
Diantara para prajurit yang berada di depan Weng Lou, seorang prajurit secara sembunyi-sembunyi mengeluarkan giok pengirim pesan dari cincin penyimpanannya dan menggenggamnya erat hingga kemudian hancur berkeping-keping setelah mengirimkan pesan darurat pada kelompok pasukan lain yang berada tidak jauh dari tempat mereka.
Weng Lou menyadari hal ini, namun dia tidak berusaha menghentikannya. Lagipula, rencananya adalah untuk menemui sang kepala Keluarga Lin.
Ada sesuatu yang harus dia pastikan, yaitu identitas dari Kepala Keluarga Keluarga Lin. Jika dia adalah orang yang benar-benar dia cari, maka informasi yang dia butuhkan pasti dimiliki olehnya.
Di sisi lain, para prajurit yang mendengar permintaan Weng Lou saling tatap satu sama lain. Bertemu dengan Kepala Keluarga mereka, siapa yang tidak mau? Tapi apakah ada diantara mereka yang sudah pernah bertemu dengan nya? Bahkan kapten mereka, yang telah dibuat tak sadarkan diri oleh Weng Lou beberapa saat yang lalu belum pernah bertemu dengannya.
Bagaimana mungkin mereka bisa membawa Weng Lou bertemu dengannya? Permintaannya itu mustahil untuk dikabulkan oleh mereka, bahkan jika mereka mau.
Berada dalam situasi yang tidak menguntungkan, para prajurit itu hanya bisa diam selama di tempat mereka yang mana membuat Weng Lou merasa jengkel dan mengangkat sebelah alisnya.
"Ada apa? Bukankah kalian mengatakan bahwa kalian akan membantuku? Lalu kenapa kalian semua hanya diam saja? Atau jangan-jangan, kalian ingin merasakan beberapa pukulan dariku," ucap Weng Lou sambil mengeluarkan sedikit aura membunuhnya.
Hanya sedikit itu saja sudah cukup mengubah suasana seluruh jalanan tempat mereka berada. Para pedangan dan pengunjung di sekitar tempat itu bisa merasakan dengan jelas aura membunuh yang tak terlihat mencekik leher mereka dan membuat mereka tidak bisa bernapas dengan normal.
Tepat ketika mereka semua hendak membuka mulut untuk menjawab, prajurit yang sebelumnya telah mengirimkan pesan pada pasukan lainnya dengan menggunakan giok pengirim pesan mendadak berjalan maju ke depan dan mendekat sedikit ke arah Weng Lou.
"Tu-Tuan! Tuan Muda! Tolong ikuti saya, saya akan membawa anda menuju kepada pemimpin kami. Anda bisa tenang dan mengikuti dari belakang!" Dia berbicara sambil memasang raut wajah sedikit gugup.
Berbohong memang mudah, namun berbohong tepat di depan seseorang seperti Weng Lou, itu seperti berbicara empat mata dengan seekor singa. Sulit untuk menjaga ketenangan agar tidak dicurigai.
"Oh! Benarkah itu? Kalau begitu silahkan pimpin jalannya, aku akan mengikuti mu dari belakang, seperti yang kau katakan." Weng Lou menjawab sambil kembali memasang senyumannya.
Prajurit itu pun buru-buru melangkah ke satu jalan dan Weng Lou berjalan mengikutinya. Para prajurit yang lain hanya bisa diam di tempat mereka tanpa mengatakan satu kata pun. Jalan yang keduanya tuju adalah pusat kota, dan di sana adalah tempat paling banyak pasukan seperti mereka berkumpul.
Tentu, mereka tidak mungkin memberitahukan hal ini pada Weng Lou. Mau bagaimana pun, Weng Lou adalah penjahat yang berani melawan mereka. Satu-satunya cara adalah dengan menggiringnya menuju ke pasukan lainnya dan menyerangnya bersama-sama.
***
Sementara itu, di daerah pinggir kota. Weng Ying Luan bersama dengan Du Zhe dan yang lainnya melesat cepat diantara orang-orang yang ada di sekitar jalanan kota.
Beberapa orang melihat mereka dengan kebingungan, sementara yang lainnya menatap curiga. Orang-orang yang menatap curiga adalah para anggota Keluarga Lin. Biasanya mereka yang berlarian di dalam kota adalah mereka yang berbuat kejahatan dan akan ada prajurit kota yang mengejar mereka.
Namun, tidak ada satupun prajurit yang terlihat di belakang mereka, sehingga kecurigaan mereka hanyalah sebatas kecurigaan belaka.
Kota yang begitu besar membuat jauhnya jarak untuk memutari kota. Dengan mengandalkan Weng Ying Luan yang mengambil kecepatan seorang Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa tingkat 9, kelompok mereka baru mencapai setengah jalan menuju ke gerbang perbatasan menuju wilayah dalam.
"Cih, orang-orang ini, apa mereka tidak bisa berhenti menatapi ku. Aku tau aku ini tampan, tapi tidak perlu sampai semua orang menatapiku seperti itu," cibir Weng Ying Luan yang mengambil belokan besar di pertigaan jalan selanjutnya.
__ADS_1
Du Zhe yang berada tepat di belakangnya hanya tersenyum kecut mendengarnya. Dia tau saudara Guru nya ini memiliki kepribadian yang unik, sama seperti gurunya, namun kepribadian mereka bisa dibilang jauh berbeda meski sama-sama unik.
Weng Lou selalu mempertahankan sikapnya yang selalu tak terprediksi dengan lebih banyak tenang dan tidak terlalu banyak berbicara. Berbeda jauh dengan Weng Ying Luan yang akan selalu berbicara setiap beberapa detik. Meski Du Zhe tidak membenci hal ini, namun dia tetap saja tidak terbiasa. Terlebih, Weng Ying Luan selalu berbicara mengenai hal-hal yang tidak terlalu penting.
"Senior, apakah Guru ku akan baik-baik saja?" tanya Du Zhe dengan suara sedikit khawatir.
Jelas dia khawatir pada Weng Lou, bohong jika tidak. Terlebih, dia sudah mendengarkan mengenai betapa hebat dan kuatnya Empat Keluarga Klan Besar yang memerintah Daratan Utama. Hal ini membuatnya semakin memikirkan keselamatan Weng Lou.
Dia tidak habis pikir, betapa kuatnya Weng Lou, Guru nya ini yang telah memporak-porandakan beberapa tempat yang di datanginya. Semoga saja kali ini dia bisa tetap kembali dalam keadaan baik-baik saja seperti yang sebelum-sebelumnya.
"Kau mengkhawatirkannya, huh? Du Zhe, sebagai orang yang cukup lama berada bersama Guru mu, aku akan memberitahumu satu hal penting tentang Guru mu itu. Lou itu, sejauh yang aku tau, dia menekan tingkat praktiknya sendiri agar tidak naik tingkat dengan sangat cepat, sama seperti ku. Jika mengikuti kekayaan yang dia miliki, serta banyaknya sumber daya yang dia miliki, seharusnya dia sudah lama mencapai ranah Penyatuan Jiwa tahap 5 lebih, namun dia tetap bertahan di bawahnya, kau ingin tau kenapa?"
Du Zhe berkedip. Dia tidak tau apa alasannya. Bahkan dia tidak tau kalau ada orang yang secara sengaja menekan tingkat praktiknya sendiri seperti itu, dia baru kali ini mendengarnya.
"Biasanya, orang-orang secara gila-gilaan akan meningkatkan tingkat praktiknya agar bisa mencapai ranah yang lebih tinggi, namun berbeda dengan yang secara sengaja menekan tingkat praktiknya. Orang-orang seperti kami lebih berfokus pada dasar dan pengembangan teknik. Hanya mereka yang memang memiliki bakat dan percaya diri yang tinggi yang aman melakukan hal ini."
"Namun, berbeda dengan Lou. Dasarnya sudah sempurna sejak lama, bahkan semenjak dia di ranah Pembersihan Jiwa, dasarnya itu sudah nyaris setara dengan para Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa. Teknik-teknik nya apalagi, dia memiliki segudang teknik beladiri. Aku mengetahui ini karena selalu berlatih bersamanya, bahkan dia sering memberikan beberapa saran pada teknik beladiri ku."
Mendengar ini, Du Zhe tidak bisa menahan keterkejutannya. Guru nya benar-benar sehebat itu? Pantas saja dia begitu hebat.
Kekaguman, dan rasa hormatnya pada Weng Lou semakin bertambah setelah mendengar hal tersebut.
"Kekuatan yang dia tumpuk itu membuatnya benar-benar tak terkalahkan di tingkatan nya. Satu-satunya alasan dia tidak bisa menang melawan ku selama ini adalah karena aku jauh lebih ahli dalam memanfaatkan Qi maupun Kekuatan Jiwa serta aku memiliki garis darah keturunan yang membantu ku meski tidak diaktifkan. Padahal secara teknis, teknik-teknik nya jauh lebih kuat dari ku. Tapi sekarang, semenjak dia tidak memiliki Qi lagi, dia harusnya mulai menyadari sesuatu. Kekuatannya yang terlalu lama terbendung di dalam tubuh nya itu harus mulai dikeluarkan. Aku yakin, dia bisa menangani masalahnya. Jadi Du Zhe, kau jangan khawatir lagi."
"Jika ada yang mau kau khawatirkan, itu adalah kita semua di sini. Meski pun aku ini kuat, bukan berarti aku tak terkalahkan. Sebentar lagi kita akan sampai ke gerbang perbatasan kota. Aku yakin akan banyak prajurit di sana, dan mereka pasti sangat kuat. Nyaris mustahil untuk kita bisa menyusup sebenarnya, namun aku tetap mempertaruhkan semuanya, karena aku yakin kita pasti bisa, entah karena keberuntungan atau apapun, kita pasti bisa."
Weng Ying Luan berhenti menjelaskan dan segera menambah kecepatannya. Dia kembali melompat dengan tinggi ke udara dan mendarat di seberang bangunan bertingkat tiga.
Du Zhe mengangguk setelah mendengar Weng Ying Luan bercerita. Dia mulai paham mengenai gurunya, bisa dikatakan bahwa guru nya adalah orang yang mengincar kesempurnaan. Itu adalah sesuatu yang bagus, namun dalam dunia beladiri yang penuh darah, kesempurnaan itu tidak selalu bagus, malah terkadang mendatangkan bahaya bagi seseorang.
Dia hanya bisa berharap, semoga dia bisa menjadi seperti gurunya kelak di masa depan.
***
Jauh di belakang kelompok Weng Ying Luan saat ini. Tepatnya, di pusat kota.
Lebih dari seratus prajurit berseragam lengkap sedang mengepung Weng Lou dan mengelilinginya sambil mengarahkan senjata mereka ke arahnya.
Di belakang mereka, sekitar dua ratus prajurit sudah jatuh pingsan di atas tanah. Terlihat tidak ada bekas serangan apapun pada diri mereka. Satu-satunya persamaan adalah warna mata mereka berubah putih karena serangan jiwa dari Kekuatan Jiwa Weng Lou yang membuat mereka tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Hei, siapa pemimpin kalian?"
Weng Lou bertanya sambil menatapi orang-orang yang mengelilinginya.
Wajah mereka semua tampak waspada. Jelas kekuatan yang Weng Lou tampilkan membuat mereka semua ketakutan, namun sebagai prajurit Keluarga Lin, mereka tidak boleh gentar dengan setiap lawan mereka.
"Aku adalah Pemimpin Pasukan Penjaga, Lin Mu Ya. Kau, penjahat yang telah menyerang prajurit kota, apa yang kau inginkan? Tidakkah kau takut dengan Keluarga Lin?!" Seorang pria berperawakan tinggi tegap dengan rambut separuh merah dan separuh hitam berseru dari depan pasukan yang mengelilingi Weng Lou.
Weng Lou menoleh dan melihatnya. Cukup cepat juga.
"Aku menghormati Keluarga Lin, namun sebuah kelompok dari keluarga kalian telah mencuri kapal ku di pelabuhan Kota Tiesha. Bahkan tidak ada yang memberitahu ku ketika hal itu terjadi. Jadi salah satu alasan ku datang ke sini adalah demi mendapatkan kembali kapal ku. Juga, ada urusan yang harus kulakukan dengan Kepala Keluarga Keluarga Lin kalian. Bisakah kau membawaku bertemu dengannya? Aku berjanji tidak akan bersikap kasar kepada kalian lagi dan menuruti kalian, asal bisa bertemu dengan nya," jelas Weng Lou dengan santai sambil mengangkat bahunya.
Mu Ya membuka mulutnya, hendak berbicara, namun sebuah suara sudah lebih dulu memotong nya, "Oh, benarkah itu? Bisakah aku tau, apa keperluan mu ingin bertemu dengan ku, wahai orang dari Pulau Pasir Hitam?"
Dari atas langit, sosok wanita layaknya malaikat yang turun dari atas surga melayang dan berbicara kepada Weng Lou. Bersamaan dengan kemunculannya, belasan prajurit yang mengenakan pakaian perang spesial dari Sisik Naga Api muncul dan mengelilingi Weng Lou di atas langit.
Sebelas orang prajurit, dengan postur tubuh tinggi dan mengeluarkan uap putih dari tubuh mereka. Pemandangan ini sontak membuat semua orang di situ terkejut bukan main. Terutama saat melihat sosok wanita yang ada di tengah kesebelas prajurit itu.
"Ho-HORMAT KEPADA YANG MULIA KEPALA KELUARGA!!! HIDUP KELUARGA LIN!!" Mu Ya, dengan cepat berseru nyaring begitu menyadari identitas wanita itu.
Dia adalah Kepala Keluarga Keluarga Lin saat ini, Lin Nushen. Anggota Keluarga Inti Keluarga Lin yang telah hidup sejak masa peperangan antar keluarga besar ratusan tahun lalu.
Semua orang di dalam Keluarga Lin mengetahui wajahnya, namun tidak semuanya pernah melihatnya secara langsung. Namun meski begitu, tidak mungkin bagi mereka tidak mengenalnya.
Segera, suara seruan yang lainnya bergema di sepanjang jalan pusat kota. Para pengunjung yang ada di situ semuanya terheran-heran, tidak tau harus berbuat apa.
Sementara itu, di sisi lain. Weng Lou yang berada di tengah-tengah mereka hanya berdiri diam sambil saling bertatapan dengan Lin Nushen tanpa bergerak sedikit pun.
"Hahaha.....tidak kusangka akan menjadi seperti ini. Untuk berpikir seseorang memiliki sebelas orang di ranah Penguasaan Jiwa yang menjadi prajurit pribadi, benar-benar gila. Aku bahkan baru kali ini melihat Penguasa Jiwa sebanyak ini di hidup ku. Dan juga, dia langsung tau aku berasal dari Pulau Pasir Hitam, sepertinya dia sudah mengetahui identitas ku." Weng Lou berbicara dalam hatinya.
Sebelas orang prajurit yang mengelilinginya di udara adalah Penguasa Jiwa, sementara pemimpin mereka, Lin Nushen adalah Kaisar Jiwa. Dia benar-benar telah masuk ke dalam kandang singa.
"Memberi salam pada Kepala Keluarga Keluarga Lin." Weng Lou segera memberikan hormatnya pada wanita itu.
"Hm, tidak perlu repot-repot memberi hormat padaku. Aku tidak tau alasan apa dirimu datang ke sini, tapi demi kenyamanan, sebaiknya kita melanjutkan pembicaraan kita di tempat lain," ujar Lin Nushen dengan suara dingin.
Dia berbalik, dan sosoknya langsung melesat terbang ke arah bagian lebih dalam dari Kediaman Keluarga Lin.
Tanpa ragu sedikitpun, Weng Lou segera mengikutinya dari belakang. Sebelas orang prajurit di ranah Penguasaan Jiwa ikut bergerak dan terbang di belakangnya.
__ADS_1