Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 550. Berpisah & Pergi


__ADS_3

Malam hari di pelabuhan.


Weng Lou berjalan masuk ke sebuah toko yang menjual banyak jenis senjata. Mulai dari senjata baru yang belum pernah digunakan, hingga senjata bekas yang telah banyak kali digunakan sebelumnya.


Pemilik toko yang merupakan seorang pria gemuk bermata satu duduk dengan kedua tangannya terlipat saat melihat sosok Weng Lou berjalan masuk ke dalam tokonya. Sebelah alisnya sedikit terangkat saat melihat sosok Weng Lou yang hanya seorang anak remaja. Tapi dia tidak mengusir Weng Lou karena merupakan hal yang cukup sering anggota sebuah suatu sekte berkunjung ke toko miliknya, namun ini baru pertama kali ada yang berani seorang diri.


"Apa yang kau cari nak? Senjata untuk Praktisi Beladiri ada di sebelah kanan mu, sementara untuk senjata biasa dan bekas ada di kiri mu. Untuk harga, bisa dibicarakan belakangan, silahkan pilih senjata yang kau suka terlebih dahulu," ucapnya pada Weng Lou.


Weng Lou mengangguk mengerti dan segera berjalan menuju ke sebelah kiri nya. Pemilik toko itu hanya menatap Weng Lou sejenak sebelum kemudian mengalihkan pandangannya pada dua pedang kembar yang dililit oleh perban sehingga tidak menunjukkan sedikitpun bagaimana penampilannya. Matanya itu hanya menatap kedua senjata baru milik Weng Lou itu sejenak, sebelum kemudian perhatiannya teralih pada Weng Lou yang terlihat memilih banyak sekali pisau di salah satu kotak penyimpanan.


"Kenapa kau memilih banyak sekali pisau? Kau bisa memilih pisau berkualitas bagus di sebelah kananmu jika menginginkan pisau yang tahan lama. Harganya tidak akan jauh berbeda dengan pisau sebanyak yang kau pilih itu," ujarnya sambil menatap Weng Lou dengan keheranan. Akan tetapi Weng Lou tetap memilih lebih banyak pisau dan menempatkannya di depan dadanya hingga hampir menutupi setengah wajahnya.


Setelah puas memilih selama hampir lima menit, Weng Lou pun membawa semua pisau itu kepada pemilik toko bertubuh gemuk tersebut. Namun ternyata Weng Lou bekum selesai memilih senjatanya, setelah meletakkan semua pisau itu di atas meja, Weng Lou kemudian pergi lagi mencari beberapa bahan mineral yang diletakkan pada tong-tong kecil di dekat kemari yang berisikan senjata milik Praktisi Beladiri.


Weng Lou menghabiskan waktu lima menit lainnya untuk memilih bahan mineral tersebut. Dia menempatkan semua material yang dia pilih di samping tumpukan pisau yang dipilih sebelumnya.


"Berapa totalnya?" tanya Weng Lou tanpa panjang lebar.


Pemilik toko itu berkedip, dia perlu mencerna yang terjadi saat ini di depannya.


"Hei, berapa?" tanya Weng Lou sekali lagi yang langsung menyadarkan sang pemilik toko. "Ah? Iya....eh, itu....semuanya 91 koin emas."

__ADS_1


"Ini, ambil saja kembaliannya." Weng Lou melemparkan sekantong kecil berisikan koin emas yang berjumlah 100 koin emas kepada pria gendut itu, lalu kemudian berjalan pergi, berencana keluar dari toko senjata tersebut. Namun, sebelum dia keluar dari toko, pria itu menghentikannya.


"Ma-Maafkan aku, tapi uang mu ini cukup untuk membeli semua pisau yang masih tersisa dikotak itu. Jika kau mau, kau bisa membawa semua pisau itu bersama mu bersama dengan kotaknya," ucap pria gendut itu pada Weng Lou.


Langkah Weng Lou tampak terhenti dan dia menatap pria gendut itu sambil tersenyum senang, "Baiklah jika itu yang kau mau. Aku tidak akan sungkan untuk mengambilnya."


Total harga pisau yang dia beli hanya mencapai sepuluh koin emas saja, yang membuatnya mencapai harga 91 koib emas adalah harga dari bahan mineral yang dia pilih. Meski bahannya berkualitas rendah, namun semua bahan itu adalah bahan untuk membuat senjata tingkat 1.


Weng Lou melemparkan semua pisau yang sebelumnya dia beli ke dalam kota pisau yang dimaksud oleh sang pemilik toko senjata itu beserta beberapa bahan mineral yang dia beli. Dengan mudahnya dia mengangkat kotak kayu berisikan pisau-pisau bekas dan baru itu lalu membawanya pergi dari toko itu.


Weng Lou tidak kembali ke penginapan yang mereka sewa di malam sebelumnya, tetapi dia memilih untuk bersiap di sebuah tempa menempa yang bisa disewa sesuai waktu penggunaannya. Kapal uapnya telah pergi berlayar tanpa dirinya. Dia telah mengucapkan selamat tinggal pada para awaknya termasuk pada Du Zhe.


Setelah perpisahan yang sedikit dramatis karena Du Zhe yang menangis tak ada habisnya, akhirnya kapal itu pun berlayar meninggalkan pelabuhan. Dengan mengikuti rute khusus yang telah dibuat Weng Lou, kapal mereka itu bergerak menuju lokasi tersembunyi yang merupakan titik tunggu Weng Lou. Mustahil ada yang menemukan lokasi itu kecuali dia memiliki peta, atau mengikuti kelompok mereka dari belakang secara sembunyi-sembunyi.


"Haaaahh....aku pasti akan merindukan mereka semua," ucap Weng Lou dengan sedikit sedih namun segera dia mengalihkan perhatiannya pada pekerjaannya saat ini.


Pisau yang telah dia beli dari toko senjata sebelumnya, kini disusun sedemikian rupa di balik baju yang dia modifikasi seorang diri agar bisa menyembunyikan sebanyak mungkin pisau yang telah dia beli. Setelah selesai menyusun pisaunya, Weng Lou kemudian melanjutkan dengan menempa kembali kedua pedang kembarnya dengan bahan mineral yang dia beli bersama pisau-pisau nya.


Bahan mineral ini berfungsi sebagai penyamaran semata, agar dia tidak terlalu dicurigai. Kedua pedangnya ini bukanlah Senjata tingkat 3 atau Senjata Spiritual karena tidak diberikan Qi atau tenaga dalam sama sekali saat pembuatannya. Bisa dibilang sebenarnya mustahil ada yang mencurigai senjatanya ini, namun secara penampilan dan daya tahan serta ketajaman, senjata Weng Lou ini bisa membuat orang-orang di ranah Penyatuan Jiwa menjadi gila karenanya.


"Hehehe...tidak ada yang akan berpikir bahwa senjata buruk seperti ini ternyata adalah sebuah senjata yang bahkan sanggup memotong kulit binatang buas tingkat raja sekalipun dengan mudahnya," ujar Weng Lou dengan seringai jahatnya.

__ADS_1


Jika seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1 sampai 4 mencoba menahan serangan pedang ini tanpa menggunakan Qi sedikitpun, maka dia akan langsung terkena serangannya, Weng Lou bisa menjamin hal itu seratus persen selama yang dia hadapi tidak berspesialisai pada penguatan tubuh.


Kulit binatang buas yang memiliki kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa pada dasarnya memiliki pertahanan dan kulit yang sangat keras seperti Kera Hitam Petarung. Mereka secara alami memiliki ketahanan dan kekuatan di atas Praktisi Beladiri yang memiliki kekuatan di tingkat yang sama dengan mereka. Jadi jelas alasan mengapa Weng Lou sangat percaya diri terhadap senjatanya ini.


Sementara Weng Lou sibuk mempersiapkan semua senjatanya, dua sosok berjubah pakaian serba hitam terlihat sedang mengamati pelabuhan dari atas sebuah bangunan yang merupakan bangunan tertinggi di pelabuhan itu. Mereka berdua baru saja menemui pemimpin pelabuhan ini, yaitu Gubernur Haido.


Darinya mereka menemukan sebuah informasi penting, yaitu ada sebuah kapal yang baru 2 hari ini berlabuh di pelabuhan tersebut. Terdapat sebuah makhluk mengerikan yang ada di dalam kapal itu yang bahkan membuat sang Gubernur Haido tidak mau berurusan lebih jauh dengan sang pemilik kapal. Kapal yang dimaksudkan oleh sang Gubernur juga tampak berbeda dari kapal lainnya, yaitu tidak memiliki satupun layar di atasnya dan bisa bergerak dengan baik di atas air.


Hal ini membuat mereka berdua pun menjadi sedikit pusing, karena setelah selesai mendapatkan informasi tersebut, kapal yang mereka cari kini telah hilang dari pelabuhan. Dikatakan bahwa kapal itu telah pergi dari pelabuhan dengan terburu-buru. Sayangnya mereka tidak bisa pergi mencari kapal itu karena hari sudah malam sehingga akan sulit untuk mencari kemana perginya kapal itu.


Satu-satunya alasan mengapa mereka tidak pergi dari pelabuhan adalah karena mereka mendengar bahwa sang kapten kapal tidak ada di atas kapal saat kapal itu pergi. Ada kemungkinan bahwa sang kapten masih berdiam di pelabuhan ini.


"Aku akan mencari di seluruh wilayah barat, kau cari timur. Seharusnya akan cukup mudah menemukannya karena dia pastinya adalah orang yang kita cari-cari. Kekuatan yang dimilikinya harusnya bisa dengan mudah terdeteksi oleh kita," ucap salah satu dari mereka dan segera berpencar mencari keberadaan Weng Lou.


Tak berapa lama, sosok lainnya pun ikut melesat pergi dari situ.


Pagi harinya, di depan gerbang masuk pelabuhan. Weng Lou berdiri diantara balik pepohonan sambil menatap kelompok Sekte Bambu Giok yang berjalan keluar dari pelabuhan.


Dari tempatnya, Weng Lou bisa melihat dengan jelas sosok berjubah hitam yang merupakan bagian dari Sekte Bambu Giok mengikuti mereka secara diam-diam di balik bayang, sama seperti dirinya. Namun perbedaannya, lokasi Weng Lou sama sekali tidak diketahui sama sekali oleh orang itu.


"Baiklah, sekarang rute mana yang kalian akan pergi?" ucap Weng Lou dengan pelan. Matanya memancarkan tatapan penuh tipu daya dan kecerdasan secara bersamaan dan membuat dirinya tampak seperti seekor predator yang sedang mengintai mangsanya.

__ADS_1


__ADS_2