
Weng Ying Luan langsung melakukan perjalanan melintasi lautan menggunakan sebuah kapal besar milik Raja Singa Api untuk sampai di Daratan Utama dan menghabiskan waktu dua minggu perjalanan.
Sesampainya di Daratan Utama, dia dibantu Raja Singa Api untuk membuat Tablet Identitas dan memakai nama Luan sebagai identitas di tablet nya. Raja Singa Api langsung berpisah dengannya setelah membantunya membuatkan Tablet Identitas dan kembali menuju Pulau Dongwu.
Pada awalnya, Weng Ying Luan hanya mondar-mandir di seluruh kota dan mencari informasi apapun mengenai Pulau Pasir Hitam, namun dia tidak kunjung juga mendapatkan informasi yang dia inginkan. Sampai semua koin emas di cincin penyimpanan miliknya habis, dia tetap tidak mendapatkan informasi.
Untuk mengisi kembali tabungannya, dia pun mengikuti pertarungan di Arena Pertarungan Kota Tiesha. Setiap harinya dia bertarung dan mendapatkan uang dalam jumlah yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhannya. Tak berapa lama, dia pun mendapatkan informasi mengenai Pulau Pasir Hitam, namun hanya separuhnya dan dikatakan bahwa pulau tempatnya berasal itu terletak sangat jauh di ujung wilayah Daratan Utama.
Bahkan dikatakan, pulau itu bukanlah bagian dari Daratan Utama dan terdapat sebuah samudra luas yang memisahkannya dengan wilayah Daratan Utama. Untuk itu dia pun menabung untuk membangun kapal sendiri dan mencari kru untuk bisa kembali ke Pulau Pasir Hitam.
Namun, situasi di Arena Pertarungan terkadang tidak selalu menguntungkan. Seperti sekarang ini, bayaran yang seharusnya Ying Luan dapatkan dari sepuluh pertarungan selama satu hari harusnya 5.000 koin emas, namun dia malah hanya diberikan 2.500 koin saja. Meski masih cukup banyak, namun jumlah yang dipotong juga tidaklah sedikit. Uang sebanyak itu bisa menghidupi nya selama satu bulan di Kota Tiesha.
"Jika terus seperti ini, paling cepat aku baru bisa mulai membuat kapal ku sendiri beberapa bulan lagi, itu pun baru cukup untuk pembuatan kerangkanya. Sialan, aku sudah membantunya mendapatkan banyak uang, tapi dia malah memberikan aku yang sekecil ini."
Weng Ying Luan menendang pintu masuk sebuah restoran yang menjadi tempat favoritnya makan setiap kali selesai bertarung di Arena Pertarungan.
Ketika dia masuk, perhatian semua orang teralih padanya karena menendang pintu. Bahkan para penjaga yang ada di dekat situ telah berdiri dan hendak menghentikan nya, namun segera berubah pikiran ketika melihat wajahnya.
"Itu Petarung Luan!"
"Wah, jadi dia memang sering makan di restoran ini?! Astaga!!"
"Aku tidak menyesal sudah membayar mahal makanan-makanan itu, akhirnya bisa bertemu dengannya dalam jarak sedekat ini!!"
"Aahh!!! Ini pasti mimpi!!"
Satu demi satu orang di dalam restoran itu berbicara tentang Weng Ying Luan dan membicarakannya.
Reputasinya sebagai petarung di Arena Pertarungan telah menyebar ke seluruh Kota Tiesha, terutama di lingkungan sekitar restoran tempat dia makan ini. Petarung hebat sepertinya menjadi idola oleh kebanyakan orang memang merupakan hal yang biasa.
Terutama dia belum pernah kalah selama menjadi petarung di Arena Pertarungan.
Namun sorakan dan kekaguman orang-orang di restoran itu buka lah karena kehebatannya saja, tapi karena wajahnya yang tampan.
Ya, semenjak dia melakukan pertarungan pertamanya, dia sudah mendapatkan banyak sekali orang-orang yang menyukainya karena wajahnya. Bahkan beberapa hari kemudian, dia menemukan bahwa ada kelompok penggemarnya yang datang setiap kali dia melakukan pertarungan di arena.
Dia tidak bisa melakukan apapun mengenai hal ini, karena ketika dia masih berada di Sekte Langit Utara, hal seperti ini sering terjadi padanya. Kelompok ini sering kali mengikutinya diam-diam kemanapun dia pergi, dan terkadang membuatnya merasa jengkel.
Seperti sekarang ini. Para gadis dan perempuan dewasa mengerumuni nya di dekat pintu masuk dan membuat kerutan muncul di dahi Weng Ying Luan.
"Sialan, hari ku sudah cukup buruk karena dibayar setengah hari ini, dan mereka malah semakin merusak mood ku," ucap Weng Ying Luan dengan kesal.
Dalam satu tarikan napas, dia bergerak lincah melewati kerumunan orang-orang itu, dan melewati tangga menuju lantai tiga restoran.
Di lantai tiga hampir tidak ada orang sama sekali. Hanya beberapa orang saja yang menduduki meja yang saling berjauhan satu sama lain. Weng Ying Luan segera berjalan santai ke arah pelayan yang berdiri di samping tangga dan menyerahkan Tablet Identitas nya.
"Selamat datang Petarung Luan, sepertinya anda sedang dalam suasana hati yang buruk," ujar pelayan itu yang mengembalikan Tablet Identitas tersebut pada pemuda di depannya.
"Berhenti mengatakan omong kosong, siapkan aku semua makanan yang sering aku pesan. Jangan lupa juga satu kendi Arak Api Phoenix. Ambil saja kembaliannya."
__ADS_1
Weng Ying Luan melemparkan satu cincin penyimpanan kepada pelayan itu, dan pelayan itu pun mengangguk setelah mengambil cincin tersebut. Dia berjalan pergi menuju pintu di ujung ruangan dimana aroma masakan tercium dari dalam.
Tanpa melihat pelayanan pergi, Weng Ying Luan segera berjalan menuju ke sebuah meja di pojok depan lantai tiga tersebut, di dekat jendela yang memperlihatkan suasana malam Kota Tiesha.
"Untungnya lantai tiga ini hanya diperuntukkan untuk mereka yang memiliki kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa. Para gadis itu membuat ku stres setiap saat, apakah mereka tidak memiliki kegiatan lain selain menguntit ku?"
Menghela napasnya, Ying Luan pun memilih memejamkan matanya sambil menunggu makanannya datang.
Ketika dia sedang menunggu, suara seorang penjaga terdengar dari anak tangga dan menarik perhatiannya, begitu juga dengan beberapa orang yang sedang makan di ruangan tersebut.
"Aku bilang Guruku adalah seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa! Kenapa kau tidak percaya?!" Suara anak kecil terdengar.
"Hei anak desa, siapa yang mau kau bohongi? Pakaian mu lusuh begitu, beraninya kau mengatakan bahwa gurumu berada di ranah Penyatuan Jiwa! Jika memang gurumu berada di ranah Penyatuan Jiwa, mana mungkin dia mau mengambil anak lusuh sepertimu! Pergilah, sebelum kami bersikap kasar kepadamu!" Kali ini suara penjaga yang terdengar.
"Tapi Guru ku mengatakan dia mau makan di sini! Ada apa dengan kalian?!" Suara anak yang sama terdengar lagi.
*Bam!* Terdengar suara benda yang dihentakkan ke lantai dengan keras.
"Berhenti mengatakan omong kosong, pergi sekarang!" Penjaga sepertinya kehilangan kesabaran nya.
*Sring!* Suara pedang terdengar ditarik dari sarung. Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki terdengar berjalan ke arah situ dari lantai bawah.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" Suara seorang pemuda terdengar.
"Apa? Kau juga teman dari anak desa ini, huh?!" bentak penjaga itu.
Ketika situasi tersebut mulai semakin panas, pesanan makanan Weng Ying Luan pun tiba dan membuat perhatian nya teralih pada makanannya. Orang-orang di lantai tiga juga mulai kehilangan ketertarikan dan mulai kembali menyantap makanan mereka.
Pada saat itulah, pertengkaran berlanjut ke titik yang menegangkan.
Di atas tangga, Du Zhe memasang wajah merah karena marah sementara para awak kapal Weng Lou di belakang hanya diam. Mereka tidak berani mengatakan apapun karena Weng Lou telah bersama dengan mereka.
"Apa itu benar?" tanya Weng Lou pada awak kapalnya dan dijawab dengan anggukan oleh mereka.
Dia menghela napasnya dan menatap penjaga itu dengan tatapan tajam.
"Hei, apa persyaratan makan di lantai ini?"
"Hm? Minimal satu orang dari kalian harus berada di ranah Penyatuan Jiwa! Tapi orang-orang seperti kalian mana mungkin bisa mencapai tingkat praktik tersebut. Bahkan hanya berada di Dasar Pondasi 12 saja kalian cukup bagus," cibir sang penjaga.
Dia memperlihatkan ekspresi wajah mengejek pada Weng Lou. Pemuda di depannya ini, dari apa yang dia lihat bukanlah seorang Praktisi Beladiri karena dia tidak menemukan Tenaga Dalam atau Qi pada dirinya.
Weng Lou mengangguk mengerti. Dia mengeluarkan Tablet Identitas miliknya lalu melemparkannya tepat di wajah penjaga itu.
Penjaga itu hendak melepaskan amarah pada Weng Lou, namun sebelum dia bisa melakukannya, matanya telah lebih dulu terpana pada isi tablet tersebut. Praktisi Beladiri ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 puncak, itu yang tertulis pada bagian bawah nama Weng Lou.
"I-Ini....a-aku minta maaf-"
*BAMM!!!*
__ADS_1
Tanpa menunggu penjaga itu selesai berbicara, tinju Weng Lou telah lebih dulu memukul kepala penjaga itu dengan ringan dan membuatnya terlempar ke ujung tangga dan membuat perhatian semua orang kembali terarah pada mereka.
Bahkan Weng Ying Luan yang sedang asik makan sampai tersedak makanannya karena hal tersebut.
Penjaga itu berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 6 menengah, dan merupakan salah satu penjaga terkuat yang bekerja restoran tersebut. Namun dia terlempar oleh sebuah tinju ringan Weng Lou, yang bahkan langsung membuatnya kehilangan kesadaran.
Semua penjaga di lantai lain buru-buru berjalan naik dan melihat kejadian itu. Mereka hendak menyerang kelompok Weng Lou, namun kemudian Kekuatan Jiwa segera dilepaskan dan membuat mereka semua menghantam ke tangga.
"Ah, dasar orang-orang kota. Mereka benar-benar tau bagaimana cara menghancurkan mood seseorang. Ayo pergi Du Zhe, kalian semua, kota akan mencari restoran lain yang lebih ramah terhadap orang desa seper kita," ucap Weng Lou sambil menarik kembali Kekuatan Jiwa nya setelah semua penjaga itu pingsan karena tidak kuat menahan tekanannya.
Mereka semua pun pergi menuruni tangga dan perhatian orang-orang di lantai kedua dan lantai pertama terarah pada mereka semua. Tidak ada yang berani mendekati mereka, bahkan pengurus restoran telah berjalan keluar dan meminta maaf pada kelompok Weng Lou dengan rasa takut. Tidak dia sangka para penjaga yang dia bayar mahal malah berani memprovokasi seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa.
Entah mereka bodoh atau apa. Untung saja Weng Lou tidak melanjutkan permasalahannya dan menghancurkan restoran nya.
"Benar-benar orang yang baik hati. Dia bahkan tidak membunuh mereka satu pun dari mereka semua." Weng Ying Luan berkomentar sambil mengunyah daging panggang di mulutnya.
"Dia terdengar seperti seusai Lou, tapi sudah memiliki seorang murid. Benar-benar hebat, aku bahkan tidak pernah berpikir mengambil seorang murid untuk kuajari. Tapi Lou berbeda, dia setidaknya akan bisa membuat sebuah perguruan atau sekte seorang diri. Dia bahkan memberikan dan mengajarkan banyak teknik beladiri pada Wan dan Hai. Secara tidak langsung mereka adalah muridnya."
*Krunch.....*
Suara tulang dari daging yang dia makan terdengar renyah di seluruh ruangan tersebut dan menganggu para pelanggan yang lain. Namun tidak ada yang mengomentari nya, menurut mereka masalah seperti itu bukanlah masalah besar. Terlebih Ying Luan adalah seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa.
Memprovokasi seseorang seperti nya tidak akan berakhir baik. Apa lagi ada Arena Pertarungan di belakangnya, jika mereka membuat masalah dengannya, Arena Pertarungan akan mengambil tindakan.
Setelah setengah jam lebih, akhirnya Ying Luan menghabiskan semua makanannya dan dia sedang menikmati minuman araknya. Suasana malam Kota Tiesha benar-benar indah.
Meski hanya berada di lantai tiga, dia bisa melihat bangunan di kejauhan yang rata-rata hanya bertingkat 1 saja. Hal ini karena ada pembatasan seberapa tinggi bangunan yang bisa seseorang bangunan. Untuk tiap lantainya, dikenakan biaya yang berbeda-beda. Ketika suatu bangunan tanpa tingkat akan dibuat tingkat keduanya, maka sang pemilik harus membayar kepada Keluarga Klan Besar Lin lagi dengan harga dua kali harga tanah yang mereka beli.
Begitu juga ketika mereka akan membangun lantai ketiga atau keempat. Biayanya akan dilipatgandakan dari lantai yang sebelumnya. Hal tersebut yang membuat kebanyakan bangunan di Kota Tiesha enggan membangun gedung yang tinggi. Hanya para pedagang kaya atau kelompok tertentu saja yang bisa sesukanya membangun bangunan yang megah dan tinggi.
*Klak....* Cangkir diletakkan di atas meja. Weng Ying Luan menatap ke satu arah di jalanan dimana terlihat kelompok Weng Lou keluar dari dalam rumah makan yang berlokasi beberapa puluh meter dari restoran tempat Weng Ying Luan.
"Hm? Pemuda itu....Lou? Ah, tidak mungkin. Bocah sepertinya meski sangat berhati-hati tapi tidak pernah sampai menyembunyikan gelombang Qi nya hingga tak bisa dirasakan sama sekali. Minimal dia akan memadatkan Qi nya di Dantian seperti yang biasa dia gunakan. Tapi pemuda itu tidak memperlihatkan Qi nya sama sekali, meski Kekuatan Jiwa nya dia pakai untuk melapisi tubuhnya seperti yang dilakukan Lou."
Weng Ying Luan mengisi cangkir araknya dan minum satu tegak lagi sebelum menaruh cangkirnya. kembali ke atas meja. Dia memijat keningnya dan menarik napas dalam, lalu menghembuskan nya.
"Haaa...sial. Apa aku mabuk? Tapi ini bahkan baru tiga kendi."
Dia menatap dua kendi arak yang telah kosong di samping meja sejenak.
"Ck, sudahlah. Ini pasti karena aku terlalu banyak berpikir dan mengingat Pulau Pasir Hitam. Sebaiknya aku kembali dan beristirahat."
Setelah menghabiskan araknya, Weng Ying Luan pun bangkit berdiri sebelum akhirnya beranjak pergi dari tempat itu.
Dia tidak menuruni tangga, melainkan melompat dari jendela lantai tiga dan mendarat di jalanan yang agak kosong. Tanpa peduli orang-orang yang menatapnya dengan rasa terkejut, Weng Ying Luan pun berjalan pergi dari situ menuju ke Arena Pertarungan.
Di sana dia menyewa kamar untuk dia tinggali. Tidak hanya agar bisa menghemat waktu ketika dia harus bertarung, namun fasilitasnya juga lengkap. Dengan pemandian air panas khusus untuk para petarung arena, juga ada tempat latihan untuk petarung.
"Seberkas cahaya terang~ Menyinari hidupku~"
__ADS_1