
Devan menolak saat Lovi ingin mengganti perbannya. Ia mengatakan tidak terkena sabun atau apapun itu.
Tapi tetap saja Lovi menggantinya sekalian Ia ingin tahu seperti apa luka yang dialami suaminya.
"Kamu terluka karena apa? aku penasaran, tolong cerita." ujar Lovi seraya meringis menatap irisan yang ada di dekat nadi suaminya.
"Kesalahanku sendiri,"
"Kamu mau bunuh diri? kenapa mengiris tangan sendiri?"
Devan terkekeh saat melihat Lovi menginterogasinya seraya menatap tajam. Ia menggeleng dan mencuri kecupan di bibir sang istri.
"Tidak sengaja, Lov."
"Aku tidak percaya. Karena tidak masuk akal,"
"Jangan banyak bertanya,"
"Aku berhak bertanya karena kamu terluka. Apa yang kamu tutupi sebenarnya?"
Devan menggeleng dan malah menyandarkan kepala nya di bahu Lovi. Kalau sudah terluka seperti ini, rasanya Devan tidak ingin pulang ke mansion karena pasti akan sangat melelahkan saat membohongi Lovi.
"Daddy..."
"Ya, Sayang?"
Devan segera mendekati ranjang dimana Adrian berteriak memanggilnya.
"Dad!"
"Dad!"
"Iya, ada apa?"
"Dia sedang mimpi sepertinya,"
Adrian hanya memanggil tetapi tidak membuka matanya. Keningnya berkeringat dan Ia terus mengubah posisi wajahnya ke kanan dan kiri. Dalam tidurnya, Adrian merasa gelisah.
Devan memutuskan untuk membangunkan Adrian. Ia tepuk lembut wajah Adrian. Lalu memeluk tubuh kecil itu seraya dibawanya untuk duduk.
Adrian membuka matanya perlahan. Kemudian melenguh pelan. Adrian menatap Devan lamat-lamat.
"Apa yang terjadi padamu? kenapa memanggil Daddy?"
"Aku takut,"
Lovi mengusap kepala anaknya yang tiba-tiba aneh itu. Tidak biasanya Adrian seperti ini. Mengaku takut tapi Lovi bingung takut terhadap apa.
"Tangan Daddy sudah tidak sakit lagi?"
"Tidak, sudah sembuh. Barusan diobati dan diganti perbannya oleh Mommy,"
Adrian beralih pada Lovi. Kemudian Ia bertanya penasaran, "Luka Daddy parah, Mom?"
"Hmmm... lu--"
"Tidak, tidak parah sama sekali. Di kantor sudah Daddy beri tahu," Devan tidak membiarkan Lovi menyelesaikan ucapannya.
"Tapi ada darah di perbannya tadi,"
Devan terdiam dan ingin berdiri. Tapi ucapan Adrian membuatnya membeku. "Daddy harus lebih hati-hati ya. Dia orang jahat, Daddy harus waspada. Dia berani sekali menyakiti Daddy, tapi tetap saja Daddy tidak boleh membalasnya. Aku yakin di kemudian hari dia akan datang lagi," ucap Adrian panjang lebar. Alis Lovi bertautan. Ia adalah pihak yang paling tidak mengerti sekarang.
"Sebenarnya apa yang terjadi di kantor tadi? tolong jelaskan!" tuntut Lovi dengan tegas. Ia tidak bisa diam saja saat mendapati suaminya terluka dan ucapan Adrian sudah memberi tahu secara tidak langsung bahwa sebelumnya telah terjadi sesuatu terhadap suaminya.
"Ada orang jahat yang datang ke kantor Dad--"
"HUWAAA DADDY," Belum sempat ucapannya selesai, tangis Adrian kembali pecah. Devan menghembuskan napas berat. Inilah yang membuat dirinya begitu takut membiarkan Adrian tetap berada di ruangannya saat Ia dan Arnold bertengkar lagi. Adrian hanya melihat Daddy nya dicekik saja tidak melihat aksi Arnold yang hampir mengiris nadi Devan, tapi rasa takut Adrian sudah luar biasa besar.
"Siapa orang jahat nya?" tanya Lovi tidak sabar. Ia menatap Devan penuh tuntutan. "Devan, cepat jelaskan padaku. Apa sulitnya--"
"Arnold datang ke kantorku tadi. Dia membuat kekacauan," aku Devan tanpa ada yang di sembunyikan lagi.
Ia sibuk menenangkan Adrian yang menangis pilu seolah masih melihat peristiwa yang terjadi di depannya tadi.
"Kelas psikolog mu di sekolah sepertinya harus ditambah, Adrian. Kamu tidak boleh seperti ini terus," gumam Devan yang mulai merasa khawatir dengan kondisi anaknya sekarang. Adrian tidak akan bisa melupakan kejadian tadi, tapi paling tidak Ia harus bisa menerima apa yang Ia lihat dan tidak mencontoh semua kekerasan yang dilakukan Arnold mulai dari ucapan sampai tindakan.
"Dia yang membuatmu terluka?"
"Iya, Lov."
"Adrian melihatnya?"
"Tidak, dia tidak sempat melihat semuanya. Tapi ada beberapa part yang memang disaksikan oleh Adrian,"
Lovi tampak terkejut. Ia tidak menduga Arnold akan seberani itu menyakiti Devan yang semua orang pasti tahu bahwa suaminya itu lelaki yang paling tidak bisa diganggu sedikit, Maka akan meradang.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu melapor kejadian ini pada pihak yang berwajib, Devan. Dia akan semakin berani menyakiti kamu kalau diam saja,"
"Ya,"
"Keterlaluan sekali dia. Ya Tuhan, aku tidak menyangka kalau kamu akan mengalami ini,"
"Adrian baik-baik saja tadi?"
"Iya, tapi selama di kantor dia banyak menangis,"
Devan mengecup wajah Adrian yang sedari tadi diam saja. Ia benar-benar menyayangi anak ini terlepas dari sifat-sifatnya yang terkadang membuat orang geram. Adrian begitu menyayangi dirinya terlihat dari besarnya rasa khawatir anak itu setelah melihat Ia disakiti.
"Adrian tidak perlu ingat kejadian tadi. Semuanya baik-baik saja. Kalau Adrian sedih terus, Daddy juga akan merasakannya."
"Dia jahat sekali, Dad. Wajahnya seperti monster-monster yang sering aku lihat di serial kartun. Walaupun aku tidak paham dia bicara apa tadi, tapi aku tahu dia membicarakan Daddy yang tidak-tidak,"
"Maksudmu?" tanya Lovi. Devan tampak memberi isyarat pada Lovi untuk tidak banyak bertanya pada Adrian. Kalau Ia ditanya mengenai masalah itu, pasti akan sedih lagi.
"Cokelat yang tadi dibeli belum dimakan,"
"Aku tidak mau,"
"Yakin?" tanya Lovi tidak percaya. Sesuatu yang aneh saat melihat Adrian menolak makanan kesukaannya.
"Tidak boleh lagi menangis. Okay? kamu anak laki-laki bukan?"
"Iya!" jawabnya dengan tegas.
"Jangan menangis kalau begitu. Hal-hal seperti tadi sudah biasa bagi Daddy. Tidak ada sakit nya sama sekali,"
"Memang kalau sudah besar pasti akan bertengkar sampai berdarah-darah begitu?"
"Tidak boleh bertengkar. Tapi perdebatan semacam tadi pasti akan kamu alami di kemudian hari,"
"Tapi aku tidak mau menyakiti orang lain,"
"Pintar!"
"Omong-omong kamu belum mengganti seragam mu, Adrian."
"Biasanya Mommy gantikan kalau aku tidur,"
"Mommy lihat kamu pulas sekali tidurnya dan seperti habis menangis juga. Makanya Mommy tidak gantikan bajumu, takut kamu bangun..."
"Ternyata benar, kamu habis menangis,"
"Tentu saja. Aku anak Daddy jadi harus sayang,"
***
Rencana nya Lovi akan datang ke acara pernikahan Elea seorang diri karena Ia tidak memiliki keberanian untuk mengajak Devan.
Setelah Devan dan kedua anaknya berangkat untuk menjalani kegiatan seperti biasa, dan semua tugas rumahnya selesai, Lovi segera mempersiapkan diri begitupun Auristella karena Lovi akan mengajak anak perempuannya juga. Kedua neneknya ada rencana pergi hari ini.
Auristella mengulurkan tangannya saat Lovi memakaikan tubuhnya parfum. "Genit Auris sekarang ya?"
"Ndak,"
"Kenapa minta parfum?"
Auristella menggeleng tapi tangannya tetap terulur. Lovi memberikan parfum ke tangannya. Melihat itu, Auristella marah.
"Jangan langsung ke tanganmu, Auris. Takutnya kamu memasukkan tangan ke mulut tanpa sengaja,"
Lovi menggosokkan tangannya dan tangan Auristella untuk menyalurkan harumnya. Ia mengarahkan tangan Auristella ke hidung anak itu agar Ia bisa menghidu aroma harum nya.
"Sudah harum 'kan?"
"Ya," sahutnya dengan senang.
Setelah mereka siap, Lovi berdiri di depan cermin untuk memastikan penampilannya sekali lagi.
"Ayo, kita pergi."
Lovi memasuki mobilnya bersama Auristella yang terlihat begitu bahagia karena diajak pergi.
Begitu mobilnya akan keluar dari mansion, bertepatan dengan mobil Devan yang masuk. Kening Devan mengerinyit saat melihat mobil Istrinya keluar. Dengan cepat, Ia menghalangi.
Lovi tidak mengatakan apapun mengenai kepergiannya saat ini. Wajar saja Devan merasa bingung karena biasanya Lovi selalu izin.
Melihat Devan keluar dari mobil, Lovi jadi merasa panik. Devan mengetuk kaca mobil istrinya.
Lovi segera membuka pintu mobil. Lovi tersenyum manis pada Devan yang menatapnya datar.
"Kamu mau kemana? dan kenapa membawa Auris?"
__ADS_1
"Hmmm aku mau pergi sebentar, mengajak Auris jalan-jalan,"
"Kenapa mengenakan baju pesta begitu? jalan-jalan nya ke pesta orang atau bagaimana?"
"Engghh... iya," jawab Lovi pelan karena Ia merasa ragu.
"Pesta siapa?"
"Hmmm..."
Alis Devan bertautan menunggu jawaban istrinya. Ia menatap jam yang melekat di tangan.
"Cepat jawab, aku tidak punya banyak waktu. Aku hanya ingin tahu tujuanmu saat ini,"
"Pesta pernikahan Elea,"
Devan terkekeh tidak percaya dengan pendengarannya barusan. Ia menggosok daun telinga nya. "Apa? kamu mau hadir ke pesta pernikahan Elea?"
"Iya, dia sudah mengundang aku. Tidak enak kalau aku tidak datang. Aku tidak berani meminta izin dan mengajak kamu. Karena pasti kamu akan---"
"Kamu tahu jawaban aku, tapi masih kamu lakukan?"
Lovi terdiam menunduk. Auristella yang duduk tenang di sebelah Lovi menatap ke arah luar. Kemudian Ia mulai bergerak tidak nyaman, ingin cepat-cepat mobilnya jalan.
"Maaf, tapi untuk kali ini tolong biarkan aku pergi ya?"
"Aku selalu mengizinkan kamu pergi. Memang pernah aku larang? tapi kalau sudah menyangkut Elea, rasanya sulit sekali memberikan kamu izin,"
"Hanya sekali ini saja. Kamu tidak mau datang, tidak masalah. Aku dan Auris saja,"
"Ya sudah, terserah padamu. Karena percuma juga aku melarang. Tidak akan didengarkan. Sama halnya saat aku melarang kamu untuk bekerja sama dengan Elea mengenai baju pengantin nya,"
"Silahkan berangkat, Reno."
Devan menjauh dari mobil istrinya dan masuk ke dalam mansion untuk mengambil berkas yang tertinggal. Semalam Ia tidur terlalu malam dan sudah kelelahan jadi lupa disiapkan.
****
Sampai di sebuah hotel, Lovi segera turun dari mobil seraya menggendong Auristella. Ia sengaja tidak membawa Serry untuk menjaga Auristella karena rencananya Ia hanya memberikan ucapan selamat setelah itu pulang.
Auristella menatap sekelilingnya bingung. Di perjalanan Ia begitu antusias tapi setelah sampai di sana terlihat sekali perubahan raut wajahnya.
Auristella jarang sekali dibawa ke tempat-tempat yang ramai. Sehingga bila berada di situasi seperti itu, Ia masih harus beradaptasi.
Lovi segera menghampiri Elea dan suaminya untuk memberikan ucapan selamat atas pernikahan mereka.
"Akhirnya kamu datang. Anakmu yang lain dimana? kamu hanya datang berdua?" sambut Elea yang seperti biasa, berusaha mengakrabkan diri dengan Lovi padahal jatuhnya malah canggung.
"Selamat menapaki kehidupan pernikahan. Maaf, Devan dan kedua anakku tidak bisa hadir,"
"Oh sayang sekali. Tapi tidak apa, sampaikan saja salamku pada mereka. Terima kasih kamu sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini,"
"Iya,"
Salah satu keponakan Elea yang sejak tadi duduk di dekat pengantin menyapa Auristella. Ia menyentuh gemas kaki Auristella yang menggelantung dalam gendongan Lovi.
"Siapa namamu?"
"Auristella," jawab Lovi mewakilkan anaknya.
"Errghh lucu sekali. Pipinya seperti es krim yang tumpah," ucapannya membuat Lovi terkekeh. Auristella ikut menyentuh wajah anak itu karena wajahnya juga disentuh bahkan diusap-usap gemas oleh anak yang sepertinya memiliki usia tidak beda jauh dengan kedua anak kembar Lovi.
Lovi dan Auristella undur diri. Mereka akan segera pulang. Yang terpenting sudah memenuhi undangan. Mereka tidak bisa pergi terlalu lama. Selain karena Lovi kurang nyaman berbaur dalam pesta yang dihadiri oleh orang-orang yang tak dikenalnya itu, Devan juga pasti akan memantau dirinya dan Auristella melalui anak buahnya. Kalau sampai Ia pulang lama, pasti Devan semakin kesal padanya. Tadi saja wajahnya terlihat sangat terpaksa membiarkan Lovi pergi bersama Auristella.
*****
Devan telah memulai pekerjaan nya. Biasanya Ia selalu fokus. Saat ini tidak bisa sama sekali karena memikirkan istrinya dan Auristella.
Ia sudah kesal sekali dengan Lovi. Akhirnya Ia terpaksa mengizinkan Lovi karena percuma saja kalau dilarang. Lovi pasti akan bertahan di atas keinginannya. Padahal Devan melarang karena ada maksudnya. Baru kemarin Ia dilukai oleh Arnold. Tidak menutup kemungkinan Arnold akan mengulangi perbuatannya tapi dengan sasaran yang berbeda. Apalagi Lovi sudah memutus komunikasi dengan dia secara tiba-tiba.
My Lov : Aku sudah berada di perjalanan pulang ya. Jangan marah lagi :)
Pesan masuk ke ponselnya. Setelah dibaca, Devan tersenyum tipis.
Devan : Aku kira kamu akan lama berada di sana.
My Lov : Rencana sejak awal memang hanya sebentar. Melihat wajahmu yang datar dan dingin tadi, aku semakin ingin cepat-cepat pulang.
Devan : Okay, hati-hati. Bagaimana dengan Auris? dia baik-baik saja?"
My Lov : Baik, malah di dalam mobil dia senang sekali.
Mengetahui hal itu, Devan bisa bernapas lega. Semoga mereka bisa tiba di mansion dengan keadaan baik-baik saja. Setiap saat Devan berharap semua keluarganya berada dalam perlindungan Tuhan.
--------
__ADS_1
Lovi cuma tinggalin jejak doang tanpa basa basi wkwk. Kalian udh tinggalin jejak jg blm? siapa yang msh tentram ama mantan doi? kek si Lovi ini. Adakah?