Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 606.


__ADS_3

Weng Lou yang terbang dengan cepat di langit berusaha memusatkan fokusnya pada bagian kota di dekat gerbang masuk wilayah dalam.


Menurut perkiraan nya, harusnya kelompok Ying Luan sudah berada di dekat gerbang masuk. Matanya terus bergerak dan mencari keberadaan mereka, hingga kemudian, matanya terpaku pada suatu tempat dimana beberapa siluet hitam terlihat melesat melewati jalanan kota.


Dia tersenyum. Segera, Kekuatan Jiwa nya dikeluarkan dan bergerak ke arah Ying Luan. Kecepatan Kekuatan Jiwa nya sangat luar biasa. Hanya dalam waktu satu detik, sudah bisa mencapai tempat Ying Luan berada.


Dengan pikirannya, Weng Lou pun mengirimkan pesan telepati padanya, "Luan, kau bisa mendengar ku?"


Di dalam kota, langkah kaki Weng Ying Luan berhenti perlahan. Dia mengerutkan keningnya ketika mendengar suara Weng Lou di dalam kepalanya.


"Ada apa? Apakah kau mengalami masalah?" tanya Weng Ying Luan yang menoleh ke kanan dan kirinya, mencoba mencari keberadaan Weng Lou.


"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Saat ini, aku sedang menuju ke bagian dalam Kediaman Keluarga Lin," balas Weng Lou dengan cepat.


Mendengar jawaban Weng Lou, Weng Ying Luan tidak bisa menahan rasa keterkejutannya. Dia seperti baru saja salah dengar.


"Kau-apa?! Bagaimana bisa?!"


"Ceritanya sedikit rumit, tapi yang jelas, Kepala Keluarga dari Keluarga Lin mendatangi ku dengan sendirinya, dan dia mengajak ku masuk ke bagian dalam kediaman. Saat ini situasi nya cukup aman, jadi kau bisa menjalankan rencana C. Tidak perlu menimbulkan keributan dan bawa masuk Du Zhe dengan diam-diam ke wilayah dalam. Setelah urusanku dengan Kepala Keluarga Lin selesai, aku akan langsung mencari kalian, mengerti?"


"Sial! Kau menyuruhku menyusup sambil membawa mereka semua?! Sudah sebuah keajaiban tidak ada yang menghentikan kami sejauh ini. Kau tau seberapa ketatnya pengamanan di wilayah dalam? Bahkan seekor tikus mustahil bisa masuk! Dan juga, apa maksudnya Kepala Keluarga Lin mendatangi mu? Hei! Cepat jawab aku!"


"Apa? Aku tidak bisa mendengar mu? A....ku... su....lit....men ...de....ngar....su....a...ra....mu...."

__ADS_1


Dengan begitu, Weng Lou dengan cepat menarik kembali Kekuatan Jiwa nya dan terbang melewati bagian atas gerbang wilayah dalam. Sebuah senyum menjengkelkan bisa terlihat jelas dari wajahnya.


Di sisi lain, Weng Ying Luan di dalam kota terdiam seribu bahasa ketika merasakan Kekuatan Jiwa Weng Lou yang menghilang sedikit demi sedikit. Beberapa urat kesal muncul di dahinya. Tidak dia sangka Weng Lou malah memutuskan telepati begitu saja. Benar-benar omong kosong.


Dia berbalik dan menatap Du Zhe dan yang lainnya secara bergantian. Dia harus memutar otak dan menemukan cara agar bisa secara sembunyi-sembunyi masuk ke wilayah dalam tanpa ketahuan. Meski hampir mustahil, tetapi masih ada sedikit harapan.


"Cih, mau bagaimana lagi. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti rencana. Lou sialan, akan ku minta bayaran darinya setelah semua ini selesai." Weng Ying Luan berbicara dengan nada kesal.


Mulai dari tempat mereka sekarang ini, Weng Ying Luan memutuskan untuk berhenti berlari, dan kembali berjalan seperti biasa. Karena ini adalah rencana penyusupan, dia harus bisa menemukan momen yang sempurna. Namun sebelum itu, mereka semua harus bisa menemukan titik buta dari gerbang masuk wilayah dalam.


***


Kastil Keluarga Lin.


Dengan dipimpin oleh Lin Nushen, Weng Lou pun berjalan menuju ke ruangan dimana sebelumnya Lin Nushen memberikan perintah pada kedua anaknya.


Di ruangan itu, hanya ada Weng Lou dan Lin Nushen. Sebelas orang prajurit Penguasa Jiwa menunggu di luar ruangan. Lin Nushen segera menyuruh Weng Lou untuk duduk di sebuah kursi yang dia munculkan dari udara kosong.


Weng Lou tidak melihat satu cincin pun di jarinya, yang mana berarti Lin Nushen menggunakan sebuah benda penyimpanan lain yang tidak diketahui oleh Weng Lou.


Tanpa ragu Weng Lou duduk di kursi itu. Dirinya tidak menaruh rasa curiga sedikitpun, yang mana membuat Nushen memasang wajah sedikit tertarik. Walau demikian, dirinya tetap memasang wajah dingin seolah-olah tak peduli sama sekali dengan pemuda di depannya.


"Sekarang, kita bisa memulai pembicaraan kita. Tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan kita di dalam sini. Seluruh ruangan memiliki jimat di tiap sudutnya yang mana membuat suara tidak keluar dari ruangan. Kau bisa mengatakan apapun yang ingin kau katakan padaku, Tuan Lou," ucap Lin Nushen.

__ADS_1


Sudut bibir Weng Lou terangkat dan dia sedikit menundukkan badannya ke depan.


"Aku ingin tau beberapa cerita darimu. Tentunya, aku tidak akan menerimanya dengan gratis, aku akan menjawab pertanyaan mu sebisaku sebagai bayarannya, bagaimana?"


Berkedip. Lin Nushen menatap Weng Lou dengan jauh lebih tertarik. Hingga akhirnya, wajah dingin nya perlahan menghilang dan digantikan dengan sebuah senyum misterius.


Dia menaikkan sebelah kakinya dan berbicara, "Sepertinya sikapmu terlalu santai dengan ku. Tidakkah kau tau bahwa kau saat ini sedang berada di tengah-tengah wilayah orang yang sebelumnya hendak kau susupi? Bahkan saat ini Kepala Keluarga Lin ada di hadapan mu, apa kau tidak berpikir sikap mu itu terlalu santai?"


"Hahaha....tentu saja aku tau hal itu. Bagaimana pun aku adalah penjahatnya di sini, dan kau adalah orang yang memergoki ku. Tapi kau tau? Hal yang membuat ku bisa sesantai ini berhadapan dengan mu adalah karena perasaan akrab yang aku rasakan ketika pertama kali menginjakkan kakiku di gunung tempat kediaman Keluarga Lin ini berada. Aku sendiri tidak tau apa alasannya, hahahaha......Ya, baiklah, aku akan menjawab semua pertanyaan mu sebagai penebusan karena telah menyusup masuk ke tempat ini, bagaimana?" Weng Lou berbicara sambil mengangkat kedua bahunya.


Tidak ada suasana tegang atau pun canggung di dalam ruangan itu. Dirinya berbicara dengan sesantai mungkin, bukan karena dia sengaja melakukannya, namun tubuh dan hatinya yang membuatnya seperti itu.


Lin Nushen diam sejenak setelah mendengarkan perkataan Weng Lou. Penawaran yang Weng Lou berikan sebenarnya tidak dibutuhkan olehnya karena Weng Lou sendiri pasti akan memberikan jawaban atas pertanyaannya.


"Baiklah, aku akan menerima tawaran mu itu. Kalau begitu, tolong jawab dengan jujur padaku. Apa....alasan mu....datang....ke tempat....ini?" Tanpa ragu Lin Nushen menanyakan pertanyaan yang membuatnya merasa janggal sejak pertama kali merasakan kedatangan Weng Lou ke wilayah kediaman Keluarga Lin nya.


Weng Lou tersenyum mendengar pertanyaan itu dan langsung menjawab cepat, "Ah, aku kira kau sudah tau. Beberapa orang dari Keluarga Lin yang kalian sebut sebagai Pasukan Pengejar telah mengambil paksa kapal ku, bahkan tanpa memberikan pemberitahuan padaku terlebih dahulu. Dari informasi yang kudapatkan, mereka seharusnya ada di sini. Jadi kedatangan ku kemari adalah untuk mengambilnya kembali, kuharap kau tidak mempermasalahkan hal ini."


"Hm! Aku tau masalah kapal itu hanyalah kedok mu saja. Kau menyembunyikan sesuatu, alasan sebenarnya dari kedatangan mu ke sini."


"Hahaha....tentu saja bukan karena kapal itu saja alasan ku ke tempat ini. Seperti yang aku katakan tadi, aku ingin mengetahui beberapa cerita dari mu."


"Hoo....dan cerita macam apa yang ingin kau dengar?"

__ADS_1


"Cerita tentang Perang Empat Keluarga Besar. Hm, atau mungkin aku harus mengatakannya, Lima Keluarga Besar? Ah, sama saja. Lagipula Keluarga Lou dulunya tidak ikut dalam perang, bukan? Aku ingin mengetahui cerita itu, tentu bukan cerita yang sering diceritakan oleh para anggota Empat Keluarga Besar, melainkan cerita aslinya. Aku ingin tau semuanya. Alasan perang itu bisa pecah, alasan Keluarga Weng memisahkan diri, dan alasan kenapa Keluarga Lin terpecah menjadi dua."


__ADS_2