Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 627. Bertemu Kembali Dengan Lin Bei


__ADS_3

Di pintu gerbang kota, Weng Lou dan Weng Ying Luan terlihat berdiri menunggu.


Di tangan Weng Lou terdapat sebuah giok yang berisikan peta wilayah Keluarga Lin serta wilayah Daratan Utama lainnya.


Ada juga sebuah batu giok lain yang ada di tangan lainnya, itu berisikan informasi mengenai penyerangan yang dilakukan binatang buas di beberapa wilayah milik Keluarga Wang. Penyerangan yang dilakukan oleh binatang buas itu membentuk sebuah garis lurus dari utara wilayah Keluarga Wang menuju ke arah timur dimana terdapat Tembok Abadi yang merupakan titik terakhir rombongan binatang buas terakhir kali terlihat di wilayah Keluarga Wang.


"Tembok Abadi.....jaraknya dua bulan jika kita lewat darat, tapi jika kita terbang hanya akan memakan waktu setengahnya. Itu, jika tidak ada kendala yang kita temui di sepanjang jalan. Dari rute garis lurus, kita akan melewati sebuah hutan yang sangat luas yang dihuni oleh banyak binatang buas. Dengan hanya kita bertiga, pasti perjalanan kita tidak akan terlalu mulus."


Weng Lou menghela napasnya dan menyimpan kembali kedua giok di kedua tangannya.


"Apa yang kau takutkan? Dengan kekuatan kita berdua, hanya orang-orang setingkat Raja Jiwa atau lebih tinggi yang bisa mengancam kita, Penguasa Jiwa belaka bisa dengan mudah kita ratakan dengan kekuatan kita yang sekarang," ujar Weng Ying Luan dengan nada sombong.


Menatap Weng Ying Luan, Weng Lou mencibirnya dan mengalihkan pandanganya ke arah danau lahar.


Dia memikirkan tentang Naga Api di dalam danau yang memiliki kekuatan yang cukup untuk membuat orang-orang yang melihatnya lari terbirit-birit karena ketakutan setengah mati.


"Apa aku bawa saja naga itu? Mungkin saja akan sedikit berguna nantinya." Dia bergumam pelan.


Jika kesebelas Penguasa Jiwa yang melayani Lin Nushen mendengarkan pemikiran Weng Lou, mereka tidak akan menahan diri untuk langsung menyerangnya dengan kekuatan penuh Penguasa Jiwa.


Naga Api yang tinggal di dalam danau lahar merupakan simbol kekuatan dan kejayaan Keluarga Lin yang membuat banyak orang mengagumi mereka, terutama tiga Keluarga Besar yang lain. Meski kekuatan Naga Api itu tidak bisa dibandingkan dengan para Kaisar Jiwa, namun sang Naga Api yang merupakan simbol dari kehancuran telah melekat dipikiran banyak orang, bahkan manusia biasa.

__ADS_1


Ketakutan yang ditimbulkan oleh namanya saja sudah cukup untuk membuat nama Keluarga Lin menjadi sangat terkenal di seluruh Daratan Utama.


Sejak zaman dahulu naga selalu menjadi binatang yang menduduki peringkat nomor satu sebagai binatang terganas yang diketahui oleh orang-orang.


Jika naga itu tiba-tiba menghilang, maka Keluarga Lin akan menjadi bahan lelucon seluruh Daratan Utama untuk waktu yang lama.


Ide itu pun segera Weng Lou hapus dari kepalanya, tidak ada yang tau konsekuensi macam apa yang akan terjadi jika dia membawa seekor Naga Api dalam perjalanannya menuju Tembok Abadi. Mungkin saja, beberapa orang dari tiga Keluarga Besar yang sudah lama mengincar Naga Api tersebut akan menyergap mereka dalam perjalan nanti.


"Semoga saja Mei belum mengambil tindakan sembrono di dalam wilayah Keluarga Ying. Akan menyulitkan jika sampai Kepala Keluarga mereka turun tangan terhadap masalah ini." Weng Lou memikirkan kembali sifat yang dimiliki Lin Mei yang terkadang meledak-ledak namun juga terkadang sangat tenang hingga menjadi sangat menakutkan dalam ketenangannya itu.


"Jangan khawatir, perlindungan yang diberikan oleh Patriak kepada kita masih belum dipakai hingga sekarang. Seorang Kaisar Jiwa tidak akan bisa melakukan apapun padanya jika dia mengaktifkan perlindungan itu," kata Weng Ying Luan.


"Kuharap yang kau katakan memang benar. Tapi kita tetap harus waspada. Wilayah timur Daratan Utama sepenuhnya ada dalam kekuasaan Keluarga Ying. Akan sangat merepotkan jika kita benar-benar terjebak dalam sebuah pertempuran besar dengan jumlah kita yang terbatas. Orang-orang dari empat Keluarga Besar sama sekali tidak bisa diremehkan," balas Weng Lou.


Ada juga Yang Zhengyi, sang pemilik salinan Kitab Keadilan. Meski kesan yang Weng Lou dapatkan tentangnya lebih kepada seseorang yang terlalu fanatik terhadap keadilan mutlak, namun harus Weng Lou akui dia adalah lawan yang kuat. Dan dia berusia kurang lebih sama seperti Weng Lou dan membuat kesan tentangnya lebih mendalam pada Weng Lou.


Lalu yang terakhir, ada dari Keluarga Lin. Sebenarnya Weng Lou tidak tau harus mengambil siapa sebagai contoh tapi yang jelas semua lawan dari Keluarga Lin yang dia lawan memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan.


Masing-masing empat keluarga memiliki ciri khas nya masing-masing, dan dari pertarungannya melawan Ying She waktu itu, Weng Lou memiliki sedikit gambaran tentang Keluarga Ying.


Mereka sama seperti ular, penuh dengan rencana licik dan tipu muslihat. Dia berharap Lin Mei belum sampai berurusan dengan orang-orang dari Keluarga Ying.

__ADS_1


Ketika Weng Lou sedang memikirkan rencana mereka ketika sampai nantinya di wilayah Keluarga Ying, seorang pemuda berusia dua puluhan berjalan ke arah mereka dari arah dalam kota.


Weng Ying Luan segera melihatnya. Dia menyapa orang itu dengan sedikit senyuman.


"Yo, senang bertemu dengan mu lagi. Kau.....Lin Bei, benar? Hahaha....aku berterima kasih atas uang yang kau berikan di Kota Tiesha, itu benar-benar membantuku," ujarnya pada Lin Bei.


Lin Bei tersenyum pahit mendengarnya. Dia ingat dengan jelas Weng Ying Luan, orang yang mengalahkannya secara tak terduga di Arena Pertarungan lebih dari sebulan yang lalu.


Dia tidak marah karena telah dihajar oleh Weng Ying Luan, bahkan jauh di lubuk hatinya ada perasaan terima kasih. Itu semua karena dia berhasil membangkitkan garis darah keturunan Phoenix miliknya hingga berkembang menjadi lebih kuat dan murni.


Persentase garis darah keturunan Phoenix di dalam tubuhnya kini semakin tinggi, dan statusnya akan dengan cepat meningkat jika dia mulai membiasakan diri dengan kekuatan garis darah keturunan Phoenix nya yang jauh lebih kuat.


"Apa kabar? Kau Lin Bei, bukan? Perkenalkan aku adalah teman orang ini, namaku Lou. Maaf karena meminta mu untuk membawa kami ke wilayah Keluarga Wang yang sangat jauh, aku tau kau pasti merasa keberatan, jadi aku telah menyiapkan bayaran yang setimpal. Jadi kau tidak perlu khawatir, karena kau mengantarkan kami tidak gratis, kau akan dibayar," kata Weng Lou dengan suara sedikit ramah.


Dia tidak mengambil hati tindakan Lin Bei yang sudah 'mencuri' kapalnya. Lagipula dia telah memanfaatkan tindakan Lin Bei itu sebagai alasan datangnya menemui Lin Nushen, sang Kepala Keluarga Lin saat ini.


Dan juga, Weng Ying Luan sepertinya memiliki kesan baik kepadanya, jadi dia juga akan menjadi ramah dengan Lin Bei.


Mata Lin Bei berkedip. Dia menatap Weng Lou sejenak. Dia bisa merasakan tekanan yang begitu kuat dari kehadiran sosok Weng Lou di tempat itu. Dia dan Ying Luan di satu tempat yang sama benar-benar membuat dadanya terasa sesak.


Menarik napas dalam-dalam, dia memberanikan diri untuk menjawab sapaan Weng Lou. "Aku juga senang bertemu kalian. Kalian berdua sepertinya sudah mengenal identitas ku, jadi aku tidak perlu repot-repot memperkenalkan diriku lagi pada kalian. Aku di sini atas perintah dari Kepala Keluarga, dan dengan senang hati akan membantu kalian pergi menuju Tembok Abadi milik Keluarga Wang. Semoga kita bisa saling membantu kedepannya."

__ADS_1


Weng Lou tersenyum dan mengangguk. "Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang. Lebih cepat kita sampai, lebih cepat masalah ini akan selesai," katanya sambil berjalan menuruni kaki gunung.


Menjawab kata-kata Weng Lou, Weng Ying Luan pun memasukkan kembali botol berisikan racun ke dalam cincin penyimpanannya. Lin Bei mengangguk setuju dan segera berjalan di belakang Weng Lou lalu diikuti Weng Ying Luan di belakangnya.


__ADS_2