
Kemampuan menyerap energi kehidupan adalah kemampuan yang belum pernah didengar oleh Weng Lou sebelumnya.
Asap hitam yang dikeluarkan olehnya tidak hanya menyerap habis semua energi kehidupan pada tubuh prajurit itu, tetapi juga merubahnya menjadi kekuatan untuk nya.
Satu-satunya teknik yang mirip seperti kemampuan asap hitamnya ini adalah Teknik Penghisap Darah milik salah satu sekte jahat yang ada di Pulau Pasir Hitam ratusan tahun lalu. Sekte itu sendiri bernama Sekte Iblis Darah yang menyembah sebuah Dewa bernama Dewa Darah. Weng Lou pernah membaca tentang Teknik Penghisap Darah milik Sekte Iblis Darah ini di perpustakaan Sekte Langit Utara sebelumnya.
Dikatakan teknik ini mampu menyerap habis darah korban yang dikenai teknik tersebut hingga tak bersisa sedikit pun. Melalui teknik ini, penggunaannya bisa mengubah darah yang diserap dari korbannya menjadi sumber kekuatan yang bisa menaikkan tingkat praktiknya.
Teknik yang jahat ini telah menghantui Pulau Pasir Hitam selama hampir tiga ratus tahun lamanya. Karena kehebatan dari teknik ini, Sekte Iblis Darah melakukan banyak pembantaian di seluruh Pulau Pasir Hitam, sampai kemudian secara tiba-tiba Sekte Iblis Darah menghilang dari Pulau Pasir Hitam bersama dengan Teknik Penghisap Darah milik mereka.
Tidak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi ada legenda yang mengatakan bahwa sekte ini telah dimusnahkan oleh beberapa Praktisi Beladiri terkuat Pulau Pasir Hitam dalam satu malam dan tidak menyisakan satu pun anggotanya yang selamat.
Entah cerita itu benar atau tidak, tapi yang jelas Teknik Penghisap Darah itu memiliki kemampuan yang hampir mirip dengan kemampuan asap hitam miliknya.
Bedanya, yang diserap oleh asap hitamnya adalah energi kehidupan yang tidak terlepas dari darah saja, melainkan semua organ tubuh, dan bahkan jiwa korbannya. Selama itu mengandung energi kehidupan, maka asap hitam itu akan menyerapnya hingga tak bersisa.
Weng Lou menyadari ini setelah memeriksa kondisi mayat korban pertamanya.
Matanya kemudian menatap pada asap hitam itu dan kemudian mulai mengarahkannya pada mayat prajurit yang lainnya dan hal yang sama kemudian terjadi. Tubuh prajurit kedua telah mengering hingga menyisakan kulit dan tulang saja pada tubuhnya.
Tangan Weng Lou mengepak dan merasakan aliran kekuatan yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Walau penambahan kekuatan ini tidak terlalu besar, tetapi jika aku menyerap semua mayat prajurit ini, maka ...."
Weng Lou segera menggelengkan kepalanya dan menolak pemikirannya itu. Dia baru saja membuka segel pertama miliknya, kekuatannya saat ini sedang berada di ambang batas yang bisa dia kendalikan dan jika dia ceroboh sedikit saja, maka dia bisa menghancurkan apa saja yang dia sentuh.
Menambah kekuatan nya bukanlah keputusan yang bijak untuk saat ini. Dia harus membiasakan diri terlebih dahulu dengan kekuatan yang dia punya sebelum kemudian mulai berlatih dan menambah kekuatannya lagi. Paling tidak hal ini akan memakan waktu paling tidak satu-dua bulan paling sebentar.
"Hei, bocah! Sebaiknya kau cepat lakukan bagian mu! Banyak pelayan dan pekerja istana yang mulai berlarian keluar dari istana! Ada beberapa yang terkena serangan ku dan mati konyol!"
__ADS_1
Suara Ye Lao mendadak terdengar dari Kitab Keabadian yang bersama Weng Lou dan membuat Weng Lou tersadar dari pemikirannya sendiri.
"Ah, benar. Ada yang lebih penting yang harus aku lakukan!"
Weng Lou pun segera meninggalkan mayat para prajurit tersebut dan masuk ke dalam istana.
Bagitu dia masuk, banyak para pelayan dan pekerja istana yang berlarian di lorong istana dilihat oleh Weng Lou.
"Baiklah semuanya, angkat tangan kalian dan menyerahlah." Weng Lou berbicara dengan santai pada mereka semua dan jelas sekali tidak ada satupun yang mendengarkan nya.
Senyum kecil muncul pada wajah Weng Lou dan dia mengangkat bahunya. "Aku sudah memperingatkan kalian, jadi jangan salahkan aku jika sedikit kasar."
Tangan kanan Weng Lou diangkat, dan kemudian dengan sedikit tenaga dikerahkannya, tangannya itu menepuk lantai istana hingga retakan muncul pada bekas tepukannya. Getaran pun muncul pada lantai yang dia tepuk, dan getaran itu mulai merambat menyusuri lorong istana, dimana banyak orang yang berlarian mencoba melarikan diri dari penyerangan yang dilakukan oleh Ye Lao dan Qian Yu.
Orang-orang itu tidak menyadari saat getaran itu mengarah pada mereka, dan baru bereaksi saat mereka merasakan tanah yang dipijak oleh mereka berguncang dan retakan muncul pada lantai istana.
*Buck!*
Weng Lou memanfaatkan situasi ini dengan sebaik-baiknya.
Dia melangkah pelan dan sosoknya segera berlari melewati orang-orang itu. Langkah kakinya tampak mantap tanpa terpengaruh oleh guncangan sedikitpun, keseimbangannya benar-benar sempurna.
Dengan gerakan tangan yang cepat, Weng Lou menotok satu persatu orang-orang itu dan membuat mereka kehilangan kesadaran. Dalam waktu singkat, semua orang yang ada di lorong bagian terluar istana itu kini telah tak sadarkan diri, sementara Weng Lou kini berdiri dengan tegak di akhir lorong itu, dan menghadap sebuah pintu besar yang tidak lain adalah pintu masuk ke ruang takhta berada.
Senyum Weng Lou terlihat menakutkan saat dia dengan sopan mengetuk pintu besar tersebut, dan menciptakan sebuah retakan besar pada pintu itu.
Sebelum ada yang menjawab, Weng Lou sudah membuka pintu itu dengan paksa, dan memperlihatkan ruangan di dalamnya. Terlihat puluhan prajurit berbaris rapi di hadapan Weng Lou.
Mereka semua memegang tombak dan perisai dimasing-masing tangan mereka dan mengarahkannya pada Weng Lou.
__ADS_1
Tidak jauh di belakang mereka, sosok seorang pria paruh baya sedang duduk di atas takhta dengan ekspresi ketakutan diwajahnya. Di sampingnya, seorang pria lain berdiri menemani pria tersebut dan menatap dingin ke arah Weng Lou.
"Apa yang kalian tunggu?! Bunuh dia!!! Cepat!!! Jangan sampai dia datang kemari!!!" Pria yang duduk di takhta itu berseru panik pada para prajurit itu. Terlihat dia sangat ketakutan dengan datangnya Weng Lou kemari.
Semua prajurit itu segera maju dan siap menusuk Weng Lou dengan tombak-tombak di tangan mereka. Mereka secara teratur membentuk sebuah formasi menyerang dan menempatkan tombak-tombak mereka di sela-sela perisa sambil menusuk dan menarik tombak-tombak mereka.
Weng Lou menyeringa dan tertawa pelan. Formasi mereka tidak buruk, tetapi formasi seperti itu hanya berguna untuk menghadang manusia biasa, bukan seorang Praktisi Beladiri tingkat tinggi seperti dirinya.
Dengan santainya, Weng Lou berjalan mendekati mereka semua. Para prajurit itu tidak gentar melihat yang dilakukan oleh Weng Lou, mereka tetap melangkah maju hingga sosok Weng Lou dan mereka hanya berjarak dua meter saja.
Tepat ketika tombak yang ada di depan formasi para prajurit itu akan mengenai tubuhnya, Weng Lou segera memiringkan badannya, dan dengan kaki kanannya, dia menendang keras perisa prajurit yang ada dihadapannya.
*Prak!!! Bruckkk!!!*
Perisai logam yang dipegang oleh salah satu prajurit itu menjadi penyok, dan sebuah tolakan besar bisa dirasakan oleh prajurit yang memegang tersebut. Seketika itu juga, formasi serangan para prajurit itu hancur berantakan. Semua prajurit yang berada di hadapan Weng Lou terdorong mundur dan terjatuh ke tanah. Beberapa dari mereka yang tidak beruntung harus terkena tombak rekan mereka sendiri.
Jeritan kesakitan memenuhi ruangan itu dan membuat ekspresi pria yang duduk di takhta singgasana menjadi semakin ketakutan. Dia langsung menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya itu dan tampak khawatir.
"Cih, kau mau pamer kekuatanmu pada para Prajurit yang hanya berada di Dasar Pondasi itu? Biar ku berikan kau pelajaran, bahwa anak kecil seperti mu harus menunduk hormat pada orang yang lebih tua darimu!" Pria itu mencibir Weng Lou dan dengan ringan dia melompat dan tiba di depan Weng Lou.
Baru saja dia mendarat, sebuah tendangan ringan mendarat pada tulang kering pria tersebut, dan segera wajah pria itu berubah menjadi biru.
"ARGGGG!!!!!"
Jeritan pria itu berhasil mengalahkan jeritan para prajurit yang sedang terluka saat ini. Dia berguling di atas tanah dan menyentuh kaki kanannya yang saat ini telah parah karena menerima tendangan ringan dari Weng Lou.
Sementara itu, Weng Lou hanya bisa tersenyum kecut menyaksikan kaki pria tersebut yang telah patah dengan sangat parah. Dia tidak berniat mematahkan kaki pria itu. Dia ingin hanya sekedar membuat pria itu merasa sakit karena kakinya ditendang oleh Weng Lou, tapi siapa sangka tulangnya begitu rapuh seperti kertas?
**Catatan Penulis:
__ADS_1
Seharian tidak ada jaringan internet ternyata bisa menyebabkan rasa bosan yang tidak terkira. Rasanya sangat tersiksa, dan saya seperti menjadi nolep. Ah lupa, saya ternyata sudah nolep dari dulu 🗿**