My Cruel Husband

My Cruel Husband
Kepedulian seorang anak


__ADS_3

"Iya, tapi Daddy tidak apa-apa. Ini tidak sakit sama sekali,"


"Errghhh!"


"Sstt jangan marah-marah begitu. Tidak baik,"


Devan merangkum wajah anaknya yang tampak emosi sekali. Rahang Adrian yang tegas terlihat mengeras. Gigi-gigi kecilnya bergemelutuk. Saat emosi seperti ini, Ia persisi seperti Devan.


"Kenapa dia melakukannya? Daddy buat salah apa dengan dia?"


Devan menggeleng dan bingung bagaimana menjelaskannya. Tidak mungkin Ia beri tahu semua kesalahan yang diperbuat Arnold hingga mengundang pembalasan Devan.


Adrian masih menangis. Napasnya tersengal-sengal dan Devan tidak tega melihatnya. Devan menggendong Adrian seraya membujuknya agar menghentikan tangis. Hati Devan merasa sakit saat anaknya sedih seperti ini, apalagi disebabkan oleh dirinya.


"Ini urusan orang dewasa. Adrian tidak perlu tahu, dan berhenti menangis karena Daddy baik-baik saja, Sayang...'


"Tidak usah beri tahu siapapun mengenai apa yang tadi kamu lihat, ya. Terutama pada Mommy. Siapapun tidak perlu tahu,"


Bibir Adrian melengkung saat mendengar ucapan Devan. Artinya hanya Devan sendiri yang merasa cemas atas kejadian tadi, Ia tidak mengizinkan siapapun untuk merasakannya juga.


"Adrian jangan pikirkan apapun..."


"Oh iya, mana es krimnya ya. Belum datang-datang," ucap Devan mengalihkan. Saat Ia akan meletakkan Adrian di sofa, anak itu menggeleng dan semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang ayah. Ia belum puas menumpahkan kesedihan dan kekhawatirannya terhadap Devan saat ini. Mungkin itulah sebabnya siapapun tidak boleh tahu. Devan tidak ingin siapapun merasa khawatir.


"Tangan Daddy sakit, Sayang. Turun ya,"


Adrian baru ingat kalau tangan Devan sedang terluka. Tanpa menunggu waktu lama, Ia mengangguk. Setelah duduk di sofa, Devan menghubungi anak buahnya yang tadi ditugaskan untuk membeli dua santapan lezat kesukaan sang anak.


Panggilannya belum sempat di jawab, mereka sudah datang lalu memberikan es krim dan cokelat itu pada Adrian.


Setelahnya mereka keluar. Devan mengalihkan matanya pada Adrian yang menatap kedua makanan kesukaannya dengan datar, tidak ada antusias sama sekali. Biasanya kalau sudah melihat es krim dan cokelat, Ia selalu semangat.


"Dimakan cokelatnya. Nanti Daddy habiskan, bagaimana?"


"Ya sudah habiskan saja. Aku tidak----"


"HUWAAAA," tangisnya pecah dan kencang lagi padahal sebelumnya sudah sedikit tenang.


"Astaga anak ini,"


Devan menjadi bingung sekarang. Ia harus apa? pekerjaan masih banyak, anaknya belum bisa melupakan kejadian tadi. Ia kembali menangis histeris seperti bertemu dengan sesuatu yang menakutkan.


"Sayang, Daddy masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Jangan menangis lagi, please. Bisa mengerti Daddy?"


"Aku--aku--aku juga tidak mau menangis. Tapi--tap--i--sulit sekali," jawabnya disertai dengan Isak tangis. Adrian sebenarnya tidak mau menangis lagi tapi Ia merasa kesulitan mengendalikan emosinya sendiri hingga air mata kembali turun.


Devan memeluk Adrian kemudian membawa anak itu ke atas pangkuannya. Devan menepuk-nepuk lembut punggung putra keduanya. "Jangan menangis. Daddy sedih melihatnya,"


"Ayo, kita pulang. Daddy istirahat saja di rumah, tidak usah kerja lagi. Nanti dia datang ke sini lagi bagaimana?"


"Kalau Daddy tidak bekerja, bagaimana Adrian sekolah? tidak bisa makan, minum susu, beli mainan, beli es krim dan cokelat---"


"Ya sudah, Adrian saja yang bekerja."


Devan terkekeh mendengar jawaban Adrian yang masih menangis terisak itu. Ia merasa tersentuh saat Adrian mengatakan Ia saja yang bekerja sementara Devan tidak usah. Ia merasa khawatir pada Devan hingga akhirnya menawarkan diri untuk menggantikan posisi Devan saat ini yaitu mencari uang.


"Sebentar lagi Daddy selesai bekerja. Setelah itu, kita pulang ya,"


"Adrian bisa bantu apa supaya pekerjaan Daddy cepat selesai?"


"Adrian menghentikan tangis saja, itu sudah sangat membantu. Biar Daddy tenang bekerja,"


Adrian mengangguk dan membungkam mulutnya yang masih mengeluarkan Isak tangis. Melihat itu, Devan tersenyum tipis. "Berhenti menangis, kamu sudah sesak itu,"


Ia kembali mengangguk. Devan membawa Adrian ke kursi kebesarannya. Ia bekerja dengan Adrian di pangkuannya. Biarpun fokusnya menjadi terbagi, tapi Ia merasa lebih lega karena bisa terus memberikan ketenangan untuk Adrian.


Satu tangan Devan bekerja, satu lagi bertugas untuk mengusap punggung anaknya yang jahil itu.


Adrian sudah berhenti menangis tapi napasnya belum teratur. Ia menggosok wajahnya di blazer Devan yang mahal itu. Devan tersenyum geli dan tidak merasa keberatan sama sekali. Entah Adrian memang tidak sengaja melakukannya atau dia sudah kembali jahil.


****


Lovi sedang membuatkan Andrean teh hangat karena anaknya itu mengeluh kedinginan.


Saat sedang mengaduk teh nya, tiba-tiba saja cangkirnya terjatuh dan pecah. Lovi terkejut dan menatap pecahan cangkir di lantai dengan tatapan bingung.


"Kenapa aku gelisah begini ya?"


Lovi segera merunduk untuk membereskan pecahan cangkir yang berserakan di lantai.


"Awsss," Lovi meringis saat salah satu serpihan cangkir menusuk jarinya. Tiba-tiba saja Ia tidak fokus.


Salah satu maid menghampiri Lovi.


"Nona, biar saya yang membereskannya. Astaga, kau sudah terluka, Nona."


"Tidak apa. Kalau begitu, tolong bersihkan ini semua ya. Terima kasih,"


"Iya, Nona. Segera obati lukamu, Nona."


"Iya, tapi aku buatkan teh untuk Andrean dulu,"


"Banyak yang bisa membuatnya. Nona tidak perlu khawatir. Nona obati saja luka itu,"


Akhirnya Lovi mengangguk. Ia membiarkan maid yang membuat teh untuk sang anak sulung.


Saat masuk ke dalam kamar, Andrean menoleh padanya dan mencari-cari teh yang dia inginkan.


"Teh untukku dimana, Mom?"


"Akan dibuatkan oleh maid. Tunggu sebentar ya,"


"Okay, Mom." Andrean yang sedang bermain dengan Auristella belum menyadari kalau Lovi tengah terluka.


Ia baru sadar saat Lovi mengambil kotak obat dan mulai mengobati tangannya yang tidak sengaja tertusuk.

__ADS_1


"Mommy terluka karena apa? kenapa bisa berdarah begitu?"


"Tidak sengaja tertusuk serpihan cangkir yang pecah tadi,"


"Astaga,"


Andrean langsung mendekati Lovi untuk melihat kondisi tangan Lovi. Begitu pun Auristella. Anak bungsu Devan dan Lovi itu merasakan khawatiran juga, sama seperti kakaknya.


****


"Aku sudah katakan padamu. Jangan terlalu percaya dengan perusahaan yang tiba-tiba datang untuk memberi suntikan dana padahal sebelumnya kau belum melakukan kerja sama dengan mereka. Kamu terlalu bodoh! bukan mereka yang jahat, tapi kau tidak punya otak."


Gana memarahi Arnold yang melaporkan peristiwa yang terjadi tadi. "Bagaimana caranya kau akan menggantikan uang yang sudah aku keluarkan untuk perusahaanmu? sementara perusahaanmu sendiri dalam masa kritis sekarang,"


"Aku sedang memperbaiki nya, tapi aku perlu waktu. Aku hanya kehilangan beberapa persen saja,"


"Kau sudah memberikan pelajaran untuk Devan si brengsek itu?"


"Sudah, tadinya aku ingin mengiris nadinya. Tapi meleset,"


"Ah bodoh!"


"Aku berhasil membuat anaknya ketakutan tadi. Sebenarnya aku ingin melukai anaknya juga, tapi aku terlalu fokus memberi pelajaran untuk bedebah itu,"


"Kalau kau berhasil melukai anaknya, aku yakin Devan akan semakin meradang. Dan kau tidak bisa hidup tenang, Arnold."


"Aku tidak takut,"


"Meskipun begitu, kau harus tetap hati-hati. Perusahaan jadi taruhannya. Kalau sampai perusahaan yang kau miliki dikuasai semua oleh Devan, aku tidak akan membantumu untuk---"


"Itu tidak akan terjadi,"


"Ya, karena aku tidak akan membantumu untuk bangkit lagi. Kau pikir berapa banyak dana yang sudah aku keluarkan untuk membantu mu dalam mendirikan perusahaan? dan aku tunggu penggantinya..."


"Terus lakukan serangan untuk keparat itu. Berani sekali dia menyentuh apa yang sudah kau perjuangkan selama ini,"


"Kau bantu aku seharusnya!"


"Aku sudah membantumu untuk urusan dana. Selebihnya, aku rasa--"


"Ah kau payah! bukan hanya aku yang memiliki dendam. Tapi kau juga,"


"Karena aku sudah membantumu, jadi aku serahkan kematian Devan padamu,"


****


Ferro masuk ke dalam ruangan Devan. Terlihat Devan masih berkutat dengan pekerjaannya seraya memangku Adrian.


"Ada apa, Ferro?"


"Tuan kecil kenapa?"


"Menangis," jawab Devan tanpa suara. Ferro mengerjap bingung. "Menangis karena apa?"


Devan menunjukkan tangan nya yang dibalut perban. Ferro akhirnya paham. "Pekerjaannya bisa dilanjut besok, Tuan. Sebaiknya Tuan istirahat. Sepertinya luka itu cukup dalam. Dan Tuan kecil juga perlu istirahat,"


"Sebentar lagi aku selesai,"


Ferro meletakkan sebuah map berisi berkas-berkas, seperti biasa Devan akan memeriksa nya kemudian diberikan tanda tangan.


"Aku keluar dulu, Tuan."


Devan mengangguk. Setelah Ferro keluar dari ruangannya, Devan kembali sibuk dengan apa yang harus Ia selesaikan. Kasihan Adrian kalau terlalu lama tidur dengan posisi duduk seperti sekarang ini. Seharusnya Ia tidur di kamar yang terletak di dalam ruangan Devan. Tapi saat Devan membawanya ke sana tadi, Adrian terbangun dan menggeleng tidak mau. Akhirnya Devan kembali memangku Adrian.


*****


"Andrean mau donuts yang rasa apa?"


"Apa saja, Grandma."


"Pilih, Sayang. Selera kita berbeda,"


"Ya sudah, aku yang strawberry ini."


"Hanya satu?"


"Iya,"


"Pilih lagi yang lain,"


Andrean dan Senata sedang mengunjungi gerai donuts. Jarang sekali Andrean minta dibelikan sesuatu. Saat Ia mengatakan ingin makan donuts, Senata langsung menurutinya.


Begitu sampai di gerai donuts, Andrean malah bingung mau donuts yang mana. Karena terlalu banyak.


"Banana satu,"


"Terus apa lagi?"


"Sudah, Grandma. Jangan banyak-banyak,"


"Perjalan kita ke sini lumayan jauh, masa hanya membeli dua?"


Andrean menatap satu persatu. Ia yakin hanya lapar mata, jadi tidak mau membeli banyak-banyak. Berbeda dengan Adrian yang suka sekali menunjuk ini dan itu bila sudah diajak untuk membeli sesuatu.


"Ya sudah, Grandma yang pilihkan,"


"Jangan banyak-banyak, Grandma."


"Ya sayang, hanya lima boks."


"Itu banyak,"


"Grandma mau nya lima boks,"


"Memang habis?"

__ADS_1


"Habis,"


"Ya sudah, terserah Grandma. Aku hanya sayang uang nya kalau sampai tidak habis,"


"Kita harus berbagi juga di mansion,"


Andrean mengangguk dan menunggu neneknya itu menunjuk satu persatu donuts yang berada di dalam lemari kaca besar.


"Terima kasih,"


"Ya, sama-sama, Nyonya."


Senata merangkul cucunya lalu keluar dari gerai donuts. "Kita bisa makan donuts dan minum kopi di sini. Suasana nya tenang. Tema gerai nya juga clasik elegan,"


"Lebih menyenangkan makan apa-apa itu di rumah, Grandma."


"Sekali-sekali tidak ada salahnya, Sayang."


"Grandma mau makan di sini sekarang?"


"Tidak, lain kali saja,"


******


Reno keluar dari mobil ingin menggendong Adrian. Ternyata Devan sudah lebih dulu melakukannya. Reno segera menyingkir dan membiarkan Devan membawa anaknya keluar dari mobil dalam keadaan tertidur pulas.


Langkah Devan begitu tenang agar anaknya tidak terbangun. Sejak tadi Ia berharap Adrian melakukan apa yang Ia pinta, tidak bercerita pada siapapun mengenai kejadian yang mengejutkan tadi. Tapi sepertinya Adrian tidak akan memenuhi keinginannya. Adrian merasa bahwa semua orang harus tahu terutama Lovi dan kakek neneknya.


Saat Devan memasuki kamar, istrinya sedang berkutat dengan ponsel bersama dengan Auristella.


"Akhirnya pulang juga,"


Lovi menyambut suaminya. Dan segera menyiapkan sisi kosong untuk Adrian. Ranjang ini seperti arena bermain karena banyak sekali mainan Auristella.


"Tanganmu kenapa?"


"Hanya luka sedikit,"


"Sedikit? kenapa sampai diperban seperti itu?"


"Aku mandi dulu, Lov."


Devan pergi begitu saja ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, meninggalkan Lovi yang kebingungan karena pertanyaan nya tidak dijawab.


"Jangan kena sabun atau apapun itu di kamar mandi. Lebih baik jangan mandi,"


"Lukanya tidak parah, jadi tidak apa."


"Nanti kamu merasa sakit, Devan. Kenapa sulit sekali diberi tahu?"


"Ya, okay. Tapi aku tetap mandi dan akan menjaga lukanya dari apapun,"


Lovi menyiapkan baju dan perban untuk mengganti perban Devan nanti. Auristella melirik kakak keduanya. Tidak bisa sedikitpun melihat Adrian tenang. Anak itu pasti mengganggu.


"Jangan ganggu Adrian,"


"Ndak,"


Ia menjawab 'tidak' seraya menggeleng tapi gerak tubuhnya tidak sesuai. Ia merangkak mendekati Adrian. Kemudian menatap dalam-dalam wajah Adrian yang begitu lelap. Biasanya anak itu akan memukul-mukul wajah Adrian bila Adrian tertidur. Tapi yang Ia lakukan sekarang adalah mengusap wajah Adrian dan sudut mata Adrian seolah Ia merasakan apa yang dirasakan oleh sang kakak beberapa waktu lalu.


"Mmm," gumam Auristella memanggil Lovi. Mommy nya itu menoleh dan bertanya "Kenapa, Sayang?"


Auristella menunjukkan tangannya. Lovi segera melihat tangan anak itu. Ia kira ada apa di tangan Auristella ternyata air saja.


"Air apa ini?"


Auristella mengusap bulu mata Adrian sekarang. Lovi mengerinyit beberapa saat untuk memahami perbuatan anak bungsunya itu.


Kemudian Lovi mendekati wajah Adrian. Hidung anaknya memerah walaupun tidak begitu terlihat. Ada jejak air di bulu mata dan sudut mata Adrian yang sudah hampir hilang sempurna.


Adrian terlihat menarik napas sesaat. Napasnya itu terasa berat sekali. Dan Lovi yang melihatnya segera mengusap dada Adrian.


"Adrian sepertinya habis menangis hebat," gumam Ibu beranak tiga itu.


Auristella mengangguk seolah setuju dengan ucapan sang ibu. "Ya," katanya singkat.


Andrean sudah tiba di mansion. Ia segera masuk ke dalam kamar membawa dua buah kotak donuts atas suruhan Grandma nya.


"Mom, ini donuts dibelikan Grandma Sena. Auris tidak bisa makan donuts ya, Mom?"


"Belum bisa, Sayang."


"Adrian sudah pulang rupanya,"


Andrean baru sadar ada adiknya di bawah balutan selimut. "Lebih baik makan nya di meja makan bawah, Sayang. Biar Auristella--"


"Oh iya, aku mengerti."


Dengan patuh Ia membawa kembali dua kotak berisi donut itu ke lantai bawah tepatnya ke ruang makan agar Ia menikmatinya di sana tanpa dilihat oleh adiknya yang suka sekali menginginkan makanan orang dewasa seperti anak bayi pada umumnya. Padahal usia belum satu tahun dan tentunya belum memungkinkan untuk menikmati donuts.


"Mommy kamu dan Auris tidur?"


"Tidak, mereka sedang bermain saja. Adrian dan Daddy ternyata sudah pulang,"


Senata menemani cucunya makan donuts setelah Ia menyiapkan donuts untuk orang yang bekerja di sana.


"Tadi Mommy memecahkan cangkir dan tangannya terluka, Grandma,"


"Oh ya? sudah diobati?"


"Sudah, dan aku lihat juga Mommy banyak melamun tadi. Tapi berusaha ditutupi dengan cara sibuk bermain ponsel. Aku memperhatikan Mommy,"


Andrean yang jarang sekali bicara banyak, baru saja menyampaikan apa yang Ia lihat sejak tadi. Pemandangan dimana Lovi terlihat gelisah, berkali-kali Ia mendapati Lovi melamun juga, tapi berusaha untuk terlihat baik-baik saja dengan cara bermain ponsel dan melihat-lihat apapun yang bisa menghilangkan rasa tidak tenang di hatinya. Seperti video yang lucu mengundang tawa, dan mengajak Auristella menonton serial kartun.


-------

__ADS_1


Ah Adrian cocwit bgt nawarin diri bwt kerja wkwk. Dikata kerja segampang dia jajan kali😂


__ADS_2