Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 668. Pesan Telepati


__ADS_3

Bagaimana cara Keluarga Lin mampu bertahan dalam perang besar lima ratus tahun yang lalu, sedangkan tiga keluarga yang lain memiliki setidak satu orang di ranah Deva dalam jajaran kekuatan mereka?


Jawabannya sederhana, itu karena Keluarga Lin juga memiliki seseorang di ranah Deva!


Alasan Keluarga Lin garis darah keturunan Phoenix yang memiliki kekuatan pemusnah ingin agar kedua keluarga dalam Keluarga Lin ikut berperang lima ratus tahun lalu adalah karena mereka memiliki setidaknya satu orang di ranah Deva masing-masing.


Ya, Praktisi Beladiri di ranah Deva di dalam Keluarga Lin Daratan Utama tak lain adalah Lin Nushen. Dengan kehendak pemusnahan miliknya, dia dikenal sebagai Dewa Pemusnahan. Sedangkan untuk Keluarga Lin di Pulau Pasir Hitam, Praktisi Beladiri yang berada di ranah Deva adalah istri dari Kepala Keluarga Lin, yang tidak lain adalah ibu Lin Mei, dan satu orang lagi adalah sang Tetua Agung yang selalu selalu menjaga Keluarga Lin dalam bayang-bayang.


Dengan tiga orang di ranah Deva, Lin Nushen yakin bahwa mereka setidaknya bisa mengambil alih wilayah salah satu keluarga lainnya dengan sangat mudah. Namun ibu Lin Mei menolak mentah-mentah rencana tersebut karena masalah kondisi Kepala Keluarga Weng.


Tetua Agung selalu tidak berpihak pada satupun diantara kedua keluarga, sehingga membuatnya juga tidak mendukung rencana Lin Nushen.


Akhirnya, ketika Keluarga Weng memutuskan memisahkan diri, Keluarga Lin yang dipimpin ibu Lin Mei dan juga Tetua Agung Keluarga Lin memilih untuk ikut dengan mereka.


Hanya Keluarga Lin yang dipimpin Lin Nushen yang bertahan di Daratan Utama sendirian. Namun meski begitu, dengan kekuatan di ranah Deva Lin Nushen bisa mempertahankan Keluarga Lin dari serangan tiga Keluarga Besar lainnya.


Setelah peperangan selesai, Lin Nushen membentuk sebuah klon yang memiliki sepuluh persen kekuatannya untuk memerintah Keluarga Lin. Dia memilih untuk mengedarkan lebih dari sembilan puluh persen kekuatan dan kehendak utamanya pada wilayah sekitar Kediaman Keluarga Lin, yang tidak lain adalah danau lava.


Dengan begitu dia memerintah sekaligus menjaga Keluarga Lin selama ratusan tahun lamanya seorang diri.


Selama ratusan tahun itu dia terus merenungkan apa yang akan terjadi pada Keluarga Lin di Daratan Utama jika seandainya dia mati. Apakah mereka bisa tetap bertahan tanpa dirinya? Bagaimana dengan kedua anaknya? Mereka masih sangat muda dan bahkan belum pernah ikut dalam perang besar.


Oleh sebab itu dia berusaha beberapa kali untuk menghubungi Keluarga Weng di Pulau Pasir Hitam dan memohon untuk bisa bergabung dengan mereka. Sayangnya Penasehat Kepala Keluarga Weng langsung menolaknya mentah-mentah.


Kepala Keluarga Weng memang orang terkuat di Daratan Utama ketika masih hidup, namun Penasehat Kepala Keluarga Weng juga tidak kalah kuatnya. Sebagai adik kandung Kepala Keluarga Weng dia memiliki kekuatan di puncak ranah Deva dan bisa dibilang sebagai yang terkuat kedua di seluruh dimensi asal mula. Tentu saja, yang orang ketahui.


"Katakan tujuan kedatangan kalian ke sini." Lin Nushen berkata dengan nada datar.


Namun setiap kata-katanya membawa kekuatan yang sangat besar yang membuat kapal kayu yang dinaiki para perwakilan dari Pulau Pasir Hitam terguncang selama beberapa saat sebelum kembali stabil.


Raut wajah Weng Lao De tidak berubah. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Lin Nushen.


"Anda mungkin sudah bisa menebaknya, kami datang ke sini untuk membawa murid dari Tuan Muda Lou," ujar Weng Lao De sambil menjaga nadanya tetap hormat.


Sebelah alis Lin Nushen terangkat. Dia terkejut Weng Lao De menyebut Weng Lou sebagai Tuan Muda. Sepertinya identitas aslinya sangatlah penting sehingga membuat orang sekuat Weng Lao De sampai menyebutnya dengan hormat.


"Kau sampai menyebutnya sebagai Tuan Muda, memangnya identitas apa yang dimiliki bocah kurang ajar itu?" tanya Lin Nushen.


Weng Lao De tidak langsung menjawabnya. Dia menatap pada para Penguasa Jiwa yang menjadi bawahan Lin Nushen sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara.

__ADS_1


"Aku khawatir jawaban dariku akan menyingung anda, Dewa Pemusnahan, Lin Nushen."


Dahi Lin Nushen mengerut. "Katakan saja! Kau pikir aku akan marah hanya dengan mendengar jawaban darimu? Hmp! Kau melebih-lebihkan anak konyol itu!"


Kata-kata tajam Lin Nushen tidak membuat Weng Lao De tersinggung sedikitpun. Dia menarik napas dalam dan membuangnya setelah beberapa saat.


"Kalau begitu, maafkan diriku. Identitas Tuan Muda Lou jauh lebih tinggi dari anda, sang Dewa Pemusnahan. Anda tidak layak mengetahui identitas Tuan Muda Lou atau pun mengetahui secuil informasi tentang dirinya," ujar Weng Lao De.


Mendengar Weng Lao De, Lin Nushen yang tampak tenang sebelumnya mendadak langsung terbawa emosi begitu juga dengan kedua putrinya serta sebelas Penguasa Jiwa yang ada di belakang mereka.


"Siapa yang kau katakan tidak layak, huh?!" salah satu putri Lin Nushen meraung marah. Kekuatan Kaisar Jiwa tahap awal segera meletus dari tubuhnya.


"Jangan berpikir bahwa kau adalah anggota Keluarga Weng kau bisa berkata seenaknya pada Kepala Keluarga kami!" Putri Lin Nushen yang lain berkata sambil menghunuskan pedangnya.


Mata Weng Lao De hanya menatap keduanya sejenak sebelum kembali menatap pada Lin Nushen.


Walau Lin Nushen juga marah, namun dia bisa mengontrol emosinya jauh lebih baik daripada kedua putrinya. Dia tidak menjadi Kepala Keluarga Lin tanpa alasan.


Setelah mengatur emosinya, dia pun kembali berbicara. "Karena kau mengatakan aku tidak layak untuk mengetahui identitasnya, maka aku hanya akan menebak bahwa dia adalah salah satu dari keturunan inti Keluarga Weng. Baiklah, aku akan membiarkan kalian membawa muridnya, serta binatang peliharaannya. Adapun orang-orang yang lainnya, aku tidak bisa memberikannya pada kalian. Kami memerlukan beberapa orang untuk merawat Istana Leluhur Lin setiap harinya dan orang-orang itu sangat cocok untuk pekerjaan tersebut."


"Saya berterima kasih kepada Kepala Keluarga Lin," ucap Weng Lao De sambil menundukkan kepalanya sekali lagi.


Keduanya tidak lain adalah Du Zhe dan Kera Hitam Petarung. Wajah Kera Hitam Petarung benar-benar terkejut karena menemukan dirinya tiba-tiba telah berada di atas langit, tepat di atas danau lava Begitu juga dengan Du Zhe, dia nyaris pingsan karena teleportasi seketika yang dilakukan Lin Nushen padanya.


Dengan satu gerakan, keduanya segera melayang ke arah kapal kayu.


Weng Lao De menatap sejenak pada Du Zhe. Berkedip. Ekspresi terkejut segera muncul pada wajahnya dan pupil matanya mengecil. Mulutnya hampir terbuka lebar jika saja dia tidak memperhatikan kondisinya saat ini.


Gila! Monster macam apa yang berhasil didapatkan oleh Tuan Muda Lou?! Bocah ini mungkin masih berada di ranah Pembentukan Pondasi, namun itu karena dia terlambat berlatih beladiri.


Dari bakat fisik tubuhnya saja dia memiliki bakat nomor satu! Terlebih lagi.....Dantian miliknya...... apa-apaan dengan semua warna-warni itu?!


Lin Nushen menangkap perubahan pada wajah Weng Lao De dan tak bisa menahan diri untuk tertawa mengejek.


"Jika bukan karena anak ini sudah memiliki seorang guru, aku sendiri sudah akan mengambilnya sebagai murid pribadi ku. Sebaiknya Keluarga Weng memastikan dia mendapatkan sumber daya latihan yang cukup untuk menyokong bakar yang dia miliki."


Dengan cepat Weng Lao De mengangguk. Dia membuka lubang pelindung kapal dan membiarkan Du Zhe masuk ke dalamnya. Untuk Kera Hitam Petarung, dia langsung memasukkannya ke dalam tas kulit miliknya yang adalah tas binatang tunggangan.


"Karena kalian sudah mendapatkan apa yang kalian inginkan, maka kalian tidak memiliki urusan lagi di tempat ini. Segera pergi dan tinggalkan wilayah kekuasaan Keluarga Lin," kata Lin Nushen dengan acuh tak acuh.

__ADS_1


Dia membalikkan badannya. Lava di bawah kakinya segera kembali turun dan kehendak pemusnahan dalam dirinya segera menghilang. Bersama-sama dengan kedua putrinya dan sebelas pengawal Penguasa Jiwa, mereka kembali ke kastil Keluarga Lin.


Untuk kesekian kalinya Weng Lao De menundukkan kepalanya, memberi hormat pada Lin Nushen. Setelah Du Zhe berada di atas kapal, Weng Lao De segera memutar kapal dan mengarahkannya ke timur. Ketika kapal akan melesat pergi, Weng Lao De tiba-tiba berhenti mengendalikan kapal.


"Beritahu Penasehat Kepala Keluarga kalian, sesosok makhluk misterius muncul di wilayah Gurun Pemakan Kehidupan. Aku tidak mengetahui apa atau bagaimana wujud dari makhluk tersebut, namun aku merasakan firasat buruk tentangnya. Sebaiknya Keluarga Weng segera menyiapkan rencana untuk menangani makhluk itu setelah kalian selesai dengan masalah Keluarga Ying."


Itu adalah sebuah pesan telepati. Pesan telepati yang dikirimkan oleh Lin Nushen yang sedang terbang kembali ke kastil Keluarga Lin.


Pesan itu membuat raut wajah Weng Lao De berubah menjadi gelap. Lagi-lagi dia mendapatkan berita yang tidak dia prediksi sebelumnya. Namun kali ini, berita itu diberikan oleh Lin Nushen yang mustahil untuk berbohong kepadanya.


Jika sosok seperti itu sampai bisa membuat seseorang di ranah Deva seperti Lin Nushen mendapatkan firasat buruk, lalu seberapa mengerikan kah makhluk tersebut?


"Sepertinya akan ada banyak berita yang harus ku beritahu pada Penasehat Kepala Keluarga sesampainya kami pulang nanti."


Dengan begitu, Weng Lou De kembali mengendalikan kapal kayu. Tanpa berlama-lama, kapal kayu langsung melesat pergi meninggalkan danau lava dan pergi keluar dari wilayah kekuasaan Keluarga Lin.


******


Promosi karya



Judul karya: Kultivator Terkuat


Sinopsis:


Apa tujuan seseorang menjadi kuat?


Apakah untuk mendapatkan kekuasaan, atau untuk mendapatkan kekayaan?


Tidak! Tujuan seseorang menjadi kuat adalah untuk menjadi abadi! Abadi artinya tak tertandingi! Abadi artinya menjadi yang terkuat!


Meski Weng Lou hanya ingin menjalani kehidupan yang santai, namun masa lalu dari keluarganya dan permintaan ayahnya membuatnya harus terlibat dalam dunia kultivator.


Untuk memastikan keselamatannya sendiri, dan untuk menyelesaikan masalah keluarganya, dia akan menjadi yang terkuat.


Kultivator Terkuat!


Catatan penulis:

__ADS_1


Ini adalah spin-off dari salah satu Kehidupan Terdahulu Weng Lou. Namun dalam novel Menuju Keabadian, kehidupan ini akan menjadi kunci utama penyelesaian masalah 'makhluk misterius' yang ada di Gurun Pemakan Kehidupan.


__ADS_2