Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 517. Penaklukan (III)


__ADS_3

*Note: Ch 516 ada di ch 515 yang sebelum nya double.


*****


Qian Yu mengayunkan pedang di tangannya, dan gelombang angin melesat cepat dan melewati para prajurit yang ada di depannya.


Wajah para prajurit itu tampak kebingungan dan sedetik kemudian, tubuh bagian atas dan bawah mereka telah terpisah. Mereka masih tidak mengerti apa yang terjadi pada mereka, hingga akhirnya mereka semua menghembuskan napas terakhir mereka.


Tubuh mereka yang terpotong menjadi dua berjatuhan ke tanah, dan darah mengalir keluar membuat tanah menjadi merah dan genangan darah tercipta. Aroma amis memenuhi udara dan hawa kematian dari para prajurit yang mati itu menjadi pemandangan yang bisa membuat siapa saja menjadi ketakutan.


Prajurit lain menyaksikan rekan mereka terbunuh begitu saja di depan mata mereka tanpa mengetahui penyebabnya. Di saat mereka masih bingung dengan apa yang sedang terjadi, Qian Yu telah melesat diantara mereka dan mulai mengayunkan kembali pedang di tangannya dengan lihainya.


Pedangnya bergerak sangat cepat dan hanya dalam hitungan detik, dia telah tiba dibelakang para prajurit dan menghentikan gerakan pedangnya.


*Splash!*


*Buk...* Satu persatu tubuh para prajurit itu mendadak terjatuh ke tanah. Mereka semua telah mati dengan ekspresi tidak tau apa-apa sama seperti rekan-rekan mereka yang telah mati sebelumnya. Mereka mati dengan mata masih terbuka, sebagai bukti bahwa mereka tidak tau bahwa mereka telah mati.


Mereka semua mati hanya dengan satu luka saja pada tubuh mereka yang terdapat pada titik vital mereka, seperti jantung, perut, leher, dan juga kepala.


Qian Yu menghabisi semua prajurit itu hanya dalam waktu kurang lebih 20 detik, dan dia bahkan belum mengerahkan seperempat tenaganya.


Apa yang dilakukan oleh Qian Yu kepada para prajurit itu membuktikan bahwa kemampuannya dalam menggunakan senjata sangatlah tinggi, hingga bahkan tidak perlu mengerahkan lebih dari satu serangan untuk membunuh 1 orang prajurit biasa. Teknik berpedangnya juga sangatlah bersih hingga bahkan tidak ada sebercak darah pun di tubuhnya ataupun pada pedang dari Mana yang dia buat, padahal dia tidak menciptakan pelindung pada tubuhnya.


Teknik berpedang seperti itu masih jauh dari apa yang bisa dilakukan oleh Weng Lou. Diperlukan bertahun-tahun latihan yang panjang dan juga keras untuk bisa mencapai apa yang dilakukan oleh Qian Yu.


Ye Lao melirik Weng Lou dan mencibirnya, "Buat apa kau merasa iri? Dia adalah gurumu, yang berarti kau juga akan bisa melakukannya, bahkan mungkin jauh lebih cepat dari dia."


Weng Lou tersenyum mendengar cibiran Ye Lao. Meskipun ucapannya seakan dia sedang menghinanya, namun sebenarnya dia hanya sedang menyemangati Weng Lou saja. Meski sebenarnya caranya benar-benar sangat aneh.


"Ya, aku tau itu. Terima kasih, Ye Lao." Weng Lou menepuk pundak Ye Lao, lalu berjalan ke arah Qian Yu yang sedang mengayun-ayunkan pedang di tangannya.


Sepertinya dia tidak puas dengan pencapaiannya itu, seolah-olah hal yang dia lakukan itu masih salah dan tidak sesuai harapannya.

__ADS_1


"Ck ck ck! Kemampuan ku benar-benar sudah tumpul! Aku bahkan harus melepaskan 1 serangan untuk 1 prajurit lemah seperti mereka! Sungguh memalukan! Jika ini adalah dunia ku yang sebelumnya, orang-orang pasti akan menertawakan aku karena kemampuan ku yang seperti seorang anak kecil yang baru saja belajar memegang senjata!" Qian Yu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak puas dan menghina dirinya sendiri.


"Lou, kau jangan seperti guru mu ini! Kau harus terus berlatih dengan rajin agar kemampuan mu tidak menurun seperti ku!" ucap Qian Yu sambil memandang pada Weng Lou yang berjalan ke arahnya.


Weng Lou hanya bisa tersenyum masam mendengarnya. Jika itu adalah kemampuan Qian Yu yang telah menurun jauh, maka bagaimana ketika dia berada pada kondisi puncaknya? Bukankah itu berarti dia bahkan bisa memotong di tembok pada gerbang istana yang tebalnya mencapai 10 meter ini dengan seperti memotong tahu?


"Ehm, baiklah guru." Weng Lou menjawab dengan cepat.


"Baguslah, aku tidak ingin kau menjadi lemah seperti diriku ini."


Setelah perbincangan singkat mereka, kelompok Weng Lou pun sampai di depan gerbang raksasa yang memisahkan antara ibukota dengan istana kaisar. Gerbang itu tampak tertutup rapat dan dari baliknya bisa terdengar suara para prajurit yang sedang berlarian.


"Mundur sedikit Lou, aku akan membukakan jalan untuk kita."


Qian Yu kemudian mendekati gerbang besar itu dan menatap nya sejenak. Dia mengetuk-ngetuk gerbang dari kayu, memastikan ketebalannya, sebelum kemudian mulai melangkah mundur dan memasang kuda-kudanya.


*Shhhh....* Udara dalam jumlah besar dihirup oleh Qian Yu. Paru-paru nya mengembang, dan kekuatannya segera difokuskan pada ujung pedangnya.


*Sringgg!* *Strash!*


Sebuah garis lurus muncul pada gerbang kayu itu. Weng Lou menatap dalam diam selama beberapa saat dan menunggu apa yang kemudian terjadi. Angin sepoi-sepoi berhembus dan menyentuh gerbang kayu itu.


*Ssrrrkkkkk....* *Praaakkkk!!!!*


Bagian bawah gerbang itu hancur berkeping-keping dan membuat sebuah jalan lorong setinggi tiga meter. Potongan kayu menyebabkan asap dan debu naik ke udara, dan membuat pandangan para prajurit yang ada di balik gerbang menjadi kabur.


*Tap....tap....tap.....*


Suara langkah kaki bisa terdengar dari balik debu. Semua prajurit segera memasang posisi siaga, dan senjata mereka telah diangkat.


Tak lama kemudian, sosok Weng Lou, Qian Yu, dan juga Ye Lao berjalan dari balik kabut dan memperlihatkan sosok mereka bertiga.


*Shu!*

__ADS_1


Tanpa aba-aba sama sekali, ratusan anak panah ditembakkan dan diarahkan pada mereka bertiga. Mata Qian Yu bercahaya menanggapi datangnya ratusan anak panah itu.


Saat salah satu anak panah akan mengenai dirinya, dia langsung mengayunkan pedangnya secepat angin dan membelah anak panah itu. Aksinya tidak berhenti sampai disitu, bagai sebuah angin yang bebas bergerak ke segala arah, Qian Yu memotong semua anak panah yang mengarah pada mereka dan membuat tidak ada satu pun panah yang mengenai mereka bertiga.


"Tidak! Tidak! Tidak!!! Ini juga salah! Sial! Argh... terkutuklah diriku! Bahkan memotong panah dengan benar saja aku tidak becus!"


Ketika Qian Yu selesai memotong panah terakhir, dia segera melepaskan semua kekesalannya dan membenturkan pedang di tangannya ke kepalanya sendiri.


Para prajurit yang melihat ini, tidak membuang-buang kesempatan mereka dan segera menyerang Qian Yu. Para prajurit ini membawa pedang dan juga tombak bersama mereka dan menyerang Qian Yu secara bersama-sama.


"Hei, aku juga ada di sini." Ye Lao yang tangannya sudah gatal melepaskan tiga buah tombak berwarna biru langit yang sedikit berbeda dengan pedang di tangan Qian Yu.


Tiga tombak itu terbang di udara, dan melewati tubuh para prajurit yang sedang mengarah pada Qian Yu itu. Dalam sekejap, mereka semua terjatuh ke tanah dengan lubang besar pada dada mereka.


"Sudah kubilang, aku yang akan menangani para prajurit. Kalian berdua segera lakukan tugas kalian saja," ucap Qian Yu yang sudah selesai melepaskan kekesalannya.


"Aku berubah pikiran, ternyata menghabisi para prajurit ini lebih seru daripada mengejar Kaisar Sheng apalah namanya itu. Biarkan saja anak itu yang mengatasinya, melumpuhkan para pelayan dan perkeja di istana sudah terlalu mudah baginya. Menambahkan tugasnya harusnya tidak apa-apa."


"Kalau begitu kita bagi wilayahnya saja, aku di bagian utara, kau di selatan."


"Sepakat."


Sosok Qian Yu dan Ye Lao segera melesat pergi dan meninggalkan Weng Lou seorang diri di tempat itu. Weng Lou saat ini tidak memperhatikan apa yang dibicarakan oleh mereka berdua sebelumnya, dia sedang fokus pada asap hitam di telapak tangannya yang terus berubah bentuk sesuai keinginannya.


Asap hitam itu kemudian segera Weng Lou gerakkan mendekati tubuh para prajurit yang sudah tak bernyawa di atas tanah, dan memperhatikan reaksinya. Weng Lou bisa merasakan hawa kematian dari asap hitam ini, sehingga berpikir mungkin akan ada reaksi tertentu jika didekatkannya pada tubuh makhluk yang telah mati.


Dan benar saja, ketika asap hitam yang hanya seukuran kepalan tangan Weng Lou itu mencapai tubuh salah satu prajurit yang ada di tanah, asap itu segera menempel pada tubuh prajurit itu dan kemudian tubuh itu bergetar hebat. Mendadak, tubuh prajurit itu mulai tampak layu dan mengering. Darah dan daging pada seluruh tubuh prajurit itu kini telah menghilang, digantikan dengan mayat kering yang tidak dikenal.


Bersamaan dengan itu, wajah Weng Lou tampan sangat terkejut, bukan karena kondisi mayat itu, melainkan karena sesuatu yang lain.


Entah bagaimana caranya, dia bisa merasakan bahwa kekuatannya telah bertambah sedikit setelah mayat itu menjadi kering. Matanya segera menatap pada asap hitam itu, dan mulutnya terbuka lebar.


"Jangan bilang.....asap hitam itu telah menyerap sisa energi pada mayat prajurit tersebut dan mengubahnya menjadi kekuatan untuk diriku sendiri.... kemampuan ini.... benar-benar luar biasa!"

__ADS_1


__ADS_2