
Weng Lou dan Weng Ying Luan tidak menyangka bahwa para siluman serigala ini jauh lebih pintar dari tampilan mereka.
Mereka sengaja mengepung Weng Lou dan Weng Ying Luan di desa sebelumnya agar keduanya pergi menjauh dan mencari daerah lapang yang akan digunakan untuk bertarung melawan mereka.
Sejauh sepuluh kilometer persegi, hanya ada satu daerah lapang selain di dekat desa, itu adalah pertigaan jalan, yang mana salah satu jalan menuju ke Hutan Kabut dan mengarah keluar dari Wilayah Tengah, jalan lainnya adalah menuju ke desa yang ditempati oleh kelompok Weng Lou saat ini.
Jalan satunya lagi merupakan jalan utama, yang mana mengarah masuk kedalam Wilayah Tengah hingga mencapai ujung jalannya yaitu, Kota Hundan, kota yang merupakan tujuan Weng Lou dan yang lain.
Saat ini, Weng Lou dan Weng Ying Luan berada dalam situasi yang mereka tidak duga.
Di hadapan mereka, puluhan siluman serigala sedang berlari menuju ke arah mereka, dan di belakang mereka ternyata juga ada siluman serigala lainnya yang siap menerjang dan menyerang mereka saat itu juga. Jumlah mereka sama banyaknya dengan siluman serigala yang sedang mengarah pada mereka.
Saat itulah mendadak senyum muncul di wajah mereka berdua dan saling menatap satu sama lain selama beberapa saat.
"Yang membunuh paling sedikit harus menyerahkan kue yang dia miliki!" seru Weng Ying Luan dengan cepat dan menerjang ke arah siluman serigala yang ada di depan mereka berdua.
Weng Lou terkejut ketika mendengar taruhan yang diinginkan oleh Weng Ying Luan.
Dia baru saja mendapatkan stok kue lainnya semalam dari dua pembunuh yang menyerang mereka, dia Tidak boleh sampai kehilangan kue-kue tersebut.
Mengangkat tangan kirinya, dia pun menciptakan pedang Qi dalam jumlah yang jauh lebih banyak. Terlihat hampir berjumlah lima puluh buah pedang dari Qi dia ciptakan dalam sekejap, dan sepersekian detik kemudian dirinya menembakkan pedang-pedang itu ke arah kawanan siluman serigala yang berada di belakang mereka.
"AUUUUU!!!!!"
"AAAUUUUUU!!!!!"
Lolongan, demi lolongan pun terdengar di segala arah begitu Weng Lou melesatkan pedang-pedang Qi yang ia ciptakan.
Tak mau kalah dengannya, Weng Ying Luan kemudian menarik tangan kanannya dan memadatkan Qi miliknya pada telapak tangannya.
Dengan secepat anak panah, dia kemudian mendorong tapaknya pada kawanan siluman serigala yang ada di depannya.
__ADS_1
Mendadak, sebuah energi besar melesat dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa dari tapak Weng Ying Luan dan menghantam lebih dari sepuluh siluman serigala di depannya bagai sebuah mobil truk yang melindas apa saja di depannya.
Lolongan kesakitan lainnya pun terdengar dan memenuhi tempat itu.
Meski begitu, Weng Ying Luan tak berhenti melakukan apa yang dia lakukan.
Kali ini dia memadatkan Qi pada kedua tangannya dan mendorongnya dengan kekuatan penuh, dan serangan energi lainnya pun muncul dan kembali menghantam para siluman itu.
"Jika hanya seperti itu teknik mu, maka siap-siaplah memberikanku kembali kue yang aku berikan kemarin!"
Weng Lou berseru sambil memasang ekspresi mengejek.
Dia saat ini sedang mengendalikan puluhan pedang Qi miliknya, membuat mereka semua terus terbang dan mengoyak tubuh para siluman yang dia hadapi.
Melihat hal itu, Weng Ying Luan pun mengkertakan giginya, lalu kemudian mengambil sikap kuda-kuda siap bertarung. Menghentakkan kaki kanannya ke tahan, dia kemudian mulai mengaliri Qi pada kaki kanannya itu.
Setelah selang beberapa saat kemudian, Weng Ying Luan pun mencondongkan tubuhnya ke depan. Menarik napas dalam, dia pun kemudian mendendangkan kaki kanannya itu dengan sangat cepat.
PSSHHHH!!!!! SRAAATT!!!!!
Sebuah serangan energi layaknya sebuah sabit melesat keluar setelah Weng Ying Luan melakukan tendangan pada udara kosong dan memotong-motong tubuh belasan siluman serigala yang baru saja mencapai dirinya.
Tak berhenti sampai di situ, Weng Ying Luan pun terus melanjutkan tendangannya, dan terus menghabisi siluman serigala yang menyerangnya.
Dia seperti sedang melakukan pembantaian pada saat ini. Namun jika melihat Weng Lou, mungkin dia masih bisa dikatakan normal, karena pada saat ini puluhan pedang Qi miliknya sedang mencabik-cabik dan mengoyak tubuh semua lawannya satu persatu.
***
Di ujung dari Daerah Huangwu.
Kelompok Weng Wan dan yang lainnya akhirnya sampai tepat di depan Hutan Kabut, yang merupakan pintu masuk dari Wilayah Tengah.
__ADS_1
Mereka semua memandangi hutan yang dihiasi dengan kabut tipis di bagian luarnya itu dalam diam lalu kemudian mencari tempat untuk beristirahat.
Perjalanan mereka dari Kota Liming ke tempat ini memerlukan waktu lebih karena mereka harus dihadapkan dengan beberapa binatang buas yang tinggal di Daerah Huangwu ini.
Mereka juga sempat beristirahat sejenak untuk minum pada sebuah oasis kecil yang berjarak setengah perjalanan dari Kota Liming menuju ke pinggiran Daerah Huangwu ini sebelum kemudian melanjutkan perjalanan mereka.
"Tetua, apakah menurutmu kita harus bermalam saja di sini? Menurutku melewati Hutan Kabut di waktu seperti ini tidaklah bagus, kita tidak tau apakah kita akan keluar sebelum matahari tenggelam."
Salah satu dari sepuluh murid yang bersama dengan Weng Baohu Zhe bertanya kepadanya sambil memandangi Hutan Kabut.
"Hm? Buat apa? Jarak antara jalanan yang ada di dalam Hutan Kabut hanya sekitar beberapa kilometer saja. Jika kita bisa berlari dalam kecepatan yang sama seperti sebelumnya, kita bisa sampai dalam satu jam kurang lebih, paling lama seharusnya tiga jam jika ada gangguan," ucap Weng Baohu Zhe kepada murid itu lalu kemudian memilih untuk duduk dan memandangi langit siang hari yang sangat panas.
"Kenapa udara di sini sangat panas sekali...." ucapnya dalam hati dan kemudian menghela napas panjang.
Dia pun berjalan menuju ke Hutan Kabut, dan duduk di bawah salah satu pohon yang berada pada bagian terluar Hutan Kabut tersebut, lalu memejamkan matanya sambil menyandarkan punggungnya pada batang pohon.
Para murid Keluarga Leluhur Weng hanya menatapnya sejenak sebelum mulai berbincang-bincang satu sama lain sambil mengistirahatkan diri mereka.
Weng Wan, Weng Hua, dan juga Weng Ning memilih untuk berkelompok secara terpisah dengan yang lainnya. Ketiganya sudah terbiasa untuk berbincang-bincang hanya mereka bertiga saja, jika ada orang lain yang masuk dalam kelompok mereka, maka terkadang mereka tidak terlalu leluasa dalam berbincang-bincang, terutama kebanyakan yang ingin masuk dalam kelompok mereka hanya lah orang-orang yang mengejar cinta Weng Hua dan Weng Ning saja, mereka tidak ada niatan untuk membentuk hubungan seperti pertemanan dengan mereka bertiga.
"Hei, menurut kalian apakah ada bandit yang akan menyerang kita nantinya?" tanya Weng Wan sambil memasang senyum bersemangatnya.
"Kau terdengar seperti menginginkan kita dirampok," komentar Weng Hua. Terlihat dahinya berkerut ketika mendengarkan pertanyaan dari Weng Wan.
Pertanyaan dari Weng Wan ini bisa dibilang normal, karena sepanjang perjalanan mereka dari Istana milik Keluarga Leluhur Weng, hampir tidak ada gangguan yang cukup serius sampai mereka harus mengerahkan kekuatan lebih untuk menyelesaikannya.
Weng Wan berharap akan ada setidaknya binatang buas yang cukup kuat untuk membantunya berlatih, atau setidaknya untuk membantunya merenggangkan tubuhnya yang mulai terasa kaku ini.
"Aku sempat membaca beberapa informasi tentang Hutan Kabut di Perpustakaan keluarga, dikatakan bahwa hutan ini memiliki tingkat bahaya yang hampir sama dengan Hutan Kematian, namun luas wilayahnya tidak sebesar Hutan Kematian, sehingga kebanyakan binatang buas yang tinggal di dalamnya adalah spesies yang hidup secara berkelompok atau berkawanan, sehingga tidak menimbulkan perebutan wilayah kekuasaan seperti yang terjadi di Hutan Kematian," jelas Weng Ning kepada mereka berdua.
Kepala Weng Wan mengangguk-angguk mendengar itu.
__ADS_1
Itu berarti, aku bisa bertarung dalam waktu yang lebih lama jika jumlah mereka cukup banyak, pikirnya.