
Di waktu yang bersamaan dengan perginya Weng Ying Luan dan Lin Bei, di sebuah tempat yang sangat jauh dari lokasi Weng Lou menghilang, terdapat sebuah tempat yang sangat aneh dan misterius.
Tempat ini tampak seperti daerah pegunungan yang tandus. Aura kematian melayang di mana-mana di tempat ini. Tanaman atau bahkan hewan tidak bisa ditemukan dimana pun.
Hanya ada pegunungan tanpa kehidupan sejauh mata memandang.
Weng Lou saat ini berdiri di salah satu puncak gunung, dan sedang mengamati lingkungan sekitarnya. Dahinya mengerut ketika dia menyadari dirinya tidak bisa menggunakan Kekuatan Jiwa untuk memindai daerah di sekitarnya.
Dia masih bisa merasakan dan menggunakan Kekuatan Jiwa nya di sekitar tubuhnya, namun tidak bisa lebih dari itu. Seolah-olah, ada kekuatan yang menghalangi untuk menggunakan Kekuatan Jiwa nya. Weng Lou mengepalkan tangannya dan akhirnya memutuskan untuk menuruni gunung tempat dia berada.
Dari apa yang dia lihat, tempat ini tidak terlalu luas, hanya sekitar beberapa kilometer persegi luasnya. Seharusnya dia bisa memeriksa tempat ini dengan cepat.
Weng Lou memutuskan untuk berjalan-jalan dan melihat-lihat gunung tempat dia berada saat ini. Namun, tidak ada hal yang istimewa dari gunung tersebut. Satu-satunya hal yang membuatnya tertarik adalah aura kematian yang sangat kuat yang dipancarkan oleh gunung tempat dia berada saat ini.
Setelah puas memeriksa, akhirnya Weng Lou memutuskan untuk pergi melihat gunung yang lainnya dan menuruni gunung tempatnya sekarang.
Ketika dia menuruni gunung, mendadak langkah kakinya segera berhenti, dan dia menoleh ke belakang dengan cepat.
Tidak ada apapun. Alisnya terangkat. "Aku merasa seperti sedang ditatap dari belakang, namun tidak ada orang di tempat sama sekali di sini. Hmmm.....sangat aneh...."
Weng Lou segera kembali melangkahkan kakinya, menuruni gunung.
Ketika dia sudah berjalan sejauh beberapa puluh meter, sebuah bayangan hitam muncul dan berdiri di lokasi yang dilihat oleh Weng Lou sebelum.
Sosok bayangan itu tampak seperti kabut hitam tanpa wajah. Tidak ada mata, namun dia terlihat sedang melihat ke arah Weng Lou di bawah. Setelah beberapa saat, bayangan itu berpencar di udara dan menghilang begitu saja.
Beberapa menit berlalu, Weng Lou kini menemukan dirinya telah berada di sebuah lembah yang diapit oleh tiga gunung yang berbeda. Gunung-gunung yang membentuk pegunungan di sini tidak terlalu tinggi, sehingga dia bisa dengan cepat berjalan menyusurinya satu persatu.
__ADS_1
Dua belas jam kemudian, Weng Lou telah selesai menelusuri lebih tiga puluh gunung, namun mendapatkan hasil yang sama, hanya aura kematian saja yang bisa dia temukan di setiap gunung. Tidak ada tanaman, lumut sekecil apapun tidak bisa dia temukan. Ada pun binatang, bahkan kutu tidak ada di semua gunung yang dia telusuri.
"Tidak ada tanaman, tidak ada binatang, orang juga tidak ada. Bahkan apa yang semakin membuat semuanya aneh adalah Aura Kematian yang ada di tempat ini. Bagaimana bisa ada sebuah tempat dengan Aura Kematian sedemikian rupa namun tidak ada tanda-tanda bekas kehidupan apapun sedikitpun?"
Jika ada Aura Kematian, maka seharusnya tempat ini pernah ada kehidupan dulunya. Namun dari yang apa Weng Lou perhatikan, dia tidak menemukan bekas apapun.
Entah itu tulang dari hewan dan manusia, atau pun bekas-bekas sisa tanaman, tidak ada. Hanya ada pegunungan yang terbuat dari beberapa gunung yang tanahnya mengeras.
Dia tidak tau apakah dia harus memeriksa sisa gunung yang ada. Jika tidak ada apapun yang bisa dia temukan, maka itu sama saja dengan membuang-buang waktu melakukan hal yang tidak memiliki hasil.
Namun, Weng Lou tidak menyadari, bahkan saat ini ada tiga puluh sosok bayangan yang kini berkumpul dan sedang melihatnya di salah satu puncak gunung. Ketiga puluh sosok bayangan itu tampak persis sama dari tampilan mereka, kecuali untuk bentuk dan tinggi mereka. Ada beberapa yang tingginya dia meter lebih, dan membuatnya tampak seperti raksasa kecil, tapi ada juga yang bertubuh pendek, sekitar satu setengah meter saja. Ada yang memiliki bentuk seperti seseorang yang bertubuh besar, ada juga yang tampak kurus.
Semuanya menatap pada Weng Lou, namun tidak bisa di rasakan olehnya. Ini karena Kekuatan Jiwa nya tidak bisa dipakai untuk memindai, dan juga karena Aura Kematian yang ada di tempat ini membuat insting alaminya menjadi tumpul.
"Ah, sudahlah. Lagi pula aku tidak bisa kemanapun. Aku akan memeriksa semua gunung sebelum memikirkan apa yang harus aku lakukan selanjutnya."
Gunung kelima puluh. Gunung keenam puluh. Gunung ketujuh puluh. Ketika dia sampai di gunung yang kedelapan puluh, jumlah bayangan yang mengikutinya kini telah mencapai jumlah tujuh puluh sembilan.
Saat dia selesai memeriksa gunung kedelapan puluh, satu bayangan hitam lainnya bertambah dan kini akhirnya Weng Lou menunjukkan tanda-tanda gelisah.
Kepalanya berputar ke belakang dan dia segera melihat kedelapan puluh bayangan yang sedang menatapnya dari arah gunung yang telah dia periksa sebelumnya. Dahinya mengerut. Dia sedikit berjalan mundur dan siap untuk pergi secepatnya dari tempatnya saat ini.
Namun, sebelum dia sempat kabur, kedelapan puluh bayang itu segera menghilang di udara. Bulu kuduknya berdiri. Dengan cepat dia melompat mundur dari tempatnya berdiri. Hampir pada saat yang sama setelah dia melompat, kedelapan puluh sosok bayangan yang sebelumnya menghilang kini muncul begitu saja di tempatnya berdiri beberapa saat yang lalu.
Ketika sosoknya sangat dekat dengan sosok-sosok bayangan tersebut, aura hitam mendadak keluar dari dalam tubuh Weng Lou, seperti air yang bocor dari dalam sebuah wadah.
Kulit kepala Weng Lou terasa mati rasa. Dia tidak pernah mengalami hal yang seperti ini.
__ADS_1
Tepat ketika dia akan mendarat di atas tanah, semua sosok bayangan itu sekali lagi menghilang dan muncul di tempat yang akan Weng Lou mendarat.
Weng Lou menggertakkan giginya. Kaki kanannya segera menendang udara, dan sebuah ledakan tercipta di udara yang Weng Lou tendang. Tubuhnya segera berubah arah.
Namun asap hitam dari dalam tubuhnya justru semakin banyak tumpah keluar dan memenuhi Weng Lou dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Meski dia bergerak dengan insting karena merasakan sesuatu yang aneh, namun perasaan yang dia rasakan bukanlah perasaaan bahaya yang biasanya dia rasakan.
Ini, seolah-olah bayangan-bayangan tersebut sama sekali tidak berniat melukainya sedikit pun.
Tidak tau harus melakukan apa, Weng Lou memilih untuk terus menghindar dari bayangan-bayangan itu. Sampai dia tau bahwa mereka tidak berbahaya, dia tetap akan menjauh dari mereka.
Tapi apakah bayangan-bayangan itu mau menghindarinya? Tidak! Mereka justru tampak semakin bersemangat mengejar Weng Lou!
Pada satu waktu, ketika Weng Lou akan menendang udara untuk kesekian kalinya, mendadak semua sosok bayangan telah muncul dan mengelilinginya.
Jantung Weng Lou hampir berhenti berdetak karena hal itu. Dia hendak menendang udara ke bawah, namun tubuhnya tidak mau mendengarnya.
"Tidak perlu takut, kami tidak akan melukai mu."
Sebuah suara mendadak terdengar di dalam kepala Weng Lou dan menyebabkan ekspresi wajahnya segera berubah.
Jika ada orang lain yang mengatakan hal seperti itu kepada Weng Lou setelah mengejarnya sedemikian rupa, maka Weng Lou tidak akan mempercayainya. Namun anehnya, Weng Lou secara alami mempercayai suara itu. Hal ini karena suara yang berbicara kepadanya merupakan suara yang dia kenal.
Asap hitam pun berhenti keluar dari dalam tubuh Weng Lou. Sosok-sosok bayangan yang mengelilingi Weng Lou mendadak bergetar hebat. Bayangan mereka mendadak memadat dan membentuk tubuh manusia. Setelah beberapa saat akhirnya mereka berhenti bergetar.
Kini mereka semua bukan lagi sosok-sosok bayangan, melainkan sosok-sosok manusia. Namun mereka semua secara mengejutkan memiliki wajah yang sama.
Mereka semua memiliki wajah yang persis dengan.........Weng Lou!
__ADS_1