
"Diantara kedua mamaku, siapakah yang membuat sarapan kali ini?"
"Bukan kami,"
"hm? lalu siapa?" Pandangan Devan beralih pada Mamanya.
"Lovi,"
Benar kata Devan. Ia tidak perlu lagi membuktikan kalau Lovi adalah istri yang baik karena tanpa itu semua, Ia yakin Lovi memang bisa diandalkan. Perempuan itu tidak terduga. Padahal Devan sama sekali tidak masalah kalau Lovi belum bisa kembali beradaptasi dengan status 'istri'nya lagi. Ia pikir Lovi perlu waktu.
Ternyata Lovi sudah mempersiapkan sarapannya dengan baik. Namun Devan bingung. Kapan Lovi bangun? Karena saat Devan masuk kamar mandi, Lovi masih nyaman dalam balutan selimut.
"Lovi bangun pagi sekali tadi. Saat kami bangun meja makan sudah penuh. Kata Netta, Lovi hanya dibantu Netta saja. Pelayan yang lain juga belum bangun,"
Devan mengangguk dengan mulut yang masih bergerak. Tidak cukup satu, Ia mengambil roti panggang satu lagi. Sementara kedua anaknya menikmati nasi goreng. Senata dan Rena memilih untuk menyantap susu hangat dengan biskuit.
Sampai pagi Lovi masih menginginkan roti panggang. Akhirnya Ia memutuskan untuk membuat itu.
***
"Lov, Adrian bermain tanah,"
"Tangannya kotor, Lov."
"Lov, lihat---"
__ADS_1
Lovi sedang memasak makan malam namun suara Devan yang berbicara ini dan itu untuk mengadukan kelakuan anaknya membuat kepala Lovi sakit.
Devan menghampiri anaknya yang terduduk di atas taman belakang dimana tekstur tanahnya lebih lembab dari taman utama. Sehingga mudah bagi anak itu untuk membuatnya menjadi berbagai bentuk sesuai imajinasinya. Mulai dari rumah, mobil, hingga burger.
Devan membawa anaknya itu menghampiri sang Istri. Ia tak henti berceloteh yang hanya ditanggapi riang oleh Adrian.
Tidak bisakah Ia diam barang semenit saja? Andrean lebih memilih menonton televisi sementara anak itu malah menghabiskan waktu di taman belakang.
Ini semua karena Devan yang beberapa hari lalu mengajak anaknya untuk bercocok tanam di taman belakang. Sehingga Adrian kesenangan mengulanginya lagi.
"Ini tangannya kotor, Lov."
Lovi berdecak dan membalik tubuhnya berjalan menghampiri Devan yang sedang menggendong Adrian. Lelaki itu hanya bisa mengoceh tanpa ada aksinya.
"Tinggal dicuci, apa sulitnya? Kenapa harus lapor aku?"
Lovi ingin menggendong anaknya ke wastafel dapur namun Devan menahan karena kandungan Lovi dan tubuh Adrian yang sudah berat. Ia yang membawa anaknya ke sana, Lalu Lovi mulai mengusap kedua telapak tangan Adrian dibawah aliran air.
"Kukunya banyak kotoran. Kamu jorok,"
Adrian mendorong wajah Devan kesal. Tak ingat kalau tangannya belum bersih benar. Devan terang saja berteriak marah. Wajah tampannya jadi tercemar karena Adrian.
"Devan, cuci muka saja tidak perlu berteriak seperti itu,"
"Kamu menyalahkan aku terus,"
__ADS_1
Devan terdengar merengek. Siapapun yang belum mengenalnya dengan dekat pasti kaget melihat sikap lelaki itu yang berubah hanya pada Istrinya.
"Adrian tidak boleh seperti itu pada orangtua. Tuhan marah nanti," bukan hanya sang suami yang dinasihati namun anaknya pun begitu. Agar Adrian tidak merasa diawang-awang. Lovi tahu betul betapa sombongnya Adrian kalau Ia merasa dibela Lovi.
***
"Terima kasih ya,"
"Kamu tinggal berapa lama di sini?"
"Sampai aku merasa bosan,"
"Baiklah, Aku pergi dulu. Bye, sahabat cantikku,"
Vanilla tersenyum getir memperhatikan punggung Renald, lelaki yang selalu saja mengakuinya sebagai sahabat.
Vanilla menyentuh kepalanya yang diusap Renald tadi. Mengapa Ia harus larut dalam perasaan ini. Padahal jelas-jelas Renald selalu menegaskan status mereka. Hanya 'sahabat'
Hari ini Ia pulang ke rumah Devan lagi. Walaupun hubungannya dengan Devan masih dingin, namun tak bisa dipungkiri kalau rumah Devan adalah tempat ternyaman untuknya saat ini.
Vanilla memasuki kediaman kakaknya. Ia hanya mengangguk saat pelayan menyapa dan kakinya mulai memasuki ruang keluarga.
Andrean tengah berbaring di sofa dengan mata yang fokus menonton. Anak itu hanya melirik Vanilla. Tidak seperti Adrian yang akan heboh bila Vanilla datang.
----
__ADS_1
TINGGALKAN JEJAK YAAA👣 MAACIW😚💙