
Mengapa banyak orang yang menginginkan sebuah senjata yang memiliki roh senjata di dalamnya? Apakah karena kualitasnya yang terjamin, atau karena kelangkaannya?
Tidak, itu semua karena roh senjata itu sendiri yang membuatnya banyak diinginkan oleh banyak orang. Walaupun senjatanya sendiri hanyalah senjata tingkat rendah, namun roh senjata di dalamnya merupakan roh dari seorang Praktisi Beladiri tingkat tinggi yang memiliki pengalaman bertarung yang tidak sedikit.
Biasanya senjata dengan roh senjata akan memiliki harga yang bermacam-macam tergantung seberapa kuat kah dulunya roh senjatanya.
Para Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa yang memiliki senjata dengan roh senjata biasanya akan memiliki Roh Senjata yang berasal dari lawan yang pernah dia bunuh atau setidaknya orang yang dia kenal. Hal ini cukup efektif untuk membuat jiwa seseorang tidak pernah kembali ke alam kematian selama senjata itu tidak dihancurkan.
Ada beberapa senjata dengan roh senjata dari binatang buas atau pun siluman. Roh senjata seperti ini tidak bisa mengajari pemiliknya dengan teknik-teknik beladiri karena mereka hanyalah binatang buas atau siluman. Namun penggunaan roh senjata yang sejenis ini cocok untuk dipakai sebagai pertahanan pertama dari sebuah senjata agar tidak sembarang orang yang bisa memakainya. Biasanya senjata seperti ini merupakan sebuah pusaka yang telah disimpan oleh sebuah keluarga besar, sekte-sekte beladiri, atau pun organisasi-organisasi beladiri lainnya.
Saat ini, sebuah roh yang telah dimurnikan yang benar-benar baru terlahir sebagai sebuah roh baru dari peleburan beberapa jiwa sekaligus sedang bergerak turun dari langit, dan dengan sangat cepat menghantam turun ke kedua pedang yang sedang tertusuk di tubuh Weng Lou.
Sebuah pilar cahaya keemasan terbentuk ketika gelombang kekuatan yang sangat menakutkan menembus pelindung Qi dan Kekuatan Jiwa mik Patriak Sekte Bambu Giok dan membuat semua orang di luar bisa melihatnya dengan jelas.
"Gaaahhhh!!!" Weng Lou berteriak dengan kencang. Sebuah energi yang sama sekali baru menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuat pikirannya sulit untuk fokus. Sensasi terbakar dari dalam membuatnya ingin menjerit kesakitan.
Dia bisa merasakan sebuah jiwa yang mulai berdiam di dalam kedua pedangnya itu, dan menyerap semua energi kegelapan, hawa kematian, juga aura membunuh milik Weng Lou. Semua sifat kegelapan dan jahat itu terserap oleh dua senjata yang telah membunuh dua makhluk dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa.
Pedang kembar Weng Lou mulai kembali mengalami perubahan, pola-pola yang diukirkan oleh Weng Lou di sisi-sisi pedangnya tampak menyatu menjadi sebuah pola yang lebih utuh dan lengkap. Kekuatan Garis Darah Ilahi nya bereaksi dengan perubahan pedangnya. Sedikit energi kuno merambat keluar dari tubuh Weng Lou dan menyatu sepenuhnya dengan pedangnya.
Weng Lou menyadari bahwa pedangnya itu telah mencapai titik kritisnya, dan dia pun segera mencabut kedua pedang itu dari tubuhnya.
*TSSSHHHH!!!! BUMMM!!!!*
Tempat Weng Lou berdiri meledak, dan menghancurkan sepenuhnya pelindung Qi yang dibuat Patriak Sekte Bambu Giok.
Debu mengepul tinggi, namun dengan cepat Chizi mengayunkan tangannya dan semua debu itu kembali ke atas tanah, membuat sosok semua orang terlihat. Para anggota Sekte Bambu Giok yang masih kebingungan sebelumnya kini tambah bingung dengan kemunculan mereka bertiga di tengah lapangan.
"Patriak!!!"
"Patriak terluka! Dia telah diserang! Cepat lindungi dia!!!!"
Satu persatu para Tetua Sekte Bambu Giok menyadari identitas salah satu orang di tengah lapangan, mereka semua melesat menuju ke tengah lapangan, namun sebelum mereka bisa sampai ke tengah lapangan, sebuah tekanan yang sama seperti yang dirasakan oleh Patriak Sekte Bambu Giok dan Tetua Meigui menyebar ke seluruh lapangan dan membuat semua Tetua yang sedang bergerak ke tengah lapangan terhenti begitu saja.
*Buk!!! Bdebuk!! BAM!!*
Satu persatu dari mereka menghantam tanah dan suara seruan menggema di seluruh lapangan.
"Argh!!!"
"Apa ini?!"
"Siaaalll!!! Lepaskan akuuu!!!"
Namun tidak ada yang berubah sama sekali meski mereka berseru dan bersungut-sungut tidak jelas. Tekanan yang menimpa tubuh mereka malah membuat tenaga mereka terus terkuras semakin mereka banyak berbicara.
"Hm! Dasar tikus-tikus tidak tau diri, kalian tidak layak sama sekali untuk berhadapan dengan ku," ucap Chizi Ryuan.
Dia akhirnya kehilangan kesabarannya, dan Kekuatan Jiwa yang sangat besar meluap dari dalam tubuhnya hingga mengelilingi seluruh Gunung Bambu Giok. Kedua bawahannya yang sudah dia tempatkan di bawah gunung bisa merasakannya dengan jelas dan mereka hanya bisa bergidik nyeri sambil berusaha tidak melihat apapun.
Untungnya, tekanan yang dilepaskan oleh Chizi Ryuan hanya berada di seluruh lapangan saja, jika seandainya dia memilih untuk menempatkan seluruh tekanan tersebut menyelimuti seluruh Gunung Bambu Giok, maka akan banyak orang yang kehilangan nyawanya tanpa mengetahui apa yang sebenernya terjadi.
"Kalian bertiga, aku sudah kehilangan kesabaran ku. Aku akan membunuh kalian bertiga sekarang!"
Tangan kanannya terangkat, dan dia mengayunkannya ke bawah dengan cepat.
*BRUCKK!!! PACKK!!!*
__ADS_1
Tubuh Meigui dan Patriak Sekte Bambu Giok menghantam tanah dengan sangat kuat, darah mengalir keluar dari beberapa bagian tubuhnya, dan tulang-belulang mereka retak, bahkan patah. Satu-satunya yang tidak terkena serangan itu adalah Weng Lou, dia masih diam berdiri dengan tatapan mata kosong dan menggenggam erat dua pedang kembarnya yang sekarang berubah warna menjadi hijau pudar pada bagian-bagian gambar polanya.
Di dalam alam bawah sadarnya, Weng Lou berdiri menghadap sebuah jiwa yang tidak memiliki rupa tetap. Dia terkadang terlihat mirip seorang pria, tapi terkadang juga mirip seperti seorang wanita. Bentuknya terkadang menyerupai seorang anak kecil, lalu berhenti menjadi manusia dewasa.
Di sekitarnya, aura yang sangat jahat mengelilinginya dan membuatnya terkesan seperti seorang Roh Jahat, namun dari dalamnya Weng Lou bisa melihat kebaikan yang tiada bandingnya.
Jiwa itu membuka matanya, dan menatap Weng Lou dengan perasaan tertarik. Rupanya berganti dan menjadi seperti Weng Lou, dia perlahan mendekat dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Weng Lou.
Ketika Weng Lou mengangkat tangannya, dia juga mengikutinya, ketika Weng Lou mengayun-ayunkan kedua tangannya, jiwa tersebut juga mengikutinya secara bersamaan.
Weng Lou kemudian diam, dan tak berapa lama wujud jiwa itu kembali ke bentuk asalnya yang tidak jelas.
"Sebuah jiwa yang menampilkan wujud kegelapan pada sisi yang sama seperti ku, benar-benar suatu bentuk jiwa yang aneh. Entah dari makhluk apa dia ini berasal, tapi seharusnya dia berasal dari sesuatu yang sama sekali tidak bisa aku pahami," ucap Weng Lou yang menganggukkan kepalanya dan segera diikuti oleh jiwa itu yang sudah kembali berubah menjadi bentuknya.
Weng Lou tidak mengetahui bahwa jiwa dihadapannya sekarang adalah sebuah jiwa yang berasal dari beberapa jiwa yang melebur dan menjadi satu. Jiwa-jiwa itu adalah para Roh Jahat yang dia bantu untuk membalaskan dendam nya, termasuk dengan kadal yang dia lawan dan berjanji untuk membalaskan dendam nya suatu saat nanti.
"Siapa....kau?" Mendadak jiwa itu bertanya kepada Weng Lou, dan membuat Weng Lou menoleh padanya.
"Aku?" Weng Lou berpikir sejenak. Dia tidak bisa sembarangan menjawab.
"Nama ku adalah Weng Lou, seorang Praktisi Beladiri yang mengejar jalan keabadian demi bisa membalaskan kematian seluruh anggota keluarga ku dan bertemu adikku kembali." Jawaban Weng Lou mantap dan tanpa ragu sedikitpun.
Jiwa itu memiringkan kepalanya dan tampak kebingungan, dia tidak mengerti dengan pemikiran Weng Lou dan kembali bertanya, "Kenapa?"
"Maksudmu?'
"Kenapa kau ingin membalaskan dendam keluarga mu? Bukankah semua yang terjadi di seluruh dunia ini disebabkan oleh roda takdir yang terus berputar? Seseorang kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu sepanjang hidupnya, jadi buat apa membalaskan dendam? Itu adalah hal yang sia-sia," ungkap jiwa tersebut dan membuat Weng Lou terdiam.
Dia tau dengan pasti hal tersebut, tanpa diberitahu pun dia memahaminya dengan baik. Tapi bukankah hukum takdir juga berlaku dengan balas dendamnya?
"....."
Jiwa itu diam sejenak dan seperti mendapatkan pencerahan dari perkataan Weng Lou.
Dirinya terbentuk dari beberapa jiwa yang memiliki berbagai sifat pada masa hidupnya. Ada yang merupakan orang baik, ada juga yang jahat, dan ada juga yang selalu bersifat netral dalam segala keadaan yang dia hadapi. Emosi dan segala tingkah laku itu membentuknya menjadi jiwa dengan sifat yang baru dan mampu melihat dunia jauh lebih berbeda.
"Sejatinya, tidak ada si jahat atau pun si baik di dunia ini, semua tergantung perspektif masing-masing. Perbuatan baik mu mungkin adalah kejahatan di mata orang lain dan kejahatan mu mungkin juga menjadi kebaikan di mata orang lain. Aku adalah bentuk dari kejahatan yang berada di antara cahaya terang kebaikan, dan kebaikan diantara gelapnya kegelapan."
"Dimana ada kejahatan, disitu ada kebaikan, dan dimana ada kebaikan, akan selalu ada kejahatan bersamanya. Roda karma yang berlaku di dunia adalah perwujudan sang roda takdir. Dan aku, aku adalah perwujudan Samsara, kehidupan berulang dimana karma akan menentukan nasib kehidupan. Yang selalu berdiri diantara kejahatan, dan yang mendukung selalu kebaikan."
Setelah mendengarkan perkataan jiwa itu, kesadaran Weng Lou kembali ke tubuhnya, dan dia melihat situasi yang telah terjadi di sekitarnya. Dia melihat semua orang kini telah jatuh ke tanah dengan kondisi mengenaskan, dan dia adalah satu-satunya yang masih berdiri kokoh bagai sebuah batu karang yang sangat keras.
Dia menoleh, dan melihat Chizi Ryuan yang sudah berdiri beberapa meter darinya dengan wajah dan tatapan mata mengerikan diarahkan padanya.
Kedua tangannya sedang terarah ke depan, sementara sebuah kekuatan jiwa yang telah dipadatkan berkumpul di antara kedua tangannya tersebut. Sebuah bola Kekuatan Jiwa berkumpul, dan dalam satu gerakan, bola itu menembakkan serangan energi yang ditembakkan ke arah Weng Lou.
*BAMMM!!!!*
Weng Lou memejamkan kedua matanya dan berpikir bahwa serangan itu mengenai dirinya, akan tetapi, ketika dia membuka matanya, dia bisa melihat pelindung tipis berwarna putih transparan melindunginya dari ledakan itu.
Sesuatu bersinar dari lehernya, dan itu adalah Kalung Spasial yang telah lama menggantung di lehernya karena tidak bisa dia gunakan sama sekali setelah kehilangan Qi miliknya. Namun sekarang, kalung itu secara mengejutkan telah melindungi nya dari serangan yang mengancam hidupnya.
"Mantra Perlindungan. Sebuah mantra tingkat tinggi yang pernah di beritahukan oleh Guru Qian Yu padaku. Ada sebuah mantra sekuat itu di dalam Kalung Spasial ini dan baru aku tau sekarang? Apa jangan-jangan aktifnya mantra ini di pengaurhi oleh Kekuatan Jiwa ku?" tanya Weng Lou dengan bingung.
"SIALAN!!! PELINDUNG BAJINGAN!!! AKU TIDAK PERCAYA ADA SEBUAH PELINDUNG SEKERAS ITU!!! KUHANCURKAN KAAUUU!!!!"
Chizi Ryuan berseru dengan marah, dan serangan lain datang kepada Weng Lou. Kali ini, Chizi menyerang secara langsung. Dia melesat ke arah Weng Lou dan melayangkan sebuah pukulan ke arahnya, namun kemudian tidak ada yang terjadi, Weng Lou tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.
__ADS_1
"KHAA!! AKAN KULIHAT SEJAUH MANA PELINDUNG ITU BISA MELINDUNGI MU!!"
*BAM!! BAM! BUCK!! BUM!!!*
Pukulan bertubi-tubi diberikan oleh Chizi, pukulannya bagai air hujan yang menetes dengan deras dari langit dan menghantam apapun yang ada di bawahnya. Semua pukulan itu ditahan oleh pelindung Kalung Spasial Weng Lou. Namun pelindung itu tidak bertahan lama, sedikit demi sedikit retakan halus muncul pada pelindung yang ada di sekitarnya, hingga kemudian semua bagian pelindung itu telah dipenuhi oleh retakan, pukulan kuat Chizi Ryuan pun berhasil menghancurkannya.
Akan tetapi sosok Weng Lou telah bersiap di dengan kedua pedang kembarnya yang kini telah tampil dengan bentuk yang baru dan memancarkan hawa kematian yang sangat.
"MATI!!!"
Pukulan yang sangat cepat diarahkan pada kepala Weng Lou. Pukulan tersebut bergerak sangat cepat dan hampir mustahil diikuti oleh mata seseorang. Namun Weng Lou saat ini sedang dalam keadaan yang berbeda dengan sebelumnya.
"SAMSARA!" Weng Lou berseru dan mengangkat kedua pedang kembarnya tersebut, lalu menahan pukulan Chizi.
*TANGG!!! Ssrrrkkkk......*
Weng Lou terdorong mundur beberapa langkah sebelum akhirnya dia berhenti bergerak mundur. Tatapannya menatap tajam ke arah Chizi Ryuan.
Chizi mendecakkan lidahnya, dia tidak menyangka Weng Lou mampu menahan pukulannya. Kekuatan yang Weng Lou tunjukkan dengan menahan kekuatannya itu setara dengan seorang yang baru naik ke Ranah Penguasaan Jiwa, sedikit dibawah kekuatan Chizi Ryuan yang sebenernya.
"Jadi kau membunyikan kekuatan mu, huh?! Kalau begitu kau pasti penyusup dari Kekaisaran lain! Dari mana asal mu? Dataran Utama? Apakah kau berasal dari salah satu Empat Keluarga Klan itu?! Sialan! Jadi mereka memang mengincar kembali wilayah Kekaisaran lama, huh! Kau penyusup sialan, akan kuhabisi kau sekarang!!!"
Sebuah baju tempur yang sangat indah muncul di tubuh Chizi Ryuan, sebuah tombak panjang di pegang nya dan dia langsung menyerang Weng Lou yang hanya berjarak beberapa meter darinya.
*Huuuuu!!!*
Tombak diayunkan dengan keras kebawah, Weng Lou segera mengangkat pedangnya, dan menyilangkannya untuk menahan tombak itu.
*Prackkk....BRUCKKK!!!*
Tanah yang dipijak oleh Weng Lou retak, dan membuat sebuah kawah berdiameter lebih dari sepuluh meter dengan Weng Lou sebagai pusatnya.
"Kheck!!!!" Weng Lou mengkertakkan giginya, dia menggenggam erat pedang kembarnya itu.
"Samsara, pertama!!! Kehidupan Penghakiman!!!"
Sebuah aura tak dikenal mengalir keluar dari pedang Weng Lou, dan langsung menyelimuti wilayah sekitarnya, termasuk Chizi Ryuan yang kebingungan dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Aura tersebut seakan mengurungnya di ruang hampa dimana dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Seakan-akan ada sebuah mata raksasa yang sedang menatapnya, Chizi Ryuan langsung bergidik ngeri. Dia baru kali ini merasakan sensasi ketakutan yang luar biasa
"Ck! Tunjukkan dimana dirimu bersembunyi?! Jangan menjadi orang pengecut dan bersembunyi seperti itu! Kau takut dengan ku? Huh!"
Chizi Ryuan seperti orang gila dan berbicara di udara sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ketika dia tidak mendapatkan jawaban apapun, mendadak dari dadanya, sebuah luka tusukan yang sangat besar muncul entah sejak kapan dan membuat darahnya menyembur keluar bagai air mancur.
"Khoackk!!!" Darah dalam jumlah besar dimuntahkan oleh Chizi Ryuan. Dia saat ini tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, namun yang jelas tatapan mata yang dia rasakan semakin kuat dan seolah-olah sedang menatapnya dengan perasaan ingin membunuhnya.
Sementara itu, Weng Lou berkeringat dingin ketika Kekuatan Jiwa nya terus menerus diserap oleh pedang kembarnya, sementara Roh Senjata nya melakukan sesuatu yang mengejutkan pada diri Chizi Ryuan yang bahkan tidak bisa dipercaya oleh Weng Lou sendiri.
"Perbuatan Jahat dan Baik mu telah aku timbang, dan hanya ada dua puluh persen kebaikan yang kau miliki. Maafkan aku, tapi kau adalah perwujudan kejahatan, dan karma yang kau dapat adalah hal yang layak. Jadi terima kematian mu," ucap Roh Senjata itu dengan mata yang memancarkan cahaya penghakiman.
"Siapa?! Apa yang kau lakukan padaku?! Hei! Lepaskan ak-"
Kata-kata Chizi Ryuan tidak bisa diselesaikan nya ketika sebuah tusukan lain telah menembus kepalanya, dan membuatnya mati begitu saja. Tubuh Chizi Ryuan yang telah mati kemudian hancur secara perlahan di dalam kurungan aura dari pedang Weng Lou dan diserapnya hingga habis tak bersisa.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga bahkan Weng Lou sulit mencernanya, dan dia tidak menyadari bahwa ada yang berubah dari dirinya.
__ADS_1