng, jika tidak dia akan mati.


Dirinya menetap di Kota Bintang Putih selama kurang lebih dua bulan sebelum kemudian melanjutkan lagi perjalanannya untuk menjelajahi Wilayah Barat.


Selama dua bulan di Kota Bintang Putih, dia menemukan bahwa sebenarnya kekuatan sangatlah dia butuhkan untuk bisa melanjutkan perjalanan nya, karena daerah di luar Kota Bintang Putih merupakan daerah yang sangat rawan.


Tapi bagaimana bisa dia memiliki kekuatan yang besar sedangkan dirinya tidak berbakat sama sekali dalam beladiri?


Hanya satu jawabannya, yaitu teknik beladiri yang kuat, yang mampu dia pakai dan memiliki kekuatan besar. Meski demikian, dia juga tidak memiliki uang untuk membeli teknik beladiri yang kuat seperti itu. Untuk itu dia pun mulai menekuni untuk menciptakan teknik beladirinya sendiri.


Tapi hal pertama yang harus dia lakukan adalah mencapai ke Dasar Pondasi tingkat 4 terlebih dahulu, karena dia hanya bisa menggunakan teknik beladiri yang cukup kuat ketika dia sudah bisa memakai tenaga dalam.


Dan dengan begitu, dua bulan dihabiskan oleh Weng Fang Di hanya untuk meningkatkan tingkat praktik miliknya dari Dasar Pondasi tingkat 3 ke Dasar Pondasi tingkat 4. Memang terkesan sangat lama, tapi seperti itulah yang terjadi, semuanya karena dia tidak berbakat sama sekali akan beladiri.


Dalam perjalannya keluar dari Kota Bintang Putih, dia menciptakan sebuah teknik tapakan yang tidak dapat ditiru oleh orang lain dan berhasil membuat namanya menjadi terkenal di wilayah sekitar Hutan Kematian.


Seperti yang diketahui, tenaga dalam adalah energi alam itu sendiri pada beberapa 'Dimensi', yang mana setiap energi alam berarti memiliki sifat membangun.


Dengan bermodalkan sifat membangun ini, Weng Fang Di mencoba-coba untuk membalikkannya, menjadi sifat penghancuran. Sifat ini berhasil dia kuasai ketika telah berumur sekitar dua puluh dua tahun.


Dan waktu itu dirinya telah berada di Dasar Pondasi tingkat 5, yang bisa dibilang merupakan tingkat sangat rendah padahal umurnya sudah terbilang cukup dewasa.


Semua waktunya dia habiskan hanya untuk memahami sifat penghancuran ini, dan dia memerlukan waktu beberapa bulan lagi untuk menciptakan sebuah teknik memanfaatkan sifat ini. Itu adalah Teknik Tapak Langit Malam.


Diberi nama seperti itu dikarenakan warna tangan dari Weng Fang Dai akan berubah menjadi hitam ketika dia memakai teknik ini. Ini dikarenakan sifat dari tenaga dalam yang ia kembangkan itu.


Nama Weng Fang Di tidak begitu saja terkenal begitu dia berhasil menciptakan teknik ini. Dirinya harus terus melakukan perjalanan dikarenakan situasi saat itu adalah puncak dari pertengkaran antar keluarga besar di Wilayah Barat.

__ADS_1


Waktu itu, siapa saja yang tidak mau mengakui dirinya berada dalam kekuasaan salah satu keluarga besar, dirinya akan langsung akan dibunuh di tempat.


Tidak hanya itu, desa-desa, bahkan kota sekalipun akan langsung di bumi hangus jika tidak memihak salah satu keluarga besar.


Tidak perlu ambil contoh jauh, tanah lapang tempat Weng Lou, kedua orang tuanya, Weng Wan, Weng Hua, dan Tuan Gong beristirahat sepulang dari kunjungan mereka di Desa Sungai Biru adalah salah satu lokasi desa yang dihancurkan karena tidak ada berada dalam kekuasaan salah satu keluarga besar pun.


Namun sayangnya, meski memihak salah satu keluarga pun atau berada di bawah wilayah kekuasaan salah satu keluarga besar, itu tidaklah menjamin keselamatan hidup.


Karena memihak salah satu keluarga besar, maka berarti menjadi musuh dari keluarga besar yang lain.


Untuk memastikan keselamatan dari keluarga nya, Weng Fang Di pun memutuskan untuk pulang ke keluarga cabangnya, tapi apa yang ia temukan adalah kehancuran dan pembantaian.


Dirinya datang tepat ketika sebuah kelompok bandit yang merupakan bawahan dari keluarga besar lainnya menyerang keluarga cabangnya. Sayangnya dia datang terlambat karena tidak ada satu pun yang bisa dia selamatkan.


Wanita yang ia sukai, yang menjadi salah satu alasan dirinya pulang juga mati mengenaskan di hadapannya, dengan sebuah tombak menembus dadanya, dan kepalanya di penggal.


Di bakar api amarah, Weng Fang Di pun menghabisi semua orang-orang itu menggunakan teknik Tapak Langit Malam miliknya.


Teknik Tapak Langit Malam milik Weng Fang Di membuatnya sanggup melawan mereka yang jauh lebih kuat darinya, sekali pun lawannya berada lima tingkat diatasnya.


Selama serangan tapak Weng Fang Di mengenai bagian vital lawannya, maka dipastikan lawannya itu akan mati karena langsung mengalami penghancuran. Tapi sayangnya pemimpin dari bandit itu berhasil kabur, dan Weng Fang Di tidak bisa mengejarnya dikarenakan perbedaan tingkat praktik.


Semenjak peristiwa itu, Weng Fang Di pun memutuskan untuk memakai identitas nya kembali sebagai bagian dari Keluarga Weng. Menggunakan Tapak Langit Malam miliknya, Weng Fang Di berhasil mengukir namanya dalam perang antar keluarga besar berpuluh tahun yang lalu.


Hingga akhirnya, berkat kehebatannya dan juga kontribusinya, dia pun diangkat menjadi seorang tetua di Keluarga Utama Weng di Kota Bintang Putih.


Berpuluh-puluh tahun kemudian, Weng Fang Di telah menjadi Tetua Kedua di Keluarga Utama Weng di Kota Bintang Putih, tapi meski begitu, rasa dendamnya masih terus menghantuinya. Dan dia pun memutuskan untuk menyelesaikan semua masalahnya itu.

__ADS_1


Ya, itu adalah mengejar dan membalas dendam kepada pemimpin dari bandit yang membantai keluarganya dulu.


__ADS_2