
Setelah mendiskusikan rencana mereka sematang mungkin, Weng Ying Luan mengajak Lin Mei untuk merayakan pertemuan mereka dengan memakan kue yang disukai oleh keduanya semenjak mereka memasuki Sekte Langit Utara.
Jika Weng Lou ada di tempat ini sekarang, Weng Ying Luan tidak akan bisa tidur dengan nyenyak karena mengalami beberapa patah tulang.
Kue yang keduanya makan saat ini merupakan kue yang disimpan oleh Weng Lou di dapur istana Keluarga Lin, tempat mereka tinggal. Tidak disangka, Weng Ying Luan berhasil menemukan kue tersebut dan membawanya dalam perjalanan menuju lokasi Lin Mei, padahal Weng Lou sudah menyembunyikannya di sudut terdalam ruang penyimpanan bahan-bahan masakan di istana.
"Kau seharusnya lebih sering memberikan kue ini kepadaku! Sudah sangat lama aku tidak memakannya!"
Lin Mei dengan bahagianya memakan kue yang dikeluarkan oleh Weng Ying Luan, sementara Weng Ying Luan memasang senyum jahatnya.
"Baguslah kau menyukainya, aku memiliki banyak di cincin penyimpanan ku," ucap Weng Ying Luan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Kue yang disembunyikan oleh Weng Lou mencapai beberapa peti kayu yang jika ditimbang akan mencapai beberapa puluh kilogram. Tentu saja jika dimakan terus menerus, kue-kue itu akan habis tidak sampai satu bulan.
Namun apa yang harus ditakutkan oleh Weng Ying Luan? Dia tinggal meminta dari Weng Lou jika miliknya habis, dan jika Weng Lou tidak mau memberikannya, dia tinggal mengambilnya secara sembunyi-sembunyi. Keahliannya dalam menyelinap adalah nomor satu jika dibandingkan dengan Weng Lou dan Lin Mei.
Keduanya mengobrol santai untuk beberapa saat. Tentu saja dengan suara yang hanya bisa didengar oleh keduanya. Elang raksasa yang ditunggangi oleh mereka berdua bahkan tidak bisa mendengar sedikitpun pembicaraan mereka. Semua itu karena kemampuan Sarung Tangan Pencuri Langit milik Weng Ying Luan.
Kemampuan ini baru dia sadari beberapa saat yang lalu saat dia memamerkannya kepada Lin Mei.
"Sial, aku selama di Sekte Langit Utara sering menemaninya berlatih, tapi belum pernah dibuatkannya satu senjata pun! Aku harus memintanya membuatkan ku senjata juga jika kami bertemu kembali!" Lin Mei menggerutu dengan jengkel.
Weng Ying Luan tampak puas melihat tatapan iri dari Lin Mei. Sarung Tangan Pencuri Langit adalah simbol kebanggan yang dia miliki. Dengan sarung tangan ini, dia akan membuat namanya menjadi terkenal di seluruh Daratan Utama, terutama dalam penghancuran Keluarga Ying.
__ADS_1
"Oh ya, aku penasaran bagaimana caramu mengendalikan binatang-binatang ini. Hanya dengan kekuatan garis darah keturunan Phoenix mu mustahil bisa menundukkan semuanya sekaligus. Juga, apa sebenarnya yang kau curi dari Keluarga Lin sehingga membuatmu dikejar oleh Pasukan Pengejar milik Keluarga Lin?" Weng Ying Luan bertanya penasaran.
Mata Lin Mei menatap Weng Ying Luan. Dia terkekeh pelan kemudian mengeluarkan sebuah bulu Phoenix dari dalam keningnya. Bulu Phoenix itu memancarkan sebuah kekuatan yang tak terlihat dan membuat semua binatang buas yang berada di dekatnya merasakan sebuah sensasi kepatuhan yang mengikat mereka.
Bahkan garis darah keturunan milik Weng Ying Luan sedikit bergetar karena sebelum kemudian tampak stabil seperti semula. Bulu Phoenix itu tidak bisa mempengaruhinya terlalu jauh. Namun getaran biasa itu sudah membuat Weng Ying Luan merasakan bahwa bulu Phoenix di tangan Lin Mei memiliki sebuah rahasia yang begitu dalam.
Dia menarik napas dingin. Weng Ying Luan kini mengerti mengapa Keluarga Lin sangat peduli pada benda yang dicuri oleh Lin Mei. Bulu Phoenix itu jelas merupakan harta berharga milik mereka!
Namun ada satu hal yang sangat ganjal yang membuat Weng Ying Luan tidak mengerti. Jika benda ini memang sangat penting bagi Keluarga Lin, kenapa tidak ada satupun dari sebelas Penguasa Jiwa yang berada di bawah perintah Lin Nushen bergerak untuk menghentikan Lin Mei. Mereka bisa dengan mudah menghentikan Lin Mei dan mengambil kembali bulu tersebut dari tangannya, namun nyatanya tidak demikian.
Mereka seolah tidak peduli dengan apa yang diambil oleh Lin Mei.
"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa dengan mudahnya mengambil bulu ini tanpa dihentikan oleh seorang pun di ranah Penguasaan Jiwa dari Keluarga Lin. Jawabannya adalah, karena bulu ini memang bukan milik mereka, melainkan milik keluarga ku. Bulu Phoenix ini memang sangat penting bagi seluruh Keluarga Lin, namun pemilik asli bulu Phoenix ini bukanlah Keluarga Lin yang berada di Daratan Utama saat ini, melainkan Keluarga Lin yang ada di Pulau Pasir Hitam, yang tidak lain adalah Keluarga Lin kami.
Dengan bulu ini, aku bisa merangsang lebih jauh kekuatan garis darah keturunan Phoenix di dalam tubuh ku. Hal ini menyebabkan aku bisa mengendalikan begitu banyak binatang buas padahal kekuatan Tingkat Praktik ku belum menyentuh tahap 5 dari ranah Penyatuan Jiwa."
Penjelasan yang begitu lengkap dari Lin Mei membuat Weng Ying Luan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak dia sangka Lin Mei memiliki banyak informasi tentang Daratan Utama jauh melebihi dirinya ataupun Weng Lou.
Keluarga Lin nya pasti sangat berwawasan luas, atau memang dengan sengaja tidak menutupi sedikitpun sejarah yang terjadi saat Keluarga Weng memisahkan diri dari Daratan Utama. Yang mana pun, Lin Mei berhasil mendapatkan barang peninggalan Keluarga Lin nya di Daratan Utama adalah sesuatu yang sangat hebat.
Weng Ying Luan menjadi tertarik dengan hal ini. Dia menoleh ke belakang. Melihat sosok Raja Singa yang masih menundukkan badannya ke tanah, tanpa bergerak sedikitpun.
Singa itu berbicara tentang aura milik ku. Apa dia mengetahui sesuatu tentang ibu ku? Ibu pasti berasal dari Daratan Utama juga dan ikut dengan Keluarga Weng saat memisahkan diri dari Daratan Utama waktu itu. Apakah aku harus bertanya padanya tentang siapa ibuku?
__ADS_1
Segala pemikiran ini terlintas begitu saja di kepala Weng Ying Luan, namun dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. Belum saatnya untuk dia menanyakan hal-hal tersebut. Dia masih memiliki sesuatu yang jauh lebih penting untuk di lakukannya saat ini.
Masih banyak kesempatan untuk bertanya segala sesuatu tentang ibunya kepada Raja Singa itu.
***
Saat Weng Ying Luan dan Lin Mei sibuk berbincang membahas segala sesuatu yang berkaitan tentang rencana mereka, di Pulau Pasir Hitam, sepuluh orang yang memancarkan pancaran kekuatan yang begitu kuat di sekitar mereka, berdiri dan menundukkan kepala di depan sosok Penasehat Kepala Keluarga Weng.
""Kami memberi hormat kepada Sang Penasehat!"" Sepuluh orang itu berbicara dengan nada yang sama hormatnya.
Sang Penasehat mengangguk sebagai balasan. Dia mengayunkan tangannya dan sebuah kapal kayu muncul dari udara kosong di samping mereka bersepuluh. Munculnya kapal itu tidak membuat mereka terkejut, mereka dengan hormat tetap berdiri di tempat mereka dan menunggu Sang Penasehat untuk memberikan perintahnya.
"Pergilah, semoga Leluhur menyertai kalian semua," kata Sang Penasehat. Dengan satu ayunan tangan, kapal kayu yang sebelumnya tampak biasa saja, kini mengeluarkan pancaran cahaya redup.
Kesepuluh orang itu sekali lagi membungkuk hormat lalu kemudian pergi menaiki kapal kayu. Mereka tidak terbang untuk naik ke atasnya, mereka menggunakan sebuah tangga dari tali yang dijulurkan di badan kapal.
Mereka bersepuluh dengan cepat menaiki kapal dan berdiri menghadap Sang Penasehat.
"Begitu kalian tiba di wilayah Keluarga Ying, jangan menyisakan satu orangpun anggota Keluarga Ying yang kalian lihat. Tidak perlu membunuh orang-orang yang bekerja di bawah mereka jika mereka tidak menunjukkan perlawanan terhadap kalian, namun, jika mereka melawan, kalian harus membunuh mereka juga seperti halnya Keluarga Ying."
Setelah mengatakan hal itu, kapal kayu yang dinaiki oleh sepuluh orang itu bergetar sesaat dan kemudian secara mengejutkan naik ke atas udara dan melayang hingga mencapai ketinggian lebih dari seribu meter dari atas tanah.
Kapal kayu itu kemudian membentuk lapisan pelindung di sekitarnya, dan kemudian melesat pergi ke arah barat, dimana Daratan Utama berada.
__ADS_1