Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 561. Peta & Menerobos


__ADS_3

Pisau di tangan kiri Weng Lou segera diangkat begitu dia memasuki lorong itu.


Dalam sedetik setelah dia memasuki lorong, dia dihadapkan dengan seekor serangga yang terlihat seperti seekor capung, namun memiliki tubuh lebih besar dan terdapat duri tajam pada ekor panjangnya yang mana mengeluarkan aroma racun yang sangat kuat.


Wajah Weng Lou tetap tenang melihat serangga itu. Dalam satu gerakan, tangan kirinya yang memegang pisau itu diayunkan, dan memotong dengan bersih kepala serangga itu. Cairan berwarna hijau terciprat keluar, saat kepala dan tubuh serangga itu terjatuh ke tanah. Cairan yang jatuh ke atas tanah itu langsung menyebabkan asap kehijauan muncul dan melubangi tanah.


"Racun asam? Dan juga racun itu sepertinya jauh lebih kuat daripada yang ada di udara," ungkap Weng Lou sambil terus melangkah.


*Tess! Sring!*


Pisau kembali diayunkan, dan Weng Lou mulai menghabisi satu persatu serangga yang dia lewati. Tubuh para serangga yang telah dibunuhnya itu berjatuhan seperti dedaunan yang langsung melubangi tanah tempat mereka mendarat.


Namun Weng Lou tidak mempedulikannya sama sekali, dia hanya fokus ke depan dan terus melangkah maju sambil terus membunuh para serangga beracun yang masih tersisa. Ketika dia tiba dipertengahan lorong, langkah kaki Weng Lou harus terhenti saat dia merasakan sesuatu yang aneh pada bunga-bunga yang ada di bagian pertengahan lorong itu.


Sebelumnya dia tidak menyadari hal ini, namun bunga-bunga ini terus bergerak seperti ditiup oleh angin, padahal sangat jelas tidak ada angin yang berhembus sama sekali saat ini. Saat itulah Weng Lou baru menyadarinya, bunga-bunga tersebut juga merupakan bagian dari rintangan yang telah disiapkan di dalam Ujian Labirin.


*Fhuushh.....*


Mulut Weng Lou hampir terbuka saat melihat salah satu bunga, melesat dan menelan beberapa serangga sekaligus dan terlihat mereka tidak mengalami kerusakan sedikitpun setelah menelan serangga-serangga itu.


"Bahaya sebenarnya bukan lah racun dan serangga-serangga itu, melainkan bunga-bunga yang ada di sini. Kalau begitu..... jangan-jangan..."


Perlahan Weng Lou menoleh ke belakangnya dan menemukan bunga-bunga yang telah dia lewati itu mendadak bergerak kesana kemari dan menghadap ke arahnya.


"Oi oi oi!! Jangan bilang bahkan tanaman pun memiliki pemikiran sendiri!"


Tepat ketika Weng Lou terpaku pada bunga-bunga yang mulai bergerak itu, sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi. Tanaman bonsai yang memiliki bunga kuning sebelumnya kini telah menghilang dari tempatnya dan pada saat ini berada tepat di belakang Weng Lou.


Sebuah napsu membunuh yang sangat kuat terpancar dari tanaman itu, yang mana terasa seperti sebuah belati yang ditusukkan langsung tepat ke arah jantung Weng Lou. Keringat mengucur dari dahi Weng Lou, dan tanpa aba-aba apapun, sebuah mulut raksasa keluar dari balik dinding lorong labirin yang ditanami oleh bunga-bunga yang sedang bergerak itu.


Mulut yang dipenuhi dengan gigi-gigi tajam tersebut berusaha menelan sosok Weng Lou bulat-bulat. Mata Weng Lou bergerak cepat memindai mulut besar itu. Dengan dirinya yang berada di tengah mulut besar tersebut, dia akan ditelan dengan sangat mudah tanpa bisa melakukan perlawanan sedikit pun.


"Ck! Jangan main-main dengan ku, dasar tanaman menyebalkan!!"


*BUMMMM!!! KRACKKK!!!!*


Weng Lou memukul dengan keras tanah yang dia pijak dan menyebabkan tanah tersebut hancur, begitu juga dengan dinding-dinding lorong labirin yang ada di sekitarnya.


Begitu dinding labirin tersebut hancur, Weng Lou bisa melihat bahwa mulut raksasa dan bunga-bunga yang ada di dinding sebelumnya ternyata merupakan sebuah satu kesatuan berupa tanaman raksasa, dan tanaman bonsai yang kini berada di tempat Weng Lou merupakan intinya.


"Tanaman karnivora raksasa? Kau berusaha memakanku, biarkan aku membantumu! Makan ini!!!"


*BAMM!!!!* Weng Lou sekali lagi memukul ke tempat di mana dia berdiri. Kali ini bukan tanah, melainkan bagian dalam dari mulut besar yang akan menelannya itu.


*Splash!!*


Bagian tanaman itu hancur dan membuat sebuah suara jeritan menyedihkan. Weng Lou mengerutkan dahinya, dan dia mulai melanjutkan pukulannya.


Jeritan itu terus terdengar, sampai kemudian mulai berhenti setelah beberapa detik. Menghilangnya jeritan itu bukan tanpa sebab, pada saat ini, seluruh tanaman raksasa yang sebelumnya berusaha menelan Weng Lou, kini telah hancur tercerai berai dan cairan berwarna hijau terlihat di seluruh tempat.


Cairan hijau itu mengeluarkan asap hijau dari korosi yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Weng Lou berdiri dengan tenang melihat semua itu. Pada saat ini di kedua tangannya juga terdapat cairan hijau yang sama, namun bedanya tangannya tidak terluka sama sekali oleh cairan tersebut.

__ADS_1


Weng Lou mendengus pelan dan menghilangkan cairan menjijikkan itu dari tangannya. "Meski menyebalkan, setidaknya aku tau kalau cairan ini tidak berbahaya bagi tubuhku. "


Weng Lou melangkahkan kakinya, dan berjalan ke satu arah dimana terdapat sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia berhenti di salah satu sudut dinding yang telah hancur karena pukulannya. Matanya menatap sebuah botol kaca transparan yang tertutupi oleh debu dan cairan hijau.


Anehnya, botol kaca itu tidak ikut hancur terkena cairan tersebut, yang mana berarti botol tersebut merupakan sesuatu yang berharga. Tangannya dengan cepat mengambil botol kaca itu, dan membersihkan debu serta cairan yang menempel di luarnya. Begitu cairan hijau itu dibersihkan, Weng Lou bisa melihat isi di dalam botol kaca itu dan sebelah alisnya terangkat.


*Krack....*


Dengan begitu mudahnya Weng Lou memecahkan botol kaca itu dan menggenggam isi nya yang berupa sebuah gulungan kertas tua. Gulungan kertas itu dibuka, dan memperlihatkan sebuah gambaran kasar benda berbentuk persegi yang bagian dalam nya terdapat banyak sekali garis-garis yang berliku-liku dan di tengah-tengahnya terdapat sebuah gambar kotak lebih kecil yang mana garis-garis sebelumnya terhubung menuju ke kotak kecil tersebut.


Pada bagian dalam labirin itu juga terdapat beberapa titik-titik mereka yang terpencar di beberapa ujung garis yang tidak mengarah ke kotak lebih kecil.


Senyum muncul di wajah Weng Lou dan dia tertawa jahat melihat itu, "Hehehehe.... benar-benar sesuatu yang tak terduga. Peta ujian labirin huh? Meski labirin ini terus bergerak dan berubah bentuk, namun titik-titik merah ini jelas tidak berubah letaknya, aku bisa ke titik-titik ini dan menyelesaikannya. Tidak perlu lagi melewati lorong-lorong menyebalkan itu jika memiliki peta ini."


Kertas yang merupakan peta labirin itu digulung kembali oleh Weng Lou, dan dimasukkan nya ke dalam pakaiannya. Dia meniup udara sekitarnya, dan asap dari cairan hijau berhembus menjauh sehingga membuat Weng Lou bisa bernapas dengan mudah.


"Baiklah, ini saatnya aku menunjukkan sedikit kekuatan milikku. Akan ku buat jalan baru yang lebih bagus daripada lorong-lorong labirin jelek ini!" seru Weng Lou yang bersemangat.


*BUMM!! PRAKK!!! BAMM!!!*


Tinju Weng Lou melesat menghancurkan dinding labirin yang sudah terkena efek korosi tersebut. Tinju-tinju lain dilayangkan dan dia pun menembus dinding lorong labirin itu.


Sebuah jalan yang lain, yang terpisah dari rute milik Weng Lou terlihat namun tidak menarik perhatian Weng Lou sama sekali. Dia terus berjalan dan menghancurkan dinding pada bagian lain jalan itu dan terus melakukannya.


Aksi Weng Lou ini berhasil ditutupi oleh sang Patriak dan beberapa Tetua Sekte Bambu Giok agar tidak bisa dilihat oleh para penonton ujian. Mereka semua terkejut dengan tindakan Weng Lou yang menghancurkan dinding labirin dan mengambil jalan pintas. Namun bukan menuju ke tengah labirin, melainkan menuju ke 'Rute Khusus' yang memiliki rintangan berbahya yang seratus persen akan dihindari oleh Peserta Tes yang lainnya.


"A-Ack...apa yang anak itu pikirkan?!" Meigui hampir berseru kesal melihat tindakan Weng Lou tersebut, sementara para Tetua di dekatnya menatapnya dengan tatapan menyelidiki.


"Tetua Meigui, apa yang sedang dilakukan oleh murid barumu itu?!" ucap seorang tetua yang merupakan seorang pria tua berwajah menyeramkan.


Tetua Meigui hanya diam di tempatnya dan memilih tidak menjawab satupun pertanyaan yang mulai diajukan oleh para Tetua di sekitarnya itu.


Dia sendiri tidak bisa membaca sedikitpun jalan pikiran Weng Lou selama dia menjadi muridnya. Satu dua hal yang dia ketahui tentang Weng Lou saat ini, adalah dia memiliki kekuatan fisik yang luar biasa dan suka melatih fisiknya tersebut.


Bagaimana rencana Weng Lou, apa yang akan dia lakukan, dia tidak bisa mengikutinya sedikitpun, seolah-olah Weng Lou merupakan sebuah kertas kosong yang tidak bisa dibaca olehnya. Namun dia percaya pada muridnya itu, dan dia pasti akan bisa menyelesaikan Ujian Labirin ini.


"Anak ini....dia benar-benar menarik!"


***


Tengah malam, di salah satu ujung labirin.


"Pukulan Udara!"


*PAM!!!*


Sebuah tinju dilepaskan, dan seekor Siluman Ular terhempas menabrak dinding labirin dengan keras. Tampak pelakunya adalah seorang gadis muda yang tidak lain adalah Nu Qianren.


Dia telah melewati hari yang panjang untuk sampai di tempat dia berada saat ini. Sepanjang hari, dia harus terus bertarung melawan para binatang buas tanpa bisa beristirahat sedikitpun. Dan pada malam hari, dirinya harus lebih mengerahkan kekuatannya untuk menghadapi para siluman yang datang tidak ada habisnya.


Namun begitu, dia belum menunjukkan tampang kelelahan sedikitpun. Kekuatan dan stamina miliknya masuk cukup tersisa untuk dia bisa bertahan selama dua atau tiga hari lagi. Tapi tetap saja, dia memerlukan waktu untuk mengistirahatkan kepalanya, dia memerlukan ketenangan.

__ADS_1


*Grsss.....*


"Ssssss.....!!!" Siluman Ular yang menjadi lawan Qianren kembali bangkit namun tidak melakukan serangan balasan, melainkan segera kabur dengan memanfaatkan gelapnya malam di lorong labirin.


Perlahan sosok dan hawa kehadirannya, seolah tidak pernah ada di situ sebelumnya.


Qianren tidak berusaha mengejarnya sama sekali. Siluman Ular berbeda dengan para siluman lain yang biasanya memiliki kecerdasan rendah, mereka adalah evolusi alami dari para binatang buas ular yang terkenal licik dan sangat pintar. Mereka tidak akan melakukan serangan balasan begitu menyadari bahwa lawan yang dia hadapi memiliki kekuatan jauh di atasnya.


Menghela napas, Qianren mengeluarkan sekantung air dari balik pakaiannya dan meminum air di dalamnya secukupnya sebelum kemudian memasukkannya kembali. Dia duduk bersila di atas tanah yang berdebu, lalu memejamkan matanya, dan berusaha untuk menangkan isi kepalanya, memanfaatkan momen kepergian Siluman Ular sebelumnya untuk beristirahat sejenak.


Satu nafas panjang dihirup masuk ke dalam paru-paru nya sebelum dia mulai menghembuskannya perlahan. Dia bisa merasakan sedikit otot-otot tubuhnya yang rileks dan pikirannya yang menjadi jernih. Meski perasaan itu hanya muncul beberapa detik, tapi itu sangat membantunya.


Ketika dia masih memejamkan matanya, mendadak sebuah suara ledakan, tidak, sebuah hubya hantaman keras dan mengganggu konsentrasi nya membuat Qianren membuka kedua matanya dan menatap ke arah sumber bunyi tersebut.


*Bam!! Buck!!*


Dia mengerutkan kedua alisnya dan menatap dengan waspada ke arah dinding labirin yang ada di dekatnya. Tubuhnya segera memasang sikap kuda-kuda siap bertarung, dan Qi mulai berkumpul di kedua tangannya yang terkepal keras.


"Hufft..... benar-benar tidak bisa beristirahat. Aku akan membunuh siapa pun yang membuat sumber kegaduhan tersebut," ujarnya sambil mendekati dinding labirin itu.


Perlahan, suara hantaman yang dia dengar semakin keras dan getaran mulai bisa dirasakan olehnya. Wajah Qianren menjadi serius kerena hal ini. Tanpa sadar dia mengkertakkan giginya dan perasaan waspada menyelimutinya.


*BAM!!! BUM!!!!*


"AYO!! DATANGLAH PADAKUUU!!!!" Dengan dipompa oleh adrenalin yang tinggi, Qianren berseru dengan semangat tinggi.


*PRAKKK!!!*


Akhirnya, dinding labirin itu hancur dan kepulan debu berterbangan kemana-mana, membuat penglihatan Qianren menjadi terganggu. Namun, dia bisa melihat bayangan seseorang dari balik kepulan debu tersebut.


Bayangan itu seperti seorang manusia, tapi Qianren yakin bahwa itu pasti seekor siluman yang sangat kuat dan hampir memiliki bentuk manusia yang sempurna.


"MATI KAU SILUMAN JELEKK!!!"


Tanpa aba-aba sedikitpun, Qianren menerjang ke dalam kepulan debu, dan melayangkan kedua pukulannya kepada bayangan tersebut. Ketika kedua pukulannya akan mengenai targetnya, mendadak sesuatu yang tak terduga terjadi.


*Tap!!*


Dua tangan sosok bayangan itu menangkap kedua pukulannya dengan sangat mudah, dan bahkan Qianren tidak bisa menarik kembali kedua tangannya, seolah-olah sosok yang memegangnya merupakan seekor monster buas yang memiliki kekuatan fisik yang sangat mengerikan.


"Le! Pas! Kan! Aku! Dasar monster!!" Qianren memberontak, dan berusaha sekuat tenaga menarik kedua tangannya, akan tetapi mau sekeras apapun usahanya, dia tidak bisa sama sekali menariknya.


Ketika dia sedang berusaha keras, sebuah suara tawa yang tidak asing di telinganya terdengar, dan sosok bayangan di dalam kepulan debu itu menunjukkan sosok aslinya.


"Hehehe.... Saudari Qian, kenapa kau galak sekali padaku? Aku bahkan tidak berusaha menyerangmu sedikitpun, kau tau?" Wajah menyebalkan Weng terlihat dan membuat mulut Qianren terbuka lebar.


Namun sesaat kemudian, wajahnya memerah karena menyadari kedua tangannya masih dipegangi oleh Weng Lou. Dengan rasa kesal dia berbicara pada Weng Lou, "Cepat lepaskan aku, atau aku akan memanggil mu si Mesum Tidak Tau Malu!"


Tanpa diminta dua kali, Weng Lou langsung melepaskan kedua tangannya dan segera menunduk, menghindar sebuah tendangan yang mengarah pada wajah 'tampannya'.


"Kau! Berani-beraninya.....aku tidak akan melupakan ini!" Qianren tampak kesal karena Weng Lou yang menghindari tendangannya, dan dia menendang kaki Weng Lou dengan keras sebelum pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Hei hei....siapa orang gila yang mau wajahnya ditendang?"


Meski masih berusaha menggoda Qianren lebih jauh, namun dia memilih untuk segera mengejar gadis itu. Mau bagaimanapun, dia yang salah karena menerobos begitu saja ke rute milik Qianren.


__ADS_2