Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 507. Penyatuan Seluruh Wilayah Kumuh (III)


__ADS_3

Di lantai dua restoran Kota Heishin.


Weng Lou dan Du Zhe duduk dengan tenang di depan sebuah panggung kecil yang terdapat di bagian dimana meja dan kursi di susun.


Tak lama setelah mereka duduk, seorang pelayan wanita datang menghampiri keduanya sambil membawa dua buah cangkir dan seguci arak pada nampan. Ekspresi tampak terkejut saat melihat bahwa Weng Lou dan Du Zhe masihlah anak-anak, dia pun segera putar balik membawa nampannya yang masih berisi arak dan gelas.


Selang beberapa saat kemudian, pelayan itu kembali dan membawa satu teko teh bersama dua gelas di atas nampannya. Dia menempatkan dua gelas itu di meja tempat Weng Lou dan Du Zhe berada, lalu mulai menuangkan teh ke dalamnya.


"Terima kasih," ucap Du Zhe yang tersenyum polos pada pelayan wanita itu.


Pelayan itu tersenyum dan mengangguk.


"Ini sudah tugas saya, Tuan Muda," balasnya cepat.


Setelah selesai menuangkan teh pada kedua gelas mereka, pelayan itu pun pergi meninggalkan keduanya.


Du Zhe tanpa ragu langsung mengambil gelasnya dan mulai meminum teh panas tersebut perlahan.


"Ahh....teh ini nikmat sekali."


"Kita hanya makan siang kemarin, apa kau tidak makan apapun semalam saat aku tidak ada?" tanya Weng Lou penasaran dan Du Zhe segera menggelengkan kepalanya.


"Aku menunggu Guru. Bukannya tidak sopan jika murid makan lebih dulu daripada gurunya?"


Weng Lou terdiam. Mengingat kembali saat dia baru bertemu dengan Du Zhe, dia tampak sangat tenang dan juga sopan kepadanya. Weng Lou yakin orang tuanya yang telah mengajarinya tata Krama sebelum mereka meninggal.


Kondisinya juga yang merupakan budak dulunya pasti juga mempengaruhi pola pikirnya sehingga membuatnya jauh lebih dewasa.


"Ada satu peraturan tambahan jika ingin menjadi murid sejatiku Du Zhe," ucap Weng Lou.


Du Zhe terkejut mendengarnya dan langsung menatap Weng Lou dengan mata sungguh-sungguh. Dia harus mematuhi semua peraturan dan syarat dari Weng Lou jika ingin belajar beladiri darinya dan menjadi seorang Praktisi Beladiri sejati.


"Apa itu Guru?! Aku pasti akan mematuhinya!" Dia berbicara dengan bersemangat.

__ADS_1


Tertawa pelan, Weng Lou pun menepuk kepala Du Zhe pelan dan mengusapnya.


"Apapun yang terjadi selama kau menjadi muridku, tidak perlu menunggu ku untuk kau memenuhi kebutuhanmu, seperti makan contohnya. Kau tau, dalam dunia beladiri, orang-orang yang telah mencapai tingkat praktik seperti ku bisa tidak makan sampai berbulan-bulan.


Jika kau menunggu ku untuk makan, kau bisa mati lebih dulu karena kelaparan. Apa kau mau seperti itu? Tidak bukan? Jadi, jika seandainya kau lapar, haus, dan lainnya maka makanlah, minumlah, tidak perlu menunggu ku. Mengerti?"


Du Zhe pun mengangguk dengan cepat. Tampak kedua mata Du Zhe bersinar terang karena kagum dengan penjelasan Weng Lou. Seseorang bisa tidak makan berbulan-bulan?! itu menakjubkan, pikirnya.


"Apa aku bisa seperti mu juga Guru?! Tidak makan berbulan-bulan??" Du Zhe bertanya dengan bersemangat.


"Tentu, selama kau memiliki Qi dalam dirimu sebenarnya kau bisa tidak makan apapun karwna Qi itu sendiri adalah sumber energi dari seorang Praktisi Beladiri. Tapi manusia tetaplah manusia, untuk memenuhi kebutuhan tubuh, kau tetap harus makan.


Yah... sebenarnya kalau mau dibilang, aku tidak sama seperti para Praktisi Beladiri yang biasanya akan makan sesekali karena untuk memenuhi kebutuhan tubuh, aku akan makan layaknya manusia biasa, 3 kali sehari karena aku suka makan," jelas Weng Lou. Dia mengangkat kedua bahunya seperti tanpa masalah sama sekali padahal Ye Lao sedari tadi tidak berhenti berdecak mendengarnya.


"Ya ya ya, hanya makananlah yang ada dipikiran mu," cibirnya dengan ketus.


"Hei, kau punya masalah dengan itu?" Weng Lou bertanya dengan jengkel. Baru kemarin dia berencana berdamai dengan Ye Lao tapi Ye Lao selalu berhasil membuatnya merasa jengkel.


"Ah, tidak bukan apa-apa. Lupakan saja, aku hanya berbicara dengan seseorang yang tidak menganggap serius apa yang dia akan lakukan hari ini," cibir Ye Lao.


Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Weng Lou pun memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraannya dengan Ye Lao, atau jika tidak mereka pasti akan berakhir dengan saling mengejek satu sama lain.


Weng Lou pun melanjutkan berbincang dengan Du Zhe sambil menunggu makanan mereka datang.


Sepuluh menit kemudian, beberapa orang pelayan datang ke arah meja mereka sambil membawa berbagai jenis makanan bersama mereka. Makanan itu segera dihidangkan di meja keduanya dan aroma yang sangat menggoda segera masuk ke dalam hidung mereka.


Du Zhe tampak membuka mulutnya lebar, dia sudah tidak bisa menahan dirinya melihat begitu banyak makanan yang ada di hadapannya padahal masih ada beberapa makanan lagi yang di bawa ke meja mereka.


"Hahaha....kau bisa makan sekarang Du Zhe, tidak perlu menunggu semua makanan itu datang di meja kita. Jika kau kenyang dan masih banyak yang tersisa, kau bisa menyimpan nya di dalam cincin penyimpanan milikmu," ucap Weng Lou.


Du Zhe segera mengangguk, dan dengan cepat mengambil satu persatu makanan yang ada di depannya, dan kemudian memakannya dengan lahap. Wajah senangnya membuat Weng Lou hanya bisa tersenyum di sampingnya.


Selang setengah jam, Du Zhe telah selesai makan dan tidak sanggup lagi untuk mencoba makanan yang ada di meja mereka, sementara Weng Lou terlihat dengan santai memakan satu mangkuk penuh sup daging yang masih panas seperti sedang meminum air dingin biasa.

__ADS_1


Tak....


Weng Lou menaruh kembali mangkuk di meja, dan melihat Du Zhe telah berhenti makan. Dia pun memutuskan untuk berhenti makan juga, lalu bangkit berdiri dan mengayunkan tangannya di atas meja.


Seketika semua makanan yang ada pun menghilang dan membuat Du Zhe yang masih dalam kekenyangan menjadi terkejut dan sekaligus kagum pada saat yang sama.


"Itu hebat sekali guru, aku harap bisa melakukannya juga dengan cincin penyimpanan ku!" serunya sambil menatap cincin penyimpanan pemberian Weng Lou di jarinya.


"Hahaha, tidak perlu terburu-buru untuk itu. Ayo kita turun, kita sudah terlalu lama di sini," balas Weng Lou sambil menepuk pundak Du Zhe.


Du Zhe mengangguk dan segera bangkit berdiri. Dia dan Weng Lou bersama-sama berjalan menuruni tangga dan sampai di lantai satu dimana terlihat ruangan yang masih sama sepinya seperti saat mereka datang setengah jam yang lalu.


Sosok pria bertubuh kekar yang merupakan pemilik restoran itu terlihat sudah berdiri di dekat tangga sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Hmp! Bagaimana nak? Kau pasti menangis terharu memakan makanan yang kami hidangkan, bukan? Bahkan semua pelancong yang singgah di restoran kami tidak ada yang tidak pernah puas! Walau kaisar sendiri belum pernah ke restoran kami, aku yakin 100 persen dia juga akan merasa sangat puas!" Pria itu berbicara dengan nada penuh kebanggaan di hadapan Weng Lou sementara Weng Lou dan Du Zhe hanya melewatinya begitu saja tanpa menanggapinya sedikit pun.


"Hey! Katakan sesuatu, bocah!" seru pemilik restoran itu dengan jengkel menyadari dirinya tidak dihiraukan oleh Weng Lou.


"Hm? Ah ya, itu makanan yang enak, terima kasih," ucap Weng Lou dengan malas lalu melangkah keluar dari restoran itu bersama dengan Du Zhe di belakangnya.


"Bocah sialan! Enak kah bilang?! Itu adalah sempurna!!! Makanan terbaik dari yang terbaik, bajingan kurang ajar!!!" Mendadak pria itu berseru marah pada Weng Lou dan membuat langkah kakinya terhenti.


"Haaa....aku setuju jika itu enak, tapi hanya itu saja. Semua bahan yang kau pakai tidak ada khasiatnya untuk mereka yang berada di Dasar Pondasi tingkat 3 ke atas, dengan uang yang aku berikan seharusnya kau menghidangkan sesuatu yang lebih spesial untuk kami. Tapi karena bumbu yang kau pakai membuat makanan-makanan itu terasa enak, aku tidak mempermasalahkannya lagi, jadi berhentilah berbicara omong kosong, dan biarkan aku pergi dengan tenang."


Weng Lou berbicara dengan nada pelan dan melepaskan sedikit napsu membunuh nya yang membuat tubuh semua orang di restoran itu menjadi kaku dan berkeringat dingin seketika.


Sudut mata Weng Lou menatap mereka semua satu persatu sebelum kemudian melanjutkan langkahnya lagi dan pergi dari situ.


Buk....buk....buk....


Semua orang yang ada di restoran terduduk diam tanpa bisa berkata-kata sedikitpun, mereka baru menyadari bahwa malaikat maut baru saja lewat di hadapan mereka semua.


**Catatan Penulis:

__ADS_1


Minggu depan author udah ASN, makanya hp udh dibatasi pegangnya. Hanya boleh megang hp untuk belajar, jadi ini saya-, ehem bukan apa-apa. Mohon menunggu selesai saya ASN, cuma 2 hari saja jika tidak salah, Senin dan Selasa, setelah itu selesai**.


__ADS_2