
Pernyataan dari Weng Lou membuat semua orang terdiam dan menatapnya dengan aneh dan kebingungan.
Para prajurit yang mengelilingi Weng Lou saling berpandangan satu sama lain. Mereka mulai bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan isi kepala Weng Lou saat ini.
Tidak hanya dia berani menyusup ke tengah kota, dia bahkan dengan jelas mengatakan bahwa dia akan melakukan perampokan.
Suara tawa segera pecah dari para prajurit, dan mereka pun segera memasang ekspresi mengejek pada Weng Lou yang malah menatap mereka dengan bingung.
"Nak, kau sepertinya baru saja mencari mati. Tidak hanya berani menyusup ke tempat ini, kau bahkan mengatakan ingin merampok kami? Hahaha....jangan bercanda!" salah satu prajurit mencibir Weng Lou dan menertawainya.
"Dengar nak, lebih baik kau menyerahkan dirimu baik-baik dan kami tidak akan membunuhmu. Sekarang, turunkan bocah itu, dan biarkan kami menangkap mu."
Berkedip beberapa kali, Du Zhe yang ada di tangan Weng Lou pun saling bertukar pandang dengan Weng Lou dengan wajah bingung.
"Hei, siapa yang terkuat dari mereka?" tanya Weng Lou kepada Du Zhe.
Du Zhe diam sejenak. Dia mengingat-ingat selama beberapa waktu.
Dia baru berada 1 tahun di sini, tapi meski begitu dia sangat paham seluk beluk kota ini, dan kekuatan dari para prajurit yang bertugas menjaga di kota ini.
Setiap pemimpin dari kota seperti tempat mereka berada ini adalah prajurit terkuat, yang memiliki kekuatan diluar imajinasi nya. Pernah dia melihat pemimpin dari para prajurit di sini menghancurkan sebuah batu setinggi orang dewasa dalam sekali pukul dan itu benar-benar membuatnya semakin ingin menjadi seorang Praktisi Beladiri yang sesungguhnya.
"Emmm...aku tidak yakin, tapi aku pernah melihat pemimpin para prajurit ini bisa menghancurkan sebuah batu seukuran orang dewasa dalam satu pukulan," ucap Du Zhe dengan menatap ke dua mata hitam Weng Lou.
Du Zhe sedikit terkejut menyadari bahwa mata itu sangatlah dalam dan dia sampai susah untuk melepaskan tatapannya.
Weng Lou diam sejenak dan mengangguk mengerti. Dia kira-kira bisa mempertimbangkan seberapa besar kekuatan milik pemimpin prajurit ini.
"Jadi seperti itu yah...."
Weng Lou pun mengangkat kepalanya, dan menoleh ke arah para prajurit yang terlihat sedang memperpendek jarak mereka dengannya, sedikit demi sedikit. Mereka tidak menyadari bahwa Weng Lou sudah menyadari hal itu dan terus maju mendekatinya.
"Hei, panggilkan aku pemimpin kalian!" kata Weng Lou sambil tersenyum pada mereka semua.
Langkah semua prajurit itu pun terhenti mendengar perkataan Weng Lou dan kembali memasang senyum mengejek mereka.
"Ha! Apa kau pikir kau layak untuk bertemu dengan pemimpin kami?! Kau yang sudah terkepung seperti ini masih bisa berlagak sombong ternyata!" cibir salah seorang prajurit.
"Hei nak, lebih baik kau lakukan seperti yang kami minta padamu sebelum kesabaran kami ini habis!"
Melihat sikap mereka itu, Weng Lou tidak bisa tidak menghela napasnya. Dia pun menurunkan Du Zhe kembali di atas tanah dan membuat para prajurit itu mengira bahwa dia benar-benar akan menyerah.
"Bagus! Sekarang berlutut di tanah, dan biarkan kami mengikat-"
Mendadak, tinju Weng Lou mendarat pada prajurit yang sedang berbicara padanya dan membuat sosok prajurit itu terbang dan menabrak para prajurit lainnya yang berada tidak jauh di belakangnya.
Mereka semua terdorong hingga kemudian menabrak salah satu bangunan di belakang mereka dan membuat dinding bangunan itu pun jebol karena tabrakan dengan tubuh mereka.
Mulut semua orang yang ada semuanya terbuka lebar melihat dinding bangunan yang telah jebol tersebut dan kemudian menatap Weng Lou yang saat ini masih dalam posisi meninjunya.
"Ah, aku sepertinya terlalu berlebihan. Berada di ranah Penyatuan Jiwa ternyata membuatku semakin sulit mengontrol kekuatanku," ucap Weng Lou dengan santainya.
"Se-Serang dia!!"
Para prajurit pun segera bergerak ke arah Weng Lou dan menyerangnya dengan tongkat kayu yang telah mereka pegang masing-masing.
Tongkat-tongkat kayu diayunkan dan bergerak ke arahnya dan Du Zhe yang bersamanya.
Du Zhe terlihat telah menutup matanya dan menunggu dirinya menerima semua pukulan tersebut. Dia belum pernah menerima pukulan dari tongkat kayu sebanyak itu, dan dia hanya bisa berdoa agar bisa selamat setelah menerimanya.
Tapi kemudian, setelah beberapa saat, tidak ada satu tongkat kayu pun yang mengenainya dan membuat dia kembali membuka matanya dan melihat bahwa semua tongkat kayu yang mengarah padanya kini telah ditahan oleh Weng Lou menggunakan tubuhnya.
Tidak ada ekspresi kesakitan dari Weng Lou setelah menerima semua pukulan itu, dia justru terdengar tertawa kecil melihat wajah terkejut para prajurit yang melihat Weng Lou menahan semua pukulan itu.
Dari banyaknya situasi yang telah mereka alami, ini adalah yang paling mereka takutkan. Datangnya seorang ahli beladiri yang sangat kuat di kota ini yang kemudian mereka hadapi sebagai musuh.
"E...hehehe...kami hanya bercanda saja kok...ahaha....tolong Tuan Muda berbaik hati dan memaafkan kami...."
__ADS_1
Salah seorang prajurit yang berhadapan langsung dengan Weng Lou terkekeh dan perlahan menarik tongkat kayunya kembali sementara Weng Lou telah memasang senyum dinginnya.
"Ahaha....tenang saja kok, aku ini orangnya murah hati....hahaha...."
Buck!!!
Seperti angin, tinju Weng Lou segera melayang di wajah prajurit itu dan membuatnya menghantam tanah dengan kuat.
"Hmp!"
Weng Lou menghentakkan tubuhnya, dan tongkat-tongkat kayu yang mendarat di tubuhnya pun segera terhempas bersama dengan para prajurit yang memegang tongkat kayu tersebut.
"""Aaahh!!!"""
Bagai dedaunan yang jatuh dari pohon, tubuh para prajurit itu pun semuanya berjatuhan ke tanah. Terlihat beberapa prajurit memasang ekspresi kesakitan dan tetap terbaring di atas tanah, sementara sisanya yang masih kuat berusaha bangkit berdiri dan membalas menyerang Weng Lou meski sadar bahwa mereka bukan tandingan Weng Lou sekalipun.
Para prajurit ini, meski terlatih secara fisik, namun mereka hanyalah Praktisi Beladiri Dasar Pondasi tingkat 2 dan 3, yang terkuat hanya setengah langkah saja naik ke tingkat 4.
Walau begitu, mereka tetap lah bukan tandingan Weng Lou yang sudah lebih dari empat bulan yang lalu naik ke ranah Pembersihan Jiwa dan telah naik ke ranah Penyatuan Jiwa beberapa hari yang lalu.
Bahkan jika dia dikeroyok 1.000 orang yang berada di Dasar Pondasi tingkat 12 sekalipun, dia paling banyak hanya akan kelelahan saja tanpa mengalami luka sedikitpun. Itu sudah menjelaskan bahwa mau bagaimana mereka berushaa, mustahil untuk mengalahkan Weng Lou.
Namun tanggung jawab mereka sebagai prajurit yang ditugaskan untuk mengawasi para budak di kota ini membuat mereka tidak bisa menyerah begitu saja jika tidak mau dijatuhi hukuman mati oleh sang Kaisar.
"Haaa!!"
Sebuah ayunan tongkat kayu mengarah lurus ke mata Weng Lou yang kemudian segera ditahan menggunakan satu jari oleh Weng Lou.
"Sudah aku bilang, panggilkan pemimpin kalian ke sini. Apa kalian masih tidak mengerti?" Weng Lou menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ck...jangan gentar! Jumlah kita ada puluhan! Bahkan jika dia sangat kuat sekali pun, dia pasti akan berhasil kita kalahkan!" Terlihat salah seorang prajurit yang berada dalam kondisi paling sehat berusaha tetap meneguhkan semangat para prajurit yang telah hampir putus asa.
Weng Lou menghela napasnya. Perlu dia akui, prajurit ini cukup teguh pendiriannya. Sangat disayangkan sekali dia malah mengabdi pada seseorang yang salah.
Tangan Weng Lou pun memegang tongkat yang dia tahan, lalu mencengkeramnya erat dan menghancurkannya begitu saja. Prajurit yang memegang tongkat kayu itu pun terduduk di tanah karena terkejut dengan tindakan Weng Lou.
"Baiklah, cukup dengan main-mainnya. Biar aku yang membuat dia datang sendiri kepadaku," ujar Weng Lou.
Perlahan cengkraman pada tangan Weng Lou semakin erat dan membuat prajurit itu menjerit kesakitan hingga orang-orang yang mendengarnya sampai merasa ngeri sendiri.
"AAAAARGHH!!! KEPALA KUU!!!! TOLONG!!!! TOLONG HENTIKANNN!!!! KEPALAKU BISA HANCUR!!!! KUMOHON!!!! AAARGGHHH-"
BAM!!!
Dalam satu kali hentakan, cengkraman Weng Lou pun menghancurkan tengkorak prajurit itu dan membuatnya menghembuskan napas terakhirnya. Tubuhnya langsung lemas dan menggantung di udara karena Weng Lou masih memegang erat kepalanya.
Para budak yang menonton sampai harus memalingkan wajah mereka karena tidak tahan dengan itu. Bahkan beberapa prajurit lain terlihat muntah menyaksikan apa yang terjadi kepada teman mereka.
Shu- buck....
Dengan santainya, Weng Lou melemparkan tubuh prajurit yang sudah tak bernyawa itu ke samping, lalu mengelap tangannya pada celananya.
Berada di belakangnya, Du Zhe yang melihat semua kejadian itu hanya diam membeku di tempatnya tanpa berani bergerak sedikitpun. Dia tanpa sadar telah menyelamatkan seorang monster paling berbahaya yang bahkan dia tidak tau apakah dia juga akan bernasib sama seperti prajurit tersebut.
Yang dia tau saat ini, jika dia berbuat sesuatu yang aneh mungkin dia akan dibunuh langsung oleh Weng Lou.
"Kalian lihat? Apa kalian semua juga ingin bernasib sama seperti teman kalian ini?" tanya Weng Lou dengan tatapan dingin kepada para prajurit yang ada.
Semua prajurit pun menelan ludah mereka. Jelas mereka tidak mau bernasib sama dengan teman mereka itu.
Di saat mereka semua masih diam di tempat mereka, dari belakang Weng Lou sosok seorang prajurit yang memiliki tubuh besar dan memakai baju pelindung yang terlihat jauh lebih mahal dari prajurit lainnya melesat ke arah Weng Lou dengan sebuah pedang di tangannya yang telah dia ayunkan pada leher Weng Lou.
Beberapa saat yang lalu, saat Weng Lou mendarat di tengah kota dan menyebabkan keributan.
Di dalam sebuah bangunan yang merupakan markas para prajurit.
Pemimpin prajurit yang bertugas untuk memimpin para prajurit di kota tempat Du Zhe dipekerjakan sebagai budak sedang menikmati sepiring bakpao miliknya saat seorang prajurit memberitahu nya mengenai kemunculan Weng Lou.
__ADS_1
"Apa? Kenapa repot-repot memberitahuku sesuatu yang tak berguna seperti itu? Paling dia hanyalah seorang budak dari kota lain. Cukup lumpuhkan dia, dan bawa dia kembali ke kota tempat dia dipekerjakan, tidak perlu membunuhnya," ucap pemimpin prajurit itu dengan santai sebelum melanjutkan makannya.
Tak lama kemudian prajurit lainnya datang dan memberikannya berita bahwa Weng Lou adalah seorang Praktisi Beladiri dan telah berhasil melukai beberapa prajurit bawahannya.
Brak!
Pemimpin prajurit itu memukul meja dan menatap dengan jengkel prajuritnya yang memberinya berita itu. Di saat jam makan paginya ini, dirinya malah harus mendapatkan gangguan.
Dia mulai mengutuk Weng Lou, dan bersumpah akan mematah-matahkan tulang-tulangnya jika dia sampai di sana. Segera dia pergi ke tengah kota, dimana Weng Lou berada.
Saat dia sampai, terlihat Weng Lou baru saja membunuh salah satu prajurit bawahannya. Melihat hal itu, napsu membunuhnya pun langsung mengalir keluar dari dalam tubuhnya.
Pedang di pinggangnya dia keluarkan, dan dengan cepat dia pun menerjang ke arah Weng Lou, siap menebasnya dengan pedang di tangannya.
Weng Lou yang menyadari kedatangannya pun tetap diam tanpa bergerak sedikitpun.
Tsk-!
Pedang itu mengenainya! Tapi kemudian terlihat bahwa pedang itu berhenti bergerak begitu menyentuh leher Weng Lou, tanpa melukai kulitnya sama sekali.
Krackkk..... prakk...
Pedang milik pemimpin prajurit itu patah menjadi dua setelah mengalami keretakan. Mulut pemimpin prajurit itu terbuka lebar melihat pedang miliknya yang merupakan sebuah senjata tingkat 2 telah hancur di depan matanya begitu saja setelah menghantam leher Weng Lou.
Weng Lou pun berbalik dan terlihat senyum menakutkan dari wajahnya.
WHUS-!!!
Tangan kanan Weng Lou bergerak sangat cepat dan memukul perut pemimpin prajurit itu, hingga membuatnya terhempas dan menabrak tembok kota yang berjarak puluhan meter dari tengah kota.
Kepala orang-orang yang melihat itu ikut bergerak saat sosok pemimpin prajurit itu terbang dari tempat hingga mencapai tembok kota dan menabraknya dengan suara nyaring.
Mereka bisa membayangkan seberapa sakit hal yang dirasakan oleh sang pemimpi prajurit. Di sisi lain dengan ini mereka semua pun tau bahwa Weng Lou jauh lebih kuat dari si pemimpin prajurit yang berada di Dasar Pondasi tingkat 5.
Di tembok kota, sosok pemimpin prajurit yang menabrak dinding kota pun terduduk di tanah dan menatap ke arah Weng Lou dengan pandangannya yang agak kabur karena menerima benturan keras sebelumnya.
"Khock!" Dia termuntah darah, dan napasnya mulai sedikit melemah.
Saat dia berpikir bahwa semuanya akan berakhir begitu saja, nyatanya sosok Weng Lou mendadak telah muncul di hadapannya tepat ketika dia berkedip. Sekujur tubuhnya pun bergidik ngeri, dan tanpa sadar dia pun kencing di celananya.
Melihat hal itu Weng Lou pun segera menutup kedua hidungnya dengan tangannya.
"Ck...ck...ck...sudah besar tapi masih mengompol. Benar-benar tidak berguna," ucap Weng Lou sambil menggeleng kepalanya.
Pemimpin prajurit itu merasa marah dan malu di saat yang sama. Dia ingin sekali bangkit dan memukul Weng Lou saat ini, namun safar jika dia melakukan itu maka dia yang akan mati bahkan sebelum dia bisa melakukannya.
"Si-Siapa kau...?! Kau bukan berasal dari salah satu budak yang kabur..." Pemimpin prajurit itu bertanya pada Weng Lou dengan suara lemahnya.
"Hm? Kenapa juga aku harus memberitahu mu? Apa kau lupa, kau ini adalah musuhku? Berani mengayunkan pedang padaku, seharusnya sudah kubunuh kau sedari tadi. Tapi aku membutuhkan informasi yang banyak darimu saat ini, jadi kubiarkan kau untuk tetap hidup.
Itupun kalau kau memiliki informasi yang berguna untuk ku. Jika kau tidak memiliki nya, maka kau akan tetap kubunuh. Jadi katakanlah semua yang kau tau mengenai pulau ini, dan besar kekuatan orang terkuat di pulau ini. Mengerti?"
Mendengar kan perkataan Weng Lou, pemimpin prajurit itu pun segera mengangguk cepat tanpa berpikir lagi terlebih dahulu.
Pada saat ini hanya keselamatan nyawanya lah yang dia utamakan. Jika dia bisa tetap hidup dengan melakukan yang Weng Lou inginkan padanya, maka itu akan sangat bagus untuknya.
"Bagus, setidaknya kau lebih pintar dari para anak buah mu yang keras kepala itu. Jika saja kau terlambat datang, aku mungkin akan membunuh mereka semua tanpa terkecuali sampai kau datang."
Selesai mengatakan itu, Weng Lou pun segera memegang salah satu kaki pemimpin prajurit itu, lalu membawanya sambil menyeretnya di tanah ke tengah kota.
Hanya perlu waktu beberapa saat hingga keduanya sampai di tengah kota, dan terlihat semua prajurit yang sebelumnya masih bersemangat untuk bertarung melawan Weng Lou, kini telah sepenuhnya pasrah setelah melihat pemimpin mereka yang dikalahkan sekali pukul oleh Weng Lou.
"Nah, karena kalian semua ada di sini, dan pemimpin kalian juga telah aku kalahkan, maka mulai sekarang kota ini akan kuambil alih."
Catatan Penulis:
Damn, kirain kalau ikut simulasi maka nggk dikasih tugas Mapel, eh tetap dapat ternyata🗿
__ADS_1
************************************************
Words: 2249