Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 419. Mengurangi Jumlah Peserta Turnamen (IV)


__ADS_3

Weng Lou, Weng Ying Luan, dan Weng Wan terlihat siap bertarung melawan keenam peserta itu, tapi kemudian sosok Lin Mei, Weng Hua, Weng Ning, dan juga Man Yue muncul seketika di depan ketiganya.


"Aku rasa kalian bertiga sudah cukup pemanasannya, sekarang giliran kami para gadis," ucap Lin Mei sambil menyentuh topeng miliknya.


"Apa yang dikatakan oleh Mei benar, sekarang giliran kalian untuk menonton kami." Weng Hua ikut berbicara sambil tersenyum kecil.


Weng Lou, Weng Wan dan Weng Ying Luan terdiam mendengar ucapan mereka berdua dan saling tatap satu sama lain.


"Terserah kalian saja." Weng Ying Luan tertawa pelan lalu berbalik dan duduk di tanah sambil mengeluarkan biskuit miliknya.


Berkedip beberapa kali, Weng Wan pun kemudian ikut duduk bersama dengan Weng Ying Luan sementara Weng Lou masih berdiri dan menatap punggung Lin Mei dan yang lainnya.


"Kalian yakin?" tanya Weng Lou memastikan.


"Tenang saja, kami bukan anak kecil yang harus selalu kau lindungi, Lou," jawab Weng Ning yang menoleh menatap Weng Lou sambil tersenyum padanya.


Weng Lou menggaruk belakang kepalanya, lalu ikut berbalik dan bergabung bersama Weng Ying Luan dan Weng Wan.


Sementara itu, keenam peserta yang baru saja tiba di waktu yang bersamaan saling tatap satu sama lain.


Keenamnya tidak berasal dari satu kelompok yang sama sehingga mereka saling menunjukkan sikap waspada satu sama lain. Mereka bersiap kalau-kalau salah satu dari mereka lebih dulu melancarkan serangannya.


"Hei, gadis-gadis itu milikku, kalian berlima enyah dari sini, atau ku bunuh kalian!" gertak salah satu peserta yang merupakan seorang pria bertubuh kurus kering dengan tinggi yang sedang.


Wajahnya bisa dibilang sangat tidak sedap dipandang. Banyak kutil pada wajahnya, dan tubuhnya mengeluarkan bau busuk.


Meski begitu aura membunuh yang dikeluarkan olehnya adalah yang paling kental dibandingkan lima orang lainnya.


"Ha?! Kenapa aku harus mendengarkan perkataan mu? Kau hanyalah pria berbau busuk yang pengecut. Menggunakan racun sebagai senjata mu, bahkan seorang wanita jauh lebih tinggi harga dirinya dibandingkan kau," balas salah seorang lainnya yang merupakan seorang wanita mengenakan jubah hitam legam menutupi seluruh tubuhnya.


Di tangannya terlihat dua buah belati yang dititupi oleh darah. Jelas sekali darah itu bukan berasal dari darah miliknya melainkan dari lawan-lawannya yang telah dia habisi sebelum datang ke tempat ini.


"Kalian semua, aku sebagai perwakilan dari Kuil Dewa Darah, ingin agar kalian menyerahkan anak-anak ini padaku yang akan aku jadikan sebagai korban pada Dewa Darah." Seorang pria bertubuh besar dengan kepala botak ikut berbicara.


Mereka berenam mulai saling adu mulut karena masing-masing tidak ada yang mau mengalah, sampai pada akhirnya salah satu dari keenam orang peserta itu mengambil inisiatif untuk maju dan menyerang lebih dulu ke arah Lin Mei dan yang lainnya.


"Hei! Beraninya kau menyerang lebih dulu!!"


"Tunggu kau sialan!"


"Bedebah, mereka adalah mangsa ku, sialan!!"


Akhirnya satu persatu dari mereka bergerak maju dan ikut menyerang.


Di sisi lain, Lin Mei dan para gadis lainnya sejak tadi hanya menonton keenam orang ini sejak tadi. Begitu mereka maju menyerang, mereka pun ikut bergerak.


"HIHIHIHI, gadis-gadis manis, lebih baik kalian menyerah dan menjadi mainan ku saja. Gadis secantik kalian akan jadi sia-sia jika harus mati di tempat ini."


"Maaf, tapi aku harus menolaknya. Kau bukanlah tipe ku," jawab Lin Mei.


Dia mengepalkan tangannya, dan asap tipis keluar darinya. Dia melancarkan tinjunya pada tubuh pria kurus yang memiliki bau busuk itu, namun dihindari olehnya dengan sangat mudah.


"HIHIHIHI!!!! Gadis manis, kau pikir bisa melukai ku dengan pukulan pelan mu itu?" Pria bertubuh kurus itu terkikik karena bisa menghindari pukulan Lin Mei.


Lin Mei hanya diam, dia mengepalkan tangannya lebih keras dan asap yang keluar darinya semakin bertambah.


Dia menatap dengan tajam pria kurus itu, dan dengan satu langkah, dirinya sudah muncul tepat di belakang pria kurus itu dengan kepalan tangannya yang memerah dan mengeluarkan hawa panas.

__ADS_1


"Coba hindari ini juga!"


Buck! Braackk....!


"Arghh!!! Panas!!!"


Pria kurus itu menerima dengan telak pukulan Lin Mei, dan badannya terbentuk ke tanah.


Dia segera menjerit kesakitan setelah menerima pukulan itu. Bukan karena kekuatan dari pukulannya yang membuatnya menjerit, tetapi karena sensasi terbakar pada punggungnya yang mana disebabkan oleh pukulan dari Lin Mei.


"Kau jalang sialan! Akan kubuat kau keracunan hingga mati dalan penderitaan!!!"


Pria itu segera bangkit, dia mengangkat kedua tangannya, dan lima buah pisau segera melayang di hadapannya.


Kelima pisau itu tampak mengeluarkan asap berwarna hijau dan juga bau yang tak sedap sama seperti pria kurus itu.


"Hati-hati, dia menggunakan racun!" Weng Hua yang sedang bergerak ke arah lawannya berseru pada Lin Mei.


"Aku tau!"


Pada dasarnya Lin Mei sudah tau jika pria kurus yang menjadi lawannya saat ini adalah seorang pengguna racun. Dia tidak tau seberapa berbahaya racun milik pria kurus ini, tapi yang pasti jika racun miliknya tidak mengenainya maka itu bukan masalah besar.


"Rasakan ini!!"


Shuu-!! Whusshh!!!!


Lima pisau yang mengandung racun itu terbang dengan cepat ke arah Lin Mei, tetapi Lin Mei masih diam di tempatnya dan menatap dengan tenang kelima pisau yang terbang ke arahnya.


Dia membuka kepalan tangannya, dan kemudian cahaya jingga keluar dari telapak tangannya.


Fhussss-PSSSHHH!!!!!


Dari telapak tangan Lin Mei, api berwarna jingga terang menyembur keluar dan melahap kelima buah pisau yang terbang ke arahnya.


Lima pisau beracun itu terbakar dan berubah menjadi abu dalam sepersekian detik begitu dilahap oleh api jingga milik Lin Mei.


"Hmp! Kau pikir hanya itu saja serangan ku?!"


Saat kobaran api jingga milik Lin Mei menghilang, sosok pria kurus sebelumnya sudah menghilang dari tempatnya dan muncul di samping Lin Mei dengan telapak tangannya bergerak ke arah tubuhnya.


"Bodoh."


Tepat ketika telapak tangan pria itu akan menyentuh Lin Mei, sesuatu yang tidak diduga oleh pria kurus itu terjadi.


PSSHHH!!!!


Api mendadak menyala dari seluruh Lin Mei, yang kemudian menjalar dan ikut membakar tubuh pria kurus itu.


"AAAAA!!!! PAAANASS!!!! TOLONG!!!! TOLONG-"


Pria kurus itu menjerit kesakitan selama beberapa saat sebelum akhirnya berhenti karena suhu api yang membakarnya mendadak naik, dan menghanguskannya.


"Hanya orang bodoh yang bertarung melawan api dari jarak dekat," ucap Lin Mei sambil tersenyum mengejek.


Ketika Lin Mei masih melihat tubuh gosong dari pria kurus itu, salah satu dari keenam peserta lainnya sudah datang dan tanpa aba-aba melesatkan serangan padanya.


BUMM!!!

__ADS_1


"Heee....kau bisa menghindarinya ternyata, anak kecil."


Sosok peserta yang tiba-tiba menyerang nya adalah seorang pria yang terlihat berusia akhir dua puluhan. Dia memegang tombak panjang di tangannya dan tersenyum pada Lin Mei.


Sementara itu, di tempat lain Weng Hua sedang berhadapan dengan peserta wanita yang membawa dua buah belati di tangannya.


Tring! Sssstttt!!! Ting! Syyaatt!


Weng Hua dan wanita itu saling beradu belati satu sama lain. Terlihat tidak ada yang mendominasi diantara keduanya.


Mereka saling memberikan serangan dan bertahan secara bergantian.


Ting! SRIIING!!!!!


"Kau hebat juga menggunakan belati mu, nak."


Kedua belati Weng Hua dan wanita saling bertabrakan dan mengakibatkan bunyi pertemuan dua buah benda logam yang memekakkan telinga.


"Kau juga, wanita tua," balas Weng Hua.


Buck!


Weng Hua memberikan tendangan telak pada perut wanita itu, dan membuatnya terdorong mundur lima meter.


Srttt.....


"Mulut mu tajam juga, nak!!"


Srringgg-TAANGGG!!!!


"Ohoho...ini belum seberapa, jika kau mau aku bisa mengataimu lebih banyak lagi."


Wajah wanita yang menjadi lawan Weng Hua menjadi kesal.


Dia menarik salah satu belati di tangannya ke belakang, dan Qi mulai menutupi belatinya.


"Sayang sekali, tapi aku tidak ingin mendengarnya."


Dengan gerakan sangat cepat, wanita itu pun menebaskan belatibyabg dipenuhi dengan Qi nya itu ke arah dada Weng Hua.


Tapi kemudian, sebelum belatinya itu melukai Weng Hua, Weng Hua sudah lebih dulu melancarkan serangannya.


Kaki kanannya di tutupi oleh Qi miliknya, dan dengan kuat menendang perut wanita itu.


"ACK-"


"Tendangan Kuda Hitam, Hentakan Kaki Penghancur."


BUCK!!!


PRACKK!!!


Weng Hua menendang secara vertikal perut wanita itu, dan membuatnya membentur ke tanah dengan kuat hingga menciptakan sebuah kawah kecil.


"Ugh-!! Gadis sialan...."


Wanita itu berkata dengan suara serak sebelum kemudian dirinya kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


__ADS_2