
Pada toko material itu, terdapat dua pintu masuk yang terdapat di kedua sisi toko yang menghadap ke jalanan. Lokasi tokonya sendiri berada tepat di perempatan jalan.
Weng Lou masuk lewat salah satu pintu masuk toko, sementara Weng Ying Luan masuk lewat pintu yang lain sehingga tidak saling berpapasan.
Toko material ini memiliki bangunan 3 lantai, dengan besarnya dua kali dari restoran yang sering di datangi Ying Luan. Dengan lantai satunya memajangkan beberapa bahan material umum yang dipakai dalam pembuatan senjata tingkat 1 sampai tingkat 3.
Tentunya, kualitas material di bagian lantai satu itu cukup bagus untuk bahan pembuatan senjata pada umumnya. Weng Lou memilih untuk melihat-lihat semua material yang dijual di lantai satu. Dia berencana membuatkan Du Zhe serta para awak kapalnya yang lain sebuah senjata khusus, namun dia tidak memiliki bahan yang cocok dengan tingkat praktik mereka.
Tentu dia lebih mengutamakan untuk membeli bahan material untuk memperkuat kapal uapnya, tapi tidak ada salahnya hanya melihat-lihat saja. Banyak orang-orang seperti dirinya yang hanya melihat-lihat saja, jadi bukan masalah besar apakah dia membelinya atau tidak.
Sementara itu, Ying Luan sama sekali tidak melirik satupun bahan material yang ada di lantai satu, dia memilih untuk langsung naik ke lantai selanjutnya. Bahkan dia tidak menoleh sedikitpun pada Weng Lou yang saat ini sedang asik melihat-lihat kotak-kotak kayu berisikan banyak sekali logam-logam yang dijadikan bahan pembuatan senjata tingkat 2 dan 3.
Ketika Weng Lou masih asik melihat-lihat, seorang pelayan berjalan mendekati dirinya dan berdiri di sampingnya.
"Permisi pelanggan, bisakah saga tau apa yang anda cari? Mungkin aku bisa membantu. Saya adalah salah satu pelayan di toko ini yang hapal semua bahan-bahan material yang dijual di sini, anda bisa menanyakan bahan yang anda cari, dan saya akan membantu anda menemukannya," pelayan itu berbicara dengan tenang kepada Weng Lou yang menoleh ke arahnya.
Dia adalah seorang gadis yang berumur tidak lebih dari sembilan belas atau dua puluh tahun. Wajahnya cukup cantik dan memiliki proporsi tubuh yang bagus, ditambahkan dengan rambut coklatnya, membuatnya terlihat sangat menawan. Toko ini cukup pintar untuk mempekerjakan seorang gadis cantik seperti dirinya. Jika ada pelanggan berhidung belang masuk ke toko ini, dia yakin gadis ini akan bisa menguras semua isi dompetnya.
Tapi Weng Lou tidak tertarik dengan kecantikan atau tubuhnya, dia lebih tertarik dengan pengetahuan gadis ini.
"Oh, bagus sekali! Bisakah kau memberitahuku harga perbongkahan logam-logam ini? Juga, dimana aku bisa menemukan bahan-bahan untuk pembuatan dan penguat kapal?" tanya Weng Lou sambil memasang wajah penasarannya.
Gadis itu dengan cepat menjawab Weng Lou, "Untuk material logam di lorong ini, semuanya dimulai dari 100 sampai 500 koin emas per bongkahannya. Sementara bahan pembuatan dan penguatan kapal ada di lantai tiga toko kami."
Jawaban cepat dari pelayan tersebut membuat Weng Lou mengangguk puas. Tidak hanya pelayan ini memiliki wajah dan tubuh yang bisa dijadikan pancingan untuk menarik para laki-laki, namun tutur kata dan sikapnya benar-benar bagus. Gadis ini bisa menjelaskan dengan sesuatu dengan sangat jelas dan mudah dipahami.
Sepertinya kota-kota besar di Daratan Utama ini memang memiliki banyak orang-orang berpengetahuan seperti gadis ini, juga pedagang yang di temui oleh Weng Lou di pasar dermaga sebelumnya. Dia penasaran, apakah ada sistem pendidikan yang merata di Daratan Utama ini sehingga orang-orang yang bahkan bukan Praktisi Beladiri sekalipun bisa memiliki pengetahuan yang luas.
Weng Lou pun mulai menanyakan harga logam-logam lain di sekitar situ, dan pelayan yang bersamanya itu menjawab dengan sopan dan sabar.
Sebenarnya, wajah Weng Lou sudah masuk dalam daftar orang tidak boleh diganggu di Kota Tiesha. Para petugas di Kota Tiesha telah memberikan wajahnya dan informasi mengenai dirinya kepada beberapa toko besar, salah satunya adalah toko material yang Weng Lou kunjungi saat ini.
Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Ada kemungkinan para pedagang di Kota Tiesha tanpa sengaja menyinggungnya dan membuat emosi Weng Lou tersulut. Masalah paling ringan yang akan terjadi adalah Weng Lou hanya membunuh beberapa orang di tempat dia singgah, adapun kemungkinan terburuk, Weng Lou bisa saja mengeluarkan semua kekuatannya dan menyebabkan kekacauan di Kota Tiesha.
Seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa tidak pernah dianggap remeh, bahkan jika hanya berada di tahap 1 sekalipun.
Gadis pelayan yang menghampiri Weng Lou pun sebenarnya telah secara tiba-tiba disuruh oleh pemilik toko tersebut ketika melihat Weng Lou masuk ke dalam toko miliknya.
Weng Lou yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 bisa menghancurkan toko mereka jika dia mau. Oleh sebab itu dia harus memberikan Weng Lou pelayanan yang menyenangkan.
"Oke, kalau begitu bungkus kan aku logam-logam ini, masing-masing sepuluh bongkahan. Siapkan saja untukku dulu, aku akan naik dan melihat-lihat," ucap Weng Lou setelah puas menanyai beberapa logam yang menurutnya memiliki kualitas jauh lebih baik dari toko-toko yang sudah dia kunjungi sebelumnya.
Gadis pelayan itu mengangguk mengerti, dia pun memanggil beberapa penjaga untuk datang dan mengambil apa saja yang Weng Lou inginkan, sementara dia buru-buru naik mengikuti Weng Lou menuju lantai selanjutnya.
Lantai kedua dari toko material itu adalah pelelangan, dimana bahan-bahan material berharga untuk pembuatan Senjata Spiritual dijual. Tapi hanya ada beberapa saja yang diperjualbelikan, jumlahnya sangat sedikit dan hanya bahan Senjata Spiritual tingkat 1 dan 2 saja yang ada di situ.
Terlihat beberapa orang sedang duduk manis di bangku-bangku yang disusun dengan rapi menghadap panggung kecil dimana seorang pembawa acara pelelangan sedang memamerkan sebuah logam berwarna biru langit yang sesekali memercikan listrik. Untungnya logam itu dimasukkan kedalam sebuah kotak kaca sehingga percikan listrik tersebut tidak mengenai seseorang.
"Hooo....bahkan Logam Nadi Petir bisa kalian dapatkan, benar-benar sebuah toko material yang menarik." Weng Lou memberikan komentarnya. Gadis pelayan yang bersamanya mengangguk berterima kasih atas pujian Weng Lou.
__ADS_1
"Apakah anda berminat untuk mengikuti lelang?" tanya gadis itu pada Weng Lou dengan penasaran.
Pemuda yang sedang dia layani ini sedikit lebih muda darinya secara penampilan, namun pemimpin mereka sampai menyuruhnya untuk melayaninya dengan baik. Pengetahuan pemuda ini juga cukup bagus, dia penasaran siapa identitas Weng Lou yang sebenernya.
Mendengarkan pertanyaan gadis itu, Weng Lou segera menggelengkan kepalanya, "Aku sudah punya beberapa, hanya saja belum sempat menggunakannya. Logam itu tidak cocok dibuat menjadi Senjata Spiritual tingkat 1 atau 2, daya kerusakannya bisa menyebabkan bahan material lainnya ikut menjadi rusak dan pencampuran ketika pembuatan senjata akan berakhir gagal."
"Lebih baik menggunakannya untuk membuat senjata murni dengan hanya logam itu saja, atau memilih menggunakannya sebagai bahan campuran untuk pembiayaan Senjata Spiritual tingkat 3. Rata-rata bahan untuk Senjata Spiritual tingkat 3 memiliki sifat alaminya sendiri, sama seperti Logam Nadi Petir."
Komentar Weng Lou itu didengarkan dengan baik oleh gadis pelayan itu. Wajahnya menunjukkan ketakjuban saat mendengar Weng Lou yang menjelaskan semua itu seolah-olah dia sangat berpengalaman dalam hal pembuatan senjata, terutama Senjata Spiritual tingkat 3.
Suara Weng Lou yang berbicara nyatanya bisa didengar oleh semua orang di lantai dua, dan menarik perhatian orang-orang yang sedang duduk dan bersaing harga untuk bisa membawa pergi Logam Nadi Petir itu. Mereka menatap Weng Lou dengan berbagai macam tatapan, ada yang melihatnya seperti seorang anak kecil yang asal bicara dan hanya mengatakan omong kosong belaka, ada yang melihatnya dengan tatapan mata tertarik seolah ingin mengetahui identitas nya, dan ada juga yang melihatnya dengan kebingungan karena tidak mengerti apa yang dibicarakannya.
Weng Lou yang menyadari itu pun tersenyum kecil lalu meminta maaf pada mereka, "Maafkan aku karena mengganggu kalian semua, silahkan kembali lanjutkan apa yang sedang kalian lakukan, aku tidak akan menggangu lagi, sampai jumpa."
Dengan tenang Weng Lou melangkah pergi dan segera menaiki tangga menuju ke lantai 3, dimana dijual bahan-bahan material untuk pembuatan kapal.
Akan tetapi, sebelum dia bisa melangkah lebih jauh, seseorang telah menghentikannya terlebih dahulu.
"Hei nak, darimana kau tau Logam Nadi Petir ini tidak cocok untuk pembuatan Senjata Spiritual tingkat 2? Memangnya kau pernah membuat Senjata Spiritual sebelumnya?" tanya seorang pria bertubuh kekar dan berpenampilan seperti seorang pandai besi pada umumnya.
Dia telah duduk selama berjam-jam di acara pelelangan ini demi menunggu Logam Nadi Petir itu dilelang. Dia berencana memakainya untuk membuat sebuah Senjata Spiritual tingkat 2 nantinya dengan Logam Nadi Petir tersebut. Namun entah dari mana Weng Lou datang dan mengatakan kalau Logam Nadi Petir itu tidak cocok untuk dibuat menjadi Senjata Spiritual tingkat 2 karena daya perusak yang secara alami dimiliki oleh logam tersebut bisa mengganggu bahan-bahan yang lain ketika dalam proses pembuatan.
Sebagai seorang pandai besi yang namanya setidaknya terkenal di seluruh Kota Tiesha, dia tidak bisa menerima kata-kata Weng Lou. Dirinya mampu membuat Senjata Spiritual tingkat 2 dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1 mengengah, itu adalah hal yang membuktikan kehebatannya.
Anak kecil seperti Weng Lou tidak layak memberikan komentar apapun tentang material logam di depannya.
"Jika aku mengatakan kalau aku pernah membuat Senjata Spiritual sebelumnya apakah kau bisa membiarkan aku pergi?" Weng Lou bertanya balik.
"Hmp! Jangankan Senjata Spiritual, jika kau bisa membuat senjata tingkat 3 pusaka saja aku akan memberikanmu dua puluh ribu koin emas yang kubawa saat ini!" tantang pria tersebut.
Weng Lou tersenyum lebar. Berhasil! Dia dengan mudahnya memancing pria itu. Dirinya bisa membayangkan dua puluh ribu koin emas yang akan segera menjadi miliknya.
Dia pun kembali melangkah turun dengan langkah pasti lalu berjalan ke depan pria tersebut. Dengan jarak dua meter diantara mereka, Weng Lou bisa melihat perbedaan tinggi diantara keduanya. Weng Lou kira-kira hanya setinggi hidung pria itu saja membuatnya haru mengarah ke atas untuk menatap mata pria besar itu.
"Baiklah, sepakat. Kalian semua disini akan menjadi saksinya. Jika kau berani berbohong, maka....." Tangan kanan Weng Lou terangkat, lalu dikepalkan nya ke arah pria itu.
"Hmp, jangan banyak tingkah! Cepat buat saja jika kau bisa. Hei pelayan, ada ruangan di tempat ini untuk membuat senjata bukan? Aku akan menyewanya, jadi biarkan anak kecil ini menggunakannya untuk membuat mainannya."
Mereka pun segera beranjak pergi dari situ menuju ke bagian belakang dari panggung pelelangan, dimana banyak sekali pintu-pintu ruangan yang adalah tempat pembuatan senjata yang disewakan kepada para pelanggan.
Semua orang yang sebelumnya mengikuti pelelangan juga mengikuti keduanya dari belakang.
Weng Lou segera masuk ke dalam salah satu ruangan, dan pria yang menantangnya sebelumnya serta beberapa orang lain ikut masuk ke ruangan itu. Alhasil ruangan tersebut pun menjadi sempit dan pengap karena terlalu penuh dengan mereka.
Namun Weng Lou tidak mempermasalahkannya sama sekali, dia masih memiliki ruang untuk bergerak dan membuat senjata.
"Jika hanya Senjata Spiritual biasa, aku bisa membuatnya dengan mudah. Selama itu tidak memiliki bentuk khusus atau kemampuan bawaan, aku bisa membuatnya tanpa masalah berarti," ucap Weng Lou dengan santai.
Dia pun berjalan menuju ke pembakaran dan menyalakan api. Setelah itu, dia mengeluarkan beberapa bahan dari dalam Kalung Spasial nya dan meletakkannya di lantai sambil mengambil beberapa diantaranya sebelum kemudian melemparkannya masuk ke dalam tungku panas.
__ADS_1
*Shhuuu....!!!* Dia mengeluarkan sedikit Kekuatan Jiwa untuk mengatur api agar suhunya semakin naik.
Cara ini hampir sama seperti yang digunakan oleh para pandai besi pada umumnya, hanya saja mereka menggunakan Qi atau Tenaga Dalam.
Penggunaan Kekuatan Jiwa dalam pengendalian api untuk membuat senjata sebenarnya jauh lebih efisien karena lebih murni dibandingkan dengan Qi yang biasanya banyak mengandung unsur-unsur lain.
"Hei Paman, sebaiknya kau siapkan uangmu itu, akan kutunjukkan padamu bagaimana cara membuat senjata yang baik dan benar."
Weng Lou tersenyum lebar, dia kemudian mengeluarkan beberapa logam yang sebelumnya dia masukkan ke dalam tungku. Terlihat logam-logam itu telah berubah menjadi cairan logam yang bergabung menjadi satu.
Tangannya terayun dan dia segera mengeluarkan sebuah cetakan senjata belati dari dalam Kalung Spasial nya, lalu memasukkan cairan logam itu ke dalamnya.
*Tsshh!!!*
Setelah semua logam cair itu dimasukkan, Weng Lou kemudian mengambil lagi beberapa logam dan melemparkannya ke dalam api secara langsung. Dia tidak menunggu api itu melelehkan logam tersebut. Ketika dia melihat bahwa logam-logam itu sudah berubah warna menjadi merah terang, dia pun segera mengeluarkannya dan menempatkannya pada tempat menempa.
"Hufft...."
Weng Lou menarik napasnya, kini di tangan kanannya dia memegang salah satu palu latihannya.
Tanpa menunggu berlama-lama dia pun segera mengayunkan palu di tangannya itu dan memukul dengan keras logam panas di depannya. Satu pukulannya itu menyebabkan angin kencang yang berhembus dan membuat orang-orang yang menonton menjadi terdiam.
Dia kemudian melanjutkan mengayunkan palunya hingga beberapa kali sehingga logam panas itu dimurnikan hingga kotorannya menghilang sampai tak tersisa sedikitpun.
"Te-Teknik pemurnian macam apa itu? Dia tidak hanya menghilangkan semua kotoran pada logamnya, tapi juga membuat logam itu menjadi lebih padat dari sebelumnya!" Salah seorang yang menonton aksi Weng Lou berbicara dengan takjub.
Mereka pun mulai ribut dan mengatakan bahwa Weng Lou akan bisa membuat Senjata Spiritual. Pria yang menantangnya akan berakhir dengan membayar Weng Lou dua puluh ribu koin emas.
Uang sebanyak itu cukup untuk membeli bahan-bahan Senjata Spiritual tingkat 1.
Ketika semua orang yang mengikuti pelelangan menonton Weng Lou sedang membuat senjata, Weng Ying Luan sedang berkeliling di lantai tiga dan memasang raut wajah buruk. Tepatnya sangat buruk.
Uang yang dia miliki nyatanya masih belum cukup untuk membuat kapal yang mampu mengarungi lautan di barat Daratan Utama. Hal ini membuatnya merasa frustasi. Dia pun segera turun dari lantai tiga dan berencana melihat-lihat beberapa bahan yang harusnya sedang di lelang di lantai dua.
Namun begitu dia tiba, tidak ada siapapun di situ kecuali beberapa penjaga yang sedang berdiri menjaga barang-barang lelang.
"Hei, kemana semua orang? Bukankah harunya ada pelelangan di sini?" tanyanya dengan penasaran.
Kedua penjaga saling bertatapan dan kemudian salah satunya pun menjawab Ying Luan.
"Mereka sedang menonton seseorang yang membuat senjata. Dia adalah seorang pemuda yang paling tidak berusia tujuh belas tahun melihat dari postur tubuhnya. Dia bertaruh dengan salah satu peserta pelelangan untuk membuat Senjata Spiritual. Semuanya pergi menonton pemuda itu di belakang, di ruangan pembuatan senjata," jelas penjaga itu.
Weng Ying Luan pun mengangguk berterima kasih, dia melemparkan sekantung uang pada penjaga itu lalu ditangkap dengan cepat. Wajah penjaga itu berseri ketika menerima kantung tersebut, isi di dalamnya paling tidak lima puluh koin emas.
Berjalan kebelakang panggung, Weng Ying Luan kemudian menemukan sekelompok orang sedang berkumpul di depan pintu ruangan pembuatan senjata. Dia pun berjalan ke arah situ lalu mencoba melihat ke dalam ruangan. Akan tetapi tinggi tubuh orang-orang yang menonton di situ membuatnya tidak bisa melihat apapun.
"Ck, aku ingin melihat siapa pemuda itu. Tapi orang-orang ini menghalangi," gumam Ying Luan.
Dia pun menarik napasnya, lalu mulai terbang dan melewati bagian atas pintu. Dengan mudahnya dia masuk ke dalam ruangan itu dan melihat sosok seorang pemuda sedang sibuk menempa senjata yang dia buat.
__ADS_1
Ruangan itu gelap dan hanya ada pencahayaan dari tungku api. Namun dengan jelas Ying Luan bisa melihat wajah pemuda yang sedang membuat senjata itu. Mulutnya menganga lebar.
"Lou?!"