My Cruel Husband

My Cruel Husband
Rencana pergi


__ADS_3

"Bawa yang benar!"


"Devan! aku bisa melakukannya,"


Devan mendengus walaupun istrinya sudah melarang pelayan untuk membawa tas yang berisi perlengkapan anak mereka selama pergi, tapi Devan tetap menatap tajam pelayannya yang bernama Desy itu.


"Kamu masuk sekarang! tidak usah mengurus itu,"


"Nanti Desy tidak tahu letak-letaknya," jawab Lovi yang masih keras kepala.


Lovi mengeluarkan dua tas milik kedua anak mereka beserta koper kecil miliknya dan Devan. Sudah sedikit itu bawaan mereka tapi kenapa Lovi terlihat sangat sibuk sampai-sampai dini hari Ia sudah bangun lalu membereskan segala perlengkapan itu.


"Terserah kamu saja lah,"


Devan memasuki kamarnya. Pelayan mengangkat tas Andrean dan adiknya. Sementara Lovi menarik kopernya menuju basement mansion.


Devan menghampiri Adrian dan Andrean yang sibuk bermain di dalam boks besar milik mereka. Devan membawa anaknya satu persatu ke atas ranjang lalu meletakkan ponsel pintarnya di antara mereka berdua.


Melihat benda tipis yang sedang menyala itu, mereka langsung semangat meraihnya.


"Mommy mana?" tanya Andrean yang artikulasi berbicaranya sudah lebih jelas daripada Adrian.


"Lagi merangkap jadi kuli panggul, sayang."


Biar saja Ia dikatakan jahat. Devan sudah terlampau kesal dengan Lovi yang seolah menjadi manusia paling kuat. Apakah dia tidak bisa melihat kalau tubuhnya tidak lebih berat daripada koper yang super padat itu? padahal ada pelayan yang bisa melakukannya.


Adrian menjulurkan benda tipis itu pada Ayahnya. Devan yang mengerti pun membuka kuncinya.


"Mommy ini?" seru Andrean ketika melihat foto baru singgah di ponsel Devan. Seingatnya kemarin masih foto Lovi yang tertidur. Sekarang, kenapa berubah menjadi foto Lovi dan Devan yang sedang beradu bibir di pantry?


Devan gelagapan dan langsung meraih ponselnya dari tangan sang anak. Tentu saja mengundang teriakan tidak terima dari Adrian dan Andrean.


"Iya tunggu sebentar. Daddy ganti dulu fotonya,"


'Dasar gila!'


seharusnya Ia ingat kalau akhir-akhir ini kedua anaknya akan menjadi penguasa gawainya.


Setelah memastikan wallpapernya berubah, Devan buru-buru menyerahkan benda mewah itu pada kedua anaknya yang merengek tak sabar. Devan sampai mencari menu pengaturan di ponselnya dengan cepat takut mereka menangis lalu membuat Lovi marah padanya.


************


"Dimana Devan? kenapa bukan dia yang melakukan itu?"


Lovi tersenyum saat Rena mengungkapkan kekesalan pada Suaminya. Ia menatap kopernya sejenak.


"Ini tidak berat, Ma. Lagipula Devan sedang bermain bersama mereka,"


Walaupun pada kenyataannya sebelum Ia turun tadi, Devan sedang mencak-mencak tidak jelas karena melarangnya mengangkut koper.


"Otot saja yang macho. Tapi tidak ada pedulinya sama sekali dengan istri,"


Lovi menggeleng pelan dengan senyum geli saat Rena melewatinya seraya menggerutu. Ketika sampai di basement, Ia sudah disambut oleh supir pribadi suaminya.

__ADS_1


"Letakkan di sana, Nona. Nanti biar saya saja yang mengatur posisinya,"


"hmm... Pak, nanti tasnya Adrian dan Andrean letakkan di depan ya. Takutnya sewaktu dijalan diperlukan,"


"Siap, Non."


Lovi melihat Setya yang mulai sibuk memasukkan koper dan goodie bag berisi makanan kecil untuk cemilan mereka selama di jalan. Stroller pun akan menjadi barang bawaan mereka. Mengingat benda itu sangat diperlukan bila Lovi dan Devan mengajak mereka berjalan-jalan. Andrean dan Adrian terkadang lebih banyak tingkah kalau digendong. Lebih baik mereka berada di stroller, karena lebih mudah diatur.


"Terimakasih, Pak."


************


"Ayo, makan dulu!" seru Lovi ketika memasuki kamarnya. Di sana Ia melihat Devan yang terbaring pasrah ditindih oleh kedua anaknya. Lovi tak mampu lagi menahan tawanya.


Perempuan cantik itu berjalan menghampiri ranjang.


"Sayang, mereka berat."


Devan yang kejam kembali mengeluarkan rengekannya. Hanya pada Lovi Ia bisa bersikap seperti itu. Ketika di depan rekan dan karyawannya, maka perangai Devan akan kembali seperti semula.


Terkadang Lovi bingung sebenarnya manakah yang menjadi sikap asli Devan? apa Devan mempunyai kepribadian ganda?


"Lebih berat mana dengan tanggung jawabmu?" Lovi meledek suaminya yang semakin dibuat kewalahan dengan serangan dua anak menggemaskan itu.


Adrian menekan-nekan perut ayahnya sementara Andrean menggeletiki leher Devan yang mendongak karena hentakan diperutnya.


"Tolong aku, plis!"


"Sudah-sudah! kasihan Daddy,"


Lovi mengangkat tubuh kecil mereka lalu meletakkannya di samping Devan yang saat ini sedang meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Kalian sedang apa sih?"


Bingung juga kenapa ayah dan anak itu seperti perang? sampai-sampai keadaan ranjang berantakan tidak seperti kondisi terakhir sebelum Ia tinggalkan.


"Tadi aku mengganti foto kita berdua yang... kamu pasti mengerti. Setelah aku beri lagi ponselku, mereka malah menyerang aku," keluh lelaki tampan beranak dua itu. Lovi menggeleng dengan tawa gelinya.


"Kamu sudah membiasakan mereka bermain itu, jadi rasakan sendiri akibatnya."


Lovi sudah memperingati Devan berulang kali kalau mereka jangan dibiasakan untuk menyentuh benda tipis nan mewah itu. Tapi Devan tak mengindahkan ucapannya.


Salah siapa sekarang?


"Mereka juga tidak tahu cara penggunaannya, Lov."


"Sebentar lagi tahu. Usia mereka akan menginjak tiga tahun,"


Devan bangkit lalu menggaruk kepalanya. Rupanya setelah perang, lelaki tampan itu mengantuk.


"Aku mau..."


"Tidur? tidak jadi pergi? aku sudah menyiapkan semua tapi kamu malah membatalkannya,"

__ADS_1


Devan ingat akan kelelahan istrinya. Ia tidak boleh membatalkan rencana mereka secara sepihak.


"Ayo berangkat!" seru Devan yang langsung melompat dari ranjang. Andrean dan Adiknya akan melakukan hal yang sama. Tentu saja Mommy mereka berteriak panik.


"DEVAN!! JANGAN MELAKUKAN HAL ITU!!"


Untungnya Lovi dan Devan sigap menahan gerak mereka. Lovi hampir dibuat mati saat melihat anaknya nekat seperti tadi. Mereka belum mengerti akan hal-hal yang berbahaya, oleh karena itu peran orang tua sangat dibutuhkan. Sebisa mungkin memperlihatkan sesuatu yang baik, agar mereka mengikuti hal baik itu juga.


"Maaf, Lov. Aku lupa kalau ada mereka. Kamu tahu kan kebiasaanku kalau lagi semangat bagaimana?"


Mendengar penjelasan suaminya, Lovi menggeram. Ia segera meraih Andrean dan menatap tajam Devan yang masih mengusap tengkuknya seperti orang bodoh. Kalau dimarahi Lovi, Devan akan bertingkah seperti itu.


"Gendong Adrian!"


dengan semangat menggebu, Devan melakukan apa yang dikatakan istrinya. Ia membawa Adrian keatas bahunya. Posisi itu sangat disukai oleh si bungsu. Karena Ia akan merasa tinggi.


Mereka keluar dari kamar lalu makan siang di bawah. Semuanya sudah ada di sana, kecuali Vanilla yang sejak tadi pagi izin pada ayahnya untuk keluar.


"Kalian akan menginap sampai lusa saja bukan?"


"Iya, Pa."


Devan meletakkan Adrian di samping kakaknya . Kedua balita itu menatap meja makan dengan bingung. Di sana banyak sekali makanan. Tapi sayang, mereka belum bisa menyantapnya sembarangan.


Ketika tangan Andrean terjulur untuk meraih piring berisi gulai yang super pedas, tangan Lovi dengan sigap menahannya.


"Pedas, nanti sakit perut."


Lovi menunjuk perut Andrean berusaha memberi pengertian pada si sulung itu.


"Makanan mereka dimana? aku yang menyuapi Adrian,"


Lovi mengambil dua piring kecil berisi bubur milik anaknya. Adrian menatap lapar piring yang di pegang oleh Devan. Potongan ayam yang sangat halus disertai kuah sup yang masih hangat benar-benar menggugah seleranya.


Devan terkekeh begitu tangan mungil Adrian ingin mengambil alih sendok darinya. Memangnya bisa apa si tengil itu? berbicara saja masih belum jelas. Devan tidak habis pikir dengan anaknya yang satu ini.


"Sabar, Sayang. Tidak akan Daddy makan punyamu. Daddy juga sudah ada makanan, malah lebih enak."


Entah apa maksud lelaki itu mengatakan demikian pada anaknya. Yang jelas, itu menjadi pemandangan yang lucu dimata Raihan, Rena, dan Jane.


"Kamu sambil makan juga!" titah Devan ketika melihat Lovi yang hanya menyuapi Andrean. Nasi di piringnya masih utuh. Berbeda dengannya yang tinggal separuh.


"Iya, Lovi. Kebiasaanmu makin buruk dalam hal makan. Ingat, masih ada mereka yang membutuhkanmu. Kalau kamu sakit, siapa yang memperhatikan mereka seperti kamu?" sambar Rena yang juga geram dengan menantunya itu. Lovi semakin susah bila di suruh makan.Tidakkah Ia lihat tubuhnya semakin kurus? Tersisa kulit dan tulang saja.


Tak ingin lagi mendengar ucapan panjang lebar dari orang-orang yang disayanginya, Lovi memutuskan untuk menyendok nasinya.


Kedua pasangan muda itu sama-sama makan sembari menyuapi anak mereka.


"Devan, soal Elea..."


************


aku dalam masa writer block nih ga mood bwt nulis😥 males update :( mungkin aku butuh hiatus? maap ya gayss aku emng gini kelakuannnya dr jaman di ******* jg😂 sering bgt ga mood nulis sampe setahun lebih ga ngetik² kelanjutan cerita🤣🤣 tp stlh istrhat bntr kdg tuh balik lg moodnya. Doakeun sj yaaa smg ideku lancar jaya. Bagi yg nunggu, maaf bgt :') aku ttp brusaha up kok kl emg otakku ga sumpek wkwkwkw. DITUNGGU AJA YAAAA!!!

__ADS_1


__ADS_2