
Desira meraih keripik singkong rasa ayam panggang satu buah. Sementara Lovi memang tidak cukup membeli dua. Karena selain membelikan untuk kedua anaknya, Lovi juga memikirkan orang-orang yang juga tinggal di rumahnya.
"Kalau cuma satu, Andrean dan Adiknya itu akan merengek lagi,"
"Namanya juga anak-anak. Tapi jangan terlalu sering mengonsumsi itu. Tidak baik untuk mereka,"
Lovi tersenyum karena anaknya mendapat perhatian kecil dari Desira. Sebenarnya Lovi jarang mengizinkan mereka mengonsumsi snack-snack berbumbu seperti itu.
Paling dalam sebulan hanya sekali Andrean dan Adrian menikmati makanan ringan yang lezat namun sayang kurang baik untuk kesehatan.
Bahkan terkadang dalam sebulan mereka tidak mengonsumsinya. Sewaktu bersama Devan, lelaki itu pernah hampir setiap hari membelikan anak-anaknya makanan seperti itu. Begitu Lovi tahu, tanpa tedeng aling-aling Lovi membuangnya. Sampai berbulan-bulan kemudian akhirnya Lovi kembali memperbolehkan mereka untuk mengonsumsi snack-snack itu dengan syarat jangan terlalu sering.
"Kamu minum itu, Lovi?"
"Ya, perutku sangat sakit untuk datang bulan kali ini,"
Lovi memasukkan minuman herbal pereda nyeri haid ke dalam trolinya. Kemudian Ia menatap Desira yang sedang mengabsen jajaran rak supermarket.
"Sudah? Atau masih ada yang kurang?" Tanya Lovi saat Desira berbalik ke arahnya.
"Sudah. Uangku tidak sebanyak kamu,"
"Ya ya terserah padamu sajalah," Lovi memutar tubuhnya ke arah kasir. Ia berdiri di belakang satu orang pria berjas yang belanjaannya sedang dihitung.
__ADS_1
Desira tertawa melihat temannya yang selalu saja kesal setiap Ia menggodanya masalah kekayaan. Ia hanya berbicara fakta. Lovi memang banyak uang. Terlepas dari kenyataan bahwa uang itu adalah milik Devan. Ia melihat-lihat sebentar rak-rak di sana. Seraya memastikan kalau kebutuhannya sudah tercukupi.
Pria di depan Lovi pun bergeser ketika Ia menunggu kartu debitnya di gesek. Ketika bergeser kepala Lovi dan Pria itu sama-sama terangkat. Mereka saling tatap beberapa detik. Kemudian menormalkan detak jantung yang menggila.
"Lov, kamu belanja juga?"
Lovi menghela napas kasar. Ia membuang wajahnya tanpa ingin menjawab. Malas berinteraksi dengan Devan. Ya, lagi-lagi Tuhan mengharuskan mereka untuk bertemu. Ini semua tidak terduga sama sekali.
"Tuan, ini kartunya."
Kasir menyerahkan benda tipis di tangannya pada Devan. Lelaki itu malah diam memperhatikan Lovi bukannya pergi. Padahal urusannya di supermarket itu sudah selesai.
"Oh My--"
Desira menutup mulutnya begitu sampai di belakang Lovi yang kebetulan tidak ada lagi yang mengantre.
Devan memicing pada Desira hingga membuat gadis itu merasa gugup. Ia tidak menyangka kalau hari ini bisa melihat Devan secara langsung.
"Penampilannya, Ya Tuhan. Beda banget sama pakaianku yang sudah lusuh ini," hatinya berteriak kagum. Ia menatap Devan dari bawah sampai atas. Devan pun berdehem menghentikan tingkah konyolnya.
"Saya sudah ada pemiliknya,"
Lovi mengangkat sebelah alisnya saat Devan membuat pengumuman seperti itu. Untuk siapa dia berbicara?
__ADS_1
Desira yang sadar akan kebodohannya pun buru-buru menunduk.
Devan tak lagi peduli pada gadis yang terlihat sangat dekat dengan istrinya itu. Ia melihat banyaknya belanjaan Lovi.
"Kamu datang bulan, Lov?" Devan tidak mampu menahan pertanyaan itu di lidahnya. Terasa ada yang mengganjal kalau tidak di keluarkan.
Mata Devan melihat dua bungkus pembalut yang sedang discan harganya oleh kasir.
Lovi mendelik saja pada mantan suaminya. Batinnya memaki kesal,
"Dia tidak punya malu lagi sepertinya. Untuk apa bertanya seperti itu di hadapan orang lain. Padahal masalah 'datang bulan' tidaklah penting. Gila!"
"Kenapa minum itu? Memang kamu sakit?" tanya Devan lagi ketika Ia melihat botol minuman herbal dimana kemasannya terdapat gambar seorang wanita tengah memegang perutnya. Terdapat tulisan juga di tengah botol.
'Nyeri haid? Minum ini saja!'
"Ya Tuhan aku mau tenggelam sekarang juga. Malu sekali aku,"
Lovi ingin menangis rasanya. Devan dengan mudah bertanya hal-hal yang konyol. Tidak bisakah Ia hanya diam tanpa perlu penasaran?
"Aduh aku mau pingsan, Lovi, lihat kalian. Tahan aku ya,"
Sudah dibuat hampir gila oleh suaminya, kini Desira pun melakukan hal yang sama. Tanpa pikir-pikir dia mencetuskan kalimat itu.
__ADS_1
-----
3 Ep lg lhooo hr iniðŸ˜ðŸ˜ seneng akutu. JANGAN LUPA VOMENT (VOTE&KOMEN) OKAAAYYY