Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 587. Lin Bei Melawan Weng Ying Luan


__ADS_3

Arena Pertarungan. Sosok Lin Bei berjalan tanpa ragu menuju ke sudut ruangan pendaftaran penantang dan menghampiri seorang petugas yang bertugas mencatat para pendaftar.


Pria itu menoleh kepada Lin Bei yang berhenti dan berdiri di depannya. Pemuda itu mengenakan pakaian berwarna merah terang dengan lambang Phoenix di dada kirinya, juga di punggungnya. Melihat pakaiannya, petugas itu buru-buru bangkit berdiri dan membungkuk hormat kepada Lin Bei.


"Selamat siang, Tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas itu yang telah mengangkat kembali tubuhnya.


Lin Bei mengeluarkan sebuah cincin penyimpanan dan melemparkannya kepada petugas itu sambil berbicara, "Aku ingin melakukan pertarungan. Siapkan aku seorang petarung terkuat kalian, dan biarkan aku melawannya. Beritahu padanya untuk tidak perlu menahan diri melawan ku, semua isi cincin ini akan menjadi bayarannya."


Petugas tersebut menatap cincin di tangannya. Qi masuk dan memeriksa isi di dalamnya. Alangkah terkejutnya dia begitu mendapati tumpukan koin emas di dalam cincin tersebut. Dia menelan ludah dan segera melakukan apa yang diinginkan oleh Lin Bei.


Dia segera pergi menuju ruangan atasannya dan memberitahukan hal ini kepadanya. Kebetulan, Weng Ying Luan sedang berdebat dengan pemimpin arena itu. Keduanya sedang membahas mengenai pembayarannya yang hanya dia terima setengahnya. Petugas itu tak berani masuk dan menganggu mereka berdua.


Pemimpin dari Arena Pertarungan adalah seorang pria yang tampak terlihat berusia akhir empat puluhan dengan janggut dan kumis hitamnya di cukur rapi sehingga dia terlihat seperti seorang bangsawan Eropa di abad pertengahan.


*Bruack!* Meja dipukul keras oleh Ying Luan.


"Kau bajingan sialan, ini sudah kesekian kalinya kau melakukan hal ini! Kau pikir aku idiot?! Kau membuat alasan tentang biaya sewa kamar ku, tapi sebenarnya kau hanya ingin memeras semua uang ku!" bentak Ying Luan pada pria di depannya.


Pemimpin Arena Pertarungan itu menghela napasnya sebelum kemudian melemparkan setumpuk kertas dari balik laci mejanya ke atas meja. Weng Ying Luan menatap sejenak tumpukan kertas tersebut, dia tidak mengerti kenapa pria itu mengeluarkan kertas-kertas tersebut.


"Kau tau apa ini?" tanya pria itu pada Weng Ying Luan yang segera di balas dengan gelengan kepala.


"Coba baca salah satunya. Ambil saja secara acak, lalu bacalah dengan keras agar aku bisa mendengar nya juga," lanjutnya.


Berkedip, Weng Ying Luan pun segera melakukan seperti yang dikatakan oleh pria itu. Dia mengambil salah satu kertas di bagian tengah dan mulai membacanya.


"Surat pelanggaran. Atas nama....Luan?! Kasus.....perusakan fasilitas umum. Denda 100 koin emas?! Tunggu, apa-apaan dengan surat pelanggaran ini?! Kapan aku pernah merusak fasilitas umum di dalam kota?! Ini omong kosong!"


Weng Ying Luan tampak tidak percaya dengan isi surat tersebut. Dengan buru-buru dia mengambil kertas-kertas yang lain di atas meja dan membacanya. Dan seperti dugaannya, isi semua kertas itu juga adalah surat pelanggaran miliknya.


Kepala Weng Ying Luan hampir sakit membacanya. Bagaimana mungkin dia mendapatkan surat pelanggaran padahal dia tidak melakukannya? Jelas-jelas ini adalah sebuah kesalahan besar!


"Aku memotong hadiah pertarungan mu untuk membayar tagihan dari surat pelanggaran mu itu, jika ada yang mau kau protes katakan sekarang juga," ucap pria di depan Ying Luan dengan terapan datar padanya.


"Aku sama sekali tidak pernah melakukan semua pelanggan ini! Kenapa aku harus membayarnya?!" Ying Luan berbicara dengan jengkel. Dia kemudian melanjutkan, "Seperti ini, merusak fasilitas umum, apa-apaan?! Aku bahkan jarang singgah ke tempat-tempat umum di dalam kota, kecuali toko material dan restoran!"


Mendengar pembelaan Ying Luan, pria tersebut mendengus. "Bukan kau yang melakukannya, tapi para penggemar idiot mu itu. Sudah ku katakan padamu, urus dengan baik mereka semua, atau malah akan menimbulkan masalah pada mu nantinya, tapi kau hanya diam saja selama ini. Jadi jangan memprotes apapun padaku dan pergi keluar dari sini."


Tangan Ying Luan terkepal. Dia marah, tapi bukan pemimpin tempatnya bekerja yang salah, melainkan orang-orang gila yang selalu mengikutinya kemanapun. Dengan gigi mengkertak, Weng Ying Luan pun berjalan pergi dari ruangan itu.


Sebelum dia keluar, dirinya dan petugas yang sebelumnya saling berpapasan satu sama yang lain.


"Kenapa? Jika kau mau masuk, masuk saja. Jangan menunggu di luar seperti itu, kau terlihat seperti pencuri," ucap Ying Luan sambil menyuruh petugas itu untuk masuk.


Tanpa menunggu dua kali, petugas itu segera masuk dan berdiri di depan pemimpin nya .


"Pe-Pemimpin....ada seorang anggota Keluarga Lin di ruang pendaftaran. Dia ingin bertarung melawan petarung terkuat kita. Dan ini....dia memberikan ini sebagai bayarannya kepada kita." Dengan tergesa-gesa petugas itu menjelaskan sambil memberikan cincin penyimpanan yang diberikan oleh Lin Bei sebelumnya pada dia.


Pemimpinnya mengambil cincin tersebut dan memeriksa isinya. Dahinya terangkat dan segera dia tertawa pelan.


"Hei, Luan. Kau menginginkan bayaran lebih, bukan? Kalau begitu akan kuberikan padamu ini semua dan lawan orang itu," ucapnya pada Ying Luan yang sedang berdiri menunggu di depan pintu keluar.

__ADS_1


Dia tidak langsung pergi karena ingin tau apa yang ingin dikatakan petugas tersebut pada pria itu. Cincin di tangan pria itu dilemparkan padanya dan segera diperiksanya. Senyum muncul di wajah Ying Luan, ekspresi kesal yang sebelumnya kini sudah hilang begitu dia menerima cincin tersebut.


Lebih dari seratus ribu koin emas ada di dalam cincin itu! Meski tidak cukup untuk membuat kapal yang dia inginkan, namun uang sebanyak itu masih bisa membantunya menambah uang yang dia perlukan.


"Hehehehe.....meski aku tidak menganggap mu sebagai bos ku, tapi akan kulakukan yang kau katakan. Jangan coba-coba meminta kembali isi cincin ini setelah pertarungan selesai." Ying Luan berbicara dengan senyum lebarnya.


"Hm, jika kau bisa menang itu sudah cukup bagiku. Kalau kau bisa memberikan pelajaran pada anggota anggota Keluarga Lin itu dengan menghajarnya habis-habisan, akan kuberikan potongan uang hadiah mu yang selama ini aku pakai untuk membayar surat pelanggaran mu."


"Sepakat! Jangan coba-coba ingkari janjimu, aku sudah mengingatnya dengan baik di kepala ku!" Dengan cepat Ying Luan beranjak pergi dari situ dan buru-buru menuju ke ruangan tunggu sambil bersiap-siap.


Sementara itu, Pemimpin Arena Pertarungan dan petugas yang sebelumnya masih berada di dalam ruangan. Pemimpin itu mengetukkan jarinya ke meja dan melihat ke arah petugas di depannya selama beberapa saat.


"Siapa orang itu? Apa kau mengenalnya?" Pemimpin tersebut bertanya dengan mata tajamnya.


Petugas itu mengangguk. Dia menjawab, "Orang itu adalah Lin Bei, pemimpin Pasukan Pengejar milik Keluarga Lin. Dari raut wajahnya, dia sedang kesal dan berada dalam suasana hati yang buruk."


Penjelasan itu hanya ditanggapi anggukan oleh Pemimpin Arena Pertarungan tersebut.


"Haaa...Luan harus bekerja keras untuk bisa mengalahkannya. Kuharap anak itu tidak berlebihan saat bertarung nanti, atau dia akan menyebabkan masalah yang serius. Meski aku dan Keluarga Lin memiliki hubungan yang tidak terlalu baik, hubungan kami belum mencapai dimana salah satu dari kami akan melakukan penyerangan secara terbuka."


"Tapi berbeda cerita jika Ying Luan nanti malah menghabisi Lin Bei. Meski pemuda itu cukup kuat untuk menjadi Pemimpin Pasukan Pengejar yang terkenal sangat kuat oleh kebanyakan orang, namun dia tidak akan bisa mengalahkan Luan." Pemimpin itu bangkit berdiri dan mengajak petugas itu untuk berjalan bersama menuju ke ruangan pendaftaran dan bertemu dengan Lin Bei.


Pemimpin Arena Pertarungan itu sendiri yang menuliskan lembar kertas pendaftaran Lin Bei dan menyambut pemuda itu menuju ke ruang tunggu yang lainnya, yang terpisah dari tempat Ying Luan berada.


Setelah selesai mengantarnya, dia dan petugas pendaftaran berjalan bersama menuju ke ruangan tempat di mana itu adalah tempat duduk Pemimpin untuk menonton jalannya pertarungan di lapangan.


Petugas yang yang sebelumnya, tetap bersama dengan pemimpin nya dan menonton ketika pertarungan antara Ying Luan dan Lin Bei akan dimulai. Terlihat keduanya bersama-sama berjalan masuk ke arena dan seseorang yang tampak sebagai wasit menengahi keduanya.


Dari yang dia lihat, pemimpinnya ini sepertinya selalu memuji tentang kekuatan Ying Luan, sebelumnya juga ketika dia sedang membicarakan tentang Lin Bei. Dia mengatakan Lin Bei tidak akan bisa mengalahkan Luan dalam pertarungan.


Pria yang merupakan pemimpin Arena Pertarungan di Kota Tiesha tersebut diam sejenak. Ingatan akan pertarungan beberapa bulan yang lalu kembali teringat jelas di dalam kepalanya, dimana dia dipaksa menggunakan setengah dari kekuatannya untuk menghadapi seorang pemuda yang tidak lain adalah Ying Luan.


"Kalian semua yang bekerja di Arena Pertarungan tau kalau akulah yang menguji Luan, ketika pemuda itu datang ke tempat ini untuk menjadi seorang Petarung Arena. Pertarungan kami berdua tidak disaksikan siapapun karena aku telah membuat pembatas sehingga hanya kami berdua yang tau mengenai berjalannya pertarungan."


"Kalian hanya tau kalau pemenangnya adalah aku, dan Ying Luan kalah namun dalam keadaan baik-baik saja. Kecuali beberapa memar di tubuh dan wajahnya, dia tidak mengalami luka lainnya. Ketika kami berdua bertarung, Luan sama sekali tidak pernah menggunakan Kekuatan Jiwa nya meski aku bisa merasakan bahwa Kekuatan Jiwa anak itu berkali-kali lipat jumlahnya dibandingkan dengan orang-orang dengan tingkat praktik yang sama dengannya."


Pemimpin itu menatap ke arah Ying Luan di lapangan yang saat ini sedang mendengarkan pertarungan dari pertarungan yang akan dia lakukan melawan Lin Bei. Terlihat baik Ying Luan atau pun Lin Bei, keduanya tidak peduli dengan pertarungan yang dikatakan wasit kepada mereka.


Mereka hanya ingin pertarungan segera dilakukan.


"Meski tidak menggunakan Kekuatan Jiwa, nyatanya Luan mampu mengimbangi serangan ku di awal hingga pertengahan pertarungan. Secara mengejutkan dia memiliki Dantian Tanpa Unsur, sehingga membuat jumlah Qi miliknya tidak terbatas oleh kapasitas Dantian nya. Pada akhirnya anak itu berakhir menyerah ketika aku mulai mengeluarkan setengah kekuatan ku padahal waktu itu dia bisa saja melanjutkan pertarungan lebih lama lagi meski tidak menggunakan Qi sekali pun."


Petugas di samping pria itu mengangguk dengan wajah terpana. Pemimpinnya ini ternyata harus mengeluarkan setengah kekuatan nya hanya untuk menghadapi Luan, benar-benar luar biasa! Meski terlihat seperti pria biasa, nyatanya pemimpinnya ini adalah seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa tahap 8 menengah.


Luan yang hanya berada di tahap 3 mampu membuat orang di tahap 8 sampai mengeluarkan setengah kekuatannya adalah sebuah pencapaian yang benar-benar tidak bisa dipercaya.


"Oh, seperti nya mereka akan segera memulai pertarungan nya. Hei, bawakan aku beberapa cemilan di bawah. Seharusnya pertarungan ini akan berjalan panjang, jadi aku bisa menikmati nya dengan beberapa cemilan." Pemimpin petugas itu segera menyuruh petugas tersebut.


Dengan rasa enggang, petugas itu pun buru-buru berlari di sepanjang lorong bangunan menuju lantai satu dan mencarikan cemilan yang diinginkan oleh pemimpin nya. Dia tidak boleh ketinggalan pertarungan Luan, atau dia akan menyesalinya.


Sementara di di lapangan arena, Lin Bei dan Luan telah sama-sama berjalan mundur mengambil jarak yang telah ditentukan oleh wasit.

__ADS_1


"Baiklah, pertarungan dimulai dalam 3! 2.....! 1!!!!!" Sang wasit segera memulai pertarungan nya.


Sosok Lin Bei segera menghilang dari tempatnya berdiri, dan detik berikutnya dia telah tiba di depan Ying Luan dengan tangan kanannya terkepal dan api jingga melapisi tangannya.


*BAM!!!*


Tinju tersebut segera diluncurkan ke arah wajah Ying Luan, akan tetapi sebuah lapisan Qi yang sangat keras muncul dan menahan pukulan tersebut. Ying Luan tersenyum melihat serangan itu.


"Api kecilmu itu tidak akan bisa melukai ku sama sekali!" Ying Luan berseru.


Tangannya bergerak memutar, lapisan pelindung tersebut segera melilit tangan Lin Bei, akan tetapi dengan cepat Lin Bei menarik tangannya sebelum Qi Ying Luan melilitnya lebih jauh. Sambil menarik tangannya, kaki kirinya bergerak dan menendang ke samping tubuh Ying Luan, namun pelindung lainnya segera terbentuk dan menahan tendangan tersebut.


Lin Bei mendecakkan lidahnya, dia ingin melepaskan emosinya dengan melakukan pertarungan ini, namun lawannya, Ying Luan malah membuatnya merasa semakin kesal.


"Berhenti menjadi pengecut dan bertarung lah layaknya pria sejati!!!" Lin Bei mendengus. Api jingga segera keluar dari dalam tubuhnya dan kekuatannya semakin bertambah kuat.


Dengan beringas dia menyerang Ying Luan. Tendangan, cakaran, pukulan, semua serangan itu dia berikan, namun tidak ada satu pun yang mencapai tubuh Ying Luan. Pelindung Qi nya membuat dirinya tetap aman dan tidak terluka sedikitpun.


"Maaf saja, tapi aku melakukan pertarungan ini karena menerima bayaran dari pemilik tempat ini. Jika kau merasa kesal, maka coba desak aku untuk bertarung dengan sungguh-sungguh," balas Ying Luan sambil terkekeh pelan.


Beberapa orang yang menonton pertarungan mereka tampak terpana melihat sosok Ying Luan yang berdiri tegak sementara lawannya terus melepaskan serangannya dengan membabi buta. Dia terlihat sangat keren di mata para gadis yang menontonnya.


Pada kenyataannya, cara bertarung Weng Ying Luan dan Weng Lou adalah sama. Mereka berdua mengandalkan kelebihan mereka, yakni memiliki Qi tanpa batas sehingga mereka lebih memilih bertarung menggunakan Qi mereka jika lawan yang dihadapi dirasa cukup mampu diatasi dengan Qi saja, meski Weng Lou sebenarnya tidak melakukannya lagi karena dia hanya memiliki Kekuatan Jiwa saja sekarang.


Ciri khas yang paling mudah ditemukan dari cara bertarung Weng Ying Luan dan Weng Lou adalah penggunaan pelindung yang keduanya pakai untuk menahan serangan lawan. Meski terkesan pengecut, namun keduanya senang menggunakannya karena tidak perlu membuang-buang tenaga untuk menghindar atau menangkis serangan lawan.


Tidak peduli lawan mereka merasa kesal atau marah karena cara mereka ini, keduanya akan terus melakukannya sampai memang lawan mereka cukup mampu mengatasi pelindung yang mereka buat.


*PAM!!!*


Sebuah tinju api yang memiliki suhu sangat panas dilepaskan dan segera menghancurkan pelindung di depan Ying Luan. Tinju itu terus melesat dan akan mencapai dadanya, akan tetapi ternyata ada pelindung lain yang segera menahan pukulan itu.


"Kau tidak berpikir aku hanya membuat satu pelindung saja kan?" tanya Ying Luan sambil menaikkan sebelah alisnya saat melihat Lin Bei yang memasang wajah gelapnya karena tinjunya kembali tertahan oleh pelindung Ying Luan.


"Haaah.....bajingan ini.....jadi kau ingin melakukannya seperti ini yah? Baiklah, akan ku ikuti caramu itu."


Lin Bei pun melompat mundur sejauh beberapa meter dari Ying Luan.


Dia mengepalkan kedua tangannya dan melepaskan Qi miliknya dalam jumlah besar. Qi berwarna kemerahan itu meluap di sekitarnya sebelum kemudian membuat kobaran api jingga besar dan bayangan Phoenix muncul di atasnya namun sangat pudar.


Ketika dia masih melepaskan kekuatannya, mendadak sosok Ying Luan telah menghilang dari tempatnya berdiri sebelumnya. Lin Bei tidak menyadari itu, dia baru sadar ketika Ying Luan telah muncul di sampingnya dan menendang tubuhnya hingga terbanting ke tanah.


*Buk! Prak!!!*


Tubuh Lin Bei membuat tanah tempatnya mendarat sampai membentuk kawah kecil, sementara Ying Luan yang selesai menyerangnya hanya tertawa.


"Maaf saja, aku ini tidak pernah membiarkan waktu pertarungan terbuang sia-sia hanya untuk menunggu lawanku selesai bersiap-siap. Jangan salahkan aku karena kau sangat bodoh."


Ya, dia memang bertarung sama seperti Weng Lou. Sama-sama tidak membiarkan lawan mereka melepaskan serangan pamungkas mereka sebelum lawan mereka selesai melakukan persiapan. Atau lebih tepatnya, bertarung layaknya pengecut.


Tapi siapa yang peduli dengan itu? Ying Luan hanya peduli dengan hadiah uang yang akan dia dapat setelah semua ini. Mengenai pandangan orang kepadanya, dia tidak pernah memikirkannya sedikitpun. Terserah mereka mau menatapnya seperti apa.

__ADS_1


__ADS_2