My Cruel Husband

My Cruel Husband
Sebelum berakhir (1)


__ADS_3

Pelepasan itu datang dan disambut dengan godam palu yang begitu menyakitkan dari kalimat Istrinya.


Devan menatap bingung ke arah Lovi dan tubuh mereka. Ia membulatkan matanya begitu melihat tangan Lovi yang terikat. Lelaki itu segera menyingkir dari atas tubuh Lovi.


Kesadarannya sudah kembali penuh namun terlambat. Lovi sudah disakiti oleh mentalnya yang gila.


"Lov... maaf, maafkan aku," bisik Devan dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya. Ia membuka ikatan ditangan Istrinya dengan tangan gemetar.


Lovinya kembali tersakiti. Dulu, karena kesadarannya yang belum hadir. Sekarang, karena penyakit Skizofrenianya. Ia begitu bodoh mengikuti segala perintah yang memenuhi otaknya.


"Sayang... aku..."


"Aku kira setelah ini kita akan baik-baik saja walaupun pada akhirnya tetap berpisah. Tapi ternyata..."


Mereka sama-sama meluapkan tangis. Lovi dengan kecewanya sementara Devan dengan penyesalannya. Bergelung dalam kesedihan yang membelenggu jiwa masing-masing


Devan merangkum wajah Istrinya dengan erat. Dia menggeleng dengan tatapan takut.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku. Aku mohon, Lovi. Aku butuh kamu sekarang,"


Devan tidak sampai hati melanjutkan kalimatnya. Ia tidak akan bisa menyampaikan kejujuran yang seharusnya Lovi tahu. Lovi tidak boleh mengetahui penyakitnya. Lovi sudah cukup menderita dengan hidupnya. Devan tidak akan menambah penderitaan itu. Sekejam apapun Lovi dalam mencapakkannya, Lovi tetaplah Lovi, yang tak akan bisa melihat suaminya terluka barang sedikitpun.


Lovi melepaskan tangan Devan dari wajahnya. Tiga puluh menit sudah cukup membuktikan kalau Devan memang tidak layak untuk dipertahankan. Lelaki itu hanya bisa menyakiti tanpa bisa menjadi penawarnya.


"Aku menyesal pernah hadir dalam hidupmu,"


Devan menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia tidak bisa mendengar kalimat itu lebih jauh. Namun Lovi malah melakukannya karena memang Lovi tidak tahu kalau suaminya sedang dalam masa terpuruk. Ia kira, Devan memang belum berubah. Nyatanya, Devan sudah berusaha mati-matian.


"Jangan lagi menyakitiku terlalu dalam, Sayang. Aku mohon. Aku tahu kamu masih mencintaiku. Kamu pun merasa terluka, aku tahu. Maka kita perlu saling mengobati,"


Devan meletakkan ibu jarinya di bibir sang Istri. Cukup, mereka telah berjalan terlalu jauh. Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya mereka sama-sama tahu jalan kembali. Apa yang mereka lakukan hanya membuat semuanya menjadi rumit. Devan menyesal setelah Ia sadar betapa bejatnya Ia telah memperk*sa Istrinya karena halusinasi itu.


"Aku akan menjadi apapun yang kamu inginkan. Tetap di sampingku bersama anak-anak kita," ucap Devan dengan pandangan memohon. Namun yang Ia dapatkan justru penolakan tegas dari Lovi.


"Melihat bagaimana kamu memperlakukan aku tadi, aku semakin yakin kalau semua ini memang pantas untuk diakhiri. Pernikahan kita tidak lagi memiliki masa depan, Devan."

__ADS_1


Lovi mengakiri semuanya. Ia menarik selimut agar membalut tubuh lemahnya. Ia berdiri untuk menggunakan kembali pakaiannya setelah itu keluar dari kamar.


Sementara Devan masih terpaku dengan apa yang didengarnya tadi. Ia melihat punggung Lovi yang baru saja keluar dan menutup pintu.


"Semua ini memang pantas untuk diakhiri,"


Devan mulai kehilangan kendali dirinya. Ia menarik rambutnya sendiri dengan geraman tertahan.


"Pernikahan kita tidak lagi memiliki masa depan,"


"Ya Tuhan, ini begitu melukaiku," bisiknya ditengah suasana yang sunyi. Hatinya tak henti menggumamkan kata 'Maaf' untuk Lovi yang sudah meninggalkannya. Perempuan itu tidak tahu kalau selama pergumulan mereka, Devan bersusah payah mengendalikan akal tidak sehatnya. Kalau Lovi tahu bagaimana isi otaknya ketika itu, maka Lovi akan semakin membenci Devan.


Otak Devan memerintahkannya untuk lebih menyakiti Lovi. Namun sebisa mungkin Devan melawan itu semua.


"Aku sudah mengatakan padamu kalau aku begitu mencintaimu. Jadi apapun yang membuatmu bahagia, maka akan aku penuhi. Termasuk... perpisahan ini. Walaupun semuanya terasa sulit, Sayang." Bisik Devan seraya menghela napas pelan


----------

__ADS_1


Untk info up insya Allah aku umumin di grup chat yaaa. Maaciw wankawan


__ADS_2