
Semenjak Ular Putih Berkepala Sembilan menjadi manusia, wilayah Hutan Leluhur Ying hanya ditempati oleh dua penguasa yang menguasai dua wilayah Hutan Leluhur Ying.
Salah satunya adalah Naga Ular Hijau yang terkenal akan kemampuan kamuflasenya yang bisa dengan mudahnya mengelabuhi siapa saja yang memasuki wilayahnya. Orang-orang dengan kekuatan yang sama dengannya akan kesulitan menemukan lokasi aslinya, namun para Kaisar Jiwa bisa dengan mudah membuka trik kecilnya itu.
Akan tetapi, Kambing Petapa yang masih baru di tahap Raja Jiwa tanpa disangka bisa melihatnya padahal jarak diantara mereka terpaut beberapa kilometer. Dan juga, sosoknya itu langsung ditemukan begitu Kekuatan Jiwa Kambing Petapa membongkar kabut yang ada di sekitarnya.
Naga Ular Hijau cukup terkejut dengan hal ini, namun dia tidak terlalu heran, mengingat yang ada di hadapannya adalah Kambing Petapa, binatang buas kelas terendah yang berhasil menjadi Raja Jiwa.
Perlu diketahui, Kambing Petapa tidak berasal dari spesies binatang buas yang memiliki kekuatan cukup besar.
Spesiesnya memiliki kemiripan dengan nama yang dia gunakan, Kambing Gunung Petapa. Kambing ini tinggal di wilayah daratan tinggi yang memiliki cuaca sangat dingin. Tingkat Praktik mereka pada dasarnya berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 4 sampai tahap 6.
Tempat tinggal mereka yang sangat dingin membuat mereka secara aneh dan mengejutkan memiliki jumlah dan kemampuan pengendalian Kekuatan Jiwa di atas rata-rata binatang buas lainnya. Hal ini yang menyebabkan mereka disebut sebagai Kambing Gunung Petapa. Namun kasus Kambing Petapa sangat berbeda, dimana dia berhasil mencapai ranah Penguasaan Jiwa yang sangat jauh di luar batasan yang bisa dicapai Kambing Gunung Petapa.
Dia menjadi penguasa Pegunungan Langit Salju karena kekuatannya dan mengguncang tatanan tingkat kekuatan para binatang buas.
Kekuatannya sebagai seorang Penguasa Jiwa menyebabkan namanya sangat terkenal di seluruh Daratan Utama. Hampir tidak ada binatang buas yang tidak mengenalnya.
Alasan dia bisa dengan cepat menyadari kamuflase Naga Ular Hijau adalah karena dirinya adalah seekor kambing. Ya, itu adalah penyebabnya.
Binatang buas yang menjadi predator dari binatang lain cenderung memiliki mata dengan pupil vertikal yang membantu mereka melihat dengan cukup jelas untuk memandu dalam bergerak cepat saat berada di medan yang sulit ketika berburu mangsa.
Di sisi lain, binatang-binatang yang menjadi mangsa predator cenderung memiliki mata dengan pupil horizontal. Contohnya adalah Kambing Petapa itu sendiri. Fungsi mata seperti ini adalah untuk membantu mereka dalam memiliki pandangan panorama sehingga mereka bisa mendeteksi predator yang datang untuk memangsa mereka.
***
Saat ini, di dalam Hutan Leluhur Ying, Naga Ular Hijau mendesis begitu mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Weng Ying Luan.
Dia menyipitkan mata vertikalnya dan melihat sosok Weng Ying Luan di atas elang raksasa.
"Seorang manusia? Tidak, ada dua dari mereka. Kenapa kalian bisa bersama-sama dengan manusia? Apakah kalian sekarang menjadi bawahan manusia?"
Bawahan Naga Ular Hijau tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan pemimpin mereka.
Kambing Petapa menahan amarah dalam hatinya. Dia ingin mengutuk keras Weng Ying Luan yang sudah secara sembarangan berbicara dan membuat situasi mereka menjadi sulit saat ini.
Aku bersumpah, jika aku selamat dari sini, akan ku tanduk dia sampai dirinya tidak bisa bangun lagi sampai selama-lamanya!
"Dan kau? Kau hanya seekor ular daun biasa, kenapa bersikap sombong seperti itu?" Weng Ying Luan membalas sindiran Naga Ular Hijau.
__ADS_1
Naga Ular Hijau yang sebelumnya tampak tertarik dengan keberadaan Weng Ying Luan dan Lin Mei, kini terdiam di tempatnya tampak bersuara.
Bahkan para bawahannya tidak ada yang bersuara satupun.
Namun semua orang tau, bahwa diamnya mereka semua adalah pertanda bahwa situasi kini telah menjadi yang terburuk dari segala kemungkinan.
"Aku ingin manusia itu hidup-hidup, juga perempuan yang bersamanya. Kalian bisa membunuh sisanya," ujar Naga Ular Hijau dengan suara dingin dan penuh napsu membunuh.
"Kalian dengar perintah Ketua?! Tangkap manusia-manusia itu!!! Serang mereka! Kita akan menjadikan mereka semua makan malam kita!"
"Serang!!!"
Segera ribuan binatang buas berjenis ular yang menjadi bawahan Naga Ular Hijau melesat menyerang ke arah pasukan binatang buas yang berada di bawah perintah Lin Mei.
"Kiiieeeekkkk!!!! Habisi mereka! Cincang cacing-cacing sialan itu!!!"
Elang raksasa memekik tajam. Ratusan ribu binatang buas segera bergerak dan menyambut serangan dari para ular.
Jumlah mereka memang jauh lebih banyak, namun secara kekuatan, mereka semua hampir sama. Sebagian besar pasukan Naga Ular Hijau berada di ranah Penyatuan Jiwa, dengan dua orang berada di ranah Penguasaan Jiwa.
Raja Singa segera bergerak mengatasi dua ular Penguasa Jiwa, sementara Kambing Petapa bertarung melawan Naga Ular Hijau.
Tanduk dan ekor saling beradu dan menimbulkan ledakan suara yang memekakkan telinga.
Pohon-pohon tumbang ke segala arah, dan tanah retak dimana-mana.
"Kau melebih-lebihkan dirimu sendiri, kambing bodoh! Kau dengan senang hati datang dan masuk ke dalam mulut naga!" Naga Ular Hijau meraung dan membuka lebar mulutnya saat dia hendak menggigit leher Kambing Petapa.
Kambing Petapa yang melihat itu segera memiringkan kepalanya, dan membuka kedua tanduknya menahan mulut Naga Ular Hijau.
"Naga lumut sialan, kau yang dilahirkan dan dibesarkan di dalam hutan suram ini hanyalah katak di dalam sumur!"
Kedua kaki depan Kambing Petapa terangkat saat Kambing Petapa berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Saat tubuhnya sepenuhnya berdiri tegak lurus, dia dengan sekuat tenaga membanting ke depan, dan membuat kepala Naga Ular Hijau terbentur dengan keras di atas tanah
Pertarungan singkat keduanya dengan cepat menyebabkan kerusakan besar pada lingkungan sekitar mereka.
Tubuh Naga Ular Hijau yang amat panjang dan besar bergerak dan melakukan gerakan lilitan pada tubuh Kambing Petapa. Cahaya hijau keluar dari tubuhnya, saat kemudian asap hijau tebal keluar dari mulutnya dan langsung mengenai wajah Kambing Petapa.
Wajah Kambing Petapa menjadi buruk. Dia segera melepaskan mulut Naga Ular Hijau dan buru-buru menghindari asap hijau itu sejauh beberapa ratus meter.
__ADS_1
Ketika asap hijau mengenai pepohonan, pohon-pohon tampak tidak mengalami perubahan apapun, namun tiga detik berikutnya, seluruh pohon yang terkena asap hijau langsung berubah menjadi abu.
Mereka tidak layu, melainkan langsung dihancurkan hingga menjadi abu! Kekuatan penghancuran yang luar biasa dari asap hijau itu terlalu menakutkan!
"Yang berikutnya tidak akan meleset," ucap Naga Ular Hijau.
Kepalanya melesat ke arah Kambing Petapa. Dia melakukan gerakan meliuk-liuk di udara, seakan-akan sedang terbang di udara.
Gerakan meliuk-liuk itu nyatanya bukan gerakan asal yang dilakukan oleh Naga Ular Hijau, itu adalah salah satu teknik bertarung terkuatnya. Dua Naga Ular Hijau lain mendadak muncul di samping kanan dan kiri Naga Ular Hijau yang asli.
Kambing Petapa tanpa sadar melangkah mundur karena melihat teknik ini.
Dia tidak bisa membedakan mana yang asli dari tiga Naga Ular Hijau di hadapannya!
Kekuatan Jiwa meluap dalam diri Kambing Petapa. Lapisan demi lapisan muncul di hadapannya yang terbentuk dari Kekuatan Jiwa miliknya.
Sekilas, lapisan-lapisan ini tampak seperti pelindung, namun sebenarnya bukan. Ini adalah teknik bertarung milik Kambing Petapa.
"Kau menggunakan teknik untuk menggandakan dirimu, dan berharap aku menebak dengan salah. Tapi akan ku beritahu padamu, aku tidak peduli yang mana dari dirimu yang asli, akan ku hancurkan semuanya!"
Kaki kanan belakang Kambing Petapa menendang tanah dengan keras, hingga menimbulkan suara dentuman dan tanah bergetar seperti gempa kecil.
"Menghancurkan Seribu Gunung!!"
Tepat saat lapisan di depan Kambing Petapa mencapai jumlah seribu, tanduk di kepala Kambing Petapa menabrak dengan keras lapisan pertama, lalu menghancurkannya. Kekuatan tandukannya tidak berhenti sampai disitu, segera lapisan kedua, ketiga, dan keempat hancur oleh tandukannya.
Lapisan kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya hancur satu satu persatu.
Anehnya, bukannya serangannya melemah, tandukan dari Kambing Petapa malah menjadi semakin dan semakin kuat seiring bertambahnya lapisan yang dia hancurkan.
Saat lapisan keseribu dihancurkan, tanduknya telah berubah warna menjadi merah padam.
"Tiga Tubuh, Musnahkan Raga!"
Tiga Tubuh Naga Ular Hijau meraung keras.
Hanya dalam dua tarikan napas, Kambing Petapa dan Naga Ular Hijau telah menutup jarak ratusan meter yang ada pada mereka berdua. Tanduk merah padam dan tiga kepala dengan mulut terbuka lebar saling bertemu.
"MATIII!!!!"
__ADS_1
*DUAAARRR!!!!!*