Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 565. Konflik & Investatsi


__ADS_3

Meskipun memiliki tingkat praktik yang lebih tinggi dibandingkan Nu Qianren, namun jika dilihat hanya dari kekuatan fisik, dia jelas kalah melawan gadis tersebut.


Setelah naik ke ranah Pembersihan Jiwa, dia jarang meningkatkan kekuatan fisik miliknya, dan berfokus membersihkan jiwanya untuk mempercepat kenaikan tingkat praktiknya. Oleh sebab itu dia bisa berada di peringkat teratas dalam perkembangan dari sekian banyaknya murid gurunya.


Setelah naik ke tahap 3 di ranah Pembersihan Jiwa, guru Gaouji memperingatkan nya untuk tetap memperhatikan pengembangan fisiknya. Oleh sebab itu, tiga minggu yang lalu dia memutuskan pergi ke tempat pelatihan fisik dimana juniornya, Nu Qianren dan Weng Lou selalu berada.


Waktu itu, Qianren sedang menjalankan misi dari gurunya, sehingga tidak ada di tempat latihan.


Gaouji De yang terkenal karena tidak ingin kalah dalam segala hal, nekat mencoba masuk ke tempat di mana Weng Lou sedang berlatih dan alhasil dia berakhir dengan tak sadarkan diri setelah memuntahkan darah dalam jumlah besar.


Tidak ada murid lain yang berada di dekat tempat Weng Lou waktu itu, sehingga mau tak mau Weng Lou yang harus mengantarkan Gaouji keluar dari kawah dan memberikannya pada petugas yang selalu berjaga di luar kawah. Ketika tersadar, Gaouji telah mendengar ejekan dan hinaan tentangnya yang pingsan di dalam kawah latihan fisik.


Dia harus bersusah payah untuk membungkam mulut para murid yang tidak bisa diam itu. Qianren baru pulang ketika semua isu itu mereda, dan membuat dia tidak mengetahui apapun.


Tapi itu jelas berbeda dengan Weng Lou, dia adalah orang yang membawa keluar Gaouji, tentu saja dia tidak bisa melupakan hal seperti itu, apalagi dia memiliki ingatan yang sangat tajam. Gaouji De terlalu sibuk menutup mulut orang-orang yang mengejeknya, hingga dia melupakan orang yang telah membantunya itu. Dia bahkan sama sekali tidak peduli, siapa yang membantunya waktu itu.


Mendengar Weng Lou membahas kejadian yang sangat memalukan itu di depannya sendiri membuat amarah dan rasa malu pada diri Gaouji berada pada level yang ekstrim. Dia siap meledak kapan saja.


Sementara Qianren? Dia bahkan tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Weng Lou.


"Kau......tutup mulut mu! Kau cari mati, huh?!" Tatapan penuh amarah dan napsu membunuh diperlihatkan oleh Gaouji.


Qi keemasan menyelimuti jari-jari nya, dan sosoknya pun melesat ke arah Weng Lou. Dalam waktu lima detik, dia telah tiba di hadapannya, dan kelima jaringan siap menerkam wajah polos Weng Lou.


Ekspresi Weng Lou tak berubah, dia hanya memiringkan tubuhnya, sehingga serangan Gaouji itu hanya melewatinya. Kaki kiri Weng Lou sedikit ke depan, dan itu tanpa sengaja di tendang oleh Gaouji, hingga membuatnya terbanting ke depan dan menabrak tanah dengan keras.


Wajah Weng Lou segera berubah, dia terkejut melihat Gaouji yang terjatuh dan menabrak tanah. Baru ini dia melihat seseorang yang sangat menyedihkan seperti dirinya. Dia tidak bisa menahan tawanya dan malah memperparah suasana hati pemuda itu.


"Kaaaauuuuuu!!!!!! Akan kubunuh kauuu!!!!"


Tanpa aba-aba, sebuah pedang panjang muncul di tangan Gaouji. Dia segera bangkit, dan langsung menebaskan pedang itu kepada Weng Lou.


*Tap.....*


Weng Lou menghindarinya dengan mudah, namun Gaouji terlihat tidak ingin melepaskannya begitu saja. Dengan mengalirkan Qi yang lebih banyak pada pedangnya, rentetan tebasan energi melesat ke arah Weng Lou.


"Ck, benar-benar orang yang emosian. Apa kau tidak takut cepat tua?" tanya Weng Lou yang segera menangkis satu persatu serangan tersebut menggunakan kedua pedang di tangannya.


Qianren yang masih diam di tempatnya hanya bisa mematung melihat aksi seniornya tersebut. Dia bingung harus berbuat apa. Sebelum dia bisa membuat keputusan, tatapan mata Gaouji mendadak diarahkan padanya. Ada tatapan permusuhan dari kedua matanya.


"Dia ini teman mu, bukan? Qianren??!!! Jangan berpikir untuk kabur, akan kupastikan kau akan mereka dalam akibat macam-macam dengan ku!!"


Diancam seperti itu, sama sekali tidak membuat Qianren takut, dia hanya sedang memikirkan nasib macam apa yang akan dihadapi oleh seniornya ini karena telah berurusan dengan Weng Lou. Dia adalah satu dari beberapa orang yang telah melihat kekuatan nyata yang dimiliki oleh Weng Lou.


Seniornya tersebut hanya akan mati menjadi adonan daging jika Weng Lou sudah serius dari awal pertarungan!

__ADS_1


Mata Qianren menatap Weng Lou. Weng Lou mengerti arti dari tatapan tersebut, dia juga tidak mau mendapatkan masalah karena membunuh pemuda itu. Guru Gaouji memiliki status yang sama dengan Gurunya, yaitu seorang Tetua Inti di dalam Sekte Bambu Giok. Entah apa yang akan dilakukan oleh gurunya jika melihat Weng Lou membunuhnya.


"Kau beruntung kawan, aku sedang tidak ingin mencari masalah. Lebih baik tinggalkan saja kami, dan kita selesaikan ini secara damai," ucap Weng Lou pada Gaouji yang terus-menerus memberikan serangan tebasan energi kepada Weng Lou.


Weng Lou tidak tau kenapa, tapi sepertinya Gaouji tidak tau teknik perubahan unsur, karena dia tidak melihat tanda-tanda pemuda itu akan melakukanya.


"Dalam mimpi mu! Sebelum aku sendiri yang memotong kedua mulut busuk mu itu, aku tidak akan puas!"


Kali ini sebuah serangan berbeda diberikannya. Lapisan Qi segera membuat wujud pedang di tangan Gaouji menjadi seperti memanjang. Dia segera berlari maju dan memberikan tebasan panjang dari arah lima meter dari tempat Weng Lou berada. Dahi Weng Lou sedikit mengerut menatap itu, dia mendecakkan lidahnya dan segera mundur ketika melihat serangan itu akan mengenainya.


*Shuu-BUMMMM!!!!* Seperti dugaannya, Qi yang telah membuat pedang itu menjadi panjang meledak di mana tempat dia berdiri sebelumnya.


"Dia ini... sepertinya dia serius ingin membunuhku. Jika bukan karena aku sedang menyusup, mana mungkin kubiarkan orang yang berusaha membunuhku maish hidup, sialan." Dia bergumam dengan jengkel.


Apa yang membuat Weng Lou merasa jengkel adalah fakta bahwa Gaouji merasa dirinya takut sehingga hanya bisa terus bertahan sedari tadi. Dan ada kemungkinan dia berpikir Weng Lou tidaklah terlalu kuat dibandingkan dengan dirinya, sehingga hanya bisa menghindari serangannya.


Weng Lou sangat ingin melepaskan kedua pedangnya saat ini, dan meninju kepala Gaouji, tapi dia hanya bisa menahan emosinya tersebut.


"Hah, jika sudah begini aku terpaksa malkukan ini."


Mendadak, sosok Weng Lou yang berada tidak jauh dari Gaouji menghilang di udara. Hawa keberadaan nya telah menghilang seutuhnya, dan keheningan terjadi di tempat itu. Tidak terdengar suara siluman atau pun binatang buas yang berada di dalam labirin. Hal ini membuat Gaouji merasa tegang dan dia berusaha mencari keberadaan Weng Lou seperti kesetanan.


"Dasar pengecut! Berhentilah bermain petak umpet! Keluar dan lawan aku!. Atau jangan-jangan memang begini cara bertarung orang cacat seperti mu? Hah!" Gaouji berusaha memprovokasi Weng Lou agar sosoknya terpancing dan menunjukkan diri.


"Kau ini terlalu berisik, tidur lah...."


*Brukk!!!* Tanpa menunjukkan hawa kehadiran, sosok Weng Lou muncul tepat di belakang Gaouji. Sebelum bisa melakukan apapun, kepalanya sudah didorong paksa ke tanah dan menabrak dengan keras hingga membuat tatapannya menjadi gelap total.


*Buk....* Tubuh Gaouji ikut terjatuh ke atas tanah karena sudah tak sadarkan diri. Qianren mengenal napasnya dengan lega melihat Weng Lou berhasil menangani seniornya tersebut tanpa harus melukainya secara serius.


Qianren segera berjalan mendekati Weng Lou dan melihat lebih dekat seniornya yang sudah tak sadarkan diri itu. Darah terlihat mengalir dari kepalanya dan juga hidungnya. Namun sepertinya dia tidak terluka terlalu parah. Untungnya Weng Lou masih bisa menahan diri dalam bantingan itu. Jika salah sedikit, kepala Gaouji bisa pecah ketika dia hantaman ke tanah.


"Terima kasih sudah menahan dirimu, aku berjanji akan membalasnya lain kali," ucap Qianren.


"Hm. Bajingan ini, dia terlalu banyak mengatakan omong kosong. Jika saja membunuh sesama anggota sekte bukan tindakan kejahatan, dia pasti sudah mati," keluh Weng Lou menatap wajah Gaouji yang menyedihkan.


Qianren sepakat dengan Weng Lou. Seniornya yang satu ini memang tidak pernah menjaga mulutnya ketika sudah terbawa emosi. Sejujurnya, banyak murid gurunya yang lain yang juga bermasalah dengan Gaouji, namun belum pernah sampai bertarung satu sama lain seperti yang dilakukan oleh Weng Lou.


"Oh ya, benar. Bagaimana caramu kabur dari para semut itu? Apa kau membunuh mereka semua? Kau pasti cukup kesulitan menghabisi puluhan Semut Jenderal itu. Tapi kita tidak bisa berlama-lama, Ratu mereka pasti akan mengirim yang lainnya untuk mengejar mu. Ayo kita segera pergi dari sini."


"Siapa yang mengatakan kalau aku hanya menghabisi para Semut Jenderal saja?" tanya Weng Lou dengan heran.


"Maksudmu?"


Saat inilah Qianren baru sadar, bahwa di pinggang Weng Lou, terdapat sebuah bungkusan kain seukuran kepala manusia dewasa yang diikat. Bagian bawah bungkusan tersebut terlihat meneteskan suatu cairan aneh terus menerus sedari tadi. Bungkusan tersebut bahkan terlihat masih bergerak-gerak.

__ADS_1


Weng Lou dengan santai mengambil bungkusan itu dan memperlihatkan isinya kepada Qianren. Mata gadis itu membelalak ketika menemukan sebuah kepala serangga raksasa dengan benjolan seperti mahkota pada bagian kepalanya.


"Kepala Ratu Semut! Jadi kau sebenarnya telah menghabisi satu koloni semut tadi!" Ini adalah sesuatu yang sangat mengejutkan, bahkan untuk Qianren yang telah melihat berkali-kali kekuatan Weng Lou.


Pemuda itu selama ini masih menunjukkan kekuatan fisiknya yang telah lama dia tunjukkan selama dua bulan ini di area pelatihan fisik, dan di dalam labirin, dia secara perlahan menunjukkan padanya bahwa kekuatan fisik yang dimilikinya masih lebih dari itu.


"Mereka secara individu tidak terlalu kuat, ketika kau memotong antena milik mereka, kekuatan mereka akan berkurang jauh karena tidak bisa saling berkomunikasi. Tidak perlu waktu lama untuk menghabisi mereka semua. Sayangnya hadiah rute khusus itu hanya lah kepala Ratu Semut ini, jadi aku merasa sedikit kecewa meski sebenarnya harganya cukup mahal jika di jual."


Kepala Ratu Semut di tangan Weng Lou itu terlihat sedikit menunjukkan gerakan, mulutnya terlihat terbuka dan tertutup setiap beberapa detik. Binatang buas tingkat tinggi memang susah untuk dibunuh, terlebih tipe serangga seperti ini.


"Oh ya, apa kau memiliki jubah cadangan? Aku sama sekali tidak memiliki pakaian ganti. Oh ya, dan air juga. Aku ingin membasuh badan ku."


Bau menyengat bisa tercium dari tubuh Weng Lou, dan Qianren yang berada di dekatnya bisa memastikan bahwa tidak ada yang mau dekat-dekat dengannya jika berada dalam situasi biasa. Gadis itu segera memberikan Weng Lou sebuah jubah abu-abu polos dan seember air dari dalam cincin penyimpanan pada Weng Lou.


Setelah Weng Lou membersihkan dirinya, mereka pun melanjutkan perjalanan sambil membawa Gaouji yang masih tak sadarkan diri bersama mereka.


***


"Hei....kau yakin ini tidak apa? Terus-menerus membawanya seperti ini....bukankah sama saja kita membantunya untuk terus masuk ke bagian lebih dalam labirin?" Qianren bertanya pada Weng Lou yang sedang memanggang paha seekor binatang buas berbentuk domba yang baru saja dia kalahkan.


"Hm? Ah, tenang saja. Anggap saja ini biaya ganti rugi karena telah membuatnya terluka sebelumnya. Lagi pula, mungkin gurumu akan memberikan ku hadiah karena membantu kedua muridnya sekaligus," jawab Weng Lou enteng dan mencicipi paha bakar itu sebelum kemudian dia mengangguk puas.


"Ya, aku mengerti maksud mu. Tapi bukankah kau terlalu baik?! Maksud ku, ini sudah satu hari penuh dan dia bahkan belum sadarkan diri!! Apa dia akan ikut kita hingga sampai pusat labirin begitu saja?!" Qianren mendadak meninggikan suaranya.


Satu hari lainnya sudah berlalu semenjak mereka bertemu dengan Gaouji, dan hingga malam harinya dia masih belum sadarkan diri juga. Qianren yang sebelumnya merasa cukup senang karena tidak perlu merasa bersalah meninggalkan seniornya itu seorang diri di dalam labirin, akhirnya menjadi tak sabaran dan mulai kesal sendiri.


Dia bahkan sempat berpikir untuk meninggalkan seniornya tersebut beberapa kali selama perjalanan, namun Weng Lou yang mendadak menjadi baik hati memberitahunya bahwa lebih baik untuk mereka terus membawa Gaouji bersama mereka hingga dia terbangun. Akan tetapi hingga detik ini, Qianren belum menemukan adanya tanda-tanda pemuda itu akan segera bangun.


"Tenang lah, kau akan menarik perhatian para siluman dan binatang buas jika terus berbicara keras seperti itu." Weng Lou mengingatkan.


"Tidak ada ruginya kita membawa dia bersama kita. Anggap saja kita sedang beramal kepada orang kurang mampu, dan kelak kita akan mendapatkan balasan yang sepantasnya."


Weng Lou yang berbicara seperti itu membuat Qianren menatapnya dengan aneh. Perkataan Weng Lou membuat dia terlihat seperti seseorang yang sangat religius, padahal sejatinya Weng Lou adalah pembantai berdarah dingin gila yang tidak takut mati.


Decakan lidah terdengar dari Qianren, "Jujur saja padaku, apa rencana mu yang sebenarnya? Kau mengharapkan ucapan terima kasih atau hadiah dari orang ini atau apa?"


Seringai terlihat pada wajah Weng Lou, dan dia tertawa pelan sambil menunjuk kepada Gaouji.


"Mungkin kau tidak tau, tapi bajingan berisik ini berasal dari salah satu keluarga besar di kekaisaran. Guru mu menaruh perhatian besar padanya karena hal ini. Jika dia mati di dalam labirin ini, maka gurumu, kau, dan aku akan menjadi pelampiasan amarah keluarga tersebut. Namun sebaliknya, jika kita menolongnya, coba bayangkan seberapa besar hadiah yang akan kita dapatkan nantinya?"


Seringai pada wajah Weng Lou akhirnya berubah menjadi senyuman jahat. Qianren menelan ludahnya mendengarkan perkataan Weng Lou, dia mengangguk mengerti, lalu ikut menatap Gaouji yang ada di dekat api yang Weng Lou pakai untuk membakar daging.


"Tapi meski begitu....kenapa dia tidak bangun juga? Jujur saja aku sedikit khawatir ada yang tidak beres dengannya tanpa kita sadari."


"Ah, mengenai itu. Sebenarnya aku sudah menutup salah satu meridiannya agar dia tetap tak sadarkan diri. Sampai aku membuka kembali titik meridian itu, dia tidak akan bangun. Lagipula tidak masalah, bukan? Aku yakin kau juga tidak suka mendengarkan ocehan tidak jelasnya."

__ADS_1


__ADS_2