
Melihat Lovi datang, Lucas tak bisa menyembunyikan senyum kebahagiaannya. Tidak menyangka kalau hari ini putrinya mau bertemu dengan dirinya.
"Malah tamu yang menyajikan hidangan, seharusnya Tuan rumah," ujar Lucas yang tak enak hati ketika melihat Devan dan Lovi lah yang membawa makanan ke rumahnya, seharusnya Ia yang menghidangkan.
Devan mengerti kondisi Lucas. Ia tidak ingin mempersulit Lucas. Niatnya datang hanya ingin membuat kedua anaknya bahagia dan tidak bosan terus-terusan berada di mansion.
"Grandpa, di dekat sini ada taman bermain 'kan?"
"Iya, mau ke sana?"
"Mau! itu yang aku nantikan bahkan sebelum sampai sini,"
"Makan dulu, setelah itu bermain. Daddy antar ke sana,"
"Maunya dengan Grandpa,"
"Grandpa juga ikut,"
Adrian bersorak senang setelah mendengar Daddy-nya bicara seperti itu. Sudah lama rasanya tidak mengunjungi taman bermain dan sekarang ditemani oleh orang yang baru dikenalnya tetapi sudah disayang sejak awal bertemu.
Lovi tampak memisahkan duri ikan. Devan yang melihat itu mengerinyit bingung. Ia kira milik kedua anaknya, tetapi menu Andrean dan Adrian tidak ada yang ikan.
Rupanya daging ikan yang sudah bersih dari duri itu diberikan Lovi untuk ayahnya, Lucas. Lovi tidak mengatakan apapun. Ia hanya meletakkan piring berisi ikan itu di hadapan Lucas, dan Lovi rasa Lucas tahu buat siapa ikan itu.
Devan yang melihatnya tersenyum. Tak menyangka kedatangannya kali ini terasa lebih membahagiakan. Lovi memang mengatakan perlu waktu untuk berdamai dengan masa lalu. Dan benar, sedikit demi sedikit Ia mulai menunjukkan sisi asli dirinya yang sempat hilang.
********
Auristella bangun dari tidurnya, lalu Ia bingung tidak ada Lovi di dekatnya. Biasanya Lovi menyambut Ia yang baru bangun tidur dengan kecupan, sekarang Senata yang melakukannya.
"Mommy pergi sebentar, Sayang."
Senata membawanya dalam gendongan. Terlihat masih mengantuk tetapi entah mengapa Ia malah terbangun.
"Woaah sudah bangun?" Rena menggoda Auristella yang tampak belum menapaki kesadaran sepenuhnya. Sesekali Ia terpejam, mulutnya juga sering terbuka karena rasa kantuk.
"Kalau masih mengantuk kenapa bangun, Auris?"
__ADS_1
"Sepertinya punya firasat kalau ditinggal pergi oleh Daddy dan Mommy ya?"
Auristella duduk di kursi makannya. Tangan Auristella dibersihkan lalu Senata memberikan anak itu makan.
"Belum dimulai sudah mau pegang saja," tegur Senata saat Auristella menyentuh salmon, lauk makan siangnya. Itu gunanya tangan Auristella bersih. Terkadang anak itu menyentuh makanannya sediri padahal sudah biasa disuapi.
Auristella ingin menangis karena ditegur. Ia keluarkan tangannya dari dalam piring berisi salmon. Padahal tidak ada kekerasan sama sekali. Biasa, Auristella akan rewel kalau tidak ada Mommy-nya. Diberi tahu sedikit akan menangis.
"Tidak perlu menangis, Sayang. Grandma tidak marah. Pegang saja salmonnya, itu milik Auris," Senata mengulurkan salmon pada Auristella. Anak itu langsung menerimanya.
"Kalau bermain, pasti lama."
"Iya, apa lagi ini untuk pertama kalinya mereka bermain dengan Lucas. Tidak apa, yang penting mereka senang," jawab Rena.
"Tadi Auris tidur, makanya tidak diajak." Senata mulai bercerita dengan Auristella agar anak itu tidak bosan hanya makan tanpa ada pembicaraan. Auristella mendengarkan dengan baik seraya sibuk mengisi perutnya.
"Lain kali Daddy pasti membawa Auris. Karena Auris belum pernah juga bermain dengan Grandpa Lucas,"
"Grandpa Rai terus ya, Auris? bosan." Rena terkekeh sendiri dengan ucapannya. Karena mereka tinggal bersama dan hanya ada Raihan di mansion itu sebagai kakeknya, otomatis teman bermain ketiga anak Devan dan Lovi itu adalah Raihan. Selain Raihan, Aunty mereka pun turut serta dalam menghibur. Siapa lagi kalau bukan Jane.
*********
"Beli apa?"
Adrian menunjuk sebuah toko mainan. Mereka belum sampai di taman bermain, tetapi sudah ada permintaan dari anaknya itu.
"Beli toko? buat apa? kamu sudah mau berbisnis?"
Lucas terkekeh mendengar Devan menggoda anaknya. Sebenarnya Devan tahu kalau Adrian minta dibelikan robot besar di dalam toko itu yang terlihat dari kacanya.
"Bukan tokonya yang mau Adrian beli. Tapi robot yang itu. Besar sekali, Dad. Kalau diletakkan di kamar pasti bagus,"
"Kamar kamu, kamar aku juga. Dan aku tidak mau ada robot besar-besar seperti itu. Tidak sekalian saja kamu beli manekin seperti di mall biar lebih ramai lagi?" cibir Andrean meluapkan kekesalannya. Akan jadi seperti apa kamar mereka? hampir seluruh sisi kamar sudah dipenuhi oleh segala miniatur milik Adrian.
"Sepertinya kamar kalian sudah harus dipisah. Kasihan Andrean kalau kamarnya dikuasai oleh kamu terus,"
"Ide bagus, Dad. Hampir seluruh sudut kamar isinya mainan atau miniatur Adrian semua. Padahal kamar itu juga punya aku,"
__ADS_1
"Kalau mau buat kamar untuk Andrean di rumah saja jangan di mansion. Kita tidak tinggal selamanya di mansion,"
"Iya, benar juga."
"Grandpa, jangan lupa datang kalau aku sudah kembali lagi ke rumah ya. Kalau perlu menginap selamanya,"
*******
Lucas baru saja selesai mendorong alat permainan yang mampu mengayunkan tubuh cucunya. Ia lelah jadi memutuskan untuk duduk.
"Duduk di sini, Ayah." Devan melirik kursi di sebelahnya untuk ditempati Lucas. Ia tidak mau melihat Lucas segan. Seperti bukan keluarga saja duduk berjauhan.
"Senang menemani anakku bermain, Ayah?" tanya Devan.
"Senang sekali. Tapi karena Ayah sudah tua jadi sebentar-sebentar harus duduk,"
"Iya, mereka juga terlalu aktif terutama Adrian. Jadi siapapun akan kelelahan kalau bermain bersama,"
"Biasanya mereka hanya bermain bersama Papaku. Setelah bertemu dengan Ayah, mereka selalu saja bertanya 'kapan main dengan Grandpa Lucas?'. Setelah aku ajak ke rumah Ayah, mereka senang sekali,"
"Ayah kaget didatangi oleh kalian,"
"Tidak ada rencana sebelumnya, Yah. Tadi, aku tidak melakukan apapun di mansion, dan mereka juga begitu. Tapi karena Auris tidur jadi dia tidak dibawa. Padahal kalau diajak ke sini pasti dia juga senang,"
Mereka bercerita sementara Lovi lebih memilih untuk menjadi pendengar. Begini saja sudah membuatnya bahagia. Sejujurnya Lovi juga menginginkan kedekatannya bersama Lucas layaknya Devan dan Raihan. Tetapi karena perbuatan Lucas di masa lalu, Ia jadi tidak berharap demikian lagi. Namun setelah kembali dipertemukan dengan Lucas, keinginan itu timbul lagi. Tak bisa dipungkiri Ia senang melihat ayahnya sudah bebas dari hukuman.
"Auris itu menggemaskan sekali. Waktu Ayah gendong di pesta kemarin, tak lama dia tertidur,"
"Anaknya memang mudah akrab juga dengan semua orang, Yah."
"Iya, terlihat dari sikapnya saat bertemu ayah. Bahkan bisa tidur di pundak ayah padahal baru kenal,"
Devan mengangguk. Ketika rewel dan Lucas langsung menggendongnya, tanpa menunggu waktu lama Auristella tertidur dengan lelap.
"Seperti Adrian ya?"
"Iya, sama-sama mudah berbaur. Berbeda dengan Andrean yang cenderung menutup diri,"
__ADS_1
"Kalian punya anak dengan karakter beragam,"
"Jadi lebih berwarna kalau sedang berkumpul, Yah. Anak kedua dan ketiga sama-sama tidak bisa diam, jahil, dan kerap bertengkar. Tapi ada saatnya mereka akrab. Lalu si sulung lebih suka bergelut dengan dunianya. Orang-orang sibuk bermain, mengobrol, atau bernyanyi, dia malah baca buku, main iPad, atau nonton televisi," Devan terkekeh menceritakan ketiga anaknya. Bila dibayangkan memang terdengar menyenangkan. Tapi kalau sudah berada di situasi itu, rasanya campur aduk. Terkadang dibuat kesal, gemas, dan bahagia juga karena anak-anaknya tumbuh apa adanya.