
Keesokan harinya, di Pulau Pasir Hitam.
Weng Lou dan wanita dari Desa Fenmu berdiri di sebuah tanah lapang yang mana seharusnya tempat Kediaman Keluarga Leluhur Weng berada.
Mulut Weng Lou terbuka lebar saat melihat tidak ada satupun bangunan yang tersisa di tempat itu. Bahkan Istana Leluhur Weng juga tidak ada.
Dahi Weng Lou mengerut dan dia segera melihat ke bawah tanah, wajahnya berubah menjadi semakin jelek saat melihat tempat seharusnya kebun pribadinya berada, kini telah lenyap dan hanya menyisakan sebuah wilayah kebun tanpa tanaman satupun.
Itu seperti sebuah kebun yang baru saja selesai dipanen oleh pemiliknya.
"Guwen sialan! Aku menyuruhnya merawat kebun ku, bukan membawanya bersamanya menuju Dimensi Weng!"
Kepala Weng Lou terasa sakit. Dia menoleh ke samping dan melihat wanita yang bersamanya saat ini sedang menatap polos pada tempat mereka berada saat ini.
"Ini aneh sekali, aku tidak merasakan satu pun kehidupan manusia, atau pun binatang di pulau ini. Apa benar ada tanaman-tanaman langka di tempat ini?" tanyanya dengan polos.
*Glek.....*
Weng Lou tidak tau haru mengatakan apa. Dia mengutuk Weng Guwen yang sudah memindahkan kebunnya seenaknya, juga dirinya sendiri karena tidak menghiraukan masalah kebunnya.
Dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sosoknya kemudian terbang ke atas tanah lapang itu. Kekuatan Absolute dalam dirinya segera menyebar dan memeriksa distorsi ruang yang ada di sekitar tanah lapang itu.
Dengan kekuatan Absolute sejati miliknya, tidak terlalu sulit untuk menemukan titik ruang yang terdistorsi.
Dia segera mendarat di tempat ruang terdistorsi itu. Jika dia tidak salah, ini seharusnya menjadi tempat dimana Zhi Juan membuka Portal Dimensi yang menjadi tempat Jembatan Dimensi yang terhubung dengan Dimensi Weng.
Tangan Weng Lou bergerak menyentuh distorsi yang ada di sekitar tempat itu selama beberapa saat sebelum kemudian tangan kanannya menusuk udara, tepat di tengah-tengah distorsi ruang.
Udara seperti terkoyak karena tusukannya. Weng Lou mengayunkan tangannya ke bawah dan sebuah Portal Dimensi pun muncul di hadapannya.
Ini adalah Portal Dimensi ciptaan Zhi Juan. Seharusnya Portal Dimensi ini sudah tertutup berminggu-minggu yang lalu, namun Weng Lou berhasil menemukan jejaknya dan memaksa untuk membukanya kembali.
Dia tidak memerlukan banyak usaha untuk melakukannya.
Selama jejak ruang yang terdistorsi masih ada, dia bisa membuka portal tersebut kapan saja.
Begitu Portal Dimensi terbuka, bisa terlihat sebuah jembatan yang menghubungkan Dimensi Asal Mula dengan Dimensi Weng.
Mata Weng Lou menerawang jauh, dia bisa melihat ujung dari Jembatan Dimensi itu yang terhubung dengan sebuah Portal Teleportasi. Dia yakin di seberang Portal Teleportasi itu, Jembatan Dimensi masih membentang dan terhubung dengan Portal Teleportasi lainnya.
Jarak Dimensi Weng dengan Dimensi Asal Mula sangatlah jauh, meski begitu Zhi Juan sanggup membuat Jembatan Dimensi ini yang membuktikan kekuatannya sebagai Absolute Author.
"Jembatan ini begitu kokoh, serangan dari seorang Absolute biasa tidak akan bisa merusak Jembatan Dimensi ini. Seorang Absolute sejati mungkin bisa sedikit merusaknya, tapi untuk menghancurkannya akan sangat sulit. Sepertinya Absolute Author memiliki kekuatan yang mendekati seorang Immortal. Menilai dari Jembatan Dimensi ini, kekuatannya seharusnya hanya sedikit lebih lemah dibandingkan seorang Immortal baru.
Dia pasti terus meningkatkan kekuatannya selama ini, saat kau terus-menerus bereinkarnasi. Aku sangat yakin, selesai menangani masalah Unknown God ini, dia pasti akan memulai prosesnya menjadi Immortal. Sungguh keputusan yang berani. Sangat sedikit orang yang mau berurusan dengan hal-hal seperti ini sementara mereka sedang melakukan persiapan naik ke ranah Immortal.
Bisa dibilang, Zhi Juan ini sangat menghargai dirimu. Jika tidak, tidak mungkin dia mau berurusan dengan Unknown God ketika dia bisa kapan saja memulai proses kenaikannya." Kong Lou menjelaskan pada Weng Lou begitu dia melihat Jembatan Dimensi di hadapan mereka.
Karena dia dan Weng Lou terhubung, dia bisa menggunakan kekuatan Weng Lou untuk memindai Jembatan Dimensi itu.
Kemampuannya ini membuat Weng Lou terkesan, tapi dia juga memiliki raut wajah serius begitu mendengar penjelasan dari Kong Lou. Zhi Juan selama seratus kehidupannya ini memang selalu membantunya. Bahkan tak terhitung jumlahnya dia membantunya.
Hal ini membuat Weng Lou penasaran, apa yang Zhi Juan lihat dari dirinya sehingga dia mau memberikan semua bantuan itu kepadanya selama ini.
Apakah hanya karena dia memiliki peran penting dalam rencana besarnya, atau karena hal lain? Weng Lou tidak terlalu yakin. Yang jelas, dia harus berterima kasih kepadanya begitu semua masalah di Dimensi Asal Mula ini selesai.
"Kepala Desa, benda apa ini?"
Dari belakang Weng Lou, wanita yang datang bersamanya segera bertanya sambil mendekat kepadanya.
Pertanyaannya membuat Weng Lou menoleh padanya.
Dia diam sejenak sebelum menghela napasnya dan menjawabnya. "Ini adalah Portal Dimensi, dan yang kau lihat di dalamnya adalah sebuah Jembatan Dimensi yang terhubung ke Dimensi lainnya yang jaraknya sangat jauh dari sini."
"Eh, benarkah? Sejauh apa Jembatan Dimensi ini?" tanyanya lagi.
Weng Lou berkedip. Sepertinya rasa ingin tau wanita ini sangat tinggi. Itu adalah hal yang biasa bagi seorang wanita yang tidak pernah melihat dunia luar seperti dirinya untuk memiliki rasa ingin tau yang begitu besar. Weng Lou juga seperti itu dulunya saat masih berlatih di dalam Kediaman Keluarga Utama Weng di Kota Bintang Putih.
__ADS_1
"Jauh, jauh sekali. Aku tidak bisa mengatakannya dengan rinci, tapi yang jelas ujung jembatan ini akan terhubung dengan sebuah Portal Teleportasi yang kemudian masih berlanjut lagi panjangnya. Setelah melewati beberapa portal teleportasi lainnya, akhirnya jembatan akan berakhir di sebuah Dimensi yang tidak kalah besar dari Dimensi Asal Mula kita ini," jelas Weng Lou.
Mendengar penjelasan dari Weng Lou membuat wanita itu terkesima. Dia baru kali ini melihat dan mendengar sesuatu seperti ini. Matanya berkilauan dalam rasa ingin tau.
Namun kemudian dia segera sadar kembali dan menatap pada Weng Lou.
"Lalu di mana tanaman-tanaman yang anda katakan, Kepala Desa? Jangan bilang, tanaman-tanaman itu ada diujung jembatan ini?"
"Ya, kau benar. Aku akan jujur kepada mu. Seharusnya tanaman-tanaman itu ada di tempat kita saat ini, tapi karena kita datang terlambat, seluruh tanaman telah dipindahkan menuju Dimensi yang lain. Seperti yang kau tau, saat ini sedang terjadi pertarungan besar di dalam Dimensi ini, dan banyak tempat yang hancur.
Tanaman-tanaman itu tidak aman berada di sini, karena bisa saja hancur oleh serangan nyasar dari pertarungan yang terjadi. Maafkan aku karena tidak memberitahumu sebelumnya."
Wanita itu hanya diam. Wajahnya tampak lesu begitu mendengar perkataan Weng Lou. Rasa ingin tau dan antusiasmenya seketika menghilang.
Dari perkataan Weng Lou, jarak yang harus ditempuh sampai mencapai Dimensi di seberang Jembatan Dimensi ini haruslah beberapa puluh atau bahkan ratusan kali dari besar Dimensi Asal Mula itu sendiri.
Wanita itu tidak mau melakukan perjalanan. sejauh itu hanya untuk beberapa tanaman.
"Tidak perlu meminta maaf, Kepala Desa. Ini kesalahan ku karena bersikap egois. Anda hanya menghancurkan Ginseng Giok ratusan tahun milik ku, tapi anda sampai harus membawa ku sejauh ini. Aku mohon maaf. Mohon bawa kembali aku ke desa," kata wanita itu sambil menghela napasnya.
"Benarkah? Apa kau yakin?"
"Em.....aku yakin. Lagipula itu hanya beberapa tanaman. Meski aku sangat menyukai tanaman, tapi harganya tidak layak dengan meninggalkan tempat ini," jawabnya dengan yakin.
"Bahkan jika ada Jamur Yin dan Yang berusia seribu tahun, dan Rumput Kaca yang berevolusi di Dimensi sana?"
Pertanyaan itu segera membuat wajah wanita itu berubah seratus delapan puluh derajat dan menatap pada Weng Lou sekali lagi dengan cahaya mata berkilauan.
"A-Anda bilang Jamur Yin dan Yang serta Rumput Kaca yang berevolusi? Apa anda mengatakan yang sebenarnya?" Wanita itu kembali bersemangat.
Weng Lou tersenyum dalam hatinya. Dia berhasil. Jujur saja, dia memang berencana membuat wanita ini untuk pergi dari Dimensi Asal Mula. Jika pertarungan mereka nanti dengan Unknown God mencapai titik kritis, ada kemungkinan bidang tanah Dunia Asal Mula di dalam tanah akan muncul dan menghancurkan seluruh dunia dalam Dimensi Asal Mula.
Maka dari itu, dia harus menyelamatkan orang-orang yang dikenalnya, terutama orang yang memiliki bagian jiwa Lin Mei.
"Itu benar. Bahkan sebenarnya ada lebih dari kedua tanaman itu. Salah satu koleksi milikku adalah sebuah Bambu Kehidupan sepuluh ribu tahun yang telah ku rawat dengan sepenuh hati. Aku sangat yakin orang-orang ku membawanya menuju ke Dimensi lain untuk menyelamatkan semua tanaman berharga milik ku. Bahkan, jika aku sag ingat, ada sebuah tanaman yang aku tidak sengaja temukan dan ku pindahkan ke dalam kebunku ratusan tahun lalu. Itu adalah sebuah Bunga Lili Tujuh Warna yang hanya terdengar dalam legenda. Aku yakin kau belum pernah melihat atau mendengar namanya, bukan?"
Seperti yang Weng Lou katakan, dia belum pernah mendengar atau melihatnya. Hal ini membuat jiwa penyuka tanaman dalam dirinya menggebu-gebu. Dia sangat ingin melihatnya.
"Aku........Aku......"
"Oh.....benar. Orang-orang ku sempat membawakan ku waktu itu sebuah tanaman aneh yang aku juga tidak tau namanya. Mereka memanggilnya dengan sebutan Bunga Kepala Naga karena bunga tanaman itu memang berbentuk seperti kepala naga. Apa yang paling mengejutkan adalah, bunga itu bisa mengeluarkan api setiap beberapa saat, sama halnya dengan naga yang sebenarnya."
"Aku akan pergi! Aku ingin melihatnya!" Wanita itu dengan cepat berbicara.
Weng Lou tersenyum puas.
"Benarkah? Tapi tempatnya sangat jauh. Kau mungkin akan kelelahan di jalan......"
"Itu tidak masalah! Rasa lelah buka lah penghalang bagi seorang pecinta tanaman seperti diriku!"
Weng Lou kagum melihat semangat yang dimiliki oleh wanita itu. Harus dia akui, jarang ada seorang pecinta tanaman seperti dirinya.
Tapi dia juga tidak terlalu heran, mengingat wanita itu telah tinggal di Desa Fenmu seumur hidupnya. Satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk bersenang-senang pastilah menanam tanaman di kebunnya.
"Kalau begitu, aku akan memberikanmu beberapa hal untuk memastikan kau selamat sampai tujuan," kata Weng Lou.
Dia membuka tangan kanannya. Kekuatan kehampaan muncul di tangannya yang kemudian dipadatkannya dan menjadi sebuah jepit rambut berbentuk bunga teratai berwarna hitam.
"Bawa ini bersama mu, lebih baik lagi jika kau memakainya. Ini bisa memulihkan kekuatan mu dan juga menjauhkan mu dari bahaya dalam perjalanan. Juga, saat kau bertemu dengan seseorang di dalam jembatan, tunjukan saja pita ini, mereka akan mengawal mu dalam perjalanan nantinya," jelas Weng Lou sambil menyerahkan jepit rambut itu kepada wanita itu.
Wanita itu segera menerimanya. Dia terlihat menyukai jepit rambut tersebut dan segera memakainya. Meski warnanya tidak sesuai dengan rambutnya, namun entah mengapa bentuk bunga pada jepit rambut sangat sesuai dengan dirinya.
"Bagaimana penampilan ku?" tanyanya.
"Em....kau sangat cantik." Weng Lou menjawab dengan santai.
Tidak disangka, wajah wanita itu malah memerah setelah mendengarnya.
__ADS_1
"E-Eh? Benarkah? Ehem....terima kasih banyak. Kalau begitu aku akan pergi. Jaga diri anda, Kepala Desa!"
Dengan cepat wanita itu berjalan memasuki Portal Dimensi dan berlari di atas Jembatan Dimensi, meninggalkan Weng Lou yang tersenyum tipis melihat kepergiannya.
"Kau cukup hebat juga. Bahkan seorang wanita polos pun bisa kau goda dengan mudahnya," puji Kong Lou.
"Tidak, aku tidak sedang menggodanya. Dia memang cantik. Dia layak mendapatkan pujian itu."
Setelah wanita itu cukup jauh, Weng Lou segera menutup kembali Portal Dimensi yang dia buka.
Dia membalik badannya dan terbang tinggi. Dia menoleh dan melihat sebuah pertarungan sengit yang terjadi di kejauhan. Senyuman di wajahnya segera menghilang, digantikan dengan wajah serius.
"Sudah saatnya membantu orang itu."
***
Di atas lautan yang luas, Zhi Juan terbang di atas air dan melancarkan serangan bertubi-tubi pada Unknown God menggunakan sebuah kuas di tangannya.
Bola-bola berwarna-warni ditembakkan, sebelum bola-bola menyentuh tubuhnya, bola-bola itu meledak di sekitarnya dan ledakannya menghantam tubuhnya.
Unknown God tampak merubah kulitnya menjadi seperti sisik dan menahan tiap serangan yang mengenainya. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa saat ini sedang sangat marah. Dia melepaskan sebuah energi yang langsung menyelimuti sekitar tubuhnya dan menyerap semua ledakan itu, masuk ke dalam tubuhnya.
Kekuatan ledakan yang diserapnya langsung diubah menjadi kekuatannya sendiri. Dia mengangkat tangannya kirinya ke arah Zhi Juan.
Dalam sekejap mata, ratusan sulur keluar dari tangan kirinya dan bergerak ke arah Zhi Juan, berusaha menangkapnya. Sulur-sulur itu sangat cepat dan datang dari segala arah.
Zhi Juan mendengus melihat sulur-sulur itu. Dia memegang erat kuasnya dan kekuatan dalam dirinya dikeluarkan.
Lapisan yang tak terhitung jumlahnya muncul di sekitarnya. Lapisan-lapisan itu pada awalnya membentuk seperti pelindung, tapi dengan satu arah dari Weng Lou, semua lapisan mulai berubah. Semuanya membentuk seperti pipa-pipa yang tak terhitung jumlahnya dan berubah menjadi sulur-sulur yang sama seperti milik Unknown God.
Dalam detik berikutnya, sulur-sulur saling beradu.
Sulur milik Unknown God sangat fleksibel dan bisa melewati sulur-sulur buatan Zhi Juan dan melilitnya. Tapi di sisi lain, sulur-sulur Zhi Juan sangatlah kuat dan tajam. Tanpa banyak usaha berarti, sulur-sulur milik Unknown God terpotong satu persatu.
Setelah beberapa saat, sulur-sulur akhirnya menghilang. Entah itu milik Unknown God ataupun Zhi Juan, semuanya menghilang.
"Mau sampai kapan kau melakukan serangan tak berarti seperti itu? Kau mengetahui semua serangan itu tidak ada artinya. Apa kau sedang mengulur waktu? Kau sedang memulihkan kekuatan mu, bukan? Hahahaha.....aku sudah mengetahuinya sejak awal, jadi kau tidak perlu menyembunyikannya," kata Zhi Juan dengan senyum mengejek.
Unknown God membalas perkataan Zhi Juan, "Memangnya kau sedang melakukan apa selama ini? Kau juga sedang mengulur waktu. Kau pasti sedang mengulur waktu agar Weng Lou sialan itu bisa segera datang."
Zhi Juan dan Unknown God kemudian sama-sama diam. Keduanya menatap dengan tajam satu sama lain.
Pada saat itulah, tepat di samping Zhi Juan, sosok yang telah dia tunggu-tunggu akhirnya tiba. Senyum kemenangan langsung muncul pada wajah Zhi Juan, sementara Unknown God menatap dengan jengkel saat melihat sosok itu muncul.
"Bajingan, kau tau seberapa lama aku menunggu mu? Memangnya apa yang kau lakukan selama ini?" tanya Zhi Juan.
"Heh, aku melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan sebelumnya. Aku menunggumu sangat lama, dan kau juga harus merasakan hal yang sama," balas Weng Lou sambil tersenyum mengejek.
Keduanya saling menatap selama beberapa saat dan tertawa lepas pada saat berikutnya.
"Selamat, kau akhirnya menjadi seorang Absolute sejati." Zhi Juan menepuk pundak Zhi Juan.
Tatapannya pada Weng Lou seolah dia sedang menatap seorang teman lama. Weng Lou tersenyum dan berterima kasih karena sudah memberikannya waktu.
"Sekarang, mari kita mulai lagi pertempuran kita. Tentunya kau tidak masalah kalau kami berdua sementara kau sendiri, kan?" tanya Zhi Juan pada Unknown God sambil tersenyum lebar.
"Hmp! Meski kalian ada seratus pun, aku tetap akan membunuh kalian semua!" Unknown God mencibir. Dia tidak senang melihat kedatangan Weng Lou pada saat ini.
Kekuatan yang dia pulihkan masih belum cukup untuk menghadapi keduanya pada saat yang bersamaan. Tapi dia tidak mau menunjukkan kelemahan pada saat-saat seperti ini, itu hanya akan membuatnya merasa semakin jengkel.
"Hahahaha......mimpi yang sangat bagus. Tapi kau ditakdirkan untuk mati melawan kami. Tidak ada lagi kesalahan seperti yang kulakukan di kehidupan pertama ataupun kehidupan kelima puluh satu ku."
Weng Lou membentangkan kedua tangannya dan kekuatan kehampaan segera menyelimuti seluruh wilayah di sekitar mereka.
Zhi Juan yang melihat ini, tidak mau kalah. Kuasnya diangkat tinggi, sebuah lapisan yang begitu luas dan tebal muncul menutupi seluruh wilayah yang diselimuti oleh kekuatan kehampaan milik Weng Lou.
"Kalau begitu, ayo kita mulai pertarungan kita!"
__ADS_1
"Majulah, kalian berdua!!!"