
Tidak sulit mencari penginapan di Kota Hundan. Kelompok Weng Lou hanya memerlukan waktu beberapa menit sebelum menemukan sebuah penginapan yang sesuai dengan yang mereka inginkan setelah keluar dari bangunan Arena Pertarungan.
Itu adalah bangunan dengan dua lantai dan tampak tidak terlalu banyak pengunjungnya. Pang Baicha yang menyarankan penginapan ini kepada mereka. Selain sedikit orang yang mau menyewa di sini, pemilik penginapan ini juga mengenal Pang Baicha karena dirinya sering menginap disini.
"Aku pikir tidak akan pernah bertemu lagi denganmu, Baicha," ucap seorang pria tua yang berjalan dengan bantuan tongkatnya ke arah mereka begitu mereka masuk ke dalam penginapan tersebut.
"Oi Pak Tua! Aku pikir umurmu tidak akan bisa sepanjang itu untuk bisa melihat ku lagi!" sapa balik Pang Baicha yang tersenyum kepada pria tua itu.
"Huh?! Anak kurang ajar! Kau selalu menginap dengan setengah harga di sini, dan kau malah mengutukku?!"
Keduanya saling ejek satu sama lain, dan membuat kelompok Weng Lou yang lain merasa sedikit aneh. Pasalnya umur keduanya sangatlah terpaut jauh.
Meski Pang Baicha adalah seorang Praktisi Beladiri sekalipun, umurnya masih tetap jauh lebih mudah dari pria tua di hadapan mereka ini.
Jian Qiang berdeham pelan, barulah kedua berhenti saling mengatai satu sama lain.
"Ah, kau membawa teman-teman mu kali ini, huh? Aku ingatkan, harga setengah harga hanya berlaku jika kau sendiri, Baicha. Jika kau datang ramai seperti ini, harga itu tidak berlaku sama sekali." Pria tua itu berbicara sambil menunjuk wajah Pang Baicha.
"Siapa juga yang mau bayar harga setengah Pak Tua peyot?! Kami bahkan akan membayar mu dua kali lipat dari harga aslinya!" Pang Baicha balas dengan jengkel.
"Hohoho......kalau begitu ayo kita masuk, biar ku perlihatkan kamar yang kumiliki di penginapan ku ini, semoga sesuai dengan kriteria kalian ."
Pria tua itu pun berjalan menaiki kesebuah ruangan dan diikuti oleh Pang Baicha dan yang lainnya.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah lorong yang terdapat beberapa pintu yang berjejer rapi setiap beberapa meter. Tanpa ragu pria tua itu membuka salah satunya dan menyuruh Weng Lou dan yang lain melihat isi di dalamnya.
Mulut Weng Lou, Weng Ying Luan, dan Lin Mei terbuka lebar melihat dalam ruangan itu yabg ternyata adalah sebuah kamar. Tapi bukan karena itu ketiganya merasa terkejut, melainkan karena kelengkapan di dalam kamar tersebut kualitas dari barang-barang yang ada di dalamnya lah yang membuat ketiganya merasa terkejut.
__ADS_1
"Apakah ini bisa disebut sebagai kamar?" Itulah pertanyaan yang ada di dalam kepala mereka bertiga saat ini.
Ruangan kamar yang ada di depan mereka ini jika dibandingkan dengan semua kamar yang mereka pernah tidur di dalamnya maka itu semua tidak ada apa-apanya sama sekali.
Bayangkan saja, sebuah meja dan kursi yang terbuat dari giok merah, cangkir dan ceret dari giok putih dengan ukiran halus yang diberi lapisan emas, serta tempat tidur yang kainnya sangat lembut kemungkinan terbuat dari sejenis bulu binatang buas, bahkan hotel bintang lima di dunia nyata sekalipun tidak ada yang seperti ini.
Bahkan tanaman hias di sudut ruangan adalah sebuah pohon bonsai yang berusia cukup tua.
Tanpa sadar Pang Baicha menelan ludahnya. Alasan dia tanpa malu meminta setengah harga setiap kali dirinya menginap di tempat ini adalah karena harganya yang sangatlah mahal namun jauh lebih aman dibandingkan semua tempat yang ia tau.
Satu malamnya saja Pang Baicha harus menghabiskan 10 koin emas, dan bahkan itu sudah dipotong setengah, jika diberi harga aslinya maka akan menjadi 20 koin emas. Dirinya tidak tau apakah Jian Qiang mau tidur ditempat semahal ini, karena setaunya Jian Qiang bukanlah orang yang memilih-milih tempat untuk tidur.
"Apakah disini ada Arak Teratai Emas?" tanya Jian Qiang sambil memandangi yang terbuat dari giok merah di dalam kamar itu.
Pria tua yang bersamanya tertawa pelan, sebelum kemudian mengayunkan tangannya, dan mengeluarkan sebuah guci yang tertutup rapat pada lubangnya.
"Silahkan pilih kamar yang kalian inginkan, aku akan ada di ruang makan jika kalian mencari diriku. Jika kalian ingin menanyakan sesuatu, tanya saja Baicha, dia sudah hapal setiap sudut bangunan ini." Setelah mengatakan itu, pria tua itu pun pergi meninggalkan mereka semua.
Beberapa saat setelah pria tua itu pergi, Jian Qiang berjalan ke arah meja yang terbuat dari giok merah itu dan membuka guci yang ada di situ.
Jian Qiang memejamkan matanya, dan menghirup aroma yang keluar dari dalam guci itu selama beberapa saat, sebelum kemudian menuangkan isi guci itu pada gelas yang ada di dekatnya. Terlihat arak yang berwarna sedikit kekuningan keluar dari dalam guci tersebut dan mengisi gelas yang dipakai oleh Jian Qiang hingga setengah.
Tanpa ragu dia pun meneguk arak tersebut dan kembali memejamkan matanya.
"Ahh...sudah lama aku tidak meminum arak sebagus ini. Kau memang tidak salah menyarankan tempat ini Baicha," ucap Jian Qiang yang menoleh ke arah Pang Baicha dan yang lainnya.
"Kalian pilihlah kamar yang kalian inginkan, kamar yang kosong di sini jauh lebih banyak dari jumlah kita," lanjutnya kepada mereka semua.
__ADS_1
Weng Lou dan Weng Ying Luan pun saling berpandangan satu sama lain sebelum kemudian mereka melesat keluar dan berlari ke arah kamar yang ada di lantai dua.
"Aku yang di pojok kanan!" seru Weng Lou yang suaranya dapat terdengar dari lantai satu penginapan itu.
"Tidak! Aku lebih dulu melihatnya! Kau ambil yang dipojok kiri!" Terdengar Weng Ying Luan membalas seruan dari Weng Lou itu.
"Huh?! Kau pikir aku bodoh?! Jelas-jelas disampingnya adalah toilet sialan!"
Keduanya pun saling tarik menarik satu sama lain memperebutkan kamar, hingga akhirnya keduanya baru berhenti begitu Lin Mei dengan santainya mengambil kamar itu bersama dengan Man Yue. Mereka berdua memilih untuk mengambil kamar yang sama karena merasa satu kamar yang ada di penginapan ini terlalu luas untuk sendirian.
Weng Lou dan Weng Ying Luan pun hanya bisa pasrah dan memilih kemar lainnya di lantai dua, yaitu dua kamar yang ada di tengah.
Mereka tidak lagi memperebutkannya seperti sebelumnya melainkan langsung masuk ke dalam kamar yang mereka pilih masing-masing karena pilihan keduanya memang berbeda.
Setelah mengemasi barang-barang, mereka pun langsung keluar dari kamar masing-masing dan siap untuk pergi berkeliling Kota Hundan, mencari makanan yang enak tentunya.
Akan tetapi hal itu langsung dicegah oleh Pang Baicha yang menahan keduanya.
"Jika kalian ingin pergi, pergi bersama. Kota ini sangatlah berbahaya, terutama bagi kalian berdua. Aku tau kalian itu kuat, bahkan sanggup mengalahkan mereka yang ada di Ranah Penyatuan Jiwa tahap 1 sekalipun, tapi banyak orang jahat disini yang memiliki kekuatan jauh lebih besar dari itu." Pang Baicha berbicara serius.
Dirinya telah memilih sebuah kamar juga dan saling bersebelahan dengan kamar Shan Hu dan juga Jian Qiang.
"Kalau begitu, kau ikut dengan kami. Kau juga Shan Hu," ucap Weng Lou yang kemudian menarik tangan Pang Baicha keluar dari dalam bangunan penginapan dengan diikuti oleh Shan Hu di belakang.
"Anak-anak ini, apa mereka tidak memahami ucapan ku?!" jerit Pang Baicha dalam hatinya.
Akan tamat riwayat mereka jika sampai bertemu dengan orang-orang yang dimaksud nantinya.
__ADS_1