
"Setelah kepergian Keluarga Lin dari garis darah keturunan Phoenix yang memiliki sifat penyembuh, kami Keluarga Lin yang tersisa di Daratan Utama memilih untuk bertahan di sini dan ikut dalam perang besar memperebutkan wilayah dan sumber daya.
Namun, setelah bertahun-tahun berperang, kami semua akhirnya tersadar akan kesalahan yang telah kami lakukan dan menyesal memilih untuk tetap tinggal di tempat ini. Korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya telah menjadi korban peperangan, terutama dari Keluarga Lin.
Karena setengah dari anggota keluarga memilih untuk pergi, kami semua berada dalam kondisi yang tidak diuntungkan dalam perang. Kami tidak bisa benar-benar ikut ambil bagian dalam memperebutkan wilayah, dan hanya bisa memanfaatkan kondisi wilayah Keluarga Lin yang ekstrim untuk bertahan dari berbagai serangan keluarga lainnya.
Karena sadar akan kesalahan kami, kami mencoba menghubungi Keluarga Lin yang telah ikut dengan Keluarga Weng dan memohon untuk bergabung. Namun jawaban yang kami dapat hanyalah penolakan. Kalian, Keluarga Weng, langsung menolak kami mentah-mentah dan menyuruh kami untuk tidak mengganggu kalian."
Wajah Weng Lou tenang mendengar semua cerita itu. Dia mencoba setenang mungkin untuk bersikap terhadap cerita yang dia dengarkan, meskipun di dalam dirinya benar-benar terguncang.
Tekanan itu hampir sama seperti ketika dirinya memasuki lorong teleportasi dan terkirim ke Kerajaan
Dia menarik napas dalam, lalu menatap Lin Nushen. Ada cahaya aneh di kedua matanya setelah menceritakan semua itu padanya. Seolah ada sesuatu yang tidak dia ceritakan kepadanya, namun Weng Lou tidak merasa terganggu dengan hal itu.
Lagipula, sejak awal dirinya tidak pernah menaruh kepercayaan terhadap wanita di depannya ini. Orang yang telah hidup selama ratusan tahun, pasti memiliki pemikiran yang tidak mudah untuk ditebak. Apalagi, Weng Lou tidak tau, apakah Lin Nushen menaruh dendam terhadap Keluarga Weng setelah keluarga mereka ditolak dahulu.
Tatapan Weng Lou padanya membuat Lin Nushen tersenyum tipis. Jelas dia tau Weng Lou tidak percaya kepadanya sepenuhnya, begitu juga dirinya.
Dia tidak tau sejauh mana Weng Lou memercayai ceritanya, tapi dia tidak peduli. Dia tidak akan berusaha membuat Weng Lou percaya kepadanya. Apa yang dia lebih pedulikan adalah sensasi yang dia rasakan ketika Weng Lou datang untuk pertama kalinya di tempat ini.
Sensasi yang dia rasakan waktu itu, membuat dia salah paham dan menganggap bahwa Weng Lou adalah orang lain. Dia sedikit terkejut sebelumnya ketika melihat sosok Weng Lou secara langsung, dan sebuah pikiran aneh terlintas di pikirannya.
"Karena sudah mendengar cerita dariku, maka kau harus memberikan bayaran yang setimpal. Sekarang beritahu aku, siapa identitas mu yang sebenernya," tanya Nushen, senyum tipis sebelumnya telah hilang.
Weng Lou berkedip, menatap sesaat pada kedua mata Nushen.
Dia akhirnya mengangkat bahunya dan menghela napas. "Yah, itu sepertinya setimpal dengan informasi yang telah kau berikan padaku. Lagipula aku tidak masalah apakah identitas itu penting atau tidak di tempat ini."
__ADS_1
Weng Lou bangkit berdiri dan berjalan ke depan sebuah lukisan burung Phoenix yang sangat cantik dan anggun, namun dari matanya Weng Lou bisa merasakan kekejaman dan kekuatan pemusnahan. Dari awal dia merasa sedikit tertarik dengan lukisan ini.
"Nama ku.....kau sepertinya bisa menebaknya, nama ku bermarga Weng, sedangkan nama belakangku adalah Lou." Dia berkata sambil menatap lukisan.
Nushen tetap diam. Dia sudah sejak awal menebak nama Weng pada Weng Lou, tapi nama Lou, itu diluar perkiraannya. Meski tampak tenang, dia sebenarnya terguncang dalam hati.
"Apa hubungan mu dengan Keluarga Weng?" tanyanya dengan tenang.
Sudut bibir Weng Lou terangkat. Dia kembali menoleh dan menatap Nushen.
"Hubungan ku? Entahlah, aku juga tidak tau. Keluargaku tidak pernah menjelaskan apapun padaku. Bahkan aku sendiri merasa tidak tau apapun tentang diriku sendiri. Beberapa tahun lalu aku hanyalah seorang anggota luar Keluarga Weng, sekarang aku adalah anggota dalam di Keluarga Utama."
Mendengar jawaban Weng Lou membuat ekspresi tenang Nushen menghilang. Terlihat kerutan diwajahnya ketika dia tiba-tiba mencibir dan mendengus.
"Omong kosong yang bagus, aku hampir percaya ketika melihat ekspresi mu ketika menceritakannya. Tapi apa kau pikir omong kosong itu bisa mengelabuhi ku? Hanya anggota dalam kau bilang? Betapa lucunya!"
Menanggapi cibiran itu, Weng Lou hanya bisa kembali mengangkat bahunya. Bukan salahnya Lin Nushen tak mempercayainya. Dirinya sendiri juga tidak mempercayai seutuhnya cerita yang diberikan Nushen kepadanya, jadi dia tidak bisa melakukan apapun untuk itu.
Dengan ringan dia kembali duduk. Terjadi keheningan sesaat setelah itu, namun tak berlangsung lama. Lin Nushen menyipitkan matanya dan menatap dalam-dalam pada Weng Lou, mencoba mencari apakah ada kebohongan dalam omongannya.
Dengan kekuatan yang dia miliki, cukup mudah untuk menentukan seseorang berbohong atau tidak. Yang dia perlukan hanya melihat kedua mata targetnya, dan dia bisa langsung tau. Namun Weng Lou berbeda. Tidak hanya dirinya tak menemukan jejak kebohongan sedikitpun padanya, bahkan cara bernapas Weng Lou menunjukkan bahwa dia tidak sedang mengarang cerita.
Hanya ada dua kemungkinan jika hal seperti itu terjadi, yang pertama Weng Lou memang mengatakan yang sesungguhnya padanya. Atau yang kedua, Weng Lou sudah sangat ahli dalam berbohong, bahkan membuat sebuah kebohongan menjadi bagian dari dirinya.
Tapi apapun itu, segalanya bisa diatasi dengan mudah menggunakan kekuatan.
"Kau tampak sangat meyakinkan, tapi aku tidak akan percaya begitu saja padamu. Bahkan jika langit terbalik sekalipun!" Lin Nushen menjentikkan jarinya yang indah dan dalam sekejap mata mengirimkan Kekuatan Jiwa dalam jumlah besar kepada Weng Lou.
__ADS_1
Angin berhembus kencang di dalam ruangan. Meskipun ruangan tempat mereka berada cukup tertutup, dan berada di tengah-tengah gunung berapi, namun angin kencang muncul entah dari mana bersamaan dengan Kekuatan Jiwa milik Lin Nushen.
Begitu Kekuatan Jiwa milik Lin Nushen mengenai Weng Lou, sebuah tekanan yang tak terlukiskan langsung membebani tubuh Weng Lou. Kekuatan tak terlihat seolah memaksa untuk masuk ke dalam tubuhnya dan mencari ke dalam isi kepalanya.
Kekuatan itu hampir sama seperti ketika dia memasuki lorong teleportasi dan terkirim ke Kerajaan Fanrong. Kala itu, karena tekanan yang dia rasakan, seluruh tubuhnya mengalami luka yang cukup parah. Otot-ototnya terkoyak di mana-mana, organ-organnya mengalami luka yang serius dan kepalanya seperti dihantam palu besar berulang-ulang.
Namun waktu itu dia tidak memiliki persiapan apapun, dan juga kekuatannya jelas berbeda dengan yang sekarang. Dengan kekuatan tubuhnya dan Kekuatan Jiwa yang berlipat ganda, dia bisa memberikan perlawanan! Bahkan jika itu adalah seorang Penguasa Jiwa!
*KRACK!* Lantai tempat Weng Lou duduk langsung muncul retakan dimana-mana. Tubuhnya bergetar hebat, ketika dia menolak Kekuatan Jiwa milik Lin Nushen untuk masuk ke dalam tubuhnya.
Matanya memerah dan dia memelototi Lin Nushen sambil memberikan tatapan cemoohan. Aku tidak akan bisa kau tindas dengan mudah! Itu adalah pesan yang terkandung dalam tatapannya.
Sebagai balasan tatapan Weng Lou, dengusan lain diberikan Nushen. Kekuatan Jiwa dalam jumlah yang lebih besar segera dikirimkannya dan tempat duduk Weng Lou seketika itu juga langsung hancur berantakan, dan tubuh Weng Lou segera terduduk di atas tanah.
"Aku sedikit meremehkan mu. Tapi tetap saja, seorang anak kecil di ranah Penyatuan Jiwa tidak akan bisa bersaing denganku yang sudah lama berada di tahap Kaisar Jiwa. Bahkan seseorang di puncak Penyatuan Jiwa tidak akan bisa memberikan perlawanan apapun. Adapun mereka yang setengah langkah menuju ranah Penguasa Jiwa, yah, kau bisa mengatakan mereka hanya bertahan paling lama sepuluh napas menahan tekanan dariku," ucap Lin Nushen sambil menatap Weng Lou dengan dingin.
"Katakan yang sejujurnya, dan aku tidak akan menyusahkan mu. Siapa kau sebenarnya?"
Pertanyaan yang sama sekali lagi diberikan pada Weng Lou. Darah mengalir keluar dari mulut Weng Lou. Dia belum pernah merasakan tekanan seekstrim ini sebelumnya!
Dia bisa merasakan sekujur tubuhnya sedang diterpa ratusan bilah angin yang hendak memotongnya menjadi potongan-potongan kecil. Ada juga kehendak pemusnahan di dalamnya, yang mana membuat Weng Lou merasa, jika dia melawan lebih jauh, dirinya akan lenyap dari dunia ini tanpa meninggalkan sisa sedikitpun!
"Kugh......aku mengatakan yang sebenarnya padamu! Dasar nenek tua, kau pikir bisa menindas ku begitu saja dengan mudah!" Weng Lou meraung marah. Kekuatan tubuhnya melonjak naik, dan hendak berusaha untuk berdiri.
Dengan kekuatan tubuhnya, dia bisa dengan mudah mengabaikan banyak jenis serangan padanya, namun tidak terlalu berguna dalam urusan menahan Kekuatan Jiwa, karena Kekuatan Jiwa berbeda dengan Qi yang menyerang secara fisik. Kekuatan Jiwa merusak secara langsung pada jiwa seseorang dan juga pikirannya. Adapun tekanan yang berasal dari Kekuatan Jiwa, itu secara mengejutkan bisa mempengaruhi fisik!
Lin Nushen untuk ketiga kalinya mendengus, "Kau menyebut ini menindas? Biar ku tunjukkan padamu, apa yang disebut menindas."
__ADS_1
Pada saat berikutnya. Tekanan yang jauh, jauh lebih besar dikeluarkan oleh Lin Nushen dan menimpa tubuh Weng Lou begitu saja.
Pikiran Weng Lou langsung terguncang, dan dia langsung memuntahkan darah tiga kali sebelum kemudian tubuhnya yang duduk di tanah, terbaring menghantam tanah ke belakang.