Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 466. Rencana Lin Fenghuang


__ADS_3

Bola-bola Qi yang mengandung unsur api itu bercahaya dengan terang di atas kepala Lin Mei.


Dengan gerakan tangan Lin Mei, bola-bola Qi itu pun melesat ke arah jarum-jarum es yang sedang mengarah pada Lin Mei.


Kedua serangan itu pun saling bertabrakan satu sama lain, dan kemudian menciptakan ledakan cukup keras yang disebabkan oleh bola Qi milik Lin Mei.


Jarum-jarum es yang lainnya pun ikut hancur berkeping-keping terkena ledakan tersebut, dan tak lama semua jarum es pun telah menghilang, begitu juga dengan bola-bola Qi milik Lin Mei.


Prak.....


Mendadak, tembok es yang sebelumnya diciptakan oleh Weng Ning hancur berantakan, dan dari baliknya terlihat sosok Weng Ning berjalan dengan anggun diantar bongkahan esnya.


Saat dia melewatinya, bongkahan-bongkahan es tersebut pun mulai mengeluarkan cahaya terang, lalu kemudian berubah menjadi energi bercahaya kebiruan pucat yang tidak lain adalah Qi berunsur es murni milik Weng Ning.


Qi itu pun mulai masuk kembali ke dalam tubuh Weng Ning dan memulihkan Qi nya yang sudah terpakai sebelumnya. Ini adalah sebuah keuntungan tersendiri dari unsur Qi yang memiliki massa seperti es miliknya.


"Baiklah, Ning. Pertarungan ini tidak akan berakhir jika kita hanya bertarung jarak jauh saja," ucap Lin Mei yang menatap sambil tersenyum sosok Weng Ning tersebut.


"Kau benar, maka biar kita lihat apa kah dengan bertarung jarak dekat akan merubah hal itu." Weng Ning membalas perkataan Lin Mei yang kemudian cahaya biru pucat kembali muncul di kedua telapak tangannya.


Lin Mei diam selama beberapa saat sampai kemudian dia tertawa pelan, lalu memutuskan berjalan maju mendekati Weng Ning.


Qi mulai keluar dari dalam tubuhnya, lalu kemudian membentuk seperti untaian tali yang melilit ujung tangan hingga sikunya.


Terlihat Qi itu berwarna kemerahan seperti bola-bola Qi yang dia tembakkan sebelumnya.


Lin Mei dan Weng Ning saling mendekati satu sama lain, hingga kemudian secara mendadak mereka berdua melesat maju dengan sangat cepat.


BAMM!!!


Kedua sosok mereka muncul dan terlihat kedua telapak mereka saling beradu satu sama lain.


Senyum menghiasi wajah mereka berdua. Lin Mei menarik badannya mundur, lalu kemudian melakukan serangan tendangan ke arah perut Weng Ning, namun kemudian segera ditangkis oleh tapak tangan kiri Weng Ning.


Bum! PAM!!


Weng Ning melesatkan serangan tapaknya, dan terus menerus memberikan serangannya. Lin Mei berusaha mengimbangi gerakan Weng Ning, sampai kemudian secara mendadak tapak kanan Weng Ning mengeluarkan hawa yang sangat dingin, dan lapisan es tipis pun menutupi tantan kirinya yang menangkis tapaknya itu.


!!!


Dengan gerakan cepat, Lin Mei pun melompat mundur dan kemudian menjaga jaraknya dari Weng Ning.


Dia menatap tangan kirinya yang telah tertutup oleh lapisan es selama beberapa saat dan kemudian mengepalkan tangan kirinya tersebut.

__ADS_1


Pssshhh....


Api jingga keluar dari dalam tubuhnya lalu menghancurkan lapisan es tersebut sampai tak bersisa.


Lin Mei akhirnya mengeluarkan api Phoenix nya yang sebenarnya.


"Aku belum pernah melihat mu memakai es abadi mu itu, Ning. Kurasa kau sudah cukup serius saat ini," kata Lin Mei yang menoleh menatap Weng Ning yang tampak masih diam di tempatnya berada.


"Bukan apa-apa, aku hanya ingin kau segera menggunakan api Phoenix mu itu," balas Weng Ning.


"Baiklah Ning, kau yang menginginkannya. Ayo keluarkan semua yang kau punya!!!"


Lin Mei berseru lantang, dan kemudian kobaran api pun keluar dari seluruh tubuhnya. kobaran api itu berkobar sangat tinggi hingga hampir mencapai lokasi Zu Zhang sedang melayang saat ini.


"Whooaa....liat api yang sangat cantik itu, hahaha..... sudah kuduga menonton dari tempat ini memang yang terbaik," puji Zu Zhang yang sedikit mundur dari tempatnya karena terlalu dekat dengan kobaran api yang keluar dari tubuh Lin Mei.


Pada kedua mata Lin Mei, terlihat kedua warnanya telah berubah menjadi kuning terang. Dia telah mengaktifkan kekuatan garis darah keturunannya.


Tidak jauh darinya, Weng Ning yang berada beberapa meter darinya tidak terlihat kepanasan sama sekali. Bahkan keringat tidak keluar dari kulitnya sedikitpun.


"Fhuuuu......"


Dari napas Weng Ning terlihat keluar uap dingin.


"Jika belum dicoba mana bisa tau!"


Menghentak-hentakkan kakinya, Lin Mei pun bergerak cepat ke arah Weng Ning. Dia mengepalkan tangan kanannya dan melesatkan pukulan yang dipenuhi dengan api ke arah dada Weng Ning.


Melihat itu, Weng Ning segera menarik kaki kanannya ke belakang, lalu kemudian dari kedua tangannya kepingan salju keluar dan terjatuh ke atas tanah.


"Tapak Embun Salju Abadi...."


Mendekatkan kedua telapak tangannya, cahaya biru pucat terang pun keluar dari kedua telapak tangannya itu yang kemudian diarahkannya ke depan.


Lalu kemudian, hawa dingin pun berhembus keluar dari kedua telapak tangannya yang dengan cepat bergerak ke arah datangnya Lin Mei. Pada tanah yang dilewati oleh hembusan hawa dingin tersebut terlihat lapisan es yang berwarna putih bersih dan sangat dingin.


Lin Mei sama sekali tidak memperlambat lajunya meski melihat hal itu, dia terus melaju dan api berkobar jauh lebih besar dari kepalan tangannya.


"Berkobar lah dan bakar segalanya melalui kehancuran, Pukulan Api Phoenix!"


Sebelum dirinya akan terkena hembusan hawa dingin tersebut, Lin Mei pun berhenti dan melepaskan pukulannya ke arah Weng Ning.


PUUSSSHHH!!!!

__ADS_1


PRAAKK!!!


Sebuah pukulan api melesat keluar dan kemudian menghantam hembusan hawa dingin yang diciptakan oleh Weng Ning sebelumnya.


Tidak perlu waktu lama, pukulan itu pun melewati hawa dingin tersebut dan menghilangkan jajak lapisan es yang sebelumnya ada di tanah yang dilewati oleh hawa dingin itu.


"Ha-"


Bussshhhh!!!!


Dalam sekejap, pukulan itu pun sampai pada tempat Weng Ning dan langsung mengenai nya dengan telak. Terlihat kobaran api jingga menelan seluruh tubuh Weng Ning.


Lin Mei yang melihat itu pun tampak terkejut, dia berpikir bahwa Weng Ning akan menghindari nya, sehingga dia pun melepaskan pukulan dengan menggunakan Api Phoenix nya dala. jumlah besar. Tidak dia sangka Weng Ning justru tidak menghindari nya sama sekali dan menerima begitu saja serangannya.


"Ning!!!" Lin Mei berseru dan buru-buru melangkah ke arah Weng Ning.


Tapi kemudian langkahnya segera terhenti, saat melihat sosok Weng Ning dengan santainya berjalan keluar dari dalam kobaran api Phoenix milik Lin Mei.


Mulut Lin Mei menganga lebar melihat hal itu. Baru kali ini dia melihat ada yang tidak terbakar sama sekali oleh api Phoenix nya.


Di tempat duduk penonton, sosok pemuda yang mengenakan pakaian dengan lambang Phoenix emas pada punggung bajunya terlihat tersenyum sangat lebar melihat Weng Ning yang keluar dari kobaran api Phoenix milik Lin Mei.


"Itu dia!!! Dialah orang yang cocok menjadi pasangan ku!" seru pemuda itu sambil berdiri dari dari tempat duduknya dan menunjuk ke arah arena.


Para penjaga yang bersamanya tampak terkejut melihat pernyataan dari pemuda itu, tapi kemudian mereka pun segera tersenyum satu satu sama lain.


"Selamat Tuan Muda! Anda akhirnya menemukan pasangan yang layak untuk Anda nikahi!" ucap salah seorang penjaga.


"Tidak saya sangka anda akhirnya mau menikah setelah menolak mentah-mentah saran dari ayah anda." Seorang penjaga lainnya memberikan komentarnya.


"Ha?! Apa yang kau katakan?! Tuan Muda tentu saja mau menikah! Dia hanya menginginkan orang yang cocok menjadi pasangannya saja!" Penjaga lain membentak penjaga yang sebelumnya.


"Kalian berdua, pelankan suara kalian! Kita sedang berada di tempat ramai saat ini." Seorang penjaga yang tampak seperti pemimpin mereka semua memperingatkan dua orang penjaga itu.


"Hahaha...tidak apa-apa. Lagi pula ini adalah sesuatu yang baik. Tidak aku duga kedatangan ku ke tempat ini malah membuat ku menemukan sosok yang sudah lama ku idamkan! Salah satu dari kalian, segera pulang ke rumah, dan beritahu bahwa aku, Lin Fenghuang telah menemukan calon yang cocok untuk ku nikahi." Pemuda itu berbicara pada para penjaga yang bersamanya dengan senyum penuh makna.


Para penjaga itu pun saling pandang satu sama lain, lalu kemudian salah satu dari mereka segera bangkit berdiri dan membungkuk hormat pada pemuda itu.


"Serahkan tugas ini padaku Tuan Muda."


"Baik, sekarang pergilah."


Dalam sekejap sosok penjaga itu pun menghilang dari tempatnya meninggalkan sosok pemuda itu dengan para penjaga lainnya.

__ADS_1


"Hehehehe.... Weng Ning ya? Akan ku buat dia jadi milikku seorang."


__ADS_2