
"Aunty, supaya mood kembali baik, bagaimana kalau kita bermain?"
"Tidak, Aunty harus mengerjakan tugas,"
Jane mengusir halus Adrian yang memasuki kamarnya. Rupanya anak itu sudah berada di depan kamar sejak tadi. Tetapi karena Ia baru saja selesai mandi, jadi pintu kamar Ia kunci.
Richard berada di lantai bawah. Membiarkan Adrian membujuk Jane.
"Aunty tidak boleh menolak apapun ucapan Aku. Nanti Daddy marah,"
"Tidak peduli. Memang Daddy-mu siapa? kenapa Aunty harus ditakut-takuti seperti itu?"
"Benar ya tidak peduli? baiklah, nanti aku katakan pada Daddy kalau Aunty meminta dibelikan sesuatu terutama make up, Daddy tidak boleh belikan. Karena Aunty jahat dengan anaknya Daddy. Bye!"
Adrian berbalik dan ingin kembali ke lantai dasar. Ia yakin Jane akan menurutinya karena sudah diancam seperti itu. Sebenarnya Adrian tidak serius.
"Ya sudah, bermain apa?!" tanya gadis itu dengan nada tidak santai. Adrian terkekeh geli lalu menggenggam tangan Jane untuk dibawanya ke lantai dasar.
Richard sedang menonton televisi dengan berbagai mainan berada di sekitarnya. Ketika mendengar suara Adrian, Richard menoleh.
"Aunty mau bermain apa?"
"Kenapa malah bertanya? kamu yang mengajak Aunty bermain tadi,"
"Andrean! ayo, temani aku bermain."
Jane melepas genggaman tangan Adrian dengan perasaan kesal. Semuanya Ia ajak bermain tapi permainan yang akan dilakukan saja belum tahu.
"Seperti di sekolah, kita letakkan robot ditengah-tengah. Setelah itu kita nikmati lagu yang diputar dengan cara menggerakkan tubuh dan gayanya bebas. Saat lagunya berhenti diputar, kita rebut robot itu,"
Adrian sedang mencari orang yang sekiranya bisa membantu dalam hal memutar dan mematikan musik ketika bermain nanti.
"Mommy, mau bantu aku?"
"Tidak, lihat Mommy sedang apa?"
Adrian cemberut karena Lovi tidak mau membantunya. Auristella sedang makan dan disuapi oleh Lovi. "Hanya menyalakan dan mematikan musik, Mom."
"Oh membantu itu saja?"
Adrian mengangguk cepat. Melihat Lovi akhirnya mengangguk, Ia bersorak senang. Adrian berjalan ke lemari kaca yang berada di samping televisi. Lalu berusaha meraih speaker audio di sana. Tinggi tubuhnya tidak mencapai benda tersebut. Sehingga Richard membantunya.
"Terserah Mommy mau putar musik apa," ujarnya seraya menyerahkan benda tersebut pada Lovi.
Auristella memperhatikan orang di sekitarnya dengan bingung. Entah apa yang ingin mereka lakukan, begitu kira-kira isi pikirannya.
Lovi menyalakan musik yang iramanya tidak mendayu-dayu sehingga membuat tubuh bergerak secara spontan.
Auristella terkekeh geli melihat Adrian yang tidak beraturan gerakannya. Andrean dengan gaya cool ciri khas-nya, Richard pun demikian, dan Jane tidak ada semangatnya sama sekali.
Lovi pun tak bisa menahan tawa. Apa lagi ketika Ia mematikan musik, mereka sibuk rebutan robot. Yang mendapatkan robot kali ini adalah Andrean.
"Terbukti, yang santai bisa menang. Yang tidak karuan malah kalah," ujar Andrean yang jelas sekali menyindir tingkah random Adrian. Ia bingung juga dengan adiknya itu. Seperti tidak ada rasa lelah untuk beraksi.
"Lagi ya!" seru Lovi mengisyaratkan mereka untuk bersiap. Seraya menunggu musik terputar beberapa detik, Lovi juga menyuapi anaknya makan. Tetapi Auristella malah menggeleng, tidak ingin makan lagi karena terlalu menikmati hiburan di depan matanya. Anak itu tak henti tertawa. Apa lagi saat Adrian bergerak layaknya ikan lumba-lumba.
"Astaga, sedang apa kalian?" Senata menatap keempat orang itu dengan raut bingung. Tapi juga ikut tertawa. Pasti yang membuat suasana menjadi berwarna seperti ini adalah Adrian. Ditengah banyaknya mainan mereka menggerakkan tubuh sesuka hati seraya menikmati lagu yang iramanya membangkitkan semangat.
"Aku rela berubah jadi sinting seperti ini agar Adrian tidak pengaruhi Daddy-nya,"
"Pengaruhi?"
__ADS_1
"Iya, kata anakmu kalau aku tidak mau ikut dia bermain, dia akan melaporkan hal itu pada Devan, jadi saat aku minta dibelikan make up Devan tidak akan membelikannya,"
Tawa Lovi pecah mendengar curahan hati Jane. Ia tahu betul seberapa pintar Adrian untuk membuat orang lain takluk. Jane yang kerap meminta ini dan itu pada sepupunya pasti akan mengalah kalau sudah diancam seperti itu.
Beberapa kali mereka melakukan permainan itu. Pada akhirnya hanya Andrean dan Adrian saja yang menjadi pemenang. Mereka bergantian. Karena orang dewasa harus mengalah, begitu kata Adrian. Sekalipun Jane dan Richard sudah sempat menyentuh robot itu beberapa kali.
Masih ada sisa tawa yang keluar dari mulut Auristella. Dia benar-benar senang sekali melihat orang lain bermain, lalu berdebat karena sama-sama ingin menjadi pemenang.
"Lain kali kita harus main itu lagi,"
Keempat orang yang habis bertempur itu tengah duduk meluruskan kaki. Benar-benar melelahakan. tapi tak bisa dipungkiri kegiatan tadi membuat suasana hati Jane sedikit berubah. Yang tadinya sangat buruk sampai melihat wajah orang saja rasanya enggan sekali, setelah bermain bersama malah dirinya sering tertawa.
"Pemenangnya hanya kalian berdua saja. Tidak adil kalau seperti itu,"
"Aunty, anak kecil---"
"Ya, tahu. Anak kecil harus selalu jadi pemenang."
"Aunty pintar!" pujinya seraya bergerak mendekati Jane untuk mencium pipi Aunty-nya itu. Tapi Jane menolak. Karena Ia sudah mandi dan Adrian sangat berkeringat. "Aku masih harum, Aunty!"
"Iya, tapi tubuhmu basah sekali."
Bagaimana tidak berkeringat parah? Adrian begitu semangat tadi. Seperti harimau yang baru keluar dari kandangnya. Ketika musik diputar aksinya benar-benar liar.
*********
"Daddy, ambilkan itu."
Devan tetap saja membaca majalah bisnisnya. Adrian butuh bantuan Devan tapi merasa tidak diacuhkan, Ia berdecak.
"Daddy---"
"Kamu perlu dibantu tapi bicaranya tidak baik-baik. Dengan orangtua saja begitu, bagaimana dengan orang lain?" katanya seraya menatap Adrian dengan sorot tajam.
"Daddy, Adrian boleh minta tolong? tolong ambilkan iPad. Itu di samping Daddy, dekat padahal. Tapi Daddy tidak mau saling membantu,"
"Bukan tidak mau, tapi kamu sedang diajarkan agar lebih sopan. Biasanya juga selalu menggunakan kata 'tolong'. Sekarang kenapa lupa?"
"Manusia sering lupa. Wajar, Mommy." kilahnya. Sebenarnya bukan lupa, tapi karena Adrian masih kesal dengan Devan, jadi rasanya malas sekali besa-basi sekalipun Ia perlu bantuan.
Devan segera mengulurkan iPad yang ada di tangannya pada sang pemilik. Adrian menerimanya dengan senang hati. Tadi, iPad itu diambil alih oleh Auristella lalu diserahkannya pada Devan, seolah menginginkan Devan untuk tidak mengizinkan Adrian sibuk dengan iPad-nya.
"Nanti kalau Auris keluar dari kamar lalu dia lihat kamu sudah pegang iPad lagi, dia akan marah,"
"Ini punya aku. Kenapa aku tidak boleh memakainya? Yang terpenting aku sudah mengerjakan semua tugas sekolah, sudah mandi, sudah makan. Jadi tidak apa kalau bermain ini 'kan, Dad?"
"Mungkin dia cemburu dengan iPadmu. Kamu lebih dekat dengan iPad,"
Auristella sudah tampil dengan pajamas yang membuatnya semakin menggemaskan. Ia sudah dimandikan oleh Lovi bahkan sudah makan juga. Tetapi setelah mengerjai Adrian, Ia pergi ke kamarnya bersama perawat untuk mengambil boneka kesayangannya.
"Aku ambil lagi iPad-nya. Ini punya aku," Adrian menunjukkannya pada Auristella. Anak perempuan itu menatap Devan dengan raut kesal.
Saat Auristella akan merebut lagi, Adrian segera menghindar sementara kuku kakinya sedang dipotong. Karena salahnya sendiri, kulitnya terluka.
"Itulah akibatnya kalau tidak bisa diam, jahil, dan sulit diberi tahu. Sakit lukanya?" Devan berucap kesal. Namun tak dipungkiri melihat darah yang keluar sedikit dari kaki putranya, Ia merasa khawatir.
Lovi langsung mengambil kapas untuk membersihkan. Ia menyuruh Auristella menjauh.
"Karena iPad jadi bertengkar lagi. Kaki luka siapa yang dibuat khawatir?"
Keduanya ditegur oleh Devan yang sudah bingung bagaimana cara menghadapi kedua anaknya yang memiliki perangai tak jauh berbeda ini.
__ADS_1
Tinggal kuku tangannya lagi yang belum digunting. Setelah selesai membersihkan luka kecil di sekitar kuku ibu jari putranya, Lovi menggunting kuku tangan Adrian.
"Andrean, kukumu masih pendek?"
"Belum panjang, Dad."
Devan mengangguk dan membiarkan anak sulungnya kembali berkutat dengan puzzle-nya.
"Habis Adrian, Auris yang potong kuku ya,"
Auristella langsung menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Wajahnya panik seraya menggelengkan kepala.
"Kenapa? kalau panjang banyak kumannya."
"Jangan, Lov. Kamu potong kukunya kalau dia lagi tidur saja,"
"Memang iya. Aku hanya menggodanya saja. Ternyata reaksinya seperti itu," Lovi terkekeh geli.
Auristella paling takut untuk digunting kukunya. Sehingga Lovi harus melakukannya ketika Ia sedang tertidur.
"Anak perempuan kukunya kotor. Hih!" ujar Adrian.
"Tidak kotor, selalu bersih. Mommy tetap gunting kalau dia tidur."
Devan meraup wajah Adrian yang bicara asal. Padahal Ia tidak pernah melihat kuku Auristella kotor.
********
Seperti biasa, setiap malam Lovi akan mempersiapkan buku-buku anaknya. terutama Adrian yang belum konsisten dalam membereskan bukunya sendiri untuk dibawa ke sekolah. Kalau Andrean sudah bisa diandalkan. Mandirinya tidak diragukan lagi. Tapi tetap saja Lovi memastikannya agar tidak ada yang tertinggal untuk sekolah besok.
"Pensilmu warna pink, Adrian?"
"Itu punya Adrina,"
"Huh? kamu mengambilnya?"
"Tidak, Mommy. Aku pinjam karena punyaku hilang. Lupa, belum dikembalikan,"
"Lupa atau sengaja tidak dikembalikan?"
"Lupa, untuk apa aku mengambil pensil orang? aku punya banyak. Sayangnya, kemarin aku lupa bawa,"
Lovi mengambil tiga buah pensil baru untuk dibawa anaknya sekolah besok. Setelah dibuat meruncing, Ia masukkan ke dalam kotak alat tulis Adrian.
"Besok dikembalikan ya. Itu punya orang lain jadi jangan diambil,"
"Ya ampun, Mom. Aku bisa membeli pabrik pensil, jadi tidak mungkin aku mengambil pensil orang. Itu murni karena lupa,"
Mulai lagi bicara tinggi seolah dia yang memiliki perusahaan dimana-mana. Sampai berkhayal punya pabrik pensil. Kalau Devan dengar, Ia pasti kaget. Dia saja yang bisnisnya sukses tidak pernah membusungkan dada.
"Sombong," Thalia benar-benar menyampirkan Atthar dari rumah. "Ayo, waktunya minum susu, ya?"
"Tidak serius, Mom. Aku hanya bercanda,"
"Tugasku sudah, Mom. " Andrean bangkit dari kursi belajarnya lalu berjalan ke arah Lovi seraya membawa buku tugasnya.
Lovi memeriksa tugas yang sudah dikerjakan anak sulungnya. Sebanyak apapun tugas yang dimiliki pasti akan selesai dengan cepat karena Andrean rajin. Kalau dia disuruh makan, tetapi tugas belum selesai, maka Andrean akan menyelesaikan tugas terlebih dahulu, baru kemudian mengisi energi.
"Lov, sudah belum? aku minta dibuatkan teh sedari tadi tapi belum datang juga tehnya ke ruang kerjaku,"
"Sebentar lagi,"
__ADS_1
Beginilah rutinitas Lovi. Kewajibannya yang satu belum selesai, sudah ada tugas baru lagi. Walaupun penat tapi Lovi menikmati perannya sebagai Ibu dan istri. Ia bersyukur bisa menjadi bagian dari ketiga anaknya dan juga Devan. Selain Tuhan, hidup mati Lovi juga untuk keluarganya.