
Di atas atap kastil.
Sosok Weng Lou menonton dengan santai pertarungan yang dilakukan oleh Shan Hu melawan para anggota Kelompok Darah.
Atau mungkin lebih cocok disebut dengan pembantaian. Karena tidak ada satu pun dari Kelompok Darah yang selamat setelah menerima serangan darinya.
"Yaa, terserah dia saja. Sebaiknya aku melakukan tugasku, takkan kubiarkan iblis itu berhasil kabur," ucap Weng Lou yang kemudian menjatuhkan dirinya pada sebuah lorong yang terdapat di tengah kastil.
"Huh?! Siapa kau?!"
Tepat di depan dimana Weng Lou mendarat, terdapat seorang penjaga yang mengenakan pakaian siap bertarung.
Sepertinya penjaga ini sudah bersiap untuk pergi kelapangan untuk bertarung melawan Shan Hu namun malah bertemu dengan Weng Lou dalam perjalanannya.
"Hm? Oh, halo. Bisa kau beritahu aku dimana lokasi pemimpin kalian?" tanya Weng Lou dengan nada santai kepada penjaga itu.
"Kau-Penyusu-"
Belum sempat ia berteriak, tangan Weng Lou sudah bergerak cepat menusuk tepat ke dada penjaga itu, dan mengenai jantungnya.
"Kruack....."
Penjaga itu memuntahkan darah yang sangat banyak dari mulutnya begitu Weng Lou menarik tangannya dari dadanya, dan tubuhnya segera terjatuh ke tanah tak bernyawa.
"Akan merepotkan jika kau berteriak, bisa-bisa pemimpin mu segera mendengarnya dan malah tambah semangat kabur dariku.'"
Weng Lou kemudian melucuti pakaian pria itu satu persatu, sebelum kemudian memakainya. Ini adalah bentuk penyamaran agar memastikan penyusunannya sukses tanpa kendala sedikitpun.
"Hmm....pakaiannya sedikit kebesaran." Weng Lou menggerakkan beberapa kali tangan dan kakinya.
Tubuh penjaga yang ia bunuh memang memiliki besar tubuh seorang pria dewasa, sangat wajar jika tidak pas pada tubuhnya.
Setelah menyembunyikan tubuh penjaga itu di salah satu sudut, Weng Lou kemudian bergerak masuk ke dalam kastil.
Beberapa kali dirinya berpapasan dengan anggota Kelompok Darah yang sedang bergerak ke lapangan, namun tidak ada satupun yang curiga dengannya.
"Padahal lebih bagus kau tidak perlu memakai pakaian penjaga itu. Kau bisa membunuh mereka semua yang kau lihat saat itu juga." Ye Lao memberi komentarnya.
"Aku setuju, muridku. Lebih baik langsung saja membunuh mereka." Qian Yu ikut berbicara.
"Tidak, lebih baik begini. Shan Hu butuh mereka sebagai bentuk latihan. Aku saat ini tidak terlalu membutuhkan nya karena penggunaan Qi ku yang sangat efisien. Sementara Shan Hu bisa dibilang penggunaan Qi nya sangat kasar, dengan pertarungan melawan musuh yang berjumlah banyak, mungkin dia bisa mendapatkan pencerahan. Karena jika tidak, maka dia akan kesulitan dalam Turnamen Beladiri Bebas nantinya."
__ADS_1
Ye Lao dan Qian Yu terdiam mendengar penjelasan dari Weng Lou. Memang benar Shan Hu selama ini menggunakan Qi miliknya secara kasat dan hanya sekedar pelapisan saja, tapi apa yang diharapkan oleh Weng Lou darinya?
Dia hanyalah seorang mantan bandit yang hanya mengerti kekerasan saja.
Bahkan sebenarnya Ye Lao dan Qian Yu menyarankan Weng Lou untuk menjadikan Shan Hu sebagai budak adalah agar dia bisa menjadi umpan ketika seandainya Weng Lou berhadapan dengan lawan yang kuat.
Setelah dipikir-pikir lagi, ternyata Weng Lou mampu memikirkan bagaimana cara menggunakan Shan Hu agar lebih bermanfaat baginya.
Bisa dibilang ini termasuk investasi masa depan.
"*Yah, terserah mu saja lah..."
"Jika rencanamu, maka lanjutkan lah*."
Weng Lou hanya mengangguk. Ini semua sudah diperhitungkan sejak pertama kali dia melihat bahwa peningkatan tingkat praktik Shan Hu lebih cepat dari rata-rata saat memakai pil.
Tap tap tap tap.....
Weng Lou terus menelusuri bagian dalam kastil selama lima menit lebih, dan belum menemukan tanda-tanda dimana lokasi dari Sha Shou, pemimpin dari Kelompok Darah.
Ketika dia masih memutar otak, dan mencoba menerka-nerka dimana keberadaannya, sekelompok orang yang terlihat seperti penjaga yang mengenakan pakaian yang sama seperti yang dia kenakan berlari pelan ke arahnya.
Di tengah mereka, terlihat sosok seorang pria tua yang terlihat sudah berumur 60 tahunan.
Sosok pria yang berada di tengah penjaga itu berseru kepada Weng Lou yang terlihat hanya diam bengong ditempatnya.
Butuh beberapa detik sebelum Weng Lou bisa memproses apa yang sebenarnya terjadi.
Senyum kecil terlihat di sudut bibirnya sebelum kemudian dia merubah raut wajahnya menjadi serius, dan mengangguk kepada pria itu.
"Baik!" ucap Weng Lou yang kemudian berjalan ke belakang dan ikut mengelilingi pria itu.
"Ayo! Lewat pintu belakang!"
Pemimpin dari penjaga itu memberi arahan kepada penjaga lain dan segera dilakukan, sementara pria tua yang bersama mereka tampak gelisah terus menerus.
Dia terus melihat kanan kiri, dan seperti menghindar dari sesuatu.
Tak berapa lama, mereka pun keluar dari kastil, melewati pintu keluar yang ada di belakang.
Mereka kemudian terus berjalan, hingga sampai di kaki bukit batu yang sebelumnya disinggahi oleh Weng Lou dan Shan Hu sebelumnya.
__ADS_1
"Berhenti!" seru pemimpin penjaga.
Di depan mereka, tubuh beberapa pengintai yang dibunuh oleh Weng Lou tergeletak dalam kondisi mengenaskan.
"Sial! Bersiaga semuanya!!"
Mereka semua segera merapat, dengan pria tua itu berada di tengah mereka. Wajahnya tampak semakin panik dan pucat karena ketakutan.
Dia adalah Sha Shou, sang pemimpin Kelompok Darah. Kelompok yang telah menyebar teror di beberapa daerah di Wilayah Tengah.
Kekuatan mereka tidak terlalu besar karena yang terkuat dari mereka hanya berada di Ranah Pembersihan Jiwa tahap 6 awal, dan itu adalah pemimpin penjaganya yang telah dia berikan banyak sumber daya latihan selama ini, sementara dirinya sendiri hanya berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 4.
Alasan mereka bisa terus selamat adalah karena lokasi markas mereka yang sangat tersembunyi.
Itulah yang membuat mereka menjadi terkenal, karena meski dengan kekuatan sekecil itu, tapi mereka sanggup menebar teror di Wilayah Tengah tanpa tertangkap sama sekali oleh kelompok lain.
Tapi meski begitu, Sha Shou mengetahui bahwa kelompoknya bisa kapan saja menerima serangan dari merek yang berada di Ranah Penyatuan Jiwa. Karena hanya mereka yang berada di ranah Penyatuan Jiwa yang dapat terbang bebas di langit, yang merupakan jalan kedua menuju markas mereka selain melewati rute khusus yang ia ciptakan.
"Jangan diam saja!!! Idiot sialan!! Ayo lanjut berjalan! Kita harus pergi secepat mungkin!!" Sha Shou berkata dengan jengkel.
Rasa takut dan khawatir di hatinya mulai membuat pikirannya sangat kacau, jika semakin lama di sini, mungkin dia bisa kehilangan akal sehatnya.
"Ba-Baik, ketua!"
Mereka kemudian lanjut berjalan, namun kali ini dengan pelan-pelan, tanpa menurunkan kewaspadaan sama sekali.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah pintu di kaki bukit. Pintu itu di buka dan memperlihatkan lorong gelap yang persis sama seperti yang ditemukan oleh Weng Lou.
"Jadi salah satu cabang lorong itu ada yang mengarah ke sini, seandainya aku tau, lebih baik lewati ini saja tadi," gumam Weng Lou.
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya salah satu penjaga di dekatnya dengan berbisik pelan.
"Ah, tidak. Aku hanya mengatakan bahwa orang yang berhasil menemukan markas kita ini pastinya adalah seseorang yang sangat kuat karena berani menyerang seorang diri," jelas Weng Lou sambil ikut berbisik kepadanya.
"Bagaimana kau tau hanya satu orang saja yang menyerang? Apa kau sudah melihatnya?"
"Ya, aku tadi sedang berjaga di dekat lorong bagian luar ketika aku melihat sosok seorang pria bertubuh besar terjun bebas ke tengah lapangan."
Penjaga itu mengangguk mendengar cerita dari Weng Lou. Dia sebelumnya tidak sempat untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi, dia hanya menerima perintah untuk ikut melindungi Ketua mereka.
Berjalan masuk secara berpasangan, mereka kemudian menelusuri lorong itu, sementara Weng Lou hanya bisa menahan senyumnya.
__ADS_1
Dia ingin melihat, tembus kemana lorong ini.