My Cruel Husband

My Cruel Husband
Tidak boleh menikmati watersport


__ADS_3

"Jangan hanya aku saja yang diledeki karena masih single. Itu yang duduk dan ikut-ikutan berbincang dengan para istri juga seharusnya diledeki biar adil," ujar Zio menunjuk Jane dengan dagunya. Sedari tadi Jane memang bergabung bersama Lovi, Jo, Nindya, dan, Devira yang sebenarnya juga masih single hanya saja selalu Zio yang menjadi bulan-bulanan bila sedang kumpul keluarga.


"Aku sudah punya kekasih. Namanya Richard, lupa atau bagaimana?"


"Semoga selesai liburan putus, Ya Tuhan."


"HEY MULUTMU!" Jane berseru tidak terima seraya menunjuk Zio dengan telunjuknya. Zio memasang ekspresi tengil yang membuat gadis itu tak mau kalah untuk menimpali.


"Semoga selesai liburan Zio mendapat jodoh, Ya Tuhan. Aku baik 'kan? kamu menyumpahi aku yang buruk-buruk, aku balas dengan doa baik. Katakan apa padaku? 'terima kasih, Jane yang cantik', cepat katakan itu!"


Zio berdecih tak mau. Ia melanjutkan renangnya. Lelaki tampan tapi sayang masih single itu menghampiri Adrian yang baru saja memanggilnya.


"Uncle, foto kita semua ya,"


"Tidak ada kata 'tolong' sepertinya," Devan memperingati sang anak. Adrian menepuk pelan bibirnya, "Oh ya, lupa." Ia kembali beralih pada Zio "Tolong fotoi kita ya,"


"Daddy juga termasuk?"


"TIDAK! HANYA ANAK-ANAK KECIL SAJA. ORANGTUA TIDAK USAH,"


Devan mendengus ketika dilarang seperti itu. "Dimana kamera, Dad?"


"Itu, ambil sendiri."


"Ada yang merajuk karena tidak diajak foto," sindir Jhon dengan gaya menyebalkan-nya. Ia sengaja bicara seperti itu dengan tambahan nada yang terdengar sangat mengejek.


Adrian berenang, mendekati Vanilla, Jhico, dan adiknya. Karena kamera berada di samping Vanilla. "Itu kamera Aunty,"


"Kata Daddy--"


"Yang itu, Adrian. Kameramu dipegang Mommy. Makanya dengar baik-baik kalau orangtua bicara jangan sibuk sendiri," kata Devan karena saat Ia memberi tahu letak kamera, Adrian malah sibuk mengatur gaya diri sendiri dan semua sepupunya, bak fotografer saja dia.


"Mommy, lempar kameranya,"


"Astaga, tengil sekali gayanya. Dilempar? kau pikir kamera itu kamera mainan seperti milik Auris kali ya?" sahut Akra yang tak habis pikir. Kalau Adrian anaknya, mungkin sudah Ia sembur dengan gerutuan.


Mommy berjalan lebih ke tepi jembatan lalu menunduk untuk menyerahkan benda yang diminta anaknya. Adrian yang jahil selalu saja punya cara untuk membuat orang sebal. Ia menarik tangan Lovi sampai-sampai Mommy-nya itu hampir terjatuh ke air.


Lovi berteriak dan berhasil pindah sedikit ke tengah jembatan, menghindari kejahilan Adrian yang terpingkal di bawah sana. "Ah Mommy payah. Kalau tidak berenang itu rasanya ada yang kurang,"


"Mommy tidak mau." Lovi merajuk dan menatap Adrian dengan kesal karena anaknya malah tertawa melihat kepanikan di wajahnya.


"Kenapa tidak mau?"


"Mommy lagi sakit. Sudah, cepat foto-foto jangan banyak bicara,"


"Huh? Mommy sakit, Dad?"


"Ya," jawab Devan singkat, pertanda Ia tak ingin membahas lebih.


"Sakit apa, Mom?" tanya Adrian.


"Berdarah. Sudah, jangan banyak tanya lagi. Cepatlah foto-foto, setelah itu kita siap-siap dinner,"


"Berdarah?"


Devan menghembuskan napasnya berusaha sabar. Kenapa Ia harus memiliki anak yang rasa penasarannya sangat tinggi?


"BERDARAH? YAH, TIDAK BISA SKIDIPAM-PAM YA? SAYANG SEKALI, PADAHAL DI SINI SANGAT ROMANTIS, DEVAN." Teriak Jane kian memanasi suasana hati Devan yang memang sejak awal mengetahui kalau istrinya datang bulan langsung merasa gundah. Padahal Ia sudah membayangkan akan mencapai puncak gairah bersama Lovi di malam pertama mereka di sini, bila tidak ada gangguan dari ketiga anaknya.


******


Setelah membasuh tubuh dari air usai berenang, mereka semua akan pergi ke sebuah pantai yang tak jauh dari resort dan akan dinner di tepi pantai tersebut.


"Ditutup jaketnya. Di luar dingin, Adrian."


"Tidak mau, lebih keren jaket terbuka,"


"Ck! lebih mementingkan keren atau kesehatan?!"


Adrian tak mendengarkan ucapan Mommy-nya. Ia keluar dari kamar kedua orangtuanya untuk menghampiri semua sepupunya.


Lovi yang tak dipedulikan oleh anak itu pun menggeram. Ia menarik Zipper jaket yang dikenakan Auristella yang tadi dimandikan oleh Vanilla. Lovi menerima anaknya sudah dalam kondisi bersih dan harum. Ia senang sekali saat Vanilla berhasil memandikan anaknya tanpa ada drama tangisan yang diciptakan oleh Auristella.


Andrean memasuki kamar orangtuanya dengan penampilan yang begitu tampan, seperti biasa. Ia dan Adrian walaupun masih kecil sudah memiliki pesona yang luar biasa.


"Andrean sudah siap?"


Andrean mengangguk. Ia mandi sendiri, pakai baju pun sendiri. Tidak seperti adik keduanya yang tadi mandi bersama Devan dan dipakaikan baju oleh Lovi.


"Daddy dimana?"


"Belum selesai mandi,"


Andrean duduk di tepi ranjang. "Lama sekali," ujarnya seraya menatap pintu kamar mandi.


"Tadi harus memandikan Adrian dulu. Dan kamu pasti tahu, Adrian tidak pernah mau cepat-cepat selesai kalau sudah mandi,"


Saat Andrean sibuk memperhatikan Auristella yang saat ini tengah dikenakan crocket baby hat oleh Lovi, ponsel Lovi yang berada tak jauh darinya nampak bergetar dan menyala. Anak sulung itu langsung meraihnya dan menyerahkan benda tipis dan canggih tersebut pada Lovi.


"Hallo Elea, ada apa menghubungiku sore-sore begini?"


"Aku mau tanya perkembangan gaunku. Sudah dimulai kah prosesnya?"


"Sudah, polanya sudah jadi dan aku sudah mulai membuat gaunnya juga. Kamu ingin melihatnya?"


"No, aku hanya ingin meminta tolong lagi padamu. Untuk pemberkatan nanti, jas milik calon suamiku belum ada. Hanya untuk resepsinya saja. Bisakah kamu membuatnya juga?"


Lovi nampak ragu untuk menjawab 'ya'. Karena jujur Ia sangat jarang merancang pakaian untuk laki-laki. Karena Lovi merasa belum begitu percaya diri.


"Aku usahakan ya."


"Lalu--"


"ERRRGHH!" Auristella berteriak dan melepas topi rajut dari kepalanya saat Lovi sudah mengikat tali topi itu di bawah dagunya.


"Elea, aku tutup dulu teleponnya. Karena aku sedang bersama anak-anakku,"


"Oh ya, terima kasih, Lovi."


Bertepatan dengan panggilan terputus, pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Devan yang sudah segar dengan balutan handuk di pinggangnya.


"Dad, jangan suka pamer perut, tidak bagus juga,"


"Sembarangan, perut Daddy ini bentuknya kotak-kotak seperti bantal. Mommy saja suka---"


"Lebih baik cepat bersiap-siap, daripada bicara hal seperti itu pada anak,"

__ADS_1


"Okay, Sayangku. Tapi aku mau tahu, siapa yang menelponmu tadi?"


"Elea,"


Mata Devan berotasi lalu segera bersiap sebelum istrinya bicara lagi. "Dia teman Mommy?" tanya Andrean seraya mencoba membujuk Auristella untuk memakai penutup kepalanya agar Ia tak begitu merasa dingin.


Auristella merengek dan kembali melepaskannya. Lovi yang melihat itu menggeleng, memberi tahu Andrean agar tak lagi memakaikan benda itu di kepala adik bungsunya.


"Klien Mommy," jawab Lovi yang diangguki Andrean. "Tidak mau pakai topi, Auris? kamu yakin? kalau kamu tidak pakai topinya, ya sudah buat aku saja," walaupun sedikit kekecilan ketika dipakainya tetapi setidaknya hal yang Ia lakukan itu berhasil membuat Auristella mau dipakaikan topi. Anak bungsu Devan dan Lovi itu segera meraih topi tersebut dari kepala sang kakak, Ia tak mengizinkan siapapun mengambil barangnya.


"Pakai, jangan dipegang saja." Saat Andrean akan membantu, Auristella menggeleng dan ingin memakainya sendiri.


"Sekarang giliran Mommy yang bersiap,"


"Iya, Mom. Aku yang akan menjaga Auris,"


********


"Pantainya kenapa sepi ya, Dad?"


"Sudah dibooking untuk private dinner kita,"


"Oh pantas,"


Andrean, Adrian, dan Auristella duduk di tengah-tengah kedua orangtuanya. Di tepi pantai ada meja yang tidak terlalu tinggi dan disusun satu persatu dengan sedikit jarak, sehingga satu orang memiliki satu meja untuk menikmati dinner malam ini.


"Kita foto-foto dulu. Masih terlalu sore kalau kita langsung dinner,"


"Itu yang aku tunggu-tunggu sejak tadi. Ayo kita berfoto," Vanilla berseru tak sabar. Gadis itu memang akan selalu mengabadikan setiap momen.


Mereka semua berpose di detik-detik matahari akan terbenam. Latar berupa sunset itu membuat foto semakin indah. Mereka menghabiskan waktu untuk berfoto sampai hari berubah menjadi gelap. Yang sering menjadi fotografer adalah Zio. Terutama untuk keluarga kecil Devan, Zio seperti fotografer pribadi saja.


"Devan, ingat ya kalau ini semua tidak gratis,"


"Tenang, kau mau Ferrari atau Bugatti?"


"WOW BENAR YA?! AWAS KAU KALAU BOHONG, AKU LEDAKKAN RUMAH MEWAHMU YANG SUDAH LAMA TIDAK DITEMPATI ITU,"


"Silahkan, aku bisa buat yang baru,"


"Sombong sekali si baj--"


"Sssstt hey! mau bicara apa kamu?!" mata Rena melotot tajam, memperingati Zio yang pasti akan mengucap sesuatu yang kasar.


"Anak-anak sedang berlarian. Tidak ada yang mendengar,"


"Tetap saja! kamu dan Devan sama-sama punya kebiasaan buruk bicara kasar,"


Semua pekerja di mansion yang juga turut serta berlibur, tampak mengawasi kedua anak Devan yang sedang bermain bersama semua sepupunya yang juga didampingi oleh perawat masing-masing.


"Tuan kecil, jangan menyentuh itu. Tangannya nanti kotor," seru Netta melarang Adrian yang ingin menyentuh pasir. Mulai lagi tingkah anehnya. Sudah mandi dan sebentar lagi akan makan, dia malah mau bermain pasir.


Serry menggendong Auristella yang sedari tadi tertawa-tawa melihat kedua kakak dan semua sepupunya saling berkejaran di tepi pantai sampai semilir angin pantai menerbangkan rambut mereka.


Zio menepuk tangannya untuk mengalihkan perhatian semua keponakannya. "MAKAN SEKARANG! KALAU TIDAK, KITA LANGSUNG PULANG SAAT INI JUGA," Semuanya langsung berhenti bermain. Seketika kaki-kaki kecil mereka kembali ke tempat masing-masing untuk menyantap dinner.


Zio sejak berlibur seperti seorang guru untuk Adrian, Andrean, Kenith, Sandra, Genta, dan Kayla. Setiap mereka sulit untuk diberi tahu, maka ada cara tersendiri untuk membuat mereka semua patuh.


"Kamu lebih cocok menjadi guru taman kanak-kanak daripada pengusaha. Barang kali dengan pindah profesi, kamu bisa mendapat jodoh," ujar Devira yang jarang sekali meledeki Zio, karena mereka sama-sama single.


"Kenapa tidak kamu dulu yang berganti profesi? menjadi chef hanya bertemu dengan pisau, penggorengan, dan alat-alat masak lainnya. Coba alih profesi supaya bisa bertemu dengan lelaki yang tepat," Devira terkekeh seraya menggeleng pelan. Sepertinya benar apa yang dikatakan Zio. Kesehariannya hanya bertemu dengan semua perlengkapan masak, sekalinya bertemu dengan lelaki, malah ditakdirkan menjadi jodoh orang lain. Miris sekali nasib percintaannya.


"Kenapa tidak mau? ini mirip dengan sate waktu kita ke Indonesia, Adrian."


"Ya, aku tahu. Tapi aku tidak mau kerang. Aku maunya ayam,"


"Jangan mencari yang tidak ada," gumam Devan tak mau dibuat pusing dengan keinginan anaknya.


Makan dipinggir pantai, mereka juga sudah memesan seafood, Adrian malah minta ayam. Devan lagi lapar, jadi tidak mau banyak bicara dengan anaknya itu.


"Mom, aku mau ayam." Ia beralih pada Lovi yang tengah menikmati dinner-nya bersama Auristella.


"Sekarang makan ini dulu. Nanti-nanti makan ayam,"


"Semuanya saja memakan ini, Adrian. Jangan bertingkah lah kamu itu," Andrean yang mendengar adiknya yang sedang menuntut sesuatu, langsung angkat bicara juga.


Ia tak ingin Daddy-nya marah hanya karena Adrian mengganggu makan malam mereka. Seharusnya nikmati saja yang ada, bila memang ingin, bisa dicari nanti. Adrian sebenarnya belum mau makan, masih belum puas bermain. Jadi banyak alasannya.


Akhirnya Ia menikmati sajian dengan setengah hati. Jangan sampai setelah ini Ia tak dibolehkan bermain hanya karena tidak mau makan malam.


"Mau Mommy suapi?"


"Iya, tapi pakai ayam,"


"Nanti, Sayang."


"Huh! aku laparnya sekarang," Adrian mengunyah makanan dengan malas. Hal itu tak luput dari perhatian Devan.


"Ayo, Mommy suapi, pasti habis,"


Lovi meraih piring Adrian. Ia menyuapi tiga mulut. Dirinya sendiri, Auristella, dan Adrian. Rena dan Senata tersenyum melihat Lovi yang selalu seperti itu bila anaknya bertingkah menyebalkan. Sebisa mungkin diberi tahu dengan lembut, tapi kalau sudah keterlaluan maka tak jarang juga bertindak tegas.


Usai makan malam, mereka kembali ke resort. Jarak antara resort dengan pantai sangat dekat. Sehingga mereka semua memilih untuk berjalan kaki sekaligus agar bisa menikmati angin malam.


Kayla berjalan seraya memainkan batu-batu kecil yang dilaluinya sampai terkena Adrian. "Jangan jahil! kalau aku balas, kamu merajuk nanti,"


"Tidak sengaja, Adrian."


"Ck! alasan, bukan hanya aku orang yang berjalan di depanmu tapi kenapa aku yang dihampiri batu?"


Lovi yang berjalan di samping anaknya itu mengisyaratkan mereka tidak berdebat. "Jadi makan ayam?"


"Tidak, aku sudah kenyang,"


"Bukan kenyang, memang sebenarnya sejak awal kamu tidak menginginkan itu,"


"Mau, benar mau! tapi sekarang sudah kenyang,"


Devan membulatkan mata saat melihat seorang anak yang menggunakan scooter hampir menabrak anak keduanya dari arah samping.


"ADRIAN, AWAS!"


Devan menarik tangan Adrian dengan cepat lalu menatap pelakunya dengan tajam. "Dimana orangtua-mu?"


"Aduh, urusannya langsung ke orangtua. Ngilu aku mendengarnya," gumam Jane yang diangguki Vanilla. Devan tampak marah saat anaknya yang tidak salah apa-apa hampir saja dibuat celaka. Biar bagaimanpun scooter itu akan menyebabkan Adrian kesakitan bila menabrak tubuhnya tiba-tiba.


"Maaf, Uncle. Aku tidak sengaja,"

__ADS_1


"Iya, tidak apa. Lain kali hati-hati ya," tentu saja bukan Devan yang mengatakan itu, melainkan istrinya. Devan mengeraskan rahangnya melihat reaksi Lovi.


"Pantas saja anakku bisa tertabrak tempo hari yang lalu, karena kamu terlalu memudahkan perkara menjaga anak," ujar Devan dengan dingin lalu berjalan lebih dulu. Lovi menghela napasnya pelan dan hanya bisa menatap punggung suaminya dengan perasaan bingung. Ia seorang Ibu dan tahu betul bagaimana perasaan anak bila dimarahi oleh orang yang tak dikenali. Ia membayangkan bila anaknya yang diperlakukan seperti itu.


"Aku tidak sengaja,"


"Ya, kamu boleh pergi. Orangtua-mu dimana?"


"Di sana, belum selesai membayar makanan," jawab anak itu seraya menunjuk sebuah restoran yang tak jauh dari mereka.


"Tunggu mereka, jangan pergi sendirian,"


"Ya, Aunty."


Raihan sudah mengikuti langkah anaknya lebih dulu. Sementara yang lainnya masih memperhatikan interaksi Lovi dengan si anak. Adrian hanya diam, memperhatikan Mommy-nya dan anak itu -oh lebih tepatnya scooter yang menjadi titik fokus Adrian.


Mereka melanjutkan perjalanan lagi. "Devan terlalu sensitif bila menyangkut keselamatan anaknya,"


"Iya, tidak heran sebenarnya," Nindya menanggapi ucapan Jo. "Hmm, dia ada di barisan paling depan kalau mereka bertiga kenapa-kenapa,"


Semuanya mengangguk setuju saat Devira mengatakan demikian. Sampai istrinya saja ditegur dengan tegas di depan keluarga.


******


"Kamu mau kemana? ini sudah malam, kenapa keluar dari kamar?"


"Mau minum kopi di luar sekaligus merokok. Kenapa?" dengan terang-terangan Devan menyampaikan keinginannya. Suasana hatinya kurang baik sejak berdebat masalah Adrian tadi, jadi tidak ada keinginan sedikitpun dari dalam diri Devan untuk menjaga perasaan Lovi yang tentunya akan sedih setelah mengetahui Ia kembali merokok dan meminum kopi malam-malam begini.


Lovi menggeleng pelan dan membiarkan suaminya keluar dari kamar meninggalkan dirinya bersama Auristella dan Adrian yang sudah terlelap.


Kejadian Adrian yang jatuh tempo hari masih menyimpan kesal di hatinya. Sekarang bertambah lagi ketika Lovi terlihat biasa saja saat melihat anaknya hampir terluka.


"Ada angin apa kau datang ke sini?"


sambut Jhon begitu melihat sepupunya ikut bergabung bersamanya, Akra, dan Zio. Devan duduk dengan tenang, lalu mengeluarkan pemantik serta benda yang akan berasap, yang sudah jarang Ia nikmati itu.


"AKU MELIHAT APA INI?!" Seru Zio riuh seraya mengangkat tinggi-tinggi benda-benda tersebut.


"Tidak sekalian pakai Vodca, Devan? bagaimana kalau kita pesan sekarang?"


"Boleh,"


"SERIUS KAU?!"


"Iya, tapi untuk ku siram ke mulutmu yang banyak bicara itu," jawabnya dengan tenang. Seketika tawa Akra dan Jhon pecah. Awalnya mereka mengira Devan serius dengan ucapannya.


"Itu apa?"


"Kopi, tidak mungkin aku minum air cucian mobil 'kan?"


"Basa basi supaya kau pesankan itu untukku,"


"Vodca saja untukmu. Biar mabuk sedikit lalu begitu sampai di kamar, Lovi jadi korbanmu,"


"Sialan! ada anak-anakku di sana," ujarnya yang terdengar seperti curhat. Itu yang Ia inginkan juga, tapi apa daya. Lovi sedang datang bulan, kedua anaknya juga tidur bersama Ia dan Lovi sejak awal liburan mereka. Dan Devan juga sedang malas berinteraksi dengan Lovi.


******


Begitu bangun dari tidur, Lovi segera mengeluarkan pakaian yang akan digunakan oleh Ia dan keluarga kecilnya hari ini. Mereka akan mendatangi kebun binatang dan juga pantai yang khusus digunakan untuk watersport Mulai dari banana boat, parasailing, jetski, flyboard dan lain-lain.


Para laki-laki hari ini akan menikmati wahana olahraga air itu karena sudah merindukan masa remaja mereka. Ini memang sudah masuk ke dalam list tempat yang akan mereka kunjungi selama berlibur.


Usai mandi dan sarapan, semuanya berangkat menuju tempat yang sudah dinantikan sejak kemarin oleh Devan, Zio, Jhon, dan Akra.


"Aku mau ikut Daddy!"


"Tidak boleh, ini untuk usia di atas tujuh tahun,"


"HAAAA KENAPA DADDY BAWA AKU KE SINI KALAU AKU TIDAK BOLEH NAIK BANANA BOAT JUGA?"


Devan mengangkat bahunya tak merasa bersalah. Sesekali Ia menyenangkan diri sendiri. "Nanti kita ke kebun binatang. Kamu bisa bermain di sana," ujarnya menenangkan.


"Tapi sekarang aku mau naik itu. Pasti menyenangkan,"


"Tentu saja, Daddy ke sana dulu ya,"


Adrian berteriak kesal dan melonjak-lonjak tak terima ketika melihat Devan dan semua unclenya sudah bersiap naik banana boat, permainan pertama untuk mereka setelah sampai. Rencananya setelah ini akan menikmati yang lainnya.


Adrian menangis melihat Devan sudah berangkat ke tengah pantai dengan perahu karet berbentuk pisang itu.


"Mommy, Aku mau naik itu. Kenapa harus ada aturannya? kenapa Mommy tidak bohong saja pada petugasnya tadi kalau usiaku sudah lebih dari tujuh tahun,"


"Mana bisa bohong? tinggimu juga harus diukur,"


Vanilla membawa keponakannya ke atas pangkuan. Ia tahu betul perasaan Adrian saat ini. Ia pasti sudah berharap bisa ikut menikmati semua wahana itu tetapi karena ada peraturan tersebut maka harapan hanya tinggal harapan. Sebenarnya Devan dan yang lainnya sudah menyadari kalau Andrean dan semua sepupunya yang lain tak akan bisa mencoba berbagai jenis wahana tersebut karena usia mereka yang belum mencukupi. Itulah tujuannya mengapa Devan akan membawa mereka ke kebun binatang setelah dari pantai ini agar mereka tak sedih lagi. Devan yakin di kebun binatang pun tak kalah menyenangkan untuk mereka yang masih kecil.


"Aunty juga tidak ikut. Sudah, jangan sedih lagi,"


"Iya, Adrian. Nanti kita akan memberi makanan untuk hewan-hewan, lebih menyenangkan daripada itu semua," ujar Sandra seraya menatap ke pantai dengan pandangan kesal. Ia juga tak terima ketika ayahnya, Akra hanya bersenang-senang sendiri. Walaupun Ia sudah diberi pengertian, tetap saja rasanya masih tidak terima ketika Ia harus dibuat menunggu sementara ayah dan semua unclenya sibuk tertawa di sana menikmati hempasan air yang membasahi tubuh mereka.


"Aunty kan sudah tua kenapa tidak ikut?"


"Tua?! enak saja kalau bicara. Aunty masih muda,"


"Ya, tapi kenapa tidak ikut? usianya sudah cukup bukan?"


"Malas mandi lagi. Lebih baik diam di sini menemani keponakan-keponakan Aunty,"


"Kita minum-minum di sana, ayo." ajak Lovi pada Nindya, Devira, Jo, Jane, dan Vanilla untuk memasuki sebuah kafetaria yang tak jauh dari tempat mereka saat ini.


"Untuk menghilangkan sedih, bagaimana kalau kalian minum es krim saja?"


Lovi tersenyum miring setelah mengatakannya. Pasti suasana hati mereka akan berubah, terutama Adrian yang begitu mencintai minuman beku dan manis tersebut.


"MAU, AUNTY!" Jawab Genta, Kayla, Sandra, dan Kenith bersamaan.


Andrean masih diam, apa lagi adiknya yang sedang cemberut itu. "Andrean dan Adrian mau?"


"Andrean mau, Mom."


"Kenapa tidak semangat begitu?"


"Sejujurnya aku juga ingin sekali mencoba wahana-wahana di sana, tapi apa boleh buat."


Rupanya dibalik diamnya Andrean, anak itu juga menginginkan hal yang sama. Sedari tadi yang kukuh dengan keinginannya adalah Adrian dan sepupunya. Ia hanya diam saja. Karena percuma juga marah-marah. Hanya menghabiskan tenaga dan tetap tidak bisa melanggar aturan. Untuk apa?


"Nanti kita akan sering ke sini apa lagi kalau usia kalian sudah semakin besar. Tenang, semuanya bisa kalian coba, tapi nanti," ujar Nindya menenangkan. "Janji ya?" tanya Adrian. Nindya langsung mengusap kepala keponakannya dengan lembut. "Iya, ingatkan saja kalau seandainya kami lupa membawa kalian kembali ke sini,"

__ADS_1


"Tidak boleh lupa, Bunda." sahut Kayla seraya menggeleng tegas pada Bunda-nya. Ia juga menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri, menegaskan kalau janji itu tidak boleh dilupakan. Mereka harus sering-sering berlibur ke tempat ini lagi ketika sudah cukup usia untuk mencoba wahana air.


__ADS_2