
Tidak ada satupun murid di dalam lapangan yang beranjak pergi dari tempat itu, yang menandakan bahwa mereka semua telah siap, begitu juga dengan Weng Lou yang malah sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Mata Patriak Sekte Bambu Giok menatap satu persatu para murid itu dan berhenti pada Weng Lou yang juga sedang menatapnya dengan tatapan yang sedikit aneh.
"Mata yang dipenuhi dengan pengamatan dan pengetahuan, cukup aneh Tetua Meigui tidak bisa menemukan apapun mengenai informasi tentang dirinya. Tapi jika dia memang tidak berasal dari Kepulauan Fenshu seperti dugaan ku, maka dia kemungkinan adalah seorang petualang bebas. Aku tidak tau apa yang dia inginkan, tapi segala macam kekurangan yang ditunjukkan selama beberapa bula ini adalah hal yang nyata, yang berarti dia memang datang bukan untuk bermusuhan dengan kami," gumamnya yang kemudian menarik pandangan nya dari Weng Lou lalu segera melayang tinggi ke langit.
"Karena kalian semua sudah memutuskan pilihan kalian, maka tidak ada lagi yang bisa ku katakan. Aku akan memulai tesnya!"
*Tick!* Suara jentikan jari terdengar dan mendadak seluruh lapangan bergetar hebat.
Tanah naik dan mulai membentuk labirin raksasa yang langsung memenuhi seluruh lapangan. Tanah yang dipijak oleh Weng Lou dan para peserta Tes yang lain ikut bergetar hebat dan kemudian memisahkan mereka semua menuju pinggiran labirin berbentuk persegi.
Kini, lapangan itu menjadi labirin dengan tinggi hampir menyentuh dua puluh meter dan lebar mencapai lima meter lebih dengan semua peserta Tes telah terpisah satu dengan yang lain. Jarak mereka masing-masing nyaris puluhan meter dan mustahil bisa berpapasan dalam waktu dekat melihat dari seberapa luasnya ukuran labirin yang telah tercipta ini.
Di atas tengah-tengah labirin, Patriak Sekte Bambu Giok menatap sekelilingnya dan mengangguk puas melihat semua peserta kini telah terpisah dengan jarak yang sesuai. Dengan arahannya, mendadak beberapa pintu pada dinding labirin terbuka dan beberapa binatang buas keluar dari dalamnya. Ada juga beberapa Roh Jahat yang tersegel oleh Jimat pada tubuh mereka yang dilepaskan.
Semuanya di biarkan begitu saja berkeliaran ke segala sudut labirin dan bergerak mendekat ke arah para peserta sedikit demi sedikit.
"Kepada semua peserta Tes! Kini ujian kalian telah resmi dimulai! Kalian mungkin sudah tau aturan pada ujian labirin ini, namun biarkan aku tegaskan sekali lagi! Ujian Labirin ini merupakan ujian dimana kalian dituntut untuk sanggup bertahan hidup dan mencapai tujuan kalian yaitu pusat labirin dalam kurun waktu yang telah ditentukan yakni 10 hari!
Binatang buas, siluman, dan bahkan Roh Jahat telah dilepaskan di segala penjuru labirin. Mereka samua akan menjadi bagian dari rintangan yang harus kalian bisa tangani. Tentu saja, bukan mereka saja rintangan yang akan kalian lalui, ada berbagai macam jebakan yang terpasang dalam labirin yang level bahanya bahkan mampu mengancam nyawa para praktisi beladiri Ranah Penyatuan Jiwa sekalipun.
Tidak ada penyelamatan, tidak ada pembatalan, dan tidak ada keraguan. Ketika kalian telah berada dalam labirin, itu artinya kalian telah siap akan segalanya. Mereka yang tidak bisa bertahan dalam 10 hari maka akan mati, sedangkan yang lainnya akan berhasil dan bertahan hidup. Karena kursi tahun ini ada cukup banyak, maka lima belas orang pertama yang mencapai pusat labirin akan diterima sebagai Murid Inti, dan selanjutnya akan mengikuti ujian penentuan peringkat bersama para Murid Inti lainnya.
Ingat ini kalian semua, gunakan apa saja, pikirkan apa saja, dan lihat apa saja yang bisa berguna kalian. Kalian adalah calon Murid Inti Sekte Bambu Giok, jadi tunjukkan sejauh mana yang kalian bisa lakukan, semoga sang Kaisar memberikan bimbingan nya pada kalian semua."
Begitu suara sang Patriak menghilang, tembok pembatas yang menghalangi para murid untuk mengambil start lebih dulu bergeser dengan perlahan dan memberikan jalan bagi para peserta Tes untuk maju.
Tanpa perlu berbasa-basi lagi, semua peserta dengan cepat melesat meninggalkan titik awal mereka dan segera menelusuri labirin sementara terlihat beberapa peserta yang masih berdiri diam di tempat mereka dan mengamat-amati sekitarnya termasuk dengan Weng Lou yang sibuk mengetuk-ngetuk dinding labirin di sekitarnya.
*Tok... tok....tok....*
Dia mengelus dagunya dan tersenyum kecil sambil mencibir, "Orang tua sialan, padahal menurut informasi yang aku dapat tembok ini seharusnya tidak sampai empat meter tebalnya, dan hanya terbuat dari campuran Baja Hitam Malam yang bisa ditembus dengan kekuatan Penyatuan Jiwa tahap 1. Sepertinya dia mengantisipasi adanya kemungkinan aku memakai cara 'kasar', melihat dia telah mengawasi seberapa besar kekuatan fisik milikku selama dua bulan ini."
Ya, meskipun Weng Lou tidak melihat sendiri sang Patriak mengawasi nya, namun Indra miliknya masih bisa sedikit merasakan sensasi diawasi tiap waktu.
Patriak itu mungkin sedikit lagi menjadi 'Penguasa', namun dia tetap masih berada di ranah Penyatuan Jiwa, jadi dia tidak bisa bersembunyi sebersih itu dari insting tajam milik Weng Lou yang telah terasa dengan baik oleh pengalaman nyata dalam pertarungan.
Telapak tangan Weng Lou menyentuh tanah tempat dia berpijak dan mencoba merasakan getaran yang diakibatkan oleh berbagai pergerakan, entah itu oleh para peserta Tes, atau pun binatang buas dan siluman di dalam labirin di sekitarnya.
Setelah beberapa saat, dia pun berdiri tegak dan mengangguk dengan tenang. "Hanya beberapa pengganggu, harusnya aku bisa sampai sebelum satu minggu. Jika orang tua itu tidak menambahkan sesuatu yang lain pada labirin ini dan sama persis dengan labirin Tes Murid Inti sebelumnya, labirin ini bukan masalah besar," ucapnya dengan tenang dan kemudian melangkahkan kakinya ke depan.
__ADS_1
*Syaaatt!!!*
Secara mengejutkan, dua pisau logam setipis kain melesat cepat dari antara kedua dinding di samping Weng Lou dan siap memotong tubuhnya.
Tapi ekspresi Weng Lou tidak berubah sedikitpun dan kakinya dengan tenang melewati dua pisau logam itu tanpa sehelai pakaian nya yang terkena serangan mendadak itu..
"Haaah.....ini pasti menjadi Tes yang menjengkelkan."
****
Ujian Labirin, seperti namanya, ujian ini berlokasi di dalam sebuah 'labirin hidup' yang berisikan berbagai macam rintangan di dalamnya. Labirin hidup sendiri artinya adalah labirin yang akan terus bergerak dan berubah tiap waktunya namun tidak dalam waktu yang tetap dan perubahan yang bisa ditebak.
Ujian ini banyak dipakai oleh berbagai kelompok di Kekaisaran Ryuan untuk acara-acara berbau beladiri seperti Tes Murid Inti di Sekte Bambu Giok ini.
Untuk menguji kelayakan calon Murid Inti, ujian ini dipakai karena sangat efektif dalam menyeleksi para murid dan tingkat kesulitannya bisa di atur dengan mudah oleh para pengawas seperti yang dilakukan oleh Patriak Sekte Bambu Giok pada Tes kali ini dimana levelnya telah berubah dari Tes sebelumnya.
Umumnya, Ujian Labirin hanya berisikan jebakan dan beberapa binatang buas sebagai rintangan di dalamnya, namun demi melihat seberapa layak dan potensi para murid Sekte Bambu Giok, para Tetua Inti Sekte Bambu Giok telah menambahkan 'Rute Khusus' yang berisikan Siluman dan Roh Jahat ke dalam labirin. Dan tentu saja, level bahaya mereka semua sangat beragam dan cukup mematikan untuk membunuh seorang murid dalam sekejap mata tanpa mereka sadari sekalipun.
Para peserta Tes tidak mengetahui fakta ini, bahwa pada beberapa bagian yang mana ketika ada murid 'spesial' yang mencapai dan menemukan 'Rute Khusus', tidak akan ada yang bisa melihat murid ini kecuali para Tetua Inti dan Patriak Sekte Bambu Giok yang disebabkan oleh beberapa rangkain khusus yang telah dipasangkan pada bagian labirin tersebut.
Jika murid ini gagal melewatinya, dalam arti tewas, maka kematiannya akan dibuat sedemikian rupa agar tidak ada yang tau bahwa dia mati karena Rute Khusus di labirin. Hal ini agar kerahasiaan rute ini tetap terjaga dan tidak bocor ke telinga orang-orang kekaisaran. Tapi ketika dia lolos, maka tidak ada sesuatu yang spesial yang terjadi.
Saat ini, di salah satu lorong panjang labirin. Qianren terlihat sedang sibuk melompat ke sana kemari dengan rendah sambil menghindari belasan anak panah yang melesat cepat mengincar kakinya.
*Shu! PSH! Husshh!*
Tidak ada satupun anak panah yang mengenai dirinya, semua panah itu meleset sementara dia terus maju dan akhirnya tiba di jalan bercabang pertamanya. Ada tiga jalan di depannya. Satu ke kanan, yang satu ke kiri, dan yang lainnya lurus.
Tanpa ragu, dia langsung segera mengambil jalan yang berbelok ke kanan. Dan tepat ketika dia berbelok, belasan anak panah lain ditembakkan dari dalam dinding labirin. Mengincar dirinya yang kini telah berbelok mengambil rute baru.
"Hm! Panah-panah ini benar-benar menyebalkan! Orang yang membuat mekanisme jebakan ini sangat kuno dan berpikiran sempit, apa dia pikir jebakan selevel ini cocok dipakai untuk rintangan Ujian Labirin?!"
Tangan kanan Qianren terkepal, dia segera berbalik dan memukul udara hingga menciptakan sedikit gelombang yang mengakibatkan semua anak panah itu terhenti di udara, lalu berjatuhan ke tanah.
Qianren langsung berbalik dan kembali melesat pergi. Meski jebakan yang dia lalui tidak terlalu berbahaya, namun itu sudah lumayan mengalihkan fokus utamanya.
Para peserta lain juga tidak bisa diremehkan. Meski semuanya langsung disambut oleh berbagai macam jenis jebakan ketika mulai menelusuri labirin, namun belum ada satupun dari para peserta yang tereliminasi karena jebakan-jebakan kecil seperti panah dan pisau.
Di dua puluh menit pertama, mereka mulai mencapai wilayah yang mana telah didatangi oleh para binatang buas yang sebelumnya telah dilepaskan ke segala penjuru labirin.
*Trang!* Suara keras pedang terdengar saling beradu dengan cakar macam tutul berukuran jauh lebih besar dari biasanya.
__ADS_1
Seorang murid laki-laki menjadi peserta Ujian Labirin pertama yang harus berpapasan dengan seekor binatang buas berupa macan berukuran tidak normal. Macan itu tidak berbasa-basi dan langsung menyerang murid itu. Untungnya murid laki-laki tersebut memiliki refleks yang bagus sehingga nyawanya bisa diamankannya dengan cepat.
"Tidakkah macan ini terlalu cepat menemukan ku?! Bukannya mereka dilepaskan dari bagian pertengahan labirin?!" Murid laki-laki itu mengomel sambil mendorong mundur macan yang menyerangnya.
Pedang di tangannya ditarik ke belakangnya dan Tenaga Dalam berwarna putih terang mulai menyelimutinya.
"Ha!!!"
*Syyaatt!!!* Pedangnya menebas tubuh macan itu dan membuatnya langsung meregang nyawa begitu saja.
Namun, belum sempat murid itu bernapas bebas, seekor macan lain melompat dari belakangnya dan siap menerkam dirinya tanpa disadarinya sedikitpun.
"Aarghh!!" Murid tersebut menjerit kesakitan saat gigi-gigi tajam sang macan menusuk pundak kirinya dan menyebabkan darah terciprat ke segala darah.
Dengan mata berwarna merah menahan rasa sakit, tangan kiri pemuda itu memukul kata macan yang menggigitnya hingga membuatnya pecah. Kana tetapi, macam lain muncul entah dari mana dan langsung memasukkan kepalanya ke dalam mulutnya.
Tubuh murid laki-laki itu sedikit bergerak melawan pada awalnya, tapi hanya beberapa detik kemudian tubuhnya jatuh ke tanah dalam kondisi telah tewas karena lehernya terkena gigitan oleh kedua macan yang muncul mendadak menyerang nya.
Di luar labirin, kematian murid laki-laki itu disaksikan oleh para penonton yang berada di tempat duduk mereka. Satu dua penonton berseru tak percaya dengan yang mereka lihat saat ini. Ujian baru dimulai beberapa menit dan telah ada yang meninggal karena serangan binatang buas, ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya!
Di ujian-ujian sebelumnya, baru ada korban jiwa dalam waktu setengah hari setelah ujian dimulai. Namun sekarang belum setengah jam saat ujiannya dimulai. Para penonton mulai bertanya-tanya, bagaimana bisa hal ini terjadi, terutama bagaimana bisa tiga ekor macan dengan kekuatan Dasar Pondasi tingkat 10 bisa sampai begitu cepat menemukan murid laki-laki yang kini telah mati itu.
"Ada yang salah, level ujian ini berkembang terlalu cepat. Harusnya para binatang buas itu baru akan berpapasan dengan para murid dalam waktu setengah hari. Bagiamana mungkin tiga ekor macan itu bisa sampai secepat ini?" Seorang Murid Inti Sekte Bambu Giok berbicara dengan nada serius dari tempat duduknya dan didengar dengan baik oleh teman-temannya yang duduk di sampingnya
Murid-murid Inti yang lain mengangguk setuju dengan perkataannya. Mereka yang telah melewati Ujian Labirin tersebut jelas paling paham mengenai ujian tersebut dengan baik.
"Sepertinya levelnya memang sengaja dinaikkan dengan cepat, dan sepertinya Patriak sendiri yang berada di baliknya," komentar seorang murid lainnya.
"Maksud mu? Kenapa Patriak sampai campur tangan dalam ujian ini, itu tidak seperti dirinya saja. Malah jika dia campur tangan dalam ujian seperti ini, aku malah berpikir ujiannya justru akan dipermudah bukan dipersulit seperti perkataan mu itu." Murid lain membantah pemikiran murid barusan.
Patriak Sekte Bambu Giok, meski jarang terlihat di mata para murid biasa, tapi dia sering menunjukkan dirinya pada para Murid Inti karena tiap sebulan sekali sang Patriak akan memeriksa perkembangan mereka, para Murid Inti. Dia memastikan sendiri dengan mata kepalanya, apakah para Murid Inti memiliki perkembangan yang sesuai dengan jumlah sumber daya latihan yang diberikan pada mereka.
Jika ada murid yang menurutnya hanya menyia-nyiakan sumber daya, maka murid tersebut akan menerima sumber daya latihan yang lebih sedikit dari yang lainnya.
Bisa dibilang sang Patriak Sekte Bambu Giok berlaku tidak adil dalam pembagian sumber daya latihan para Murid Inti ini, namun dengan cara ini perkembangan murid bisa difokuskan dan lebih efisien.
"Kurasa kalian melupakan alasan yang bagus Patriak melakukan ini semua." Suara seorang murid perempuan terdengar dan membuat para murid yang sedang berdebat terdiam. Perhatian mereka pun terarah pada asal suara itu yang berasal dari Lou Yi yang duduk dengan manis di tengah tempat duduk para Murid Inti bersama dua murid lainnya yang tampak tidak asing.
"Aku yakin seratus persen Patriak melakukan ini semua demi mengetes sejauh mana kekuatan dari Wei Lou. Meski yah para peserta Tes yang lain harus ikut menerima konsekuensinya walau tidak tau apa-apa, hihihi......" Lou Yi tertawa kecil sambil asik menonton Weng Lou yang saat ini sedang memukul tubuh sekawanan serigala berbulu seputih salju di hadapannya.
"Aku sendiri tidak masalah dengan itu karena aku juga ingin lihat seberapa jauh yang bisa dilakukan oleh Si Cacat Berbakat."
__ADS_1