My Cruel Husband

My Cruel Husband
Keputusan sudah bulat


__ADS_3

"Siapa yang mengatakannya? Aku belum mau makan,"


Devan berdecak mendengar sanggahan mantan Istrinya. Ia meletakkan mangkuk bubur di nakas lalu membantu Lovi untuk duduk.


"Adrian, geser sedikit. Bagaimana Daddy mau suapi Mommy?"


Tak habis pikir dengan anaknya yang masih menempel lekat ditubuhnya, tidak memberi peluang untuk mereka berdua.


Adrian bergeser dengan bibir mencebik. Hanya lima sentimeter dia bergeser. Memang muat untuk Devan yang besar?


"Daddy bukan semut, Adrian. Geser lagi,"


Lovi terkekeh melihat kelakuan anaknya yang tak henti membuat orang kesal.


"Daddy mau suapi Mommy saja banyak peraturannya,"


Dia menyerah. Adrian beringsut mendekati sang kakak yang tengah berdiri di depan meja rias Lovi. Sibuk melihat-lihat produk perawatan Lovi yang sangat sedikit.


"Mommy kalah dengan Aunty Vanilla. Tepung untuk wajahnya saja ada sepuluh. Belum lagi pewarna untuk bibir, banyak sekali,"


Tawa Devan mengalun keras. Kalau Vanilla mendengar kalimat anak itu, sudah pasti dia mengamuk. Apa katanya tadi? Tepung untuk wajah?


Tepung yang disebut Adrian itu harganya tidak main-main. Bisa membeli banyak mainan mahal untuknya kalau dihitung-hitung.


"Ini untuk cuci muka, Mom?"


Adrian tak henti bicara dengan tangan sibuk memilah-milah barang Lovi layaknya di pasar saja. Sementara Andrean hanya menyentuh tanpa perlu mengeluarkan suara.


Adrian mengamati gambar wajah seorang wanita yang dalam keadaan basah di kemasan botol yang digenggamnya. Ia pastikan itu untuk membersihkan wajah.


"Mommy beri tahu juga percuma. Kamu tidak akan mengerti,"

__ADS_1


"Ini apa, Mom?"


Tak peduli dengan Lovi yang baru saja menolak untuk menjelaskan, anak dengan kadar penasaran tinggi itu kembali mengajukan pertanyaan.


Lovi menerima bubur yang disuapi Devan. Ia mengunyah pelan, Adrian yang merasa diacuhkan pun menoleh pada Lovi.


"Adrian di bawah saja bakar sate. Jangan di sini, berisik!"


Adrian menatap sinis kakaknya. Ia mengembalikan botol yang dipegangnya ke atas meja rias Lovi.


"Ya sudah, Adrian ke bawah. Andrean tidak boleh makan sate! Satenya punya Adrian!"


Kaki kecilnya melangkah untuk keluar dari kamarLovi. Kemudian Ia menutup pintunya dengan kasar.


Devan menghembuskan napas pelan. Adrian sudah seperti orang dewasa saja. Tidak jauh dengan Ia yang kalau marah, pasti membanting apapun.


****


Senata dan Rena sedang berbicara di meja makan. Senata bingung dengan pola pikir anaknya. Anak dalam kandungannya sangat membutuhkan Devan. Namun Lovi seolah mengelak fakta itu.


"Aku yakin mereka bisa bersatu kembali. Perasaan itu masih ada diantara mereka. Dan ketiga anak mereka akan menjadi pertimbangan Lovi. Kamu tidak perlu khawatir, Senata."


Devan kembali ke bawah untuk meletakkan piring kotor atas titah Lovi yang tak mengizinkan Devan menyuruh pelayan melakukan itu.


"Habis?"


"Habis, Ma." Usai menjawab Rena Ia melanjutkan langkahnya ke sink kitchen.


"Devan..."


Langkah laki Devan terhenti saat Senata memanggilnya. Ia segera berbalik dan menghampiri.

__ADS_1


"Kamu tidak ada niat untuk memberi tahu penyakitmu pada Lovi?"


Devan menelan ludahnya kelu. Ia menarik kursi di tengah kedua sosok Ibu itu. Lalu duduk di sana. Sepertinya topik ini cukup serius. Beruntung seluruh keluarga sedang sibuk di taman sementara Andrean menjaga Lovi.


Hanya Vanilla dan Jane yang mengetahui fakta menyedihkan dari seorang Devan.


"Tidak, Ma. Aku tidak siap mendapat penolakan Lovi saat dia mengetahui..." Devan melirik sekitar kemudian melanjutkan ucapannya dengan suara pelan, "penyakitku,"


"Dia belum tentu menolak kamu. Akan lebih baik mulai semuanya dari awal dengan kejujuran,"


"Benar apa yang dikatakan Mama Senata, Devan."


Devan menatap kosong meja makan. Tangannya terulur untuk membuat pola abstrak di sana.


"Kalau seandainya Lovi kembali pada kamu, kalian sudah hidup bahagia, lalu tiba-tiba saja dia mengetahui hal itu. Apa yang akan dia pikirkan, Devan? Dia mungkin akan kembali membenci kamu karena tidak jujur dari awal,"


Devan menjerit dalam hati saat Rena memberinya kemungkinan yang akan terjadi. Ia tak bisa membayangkan. Kalau hal itu sampai terjadi dalam pernikahan keduanya. Apakah akan hancur?


"Aku tidak ingin penyakitku itu membuat Lovi enggan kembali menerimaku. Padahal aku sangat membutuhkannya di sampingku,"


Senata meraih tangan menantunya. Ia menatap mata Devan lamat-lamat. Ketakutan memang tergambar jelas di sorot tajam itu. Mungkin Ia akan mati bila harus ditinggalkan Lovi untuk kedua kalinya.


"Percaya pada Mama, Lovi akan menerima kamu apa adanya. Asal kamu jujur sejak awal. Dia juga sangat mencintai kamu, Devan."


"Kalau dia memang ingin kembali dengan kamu, maka penyakit itu bukanlah hal yang penting untuknya," Rena menambahkan kalimat Senata. Lovi bukanlah perempuan yang haus akan kesempurnaan. Dia yakin Lovi bisa menerima putranya yang sedang terpuruk ini.


Devan berdehem sebentar lalu berusaha tampil baik-baik saja. Keputusannya sudah bulat untuk menyembunyikan hal itu dari Lovi entah sampai kapan. Ia berharap untuk segera sembuh agar sebelum Lovi tahu, penyakit itu sudah hilang.


Devan terlalu takut untuk menerima penolakan. Kalau Lovi mengetahui penyakitnya, mungkin saja perempuan itu akan berpikir berkali lipat sebelum menerima Devan. Karena penyakit Devan tidak bisa dianggap remeh. Kapanpun dan dimanapun Devan bisa menyakiti Lovi dan anak mereka.


------

__ADS_1


Waww marathon gengss😂😂 4 Ep langsung aku up malem ini. Maap yaa td pagi, siang, sore aku gk bs nyapa klean. Kata riderq : Dih sapa yg mo disapa😒 YA POKONYA, INTINYA VOTE & KOMEN DEH😂😂kl voment klean byk kn aku jd semangat nulis walopun sakit begini. THANKISS💙😚


__ADS_2