
Pang Baicha memandangi satu persatu para anggota Kelompok Ular Pencuri yang terduduk lesuh di pinggir jalan.
Dia merasa sedikit aneh dengan kondisi mereka saat ini. Entah apa yang terjadi saat mereka pergi. Dirinya mulai memperhatikan dengan teliti mereka semua hingga akhirnya menemukan sebuah kesamaan.
Tidak ada barang-barang berharga yang ada pada mereka, termasuk senjata, dan juga cincin penyimpanan bahkan tidak ada ditemukannya dari mereka semua. Pang Baicha dalam sekejap bisa mengambil satu kesimpulan dan kemudian menoleh menatap pemilik penginapan yang sedang sibuk menatap Gouwang Zie yang tak sadarkan diri yang dibawa oleh Jian Qiang.
"Orang tua ini....dia bahkan tidak menyisakan satupun barang berharga yang bisa kami ambil dari mereka semua. Dasar serakah!!" Pang Baicha berbicara dalam hatinya dan mencoba menahan emosinya.
"Oohhh....jadi dia Raja Pencuri yang terkenal itu? Sama sekali tidak ada yang menarik darinya," ucap pemilik penginapan sambil menghela napasnya.
"Memangnya kalau ada yang menarik darinya, apa yang akan kau lakukan?! Dasar Pak Tua serakah!!" Pang Baicha kembali tersulut emosinya mendengar ucapan dari pemilik penginapan.
Jelas sekali dia akan mengambil barang berharga milik Gouwang Zie juga jika ada yang dia anggap menarik. Pang Baicha sangat yakin, jika saja dalam perjalanan sebelum sampai ke penginapan mereka tidak melucuti barang-barang berharga milik Gouwang Zie, pastinya si pemilik penginapan akan mengambil semuanya.
"Aku bersyukur Jian Qiang mengingatkan ku untuk mengambilnya lebih dulu dari pada Pak Tua serakah ini," ucap Pang Baicha dengan lega dalam hati.
Saat Pang Baicha mulai berpikir bahwa pak tua pemilik penginapan itu sudah menyerah, mendadak Jian Qiang mengeluarkan sesuatu dari dalam ruang penyimpanannya dan menyodorkannya pada pak tua itu.
Mata Pang Baicha seketika membelalak melihatnya dan bergegas menghampiri Jian Qiang dengan memasang wajah paniknya.
"Apa yang kau lakukan?!?!" jeritnya yang kemudian buru-buru mengambil sesuatu itu yang ada di tangan Jian Qiang.
Namun sayangnya dia sudah terlambat, pak tua pemilik penginapan sudah lebih dulu bergerak lebih cepat mengambil sesuatu tersebut dan melihatnya.
"Hm? Liontin?"
Sesuatu yang dikeluarkan oleh Jian Qiang adalah sebuah kalung liontin emas, yang merupakan salah satu barang yang dia ambil dari tubuh Gouwang sebelumnya.
Pak tua pemilik penginapan itu memeriksa liontin tersebut, sebelum kemudian menemukan bahwa liontin tersebut bisa dibuka. Terlihat secarik kertas di dalamnya yang kemudian diambil oleh pak tua itu dan dia pun membukanya.
Terdapat dua baris kata di kertas itu yang kemudian membuatnya tersenyum kecil. Dia memandangi Gouwang Zie kembali yang masih tak sadarkan diri lalu kemudian menempelkan jari telunjuknya pada dadanya yang tertutup oleh rantai Qi milik Jian Qiang.
Cahaya emas keluar dari ujung jarinya tersebut, dan kemudian menembus mengenai jantung Gouwang Zie. Tubuh Gouwang Zie pun mendadak bergetar hebat, dan kedua matanya pun terbuka sambil mengeluarkan cahaya emas yang sama.
Tubuh Gouwang Zie yang masih dalam kondisi terikat oleh rantai Qi milik Jian Qiang terus bergetar hebat, hingga kemudian rantai yang melilitnya mulai retak, dan akhirnya putus secara keseluruhan. Jian Qiang terkejut melihat itu, dan buru-buru ingin membuat rantai Qi lainnya untuk mengingat Gouwang Zie, namun segera ditahan oleh pak tu pemilik penginapan.
__ADS_1
"Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja," ucapnya sambil menahan tubuh Jian Qiang dengan satu tangannya.
Tanpa bisa melawan, Jian Qiang pun mengiyakannya dan terus melihat apa yang akan terjadi. Tubuh Gouwang Zie masih terus bergetar selama sepuluh detik lebih, hingga akhirnya tepat setengah menit kemudian tubuhnya telah berhenti keluar dan cahaya emas kembali keluar dari dadanya.
Diantara cahaya keemasan tersebut, terdapat setitik noda hitam yang membuat cahaya emas itu tampak berbeda.
Pak tua pemilik penginapan tanpa ragu segera menangkap cahaya tersebut beserta noda hitam yang ikut keluar bersamanya. Dia menggenggamnya dengan erat selama beberapa saat sampai cahaya emas itu akhirnya menghilang.
Bersamaan dengan itu, cahaya yang keluar dari kedua mata Gouwang Zie pun juga menghilang.
"Ho? Aku tidak menduga akan menemukan jejak orang ini pada tubuh pencuri kecil kita. Aku penasaran apakah dia benar-benar telah sampai ke ranah Penguasaan Jiwa...." ucap pemilik penginapan sebelum kemudian dia memandang Hei Mi yang bersama dengan Pang Baicha.
"Kau pasti pengikut setia pencuri ini, bukan? Beritahu aku dari mana asal kalian?"
Hei Mi yang diikat oleh Pang Baicha menoleh ke arah pak tua itu dan memasang senyum mengejek.
"Hm! Tidak akan ku beritahu! Aku bukanlah bawahan mu, jadi aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawab mu!" Hei Mi menjawab dengan cepat.
Senyum kecil pada wajah pak tua pemilik penginapan tampak muncul kembali, dan dia pun tidak bertanya lagi.
Seketika Hei Mi pun tersentak mendengar ucapannya dan kembali menatap pak tua pemilik penginapan dengan wajah tak percaya.
"Kau...kau... bagaimana kau bisa tau tentang pulau itu?!" tanya Hei Mi dengan panik.
"Apa? Jadi tebakan ku benar yah? Hahaha..... bagi orang-orang seperti ku mengetahui pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Pasir Hitam adalah hal yang wajar. Berbeda cerita jika aku mengetahui tentang Kepulauan Utama, itu baru patut kau pertanyaan kan," balas pak tua itu sambil memasang senyum kecilnya.
Sementara itu, mulut Hei Mi sudah terbuka lebar mendengar perkataan dari pak tua pemilik penginapan itu.
"Bagaimana bisa kau mengetahui tentang Kepulauan Utama?! Kalian penduduk Pulau Pasir Hitam dilarang membicarakannya, buka-!!"
"Diamlah, wanita muda. Jika kau berteriak sekencang itu tengah malam begini, akan banyak yang mendengar mu." Pak tua itu tanpa menyentuh Hei Mi sama sekali, langsung membuat dia berhenti berbicara begitu saja.
"Seperti yang kau katakan, kami penduduk Pulau Pasir Hitam dilarang membicarakan tentang Kepulauan Utama karena menyangkut perjanjian beberapa ratus tahun yang lalu. Tapi itu sebenarnya berlaku juga pada kalian para penduduk di pulau tetangganya. Semua pembahasan Kepulauan Utama dilarang untuk dibahas, oleh sebab itu, mari kita berhenti membahas itu, aku tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan seorang Kaisar Jiwa."
Pemilik penginapan kemudian menatap Jian Qiang dan Pang Baicha secara bergantian.
__ADS_1
"Bawa mereka masuk, ini sudah terlalu larut, aku terlalu malas jika penguasa kota datang dan menanyaiku sesuatu," ucapnya pada mereka berdua yang kemudian dengan santai berjalan masuk kembali ke dalam penginapan.
Jian Qiang dan Pang Baicha tanpa ragu mengikutinya dari belakang dengan Jian Qiang membawa tubuh tak sadarkan diri Gouwang Zie sedangkan Pang Baicha membawa Hei Mi bersamanya.
Pak tua pemilik penginapan membawa mereka ke sebuah ruangan yang berada di lantai satu dekat dengan ruangan yang sebelumnya dimasuki oleh Weng Lou bersama dengan pemilik penginapan itu.
Terlihat di dalam ruangan yang luasnya hampir sama seperti kamar penginapan itu kursi yang tersusun rapi dan saling berhadapan, dengan sebuah meja bundar yang memisahkan kursi-kursi tersebut. Pemilik penginapan kemudian mengajak mereka semua untuk duduk, sedangkan Gouwang Zie yang tak sadarkan diri di tempatkan di sudut ruangan.
"Kalian berdua, aku yakin yang kalian akan dengar setelah ini pastinya belum pernah kalian ketahui sebelumnya, oleh sebab itu aku akan mempercayai kalian agar tidak membocorkannya pada orang lain. Aku tidak mau membasahi tanganku dengan darah kalian, jadi jika menurut kalian, kalian tak sanggup untuk tetap menutup mulut kalian, maka segeralah keluar dari ruangan ini." Pemilik penginapan berbicara dengan nada serius sambil menatap Pang Baicha dan Jian Qiang.
Jian Qiang terdiam mendengarnya, lalu dia dan Pang Baicha saling menatap satu sama lain dan menelan ludah mereka serentak.
Selang sepuluh detik, tidak ada dari mereka berdua yang keluar dari ruangan, pemilik penginapan tertawa pelan melihat keputusan keduanya lalu ikut duduk di kursi yang sudah di susun tersebut.
"Ini terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, tepatnya ketika keluarga yang merupakan keluarga terkuat di seluruh dunia dan memerintah seluruh dunia berhasil di lengserkan dari kekuasaannya."
***
Dini hari.
Hari masih gelap dan matahari belum menunjukkan keberadaannya sedikitpun.
Di penginapan tempat kelompok Weng Lou berada, suasana sedang ramai-ramainya dengan Weng Lou dan lainnya yang sibuk menyantap makanan mereka.
Terlihat mereka semua dengan lahapnya menyantap makanan mereka masing-masing tanpa ada satupun yang saling berbicara sedikit pun. Bukan karena mereka tidak mau, tapi mereka sedang memfokuskan diri mereka pada makanan yang sedang mereka makan.
Dalam beberapa jam lagi, mereka semua, kecuali Pang Baicha, akan mengikuti babak semifinal. Perut mereka harus diisi dengan baik, agar mereka tidak kelelahan nantinya.
Sementara Weng Lou dan yang lain sedang sibuk makan, Pang Baicha dan Jian Qiang yang duduk bersama terlihat tidak menyentuh ataupun menyantap makanan mereka sama sekali. Wajah mereka saat ini sedang terlihat sangat serius dan seperti sedang memikirkan banyak hal.
Apa yang pak tua pemilik penginapan ceritakan pada mereka berdua beberapa jam yang lalu telah benar-benar mengganggu pikiran mereka saat ini, bahkan saat Weng Lou dan yang lain memanggil keduanya, mereka tidak bergeming sedikitpun.
Pada saat ini, di dalam kepala mereka berdua, sedang terjadi proses mencerna setiap kata demi kata yang telah diucapkan oleh si pemilik penginapan pada mereka.
Mengapa mereka sampai seperti itu? Itu terjadi karena apa yang telah mereka dengar, adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
__ADS_1