Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 390. Perjalanan Tetua Fang (II)


__ADS_3

Ehm.... author nya kayaknya keasikan menceritakan flashback, mari kita ringkas saja agar cepat berakhir.....


.....mungkin..


***


Setelah dirinya berhasil naik ke Ranah Pembersihan Jiwa, Weng Fang Di langsung melanjutkan perjalanannya ke Wilayah Tengah, melewati Daerah Huangwu yang sangat tandus.


Dalam perjalannya, dia bertemu dengan binatang buas beberapa kali yang menghalanginya.


Tapi itu cukup bagus menurut Weng Fang Di. Dia bisa memanfaatkan para binatang buas yang menghalanginya sebagai bentuk latihannya agar dia bisa terbiasa dengan kekuatan barunya.


Dia sudah bisa menggunakan Qi ketika masih berada di Dasar Pondasi tingkat 12 puncak, sehingga untuk pengontrolan Qi dia sudah bisa mahir hanya beberapa jam saja.


Yang ingin dia latih adalah pemanfaatan penggunaan dari Qi. Tidak seperti ketika dia masih di Dasar Pondasi, dirinya bisa membuat pedang, atau senjata lainnya menggunakan tenaga dalam miliknya dengan sangat mudah karena jumlah tenaga dalamnya yang bisa dibilang sangat besar.


Sekarang, tenaga dalamnya sudah digantikan dengan Qi yang jumlahnya berkali-kali jauh lebih sedikit. Oleh sebab itu, dia harus harus bisa memanfaatkannya dengan jauh lebih efisien.


Ketika dirinya berpapasan dengan binatang buas untuk yang kesekian kalinya, Weng Fang Di sudah bisa menggunakan Qi untuk menciptakan sebuah pelindung transparan tipis, dan tak lama dia juga bisa melapisi sekujur tubuhnya dengan Qi


Perjalanannya menuju ke Wilayah Tengah dihentikan ketika dia sampai di Kota Liming, dan memilih untuk menginap di situ ketika hari sudah mulai gelap.


Keesokan harinya, Weng Fang Di melanjutkan perjalanannya dan kemudian sampai di perbatasan Wilayah Tengah dengan Daerah Huangwu, yaitu Hutan Kabut.


Tidak seperti hari sebelumnya, Weng Fang Di memilih untuk langsung melanjutkan perjalanannya dan segera memasuki Hutan Kabut.


Salah satu tujuannya adalah dirinya ingin mengetes Teknik Tapak Langit Malam miliknya dalam versi menggunakan Qi. Sebelumnya dia sudah memikirkannya bahwa sifat dari Qi seharusnya sama dengan Tenaga Dalam karena sama-sama merupakan energi alam, namun dalam tingkat yang lebih murni dan lebih tinggi.


Yang membedakannya harusnya besar kekuatan, dan juga kerumitannya.


Singkat cerita, Weng Fang Di berhasil menguasai Teknik Tapak Langit Malam versi menggunakan Qi ketika dirinya berhadapan dengan seekor banteng di daerah tanah lapang di kedalaman Hutan Kabut yang memiliki kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa 3.


Entah karena beruntung atau apa, banteng itu adalah binatang buas terkuat yang ia hadapi dalam perjalanannya melewati Hutan Kabut.


Ketika ia keluar dari Hutan Kabut, waktu baru menunjukkan sore hari, sehingga Weng Fang Di melanjutkan perjalanannya ke Kota Hundan dan berhasil sampai ketika hari sudah malam.


Untungnya ada penjaga yang menjaga gerbang, sehingga dia tidak terlalu khawatir apakah dia bisa masuk ke dalam kota atau tidak.

__ADS_1


Karena tidak memiliki tanda pengenal, Weng Fang Di pun membuat kartu identitas, dan tentunya dengan harga yang sangat mahal. Dia harus menghabiskan lima puluh koin emas hanya untuk membuat tanda pengenal itu. Untungnya dia tidak lagi diminta uang masuk ke dalam kota oleh penjaga.


Di dalam kota, dia langsung mencari sebuah penginapan untuk bermalam karena hari benar-benar sudah malam dan gelap.


Ini adalah pertama kali Weng Fang Di datang ke Kota Hundan, jadi bisa dibilang dia sangat awam akan tempat ini. Tapi dadj isu-isu yang ia dengar sebelumnya di Kota Yulong, kota ini sangat rentan akan tindak kejahatan.


Sepanjang perjalanannya mencari penginapan, Weng Fang Di selalu meningkatkan siaganya dan memperhatikan sekitarnya dengan seksama.


Dirinya bisa merasakan banyak pasang mata yang terus melihatnya dari antara kegelapan, atau pun terang-terangan. Yang mana pun itu, pastinya tidak sedikit yang memiliki niat jahat kepadanya. Beberapa kali dia merasakan ada orang yang mendekatinya, dia langsung segera mempercepat langkahnya tanpa membalik badan sama sekali, dan berusaha sebisa mungkin untuk terus berada di keramaian.


Berkat kehati-hatiannya, dia berhasil selamat hingga mendapatkan sebuah penginapan yang menurutnya cocok untuk dirinya.


Hari selanjutnya, dia sibuk mencari-cari informasi mengenai Sha Shou di sepanjang Kota Hundan yang sangat luas.


Bahkan satu hari dia habiskan hanya untuk menelusuri seperempat kota saja, itu bahkan tidak secara menyeluruh dikarenakan dia harus terus siaga sepanjang waktu.


Pada hari keempat, dia berhasil menemukan sebuah informasi mengenai lokasi dari sebuah markas milik Kelompok Darah yang dipakai untuk mengumpulkan barang-barang kebutuhan kelompok mereka.


Weng Fang Di pun melakukan pengintaian akan tempat itu yang berlokasi di dekat tengah kota. Sayangnya pengintaian nya itu tidak berjalan sempurna, karena dirinya tertangkap basah oleh salah satu pengintai Kelompok Darah ini yang terus menjaga di sekitar markas mereka.


Weng Fang Di pun menjadi sasaran kelompok ini, yang kemudian memaksanya melarikan diri sebisa mungkin dan bersembunyi dari mereka selama berbulan-bulan di Kota Hundan ini.


Tapi seperti kata pepatah, seekor tikus tak akan pernah bisa terus bersembunyi dari mata elang. Pada bulan ketiga dirinya di bersembunyi dari kejaran Kelompok Darah, dia berhasil dan kemudian di tangkap.


Tertangkapnya dirinya bisa dibilang sangat lah mudah dikarenakan Weng Fang Di yang tidak melakukan perlawanan sama sekali. Itu adalah rencana nya. Ketika dia dibawa ke markas mereka sebagai tahanan, Weng Fang Di mengerti bahwa markas Kelompok Darah di kota Hundan ini hanyalah sebatas markas biasa, bukan markas inti mereka, yang berarti Sha Shou tidak ada di situ.


Weng Fang Di yang merasa bahwa sia-sia saja dia terus berada di situ akhirnya menggunakan Tapak Langit Malam miliknya, dan membunuh beberapa orang yang menangkapnya, sebelum kemudian berniat untuk pergi dari situ.


Namun sayangnya, dia malah bertemu dengan beberapa lawan yang sangat kuat yang berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 4, yang mana membuatnya tak berdaya karena kecepatan mereka melebihinya.


Dia pun benar-benar ditangkap dan siksa ditempat itu. Mereka tidak membunuhnya karena mereka lebih senang bermain-main dengan menghajarnya tiap harinya selama satu bulan penuh.


Ketika dia sudah benar-benar sekarat, dia di lempar di luar bangunan markas mereka untuk dijadikan sebagai simbol kekuatan kelompok mereka di tempat itu.


Saat itulah, dia melihat sosok yang sudah lama dia tidak lihat. Sosok seorang anak yang memicu rasa ingin balas dendamnya kembali berkobar di dalam hatinya. Dan juga seorang anak yang sudah dia anggap sebagai cucunya sendiri.


Itu adalah Weng Lou dan Weng Ying Luan.

__ADS_1


Keduanya malah yang menyelamatkannya dan menariknya kembali dari bayang-bayang kematian.


Sebuah anugrah dari dewa baginya bahwa keduanya muncul dan menyelamatkan nya.


***


Di penginapan tempat Weng Lou dan kelompoknya yang lain menginap.


Sosok Weng Fang Di yang terluka parah sudah mulai pulih sedikit demi sedikit berkat sebuah pil dari Jian Qiang yang diberikan kepada Weng Ying Luan setelah tau bahwa mereka membawa Weng Fang Di yang terluka parah.


Bahkan Jian Qiang membayarkan satu kamar lagi untuknya.


"Dia harus memakan dan menyerap pil ini seutuhnya. Luka dalamnya sangat buruk, itu bisa berakibat fatal jika dia tidak memulihkan luka dalamnya seutuhnya." Itu adalah kata-kata Jian Qiang ketika memberikan pil itu kepada Weng Ying Luan.


"Aku tidak menyangka bahwa Tetua Fang ada di kota ini. Pantas saja sosoknya tidak terlihat ketika para binatang buas menyerang Kota Bintang Putih beberapa bulan yang lalu," ucap Weng Hua yang memperhatikan luka-luka Weng Fang Di.


"Kata Tetua Ling, Tetua Fang pergi melakukan misi, tapi dia tidak memberitahuku misi apa yang dilakukan oleh Tetua Fang."


Weng Ying Luan berbicara pelan. Melihat kondisi Tetua Fang beberapa saat yang lalu membuatnya sedikit emosional.


Perlu diketahui, salah satu orang yang mau menerima Weng Ying Luan sebagai anak angkat dari Weng Shang Lao adalah Weng Fang Di. Dia bahkan yang mengajari Weng Ying Luan tentang penggunaan tenaga dalam alam kepadanya.


Baginya, Tetua Fang adalah kakeknya sendiri.


Sementara Weng Ying Luan dan yang lain merawat Weng Fang Di, Weng Lou yang berada di markas Kelompok Darah saat ini sedang melakukan tugasnya juga.


Tak.....


Pintu markas Kelompok Darah tertutup begitu Weng Lou dan Shan Hu masuk ke dalamnya.


Orang-orang yang ada di dalam bangunan menatap Weng Lou dan Shan Hu dengan terkejut. Bagaimana mereka bisa masuk? Kemana rekan-rekan mereka yang lain?


"Tenang saja, tidak perlu mencari teman-teman kalian, aku akan membawa kalian bertemu mereka sebentar lagi."


Weng Lou mengatakan itu sambil mengangkat tangan kanannya ke atas, dan kemudian sepuluh pedang Qi tercipta di atas kepalanya dan terarah kepada orang-orang yang ada di dalam situ.


"Aku beri kalian pilihan, mati saat ini juga, atau beri tau kami semua informasi mengenai pria yang kalian hajar dan letakkan di luar bangunan kalian, dan aku akan memberikan beberapa waktu tambahan sebelum kemudian aku membunuh kalian."

__ADS_1


Itu bukanlah sebuah pilihan, itu adalah ancaman.


__ADS_2