
"Dunia sesempit ini ternyata,"
"Aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi. Bahkan bekerja di tempat yang sama,"
Lovi dan Fifdy duduk di kursi yang memanjang. Perempuan itu menarik sedikit tubuhnya agar menempati posisi kursi paling ujung. Ia masih menjaga batasan. Lovi merasa kalau Ia masih memiliki hati yang harus Ia jaga. Entah untuk siapa.
"Yang aku ingat kita pernah bertemu di rumah sakit lain. Kamu pindah bekerja?"
Lovi sedikit terkejut juga ketika mendapati Fifdy bekerja di rumah sakit ini. Seingatnya Fifdy bekerja di rumah sakit milik Devan yang pernah menjadi tempat perawatan anak-anaknya ketika sakit beberapa waktu lalu.
Fifdy mengangguk seraya menatap Lovi. Lelaki itu berusaha mendekati Lovi. Namun dengan cepat Lovi merasa waspada.
"Iya, karena menurutku terlalu jauh dari rumahku yang berada di sekitar sini,"
Lovi bangkit untuk meraih bekalnya di dalam tas. Ia merasa banyak mata tengah memperhatikan mereka dan itu benar-benar membuat Lovi tidak nyaman. Fifdy terlihat aneh saat ini.
"Lov..."
"Lovita, panggil aku dengan benar."
Sungguh, mendengar 'Lov' dari mulut lelaki lain membuat Lovi kesal. Hanya Devan yang boleh memanggilnya seperti itu.
Lovi merasa kalau dirinya sudah gila. Gila karena terlalu mencintai Devan. Seharusnya Ia tidak lagi mengingat hal-hal manis itu di saat dirinya bukan lagi menjadi Istri Devan.
Lovi kembali ke tempatnya. Mulai sibuk dengan bekalnya. Berusaha mengacuhkan Fifdy.
"Aku pernah memanggilmu begitu. Dan kamu tidak keberatan sama sekali," protes Fifdy yang membuat Lovi menghentikan kegiatan makan siangnya. Ia menatap Fifdy dengan pancaran yang berbeda. Tajam, dan tak ingin dibantah ataupun diganggu.
"Mulai sekarang jangan lagi,"
"Kenapa? Bukankah tidak ada lagi yang bisa memanggilmu seperti itu?"
"Apa Fifdy sudah tahu mengenai perceraianku? Sial! Dia terlalu ikut campur,"
Lovi tidak lagi menjawab apapun. Ia memilih untuk diam. Lovi paling tidak suka ketika kehidupan pribadinya di jadikan bahan untuk menimbulkan rasa penasaran yang berlebihan.
****
__ADS_1
Devan menggenggam kedua tangan anaknya yang saat ini tampak berjalan dengan riang. Mereka tampak menelusuri koridor rumah sakit setelah memeriksakan mata Adrian pada dokter yang bekerja di rumah sakitnya.
Hasilnya tidak membuat Devan khawatir. Mata Adrjan baik-baik saja. Namun Dokter memberinya resep untuk menghilangkan kemerahan di mata Adrian dan juga rasa pedihnya. Devan pun sudah menebus obat tersebut.
"Kita pergi kemana sekarang, Dad?" Adrian mengangkat wajahnya untuk menatap sang Ayah.
"Kemanapun yang kalian mau. Sampai malam pun akan Daddy temani,"
"YEAAAY YANG BENAR, DADDY?" Terlampau bahagia sampai-sampai Andrean yang beberapa waktu lalu dipuji atas kedewasaannya saja berhasil mengeluarkan teriakannya.
"Jangan berisik, Andrean. Mereka yang ada di sini sedang sakit, sayang. Tidak boleh diganggu," Devan memberi putra sulungnya pengertian.
Ketiganya menjadi bahan perhatian semua mata. Sampai kapanpun pesona Devan memang tidak akan pudar.
Mereka semua bisa melihat betapa lembutnya lelaki tampan itu memperlakukan kedua anaknya tanpa ada seorang perempuan di sampingnya. Sempat bertanya-tanya, namun tidak ada yang bisa mencari tahu lebih dalam. Semua akses berita sudah ditenggelamkan oleh Devan. Masalah rumah tangganya bukanlah konsumsi untuk publik.
****
Devan membawa anak-anaknya ke sebuah tempat yang bergelimang wahana permainan.
Begitu sampai di sana, kedua anaknya langsung melompat senang menyaksikan berbagai keseruan yang sebentar lagi akan mereka rasakan ketika menaiki wahana-wahana tersebut.
Andrean menunjuk sekumpulan orang yang sedang berbaris untuk mencoba permainan yang nantinya akan berputar di udara. Benar-benar menantang adrenalin seorang Andrean yang begitu menyukai tantangan dan sesuatu yang baru. Bila hanya bermain mobil-mobilan, itu sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu bila pergi ke wahana bermain bersama Lovi dan Devan.
Devan langsung menggeleng tegas. Yang benar saja Andrean ini. Bahkan usianya saja Devan yakin belum memenuhi persyaratan.
"Jangan yang itu. Bahaya untukmu,"
Devan kembali menarik lembut tangan Andrean yang masih diam memperhatikan orang-orang dewasa yang perlahan mulai memasuki benda raksasa yang akan membuat mereka melayang di udara.
"Andrean, cari yang lain saja," saran adiknya yang sudah tidak sabar begitu melihat kuda-kuda palsu yang berputar dengan pelan. Ia melihat anak-anak seusianya begitu menikmati pemandangan sekitar dari kuda yang ditungganginya.
"Tapi, Daddy, Andrean ingin---"
"Usiamu belum mencukupi. Coba permainan yang lain saja bagaimana?"
Andrean akhirnya menyerah. Ia menghela napas pelan lalu kembali tersenyum.
__ADS_1
Devan mengusap sekilas puncak kepala anaknya lalu kembali mengajak mereka untuk menikmati waktu di sana. Hingga rasa rindu mereka pada Devan benar-benar tuntas.
****
"Pulang bersama saja, Lovita."
Tubuh Lovi mundur sedikit karena dikagetkan dengan suara seseorang yang tak lain adalah Fifdy.
Lelaki itu sudah siap untuk pulang malam ini. Dengan tubuh tegap dan kekarnya Ia terlihat begitu menawan di atas motor sederhananya. Namun sayang, Lovi sudah merasa candu akan pesona Devan. Maka setampan apapun lelaki lain, Ia akan tetap pada cinta pertama dan terakhirnya.
"Aku sudah memesan ojek online," jawab Lovi dengan tenang. Sebenarnya naik motor bersama seorang lelaki pada malam hari adalah pilihan yang buruk untuknya.
Apa lagi bersama dengan Fifdy yang seharian ini bersikap lebih agresif terhadapnya. Namun Lovi merasa lebih tenang kalau Ia diantar oleh pengemudi ojek online pesanannya.
"Sejak tadi aku lihat ojek onlinenya tidak datang-datang. Kamu sudah memesan dari jam berapa?"
Lovi membenarkan dalam hati. Ia masih menahan jemarinya untuk tidak membatalkan pesanan tersebut. Karena pengemudi mengatakan Ia sedang mengantarkan penumpang lain. Lovi memaklumi. Hingga tiga puluh menit Ia menunggu, tapi belum ada tanda-tanda pengemudi itu datang. Padahal ketika dilacak, sudah menuju ke rumah sakit ini.
"Sebentar lagi,"
"Ya sudah aku tunggu di sini kalau begitu,"
Lovi menatap sahabatnya aneh. Namun Ia membiarkan saja. Lovi lelah dan tak ingin banyak berbicara.
Fifdy turun dari motornya dan duduk di sebelah Lovi. Posisi mereka saat ini berada di bagian depan rumah sakit.
Keduanya tampak diam ditengah semilir angin malam. Fifdy ingin mengajak Lovi berbicara namun Ia tidak tahu akan membahas topik apa.
Apakah kabar perceraiannya dengan suami? Fifdy belum berani bertanya lebih jauh mengenai hal itu. Rasanya tidak pantas saja mereka membicarakan masalah pribadi setelah sekian lama tidak bertemu.
Lovi mulai gelisah. Sesekali Ia akan menatap jam yang melingkari tangannya. Ia mengkhawatirkan kedua anaknya.
"Pulang dengan aku saja, Lovita."
Lovi berdecak seraya menatap Fifdy kesal.
"Kamu pulang saja, Fifdy. Lagi pula rumah kita tidak searah,"
__ADS_1
Fifdy kembali diam. Ia merasa Lovi berbeda hari ini. Cenderung garang bila di dekatinya. Padahal ketika mereka bertemu beberapa waktu lalu, Lovi sangat lembut.