
Jika Weng Wan hanya mendapatkan kesulitan pada 10 pertarungan awalnya, Lin Mei bisa dibilang hampir semua pertarungannya selalu mendapatkan kesulitan.
Namun sejauh ini dia hanya menyerah sebanyak 2 kali saja, itu pun karena dia tidak mau membuang-buang waktu dan tenaga untuk melawan peserta yang berada di ranah Penyatuan Jiwa.
Berkat garis darah keturunan Phoenix miliknya, dia bisa menyembuhkan luka dan memulihkan tenaganya kembali seperti semula.
Dia bisa melakukan hal ini setelah melakukan latihan panjang dan bimbingan dari Yi Chen selama empat bulan di Sekte Langit Utara. Hanya saja dia belum bisa terlalu menggunakan nya, karena teknik ini memerlukan kontrol penuh atas api miliknya.
Selain itu, teknik ini juga memerlukan kekuatan jiwa miliknya untuk bisa terus digunakan dalam pertarungan.
Pada saat ini, Lin Mei sedang bertarung dengan lawan ke enam puluh sembilan nya, yang merupakan seorang pria yang terlihat berumur tiga puluhan.
Pertarungan mereka telah berlangsung selama lima menit, dan terlihat tidak ada yang unggul diantara keduanya. Mereka berdua sejauh ini masih seimbang.
Jika dilihat dari kekuatan api milik Lin Mei yang bisa membakar apapun, seharusnya dia akan mudah menang melawan lawannya saat ini, hanya saja lawan yang dia hadapi kali ini kebetulan merupakan musuh alami dari dirinya.
"Terbakar lah!"
"Padam lah!!!"
Shuuu-PSSSHHH!!!!!
Lin Mei melepaskan api dalam jumlah besar kepada lawannya yang kemudian segera disambut dengan bola air raksasa yang diciptakan oleh lawannya.
Uap panas pun tercipta dan memenuhi seluruh bagian arena tempat mereka berada.
Uap itu menghalangi pemandangan sekitar mereka, baik itu Lin Mei maupun lawannya. Keduanya mengalami kesulitan karena hal ini.
"Berhentilah memadamkan api ku!"
SHUU-!!
Dengan asal menebak, Lin Mei menembakan sebuah bola api yang kemudian melewati uap panas dan mengenai udara kosong.
"Kau lah yang seharusnya berhenti menguapkan air ku, gadis sialan!"
Tsshh!!!
Lawan Lin Mei ikut menembakkan bola air secara asal, dan kemudian meledak di udara tanpa mengenai Lin Mei sedikitpun.
Wajah kes bisa terlihat dari keduanya. Mereka saling menyalahkan satu sama lain karena tidak bisa melihat apapun.
"Bajingan...jika saja bagian arena ini lebih luas, sudah kubuat dia tenggelam di dalam air ku," gumam pria yang merupakan lawan Lin Mei.
Di sisi lain, Lin Mei memilih untuk mencoba menenangkan dirinya sendiri, dan berkonsentrasi pada lingkungan sekitarnya.
Menyentuhkan telapak tangannya pada tanah, dia pun mulai memejamkan matanya, dan mengedarkan kekuatan jiwa miliknya pada seluruh bagian arena tempat dia berada.
Tak lama, dia pun tersenyum setelah berhasil menemukan lokasi dari lawannya.
Dia bangkit berdiri, dan kemudian mengangkat tinggi tangan kirinya, lalu mulai mengedarkan Qi di atas tangan kirinya tersebut.
Bola-bola emas kecil pun tercipta hingga mencapai 15 jumlahnya.
"Akan ku pastikan kau terbakar sampai hangus, pria sialan! Hujan Bola Api!"
Ssshh- SHUU!!!
__ADS_1
Bola-bola Qi itu berubah menjadi bola api, yang kemudian Lin Mei menembakkannya ke arah lawannya.
Pria yang menjadi lawan Lin Mei tampak waspada ketika mendengar suara dari bola-bola api yang bergerak ke arahnya. Ketika bola-bola api itu sudah masuk dalam jangkauan pandangannya, dia pun dengan segera mengeluarkan tekniknya untuk menghindar dari bola-bola api tersebut.
"Tembok Air!"
PAM.....FUSSHHH!!!!
Dia menepuk kedua tangannya di tanah, dan tembok air dengan tinggi dua meter pun tercipta, dan melindunginya dari hantaman bola-bola api itu.
"Gadis sialan! Berani kau menyerang ku sembunyi-sembunyi!" Pria itu berseru jengkel sambil memaki Lin Mei.
Dirinya sama sekali tidak bisa mendeteksi keberadaan Lin Mei karena dia tidak merasakan kekuatan jiwanya sama sekali. Hal ini terjadi karena sebelumnya Lin Mei hanya mengalirkan Qi pada tanah saja, sehingga pria tersebut tidak bisa merasakannya.
Shu- Shu- Shu-
Tiga buah bola api berukuran lebih besar muncul kembali dari belakang pria itu dan membuatnya terkejut.
"Argh! Gadis sialan!!"
Dengan penuh rasa jengkel dan amarah, pria itu melakukan tinju ke arah tiga bola api yang sedang bergerak ke arahnya. Qi yang berubah menjadi air menutupi tangannya tersebut.
Bumm!!!
Ledakan terjadi, dan uap panas kembali mengepul, membuat arena semakin tertutup dan mengurangi jarak pandang pria itu dan juga Lin Mei.
"Kau ini bermain licik bukan, Gadis sialan?! Kalau begitu aku juga akan melakukan hal yang sama!!"
Dia mengangkat kedua tangannya ke udara dan mulai mengumpulkan Qi miliknya dalam jumlah besar. Qi itu tampak membentuk bola raksasa yang kemudian mulai berubah menjadi air.
"Rasakan ini!! Ribuan Jarum Air!!!"
Rintikan air tersebut menyerupai bentuk jarum karena bergerak dengan cepat. Tanah di bagian arena tersebut mulai rusak sedikit demi sedikit karena terkena rintikan air itu.
Hanya tempat dimana lawan Lin Mei berdiri saja masih utuh karena tidak terkrna rintikan air tersebut.
Uap-uap air yang memenuhi bagian arena pun mulai menghilang dan akhirnya menunjukkan seluruh bagian arena yang telah rusak parah karena terkena ribuan rintik air berkecepatan tinggi.
Namun meski begitu, tidak ada tanda-tanda sosok Lin Mei dimanapun, padahal lawannya sudah sangat yakin dia akan menang setelah memberikan serangan area seperti itu.
Pria itu menoleh ke sana kesini mencari keberadaan Lin Mei, tapi tidak berhasil. Tak lama, dia kemudian melihat bayangan seseorang yang mendekatinya.
Dia menyipitkan matanya, dan kemudian menoleh ke atas.
Terlihat sosok Lin Mei melayang di beberapa meter dari atas arena dengan sepasang sayap yang terbuat dari api di punggungnya.
Mulut lawannya terbuka lebar menyaksikan itu, dia tau dengan benar bahwa Praktisi Beladiri yang masih berada di ranah Pembersihan Jiwa tidak bisa terbang tanpa bantuan alat bantu sama sekali. Tapi apa yang dia lihat saat ini telah berhasil mematahkan pemikirannya sendiri.
"Ka-Kau?! Bagaiaman bisa?!"
"Heh, dari awal aku bukanlah lawan yang sepadan dengan mu, hanya saja unsur milikmu berlawanan denganku, sehingga aku terlalu banyak membuang waktu dan tenaga dengan mu!"
Sayap api pada punggung Lin Mei mengepak dan udara panas berhembus ke arah lawannya.
Wajah pria itu sedikit meringis karena udara panas tersebut. Dirinya pun mulai melapisi dirinya dengan Qi miliknya yang berunsur air sehingga suhu sekitar tubuhnya menjadi normal kembali, bahkan terasa sedikit sejuk.
"Hm! Jangan sombong kau gadis sialan! Kita lihat, apakah kau bisa bertahan selamanya di atas situ! Haaaa!!!!!"
__ADS_1
Pria itu meraung dan Qi pada dirinya melonjak keluar dari dalam tubuhnya, Qi itu pun menyebar di seluruh tanah di bagian arena tempat mereka berada.
Tak lama kemudian, air mulai keluar dari dalam tanah membasahi seluruh bagian arena.
"Karena kau tidak mau turun, maka biarkan aku yang membantumu untuk turun.
Pak-!!
Dia menghentakkan kakinya ke tanah, dan detik berikutnya tanah tempat dia berpijak bergetar hebat. Lin Mei yang ada di udara menyaksikan itu dengan seksama dan mulai memperhatikan apa yang terjadi.
"Pilar Air!!"
Pha-!! Fhuuu-!!!!
Dari tanah yang telah digenangi oleh air, puluhan tiang-tiang air secara cepat tercipta yang kemudian menusuk apa saja yang ada di atasnya.
Lin Mei yang melihat itu pun tampak sedikit terkejut. Mengendalikan sayap api miliknya, dan dia pun menghindari satu persatu pilar-pilar air itu.
Pack-!!
Mengepakkan sayapnya dengan kuat, Lin Mei melakukan putaran penuh di udara karena pilar-pilar air itu seperti mengejar kemanapun dia pergi.
"Cih! Kau masih belum menyerah juga?!"
Dari kedua tangan Lin Mei muncul kobaran api yang kemudian secara menakjubkan mulai membentuk seperti dua pedang pendek yang menyerupai belati.
"Terbakarlah dalam api Phoenix!!'
Phaahh-
"Sayatan Api Phoenix!!!"
Lin Mei mengepakkan kembali sayapnya, dan dia pun terbang ke arah pria itu yang berdiri di tengah bagian arena. Lawannya itu tidak menduga Lin Mei akan terbang ke arahnya, dan dia dengan panik menciptakan pilar air lainnya dalam ukuran besar ke arah Lin Mei.
"Hhm!!!"
Tsshhh-!!!!
Tanpa kesulitan berarti Lin Mei terbang memutari pilar itu sambil menyayat nya menggunakan dua pedang di tangannya. Setelah berhasil melewati pilar air itu, Lin Mei pun menyilangkan dua pedangnya di depan dadanya.
Suhu api kedua pedang Lin Mei terus bertambah begitu juga dengan kedua sayap di punggungnya. Bagai seekor elang yang terbang dengan sangat cepat, Lin Mei bergerak ke arah lawannya.
"Jangan harap kau akan berhasil!! Tembok Tempur Air!!!"
Tanah sekali lagi bergetar hebat dan beberapa saat kemudian air dalam jumlah besar melonjak naik di hadapan pria itu dan menghalangi dirinya dengan Lin Mei. Air itu membentuk tembok air raksasa yang memiliki tebal empat meter dengan tinggi mencapai 5 meter.
"Percuma saja!! Apa saja yang ada di depan api sang Phoenix, akan terbakar tak bersisa!!!"
Selepas menyerukan hal itu, Lin Mei pun menebaskan dua pedang api yang ada di tangannya.
Dua buah gelombang api berwarna jingga melesat dan menabrak dinding air yang sangat tebal itu. Kali ini tidak ada uap yang tercipta, namun tembok air yang dikenai olehnya langsung menghilang begitu saja dan gelombang api sebelumnya sudah mencapai tubuh lawan Lin Mei.
"Tidak mungkin-"
Shuussshhhhh!!!!!
Tepat ketika gelombang api itu menelan tubuhnya, tidak ada suara sama sekali yang dia keluarkan. Itu karena dirinya sudah berubah menjadi abu karena terbakar habis oleh gelombang api tersebut.
__ADS_1
Phaahh-
Lin Mei yang masih di udara menatap sisa-sisa dari lawannya dan memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya dia pun turun kembali ke atas tanah dan berjalan pergi meninggalkan bagian arena tersebut beserta abu dari lawannya.