
Dari dini hari Lovi sudah bangun untuk mempersiapkan sarapan dan bekal selama di perjalanan kalau-kalau diperjalanan mengalami kendala.
Hari ini keluarga besarnya akan berlibur bersama ke sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota. Sudah dari awal bulan Devan dan para sepupunya merencanakan liburan ini. Akhir bulan lah waktu yang tepat untuk mereka pergi berlibur. Mereka memilih tempat tersebut agar mendapatkan ketenangan karena suasananya berbeda sekali dengan tempat tinggal mereka selama ini yang dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi, kesibukan orang-orang penghuninya, dan kemewahan khas kota besar.
Membawa anak kecil untuk pergi berlibur sulit sekali menurut Lovi. Ia harus mempersiapkan semuanya dengan matang. Pakaian sudah Ia siapkan jauh-jauh hari tepatnya setelah Devan memberi tahu tanggal keberangkatan mereka, begitupun dengan makanan-makanan ringan untuk mereka selama di perjalanan.
"Nona, stroller si kembar juga dibawa?"
"Tidak usah, Reno. Mereka tidak kelelahan lagi kalau diajak berjalan, Lagipula kita akan banyak menginap,"
"Baik, Nona."
Saat usia tiga sampai empat tahun Andrean dan Adrian memang belum kuat diajak berjalan terlalu jauh bila mereka berekreasi. Tapi sekarang justru sebaliknya.
Tidak ada kata lelah untuk mereka terutama Adrian yang sejak semalam sudah sulit tidur karena tak sabar ingin menikmati liburan bersama keluarganya.
Setelah menyiapkan French fries dan scrambled egg untuk sarapan dan bekal sebelum sampai di tempat mereka menginap, Lovi memasuki kamar kedua anak laki-lakinya. Ia akan membangunkan mereka terlebih dahulu. Sementara Auristella dan Devan menyusul.
Andrean adalah anak yang sangat sulit untuk dibangunkan, berbeda sekali dengan kedua adiknya yang ditepuk-tepuk sedikit wajahnya bisa terbangun.
"Waktunya berlibur. Bangun-bangun, cepat!" Seru Lovi seraya membuka gordyn kamar. Adrian langsung mengerjap dan mengulurkan tangannya pada Lovi yang sedang mendekati ranjangnya.
"Ayo, cepat mandi! Kita akan berlibur hari ini. Tidak lupa 'kan?"
"Tidak mungkin lupa," jawab anak itu dengan suara khas bangun tidur. Ia yang selalu manja bila baru bangun tidur meminta untuk digendong oleh Lovi ke kamar mandi.
"Bajunya ada di closet kamar Mommy ya,"
"Iya, Mom."
Anak kedua Lovi dan Devan itu menutup pintu kamar mandi setelah Lovi menurunkannya. Saatnya Lovi membangunkan anak sulungnya yang sulit untuk tidur dan sulit juga untuk dibangunkan.
"Andrean, mau ikut berlibur tidak? Kalau mau, bangun sekarang."
Andrean melenguh dan malah memeluk lehernya, Lovi berdecak gemas, "Andrean, ayo bangun. Jangan malas-malasan lagi. Kamu mau ditinggal?"
"Tidak, Mom."
"Ya sudah, cepat bangun. Sebentar lagi waktunya kita berangkat."
"Iya, Mom."
Lovi melepas jeratan tangan anaknya di leher, lalu Ia menunggu reaksi selanjutnya dari Andrean. Belum juga ada pergerakan. Napasnya bahkan masih teratur.
"Andrean, mau Mommy siram pakai air ya? Sulit sekali kamu dibangunkan,"
Akhirnya Andrean bangun. Ia mengacak pelan rambutnya lalu menatap Lovi. "Kita jadi pergi?" Tanya anak itu dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.
"Menurutmu?"
"Harus jadi,"
"Dari tadi Mommy bilang apa?"
"Tidak dengar,"
Lovi berdecak lalu meraih tangan putra sulungnya agar berdiri. Mata Andrean belum rela terbuka. Ia masih mau berada di alam mimpi, tapi itu tak boleh terjadi. Ia tidak mau ditinggal sendirian di mansion, sementara semua penghuninya melepas penat dengan liburan.
******
Semua keluarga Devan berkumpul di mansion untuk memulai perjalanan bersama. Adrian senang luar biasa saat sepupu-sepupunya datang. Ia langsung menunjukkan robotnya yang canggih itu.
Semuanya begitu antusias memainkan robot milik Adrian. Bahkan Kayla, sepupunya yang perempuan dan paling kecil pun demikian.
"Coba aku pakai remote-nya. Jangan pakai tombol terus,"
"Ini remote-nya,"
Kamar Adrian dan Andrean seketika diramaikan oleh anak-anak kecil, sementara para orangtua mereka sedang berbincang sebentar.
Andrean baru selesai sarapan, begitupun dengan Auristella yang begitu bangun dan dimandikan malah merajuk sampai menangis. Andrean begitu mengayomi adiknya. Auristella kesal dengan Lovi yang membangunkannya, oleh sebab itu Andrean lah yang menyuapi anak itu sarapan.
Setelah menyantap sarapan, Auristella minta dikeluarkan dari baby chair-nya dan ingin digendong oleh kakak sulungnya.
Namun Devan melarang. "Andrean juga tubuhnya masih kecil, Auris. Daddy saja yang gendong,"
"Jangan Daddy! Daddy bau asap,"
"Kamu merokok?" Tanya Lovi seraya menajamkan tatapan pada suaminya. Ia terkejut saat mendengar Andrean bicara seperti itu.
"Tadi, sebelum mandi. Aku bangun tidur kan kedinginan, Lov. Jadi sambil menunggu rasa dingin itu hilang, aku begini saja," jawabnya santai seraya mengangkat jari telunjuk dan tengahnya lalu diletakkan tepat di depan bibir.
"Sekali-sekali tidak apa bukan?"
"Terserah," ujar Lovi singkat. Kalau Devan tak memiliki anak kecil, mungkin Lovi tidak terlalu cerewet masalah itu. Tapi masalahnya, mereka masih memiliki anak kecil dan apakah Devan tidak mau memikirkan kesehatannya sendiri? Masalah minum kopi dan rokok, Lovi sudah tak mau ambil pusing lagi sepertinya. Karena percuma juga diberi tahu kalau belum memiliki niat untuk menerapkan hidup sehat. Devan sering tertangkap berbohong. Malam-malam Ia masih suka membuat kopi tanpa sepengetahuan Lovi sehingga Ia tidur sudah hampir dini hari. Lovi mengetahuinya dari bekas gelas yang digunakan Devan dan tidak langsung di cuci oleh suaminya itu, sementara Lovi hampir setiap hari menjadi orang yang bangun pertama kali dan masuk ke area dapur. Yang dilakukannya sampai rasa kantuk itu datang adalah bekerja, bekerja, dan bekerja. Padahal yang Lovi inginkan bila Devan sudah di mansion adalah istirahat.
"Daddy sudah berganti baju. Ayo, kemari Auris. Jangan Andrean yang menggendongmu,"
Auristella menggeleng dan malah mengulurkan tangan pada Andrean. "Ck! Aneh-aneh saja kamu. Andrean tidak kuat. Mengerti tidak?!" Tanpa sadar Devan mengeluarkan suara tingginya. Ia kasihan pada Andrean yang serba salah. Adiknya minta digendong, tetapi Devan melarang untuk kebaikannya.
Lovi melirik sang suami yang nampak berbeda jika sudah marah seperti itu. Auristella yang dibentak tidak menangis, malah Lovi yang sedih. Tapi Ia tak akan mengatakan apapun. Karena dalam mendidik anak mereka harus kompak. Lagipula Auristella memang salah, memaksakan kehendak padahal kakaknya jelas tidak bisa melakukan itu.
Lovi mengulurkan tangannya ke arah Auristella. Ia menggeleng dan malah mengalihkan perhatian pada Andrean.
"Auris mau kemana memang? kenapa harus aku yang gendong?"
Auristella berteriak kesal karena Andrean tak menyambut uluran tangannya. Devan menggeram, Ia segera meraih Auristella. Tak peduli anak itu menangis.
Ia segera membawa Auristella ke kamar Andrean dan Adrian untuk memanggil anak kedua dan keponakannya agar segera bersiap.
"Diam! tidak boleh menangis, kamu tidak kasihan pada Kakakmu? kamu 'kan sudah berat," Devan melotot sejenak dan Auristella semakin menangis.
Devan menghembuskan napasnya berusaha sabar. Ia menimang seraya berjalan untuk menghampiri Adrian yang entah berbuat apa di dalam kamarnya.
"Bersiap, Sayang. Sebentar lagi kita berangkat," Lovi mengisyaratkan Andrean untuk mengikutinya keluar dari ruang makan.
Begitu sampai di kamar Adrian, Auristella semakin menangis karena Ia melihat robot Adrian lagi untuk kedua kalinya.
Ia berontak dalam gendongan Devan hingga Daddy-nya itu semakin kesal. Ia belum mengerti dengan keinginan anaknya itu.
"Sebenarnya kamu kenapa sih? masih saja menangis padahal sudah tidak Daddy marahi,"
Berbeda dengan Auristella yang menangis, Adrian justru tertawa keras seraya menunjuk adiknya, "YHAAAA TAKUT ROBOT."
"Memang Auris takut robot?" tanya Kenith, sepupu laki-laki Adrian.
"Iya, takut sekali dia,"
Semuanya tertawa sementara Auristella masih meminta ayahnya untuk segera keluar. "Ayo keluar. Kita sudah mau berangkat," ujar Devan sebelum Ia meninggalkan semua yang sedang tertawa itu.
"Dad, aku boleh bawa robot?"
Mata Devan melotot terkejut dan kesal. Yang benar saja Adrian ini. Adiknya takut melihat robot, lalu muncul ide untuk membawa robot tersebut. Akan jadi seperti apa liburan mereka kali ini?
__ADS_1
"Tidak boleh! liburan hanya membawa mainan yang kecil-kecil. Robot sebesar itu mau dibawa pakai apa? Kamu jalan kaki membawanya, bisa?" ujar Devan mengungkapkan alasannya tak menyetujui.
"Bisa!"
Rome yang mendengar jawaban sepupunya itu langsung menyambar dengan ledekan, "Halah-halah, baru juga dua langkah, kamu pasti akan pingsan."
********
"Aku dan Jhico ikut ya,"
"Serius? wow, akan semakin menyenangkan kalau ada kamu,"
"Tentu saja,"
Begitulah sepenggal percakapan Vanilla bersama Devan dan Jane yang mengajaknya untuk turut serta berlibur bersama keluarga besar. Vanilla belum mengatakan apapun pada suaminya. Tetapi Ia setuju-setuju saja. Lagi pula kalaupun Jhico ternyata tidak mau ikut, Ia bisa pergi bersama keluarganya saja tanpa Jhico.
Karena jawaban Vanilla itulah, Devan memutuskan untuk datang ke apartemen Vanilla agar mereka bisa berangkat bersama. Seharusnya Vanilla dan Jhico yang datang ke mansion, tapi ditunggu-tunggu tak datang juga.
Jane yang diminta untuk naik ke lantai empat puluh dua, dimana unit apartemen Vanilla dan Jhico berada.
Sampai di sana, bukan sambutanlah yang didapatnya. Jane malah harus menunggu lama sekali untuk dibukakan pintu. Mulai ketukan lembut sampai kasar sudah Ia lakukan, namun sepasang suami istri itu belum juga menampilkan wajah mereka.
Karena sudah terlalu kesal tak ada jawaban dari dalam, Jane menghubungi Rena yang menunggu di basement bawah bersama yang lainnya.
Ternyata Raihan lah yang datang, bukan Rena. Raihan yang akan membantu Jane untuk membuat Jhico dan Vanilla keluar dari apartemennya paling tidak memberi jawaban apakah mereka jadi ikut atau tidak.
Hampir mereka menyerah, akhirnya Jhico keluar dengan wajah ramah dan terlihat baru selesai mandi.
Jane langsung mengeluarkan gerutuannya begitu Jhico membuka pintu. Bahkan saat diminta untuk masuk ke dalam dan duduk, Ia masih saja mengeluarkan perasaan kesalnya yang telah dibuat menunggu.
"Entah sudah berapa kali aku mengetuk pintu. Sebenarnya dimana letak telinga kalian berdua?" kata gadis itu yang mengundang tawa kecil Jhico.
"Maaf, Jane. Aku juga bingung kenapa bisa bangun sesiang ini,"
"Ya sudah, cepat bersiap! habis waktu hanya untuk menghampiri kalian,"
Jhico mulai bingung dengan kalimat sepupu istrinya itu.
"Kamu bekerja hari ini?"
"Sebentar lagi berangkat, Pa."
Jane membuat Jhico semakin berpikir keras saat Ia mengatakan, "Kita akan liburan bersama 'kan?"
Tiba-tiba Vanilla keluar dengan penampilan yang jauh dari kata anggun. Ia mengenakan pakaian tidur dan dibalut dengan selimut.
Jhico panik melihat istrinya keluar dengan kondisi seperti itu. Walaupun tidak terbuka tetapi tidak sopan ketika ada tamu, Ia malah mengenakan pakaian tidur bahkan dengan selimut juga. Oleh sebab itu Ia langsung menyuruh Vanilla masuk lagi ke kamar.
Sejak saat itulah Jane mulai curiga dengan alasan lambatnya Jhico membuka pintu dan menyambut kedatangannya.
"Katakan pada Vanilla agar cepat bersiap. Aku sudah menunggu sejak tadi, Astaga. Tapi kenapa dia belum mandi?"
Jhico meringis seraya menggusar kepalanya. Ia harus bicara dengan Vanilla yang tidak mengatakan apapun padanya mengenai rencana liburan itu.
"Aku masuk ke kamar sebentar, Pa."
Setelah Jhico masuk ke dalam kamar, Jane dan Raihan saling tatap sebentar. "Benar-benar anak itu. Sepertinya dia dan Jhico habis---"
"Ssstt jangan urus itu,"
"Tidak, aku hanya---"
"Seharusnya kamu senang kalau itu benar terjadi. 'Kan memang sudah seharusnya suami dan istri seperti itu,"
"Kamu tidak mengerti kalau belum menikah. Maka cepatlah menikah supaya tahu seberapa lama sepasang suami istri butuh waktu untuk istirahat usai melepas penat,"
Raihan menghaluskan kalimatnya. Ia berharap Jane paham dan tak banyak bicara lagi.
*******
"PANTAS SAJA AKU MENUNGGU KALIAN LAMA SEKALI SAMPAI RAMBUTKU HAMPIR PUTIH SEMUA,"
Seru Jane setelah mendengar Adrian yang dengan polos bertanya 'Aunty Vanilla, kenapa lehernya merah-merah?' Ia tak bisa lagi tahan emosi. Satu jam Ia harus menunggu pintu apartemen terbuka, rupanya Vanilla habis skidipam-pam dengan Jhico, benar dugaannya tadi.
Ia segera masuk ke dalam mobil, meninggalkan Adrian yang sedang ditegur Devan karena mulutnya yang ceriwis. Vanilla yang tak bisa berkata apapun juga ikut masuk ke dalam mobilnya dan langsung marah-marah pada sang suami karena dengan berani meninggalkan dirinya sendiri tanpa membantu menjawab pertanyaan Adrian.
"Adrian julit!" Kayla ikut-ikutan Andrean meledek Adrian.
"Masuk ke dalam mobil sekarang!" titah Devan pada anaknya.
"Memang aku salah bertanya seperti itu, Mom?"
Adrian bertanya kebingungan. Sementara Lovi mengisyaratkan anak itu untuk diam seraya menunjuk ke arah depan. "Nanti ditegur Daddy lagi,"
"Jeli sekali anakku itu," batin Devan tak habis pikir.
********
Mereka akan menginap empat hari di sebuah resort yang berada di atas air. Pemandangannya benar-benar membuat siapapun terpana. Mereka tak sabar menantikan esok pagi. Saat bangun tidur langsung disambut dengan pemandangan yang cantik.
"Yeaayy bisa berenang sepuasnya," seru Adrian seraya melonjak kesenangan. Sebenarnya di mansion pun Ia sudah biasa berenang sepuasnya, diminta untuk segera keluar dari kolam renang Ia jarang langsung menuruti.
"Iya, habis itu sakit karena berenang tidak kenal waktu. Terus saja buat aturan sendiri," sahut Devan yang menggendong Auristella. Anak bungsunya tertidur sejak masih diperjalanan.
"Semuanya istirahat dulu ya. Mainnya nanti," kata Zio, sepupu Devan menginterupsi keponakan-keponakannya.
Para anak kecil itu akhirnya menghembuskan napas pasrah. Lalu mulai masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan tubuh kemudian istirahat sampai sore datang. Padahal mereka ingin sekali langsung berenang dan bermain.
*********
"Aku curiga dengan Elea, Pa."
"Elea? Sudah lama Papa tidak mendengar nama dia,"
"Aku pun sama. Tapi dua hari yang lalu Lovi bercerita padaku kalau Elea menjadi klien-nya. Dia menggunakan jasa Lovi untuk merancang gaun pengantin miliknya. Kalau tidak salah, dua bulan lagi dia menikah,"
Raihan terperangah beberapa saat. Ia memperhatikan Devan yang langsung geram ketika membahas gadis itu. Padahal Devan sendiri belum tahu pasti apa maksud terselubung dari sikap aneh Elea itu.
"Kalau memang dia ingin bermain, ikuti saja, Devan. Mudah membuat dia kalah, tidak perlu khawatir. Lagi pula kamu tidak ingat kalau memiliki Papa yang bisa lebih kejam dari kamu?"
"Tapi aku tetap tidak bisa tenang, Pa. Karena dia mendekati Lovi. Aku hanya takut Lovi menjadi---"
"Tidak akan berani. Dia tidak mungkin lupa sekeji apa kamu membunuh ayahnya. Dia tidak mungkin memilih nasib yang sama seperti ayahnya,"
"Mungkin saja, Pa. Tidak ada yang tahu hati iblis macam dia,"
"Grandpa, temani kita bermain voli di air yuk,"
Kedua lelaki berbeda generasi yang sedang terlibat pembicaraan serius itu langsung menoleh saat suara Adrian masuk ke dalam telinga mereka.
"Kenapa menatapku seperti itu? aku seperti hantu yang mengejutkan Daddy dan Grandpa ya?"
"Ya, bahkan lebih seram," jawab Devan dengan ringan lalu Ia bangkit dari kursi. Adrian meledek Devan dari balik punggung Daddy-nya itu.
__ADS_1
"Hey, tidak boleh begitu. Mau dihukum Tuhan?"
Adrian terkekeh lucu lalu menutup mulutnya menggemaskan. Tak menyangka kalau kakeknya akan melihat kelakuannya itu.
Devan tiba-tiba menoleh dan menatap Raihan seraya bertanya, "Apa yang dia lakukan?"
"Menjulurkan lidahnya,"
Devan menggeram gemas lalu berlari ke arah Adrian untuk mengangkat anak itu tinggi-tinggi. Adrian tertawa saat Devan menggelitik perutnya menggunakan bulu-bulu halus di dagunya.
"DADDY GELI. SUDAH CUKUP! DADDY, AHAHAHAH."
*******
Devan melarang kedua anak dan semua keponakannya untuk berenang terlalu ke tengah karena pasti akan lebih dalam. Ia hanya mengizinkan mereka untuk berenang tepat di bawah jembatan. Itupun ada Devan dan sepupunya seperti, Zio, Jhon, dan Akra yang menjaga mereka di dalam air.
Adrian melompat dari jembatan ke lautan yang berada di bawahnya. Ia langsung berenang, diikuti oleh Andrean.
"Ayo, kalian semua harus coba juga. Menegangkan tapi seru,"
"TIDAK MAU!" Kayla berteriak menolak. Ia panik saat ditantang seperti itu. Berbeda dengan kakaknya, Genta yang dengan dada membusung menerima tantangan sepupunya.
"Tunggu aku di bawah ya!"
"Okay," jawab Adrian dan Andrean bersamaan. Ayahnya Genta, Jhon merasa ketar-ketir melihat anaknya akan melompat. Ia dan Devan memang sedikit berbeda.
Devan yang melihat raut cemas di wajah seupunya langsung terkekeh geli. "Biarkan anakmu mencoba sesuatu yang menantang. Dia laki-laki,"
"Usianya baru lima tahun, Devan."
"Anakku juga. Tapi mereka berani, Genta juga harus berani, jangan seperti ayahnya yang payah. Hanya pandai bermain wanita tapi giliran dihadapkan dengan situasi seperti ini malah pucat,"
"Sialan! jangan bicarakan masa lalu lah. Kau tidak ingat masa lalumu dulu?!"
Maki Jhon seraya menyiram wajah Devan dengan air. Devan pun membalasnya bahkan mengejar Jhon yang berenang ke tengah demi menghindar.
"DADDY JANGAN KE SANA! KATANYA DI SANA TIDAK DANGKAL," teriak Adrian yang khawatir melihat ayahnya malah melakukan apa yang menjadi larangannya tadi.
"Ah aku juga mau ke sana,"
"Hey! tidak boleh! kalau Daddy tidak masalah karena Daddy sudah dewasa. Kamu masih kecil tidak boleh berenang ditempat yang terlalu dalam,"
"Iya, Adrian. Jangan macam-macam, jadi anak yang baik," gerutu Kayla yang geram melihat sepupunya yang sulit diberi tahu itu.
Usai Genta membuktikan kalau Ia bisa melompat dari atas jembatan, Adrian benar-benar berenang ke tengah, mendekati Devan yang belum usai balas dendam dengan Jhon.
Kemampuannya sudah sangat mumpuni dalam hal berenang. Jadi Ia tak khawatir sama sekali kalau akan tenggelam. Daddy-nya saja yang terlalu khawatir.
"Errgh anak itu benar-benar ya. Biar saja dimarahi Daddy-nya. Habis dia setelah ini," erang Zio tak habis pikir dengan sikap Adrian yang keras kepala.
"Sama seperti Devan. Keras kepala,
dan terlalu berani," gumam Akra yang tak pelak merasa takjub juga dengan Adrian. Di lihat dari tempatnya saat ini, anak itu begitu pintar berenang.
Devan mengeluarkan kepalanya dari air lalu mengusap wajahnya usai menarik kulit kaki sepupunya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jhon.
"Astaga, bulu kakiku hampir rontok bodoh!"
Devan tersenyum menyebalkan. Tak lama, Ia dikejutkan dengan kehadiran Adrian di sampingnya yang tersenyum setelah sebelumnya Adrian menyentuh lengannya.
"Siapa yang menyuruhmu ke sini? huh?!"
"Hati kecilku,"
"Selalu saja tidak mau dengar ucapan Daddy. Kalau kenapa-kenapa siapa yang dibuat khwatir?! kembali ke sana sekarang!" sentaknya yang mau tak mau membuat nyali Adrian menyusut. Ia segera menepi. Dan kakaknya langsung menepuk bahunya. "Dimarahi 'kan? makanya kalau diberi tahu untuk kebaikanmu jangan membantah,"
"Ah diam! aku mau berenang lagi,"
Sementara para laki-laki berenang, yang perempuan sibuk berbincang seraya menikmati semilir angin dan nikmatnya sandwich.
"Lain kali kita harus seperti ini lagi. Jangan tunggu liburan lah. Sebulan sekali paling tidak kita harus bertemu,"
"Lovi, jangan sibuk di mansion terus. Suamimu 'kan bukan bayi, anak-anakmu juga sudah mulai besar. Sekali-sekali cari hiburan keluar,"
"Aku sudah terhibur dengan kehadiran mereka,"
Jawaban polos keluar dari mulut Lovi, dan mereka yang mendengar ikut tersentuh. "Aku dengar-dengar kamu sudah sibuk lagi di butik?"
"Hanya sesekali aku datang ke sana,"
"Lain kali aku harus singgah,"
"Iya, itu harus. Kita bincang-bincang di butikku saja lain kali,"
"Aku heran, suamimu sudah punya banyak uang, tapi kenapa kamu bekerja juga?"
"Hanya untuk mengisi waktu luang saja. Seperti yang kalian tahu, Auris sudah lumayan besar, jadi terkadang aku rindu saat-saat dimana aku mengurus dia waktu masih bayi. Daripada aku seperti itu terus, lebih baik cari kesibukan lain,"
Vanilla menemani Jhico yang duduk bersama Auristella di tangga dekat jembatan. Sengaja Jhico tidak turut bergabung bersama sepupu Vanilla yang lain karena Auristella takut bila dibawa berjalan-jalan di air padahal Ia digendong dan dipastikan aman oleh Jhico. Oleh sebab itu Jhico duduk di tangga bersama Vanilla juga, seraya mengajak Auristella bercanda.
"Sepertinya dia sering berenang. Tapi kenapa sekarang malah takut ya?"
"Selama ini Auris hanya berenang di kolam, Nilla. Ini 'kan bukan, mungkin itu yang membuat dia takut,"
"Oh iya, benar juga pemikiran dokter tampanku ya,"
Vanilla menyentuh dagu Jhico yang langsung dihindari suaminya itu. Jhico terkadang salah tingkah kalau dikatakan tampan oleh istrinya.
"Aduh, seperti pengantin baru yang sedang bulan madu ya kalian ini. Ingat, ada kami di sini."
"Banyak bicara mulutmu, Zio. Kamu mau aku lempar ke mulut ikan hiu yang ada di sini?!"
"Tidak ada ikan hiu. Paling ikan-ikan kecil,"
"Bisa saja ada, kita tidak tahu di bawah sana ada apa saja,"
"Mereka tidak suka aku, Vanilla."
"Kamu single, bisa jadi ikan mencintaimu,"
"Sinting!"
"Lebih baik aku tidak menikah daripada harus bersama ikan. Kalau dengan ikan, namanya bukan memperbaiki keturunan,"
"Tapi apa?" tanya Vanilla penasaran. Zio bersiap ingin menyiram wajah Vanilla dengan air lagi tetapi secepat kilat Vanilla menghindar.
"Pikir saja sendiri! hati-hati, Vanilla kalau bicara sama single. Doa-doanya lebih didengarkan oleh Tuhan. Nanti kalau aku minta pada Tuhan supaya Jhico selingkuh lalu Tuhan mengabulkan--"
BUGH
Vanilla melempar bola voli cadangan yang ada di dekatnya ke arah Zio yang tak sempat menghindar. Alhasil kepalanya terkena bola itu. Auristella langsung tertawa melihatnya, apalagi ketika Zio menjadi seperti orang mabuk yang matanya berkunang-kunang dengan kepala miring ke kanan dan ke kiri.
Zio sengaja menghibur keponakannya, Auristella yang sejak tadi dilihatnya murung saja bersama Jhico, tak mau bergabung dengan yang lain karena takut berada di laut seperti ini. Padahal ini bukan laut lepas yang dihuni oleh hewan-hewan buas, dan kedalamannya juga tidak terlalu mengkhawatirkan hanya saja untuk anak kecil memang perlu untuk selalu diawasi.
__ADS_1